NovelToon NovelToon
The Horn Land

The Horn Land

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sutrisno Ungko

fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pencarian

Di pagi hari, saat hujan sudah berhenti setelah mengguyur sepanjang malam, kabut masih tebal, tapi sudah pecah, dan serpihan-sepihan biru muncul diantaranya..

Alexander Turnbull dan William Meredith berkeliling di belahan wilayah Kaitaia untuk mencari dua utusan yang menghilang dan tak ada kabar.

Keduanya terlebih dahulu menemui para pemimpin di beberapa Desa, juga ke dermaga Kai. Bahkan ke hutan barat. Dimana menjadi tempat para perampok berkumpul. Kunjungan dua kesatria Iblis Merah yang kini terkenal sebagai para pengawal Leader menjadi perhatian khusus dari warga yang mereka lewati.

Dalam perjalanan mereka, keduanya melihat secara langsung penderitaan rakyat Kaitaia pada saat ini, setelah peralihan kekuasaan antara kekaisaran ke Union. Bagaimanapun juga rakyat kecil menderita setelah perang berlangsung.

Kepemimpinan Leader pertama tentu belum sempat memikirkan kesejahteraan rakyat. Owen dalam dua tahun menjadi Leader masih terfokus bagaimana mempertahankan wilayah yang sudah direbut, sehingga semua sumber daya yang ada di Kaitaia masih digunakan untuk menopang pergerakan pasukan baik yang menuju Whangarei maupun yang menjaga perbatasan dengan Dargaville.

Sehingga sebagian besar warga terutama wanita dan anak-anak sangat kesulitan saat ini. Belum lagi di pusat kekuasaan sendiri masih ada gerakan-gerakan perlawanan berkelompok yang mencoba mengganggu pemerintahan Leader yang ada, baik yang menjadi pengikut kekaisaran maupun yang punya ide baru tentang sistim pemerintahan yang berbeda.

Dan dalam perjalanan Alexander Serta William memperlihatkan secara jelas semua dampak dari perang ini.

Mereka berjalan perlahan dan hati-hati mengitari lereng bukit sebelah barat daya.

“Semoga perang ini bisa segera berakhir sehingga rakyat kecil bisa merasakan lagi kedamaian. ” kata William.

“Perang akan panjang. Sudah seharusnya warga memahami situasi yang ada. Para suami dan pemuda mereka sudah bergabung di ketentaraan dan diberikan upah atas pengabdian mereka pada Leader. Mungkin dengan upah itu wanita dan anak-anak dirumah bisa terus hidup.” kata Alexander.

“Tapi tidak ada yang lebih baik daripada kedamaian. Hidup normal. tanpa perang, para petani akan kembali berkebun, para pedagang akan kembali berdagang. Kebutuhan ibu-ibu dan anak-anak tercukupi dan keamananan terjamin.” kata William.

Alexander menghentikan kudanya. Dan menatap wajah sahabatnya itu. Sambil berkata

“Untuk itulah kita berjuang sahabat, menjadi prajurit, meraih kemenangan untuk kedamaian.”

“Benar..” kata William seperti menghayalkan semua itu.

“Tapi itu akan lama, bertahun-tahun. The Horn sangat luas. Ada 30 kota dan kastel yang harus kita rebut. kini sudah dua kali kita mengganti pemimpin. Dan baru ada satu wilayah yang benar-benar di dalam genggaman.” kata Alexander.

William tiba-tiba memacu kudanya. Alexander mengikuti.

“Kita cari dulu mata-mata kita.”

***

Perang telah memperlihatkan dampaknya. Mereka melintasi desa-desa tapi tak melihat penghuninya. mereka sampai di pantai. namun hanya ada Jala kosong, robek, dan tercabik-cabik dan menggantung di pepohonan merupakan satu-satunya tanda para nelayan.

Seorang gadis kecil yang memberi minum kudanya berlalu pergi begitu melihat mereka. sesaat kemudian keduanya melewati selusin rakyat jelata yang menggali tanah dibawah reruntuhan rumah yang terbakar. orang-orang ini menatap mereka dengan mata muram. dingin.

***

Matahari terbit berpendar dipermukaan sungai yang dilecuti angin tepian selatan berupa tanah lempung, sehalus jalanan, kali-kali bergabung dengan aliran yang lebih besar. Dan batang busuk dari pohon tenggelam menggeluyut dipinggir sungai.

Tepian utara lebih liar.

Tebing tinggi berbatu menjulang enam meter diatas mereka. Dipuncak pepohonan Biken, Ek dan Berangan.

Sudah dua hari Alexander dan William berkeliling mencari keberadaan dua sahabat mereka, sampai pada suatu hari mereka mendapatkan kabar bahwa ada sekelompok orang sedang mengadakan pertemuan di sebuah tempat di tengah hutan bagian timur, masih di wilayah Kaitaia.

