"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.
"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.
***
Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 - Ruang Musik
Kelas tidak benar-benar ramai, tapi juga tidak sepenuhnya tenang. Kipas angin berputar lambat di langit-langit, suara kertas saling bersentuhan, dan entah kenapa, semuanya terasa lebih bising di telinga Giselle.
Hari itu kartu peserta ujian dibagikan. Satu per satu, kertas kecil itu berpindah tangan. Ada yang langsung melipatnya lalu memasukkannya ke saku, ada juga yang hanya melirik sekilas tanpa minat. Bagi sebagian orang, itu hanya formalitas. Namun, bagi Giselle, kertas itu terasa jauh lebih berat dari ukurannya.
Namanya tercetak jelas di sana beserta nomor peserta dan ruang ujian.
Giselle memandangi kartunya sedikit lebih