Keduanya menuju kesana.

Sedikit melewati puncak bukit, mereka sampai dipetak pepohonan cemara. Setelah meninggalkan jalan, mereka masuk kedalam kegelapan pekat pepohonan yang berbau resin.

Sebuah wilayah yang tertutup dari akses warga karena tak mudah di kunjungi, tempat itu berada di sebuah bukit yang terjal, jalanan berbatu tajam dengan onak dan duri di kiri dan kanan.

William dan Alexander mengendap untuk tidak sampai bertemu dengan orang lain ditempat itu. Sampai suatu ketika mereka mencapai tempat pertemuan orang-orang itu, sebuah lokasi luas yang mengitari sebuah rumah terpencil. Ada puluhan orang ditempat itu, sepertinya sedang mengikuti pertemuan penting.

“Kamu pernah datang di wilayah ini?” tanya William, mata mereka awas memantau sekeliling.

“Tak pernah, ini mungkin tempat pengungsian para loyalis kekaisaran yang masih berada di Kaitaia.” kata Alexander.

“Ayo kita masuk, sepertinya mereka bukan para prajurit, tidak berbahaya.” kata William.

“Tapi tetap saja kita harus berhati-hati.”

Disisi barat kaki bukit pucat dan lembab

Keduanya kemudian masuk di halaman luas itu. Dua penjaga menemui dan setelah memperkenalkan bahwa mereka adalah Kesatria Iblis Merah, Loyalis Union. Mereka dipertemukan dengan salah seorang wanita yang mengaku bernama Galadriel.

“Salam tuan kesatria, senang menerima kunjungan anda berdua di tempat ini. Silahkan masuk. Aku akan perkenalkan dengan pemimpin kami Adrac.” kata Wanita itu, usianya diatas 30 tahun. cantik dan memancarkan pesona yang memikat, Alexander terpana saat pandangan pertama dan Galadriel menyadari itu.

Setelah menunggu beberapa lama di dalam ruangan itu. Alexander dan William yang jenuh menunggu akhirnya bertemu dengan Tuan rumah. Rantai tangan sang pemilik tempat berkilau keemasan di tunik beludu dengan anggunnya. Para pendampingnya mengelilingi saat ia masuk. Dia menyapa satu persatu, berbisik pada Otto, dan mengecup pipi Galadriel. Menggenggam tangan seorang lagi didekatnya. Lalu duduk di kursi yang telah disiapkan.

“Selamat datang di gubuk Republikan, tuan berdua. Apa yang bisa kami bantu?” tanya sosok itu. Ia adalah Master Adrac, salah satu tokoh pemikir yang beberapa saat lalu menemui Kesatria Angurey Wayn menawarkannya untuk mengajak Leader Owen merubah sistem pemerintahan menjadi Republik.

“Kami sedang mencari dua sahabat kami. Sejak beberapa hari lalu keberadaannya tak diketahui. Saat lewat dari tempat ini, kami mencoba masuk untuk mencari tahu., siapa tahu mereka berdua datang ditempat ini.” kata Alexander.

“Apakah keadaan kami layak untuk di curigai ser.” tanya Adrac dengan senyum.

“Bukan begitu tuan. kami hanya…” Alexander mencoba membantah.

“Tak mengapa tuan. kami tak melihat mereka, bisa saja anda memeriksanya disetiap sudut rumah ini. Hanya saja setelah memeriksa bisakah kita menceritakan sesuatu.” tanya Adrac lagi

“Dengan senang hati, apakah itu?”

Para pembantu tuan rumah, termasuk Galadril dan Otto memberi mereka kursi. Menata tempat itu, dan tetap mengambil jarak dari para tamu dan tuan mereka. Namun sikap waspada tetap terlihat dari cara mereka duduk. Setelah Alexander dan William duduk, langsung disuguhkan minuman. Adrac memulai ceritanya..

“Beberapa waktu yang lalu, aku menemui salah satu kesatria utama, kesatria Penakluk menurut gelar kalian. Angurey Wayn. aku ingin, dia menyampaikan pada Owen . Untuk menerima saranku mendirikan negara baru dengan sistem yang benar-benar baru bagi negeri ini; yakni Republik..” buka Adrac.

“Republik?” William mencoba menerka seperti apa sistim itu.

“Ya. Sebuah negara yang dipimpin oleh pemimpin yang berkuasa hanya selama 5 atau 10 tahun. Dibangun lewat kebersamaan dan kebebasan. Dan setiap wilayah atau individu tetap dengan identitasnya masing-masing. Namun akan dipersatukan oleh pemerintahan yang demokratis. Dimana pemimpin tak berhak memberikan kekuasaan pada keturunannya atau pemimpin yang berkuasa sampai tak terbatas yang membedakan setiap ras dan agama.”

“Aku rasa pemimpin saat ini, sudah sepakat dengan sistim saat ini. Leader dengan para pembantunya dan dipilih menurut kesepakatan dengan kekuasan sampai akhir hayat dari pemimpin itu.” Alexander mencoba menjelaskan.

“Sistim yang buruk. Sebelum kepemimpinan terus berlanjut sampai tak terbatas dan tak ada aturan jelas.apa tidak sebaiknya kita rubah saat ini. Leader Owen telah meninggal tanpa penerus, penerusnya adalah seorang tua tak punya kemampuan militer dan tanpa keturuan bangsawan seperti Jhuma. Negara kalian ini tak akan lama.” kata Adrac.

“Maaf ser. Hal seperti itu tak kami pahami kami Iblis Merah hanya loyal pada siapapun pemimpin yang diangkat saat ini. Kami berdua masih mencoba memahami bahwa saran tuan tidak hanya sekedar ide. Namun tidak dalam rangka menggulingkan kekuasaan lagi…karena kami ada disana.” William menegaskan posisi Iblis Merah.

“Kalian satu persatu berniat mati untuk negeri rapuh ini. Apa yang kalian dapatkan? percaya padaku. Para kesatria utama akan silih berganti memimpin kalian. Dan satu persatu kalian tetap akan menemui ajal di medan perang mereka.”

William tersulut emosi, ia berdiri, tangannya menggengam pedang dipingga. Alexader mencoba menahan sahabatnya itu. Adrac tak terpengaruh, ia masih tetap menatap kedepan dengan tangan di cangkir minumannya. Namun para pembantunya terasa muak. Otto kini maju juga dengan tangan di balik pinggang menggengam pinggang.

“Sabarlah tuan-tuan. Silahkan duduk. Tempat ini tak layak untuk dijadikan tempat pertarungan. Jangan lupa, Republik menawarkan kedamaian, bukan lagi perang” kata Adrac berusaha bijaksana. Ia berusaha tenang bahkan meneguk lagi minumannya.

“Perjelas posisi kalian ser! Apakah kalian berniat melawan kami?” tanya William. ia tak gentar meskipun ditengah-tengah lawan.

“Jaga kata-katamu ser. Anda tamu di tempat ini!” Teriak Otto.

Tatapan William dan Alexander melihat pemuda itu. Selalu terlintas wajah Regen padanya. Keduanya sangat mirip. Tak tega kiranya kedua kesatria itu maju untuk memberikan pelajaran padanya.

“Kesatria Utama lewat Angurey menolak tawaranku., mungkin juga kalian kesatria Iblis Merah. Tak mengapa..” kata Adrac tenang. Ia kemudian bangkit dan memberikan tanda pada para pengawalnya.

“Siapkan makanan pada tamu-tamu kita lupakan perbedaan pandangan kita pada sistim ini. Sekali lagi. Demokrasi adalah pengganti perang. Mari kita rayakan perbedaan ini dengan riang gembira. mari kita makan” kata Adrac.

Para pembantu segera menyiapkan apa yang diinginkan pimpinan mereka. Suguhan makanan dan arak terbaik disiapkan. emosi yang hampir pecah ditempat itu seketika hilang.

“Terima kasih ser. Sekiranya kami berdua tak bisa berlama-lama di tempat ini, kami masih ada urusan lain” kata Alexander.

“Jangan begitu ser. Galadriel, ajak tamu kita menuju tempat jamuan”. Kata Adrac.

“Baik tuan Adrac.” kata Galadriel. Tatapan mata wanita itu, meluluhkan hati Alexander, sementara William yang awalnya juga berniat bertarung kini juga luluh dan mengikuti langkah sahabatnya itu. namun ia tetap dalam posisi waspada.

Para pembantu tak lama kemudian datang, membawa baki besar berisi penuh makanan, mereka juga menata meja. Makanan, kendi-kendi dan lampu sudah di tata. Panggung menyala terang dengan lilin, merah dan kuning.

“Makanan sudah siap.” kata salah satu pelayan.

Akhirnya sepanjang hari ini, kedua kesatria berada di rumah republikan, berdiskusi, menikmati makanan. Dan untuk Alexander, mencoba mencari perhatian wanita cantik ditempat itu. Arak yang disuguhkan tuan rumah juga membuat keduanya lupa akan misi utama mencari para sahabat yang hilang. Keduanya hanyut dengan keadaan.

1
Widiarto Andu
👍
Widiarto Andu
𝐭𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐬𝐢𝐡..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!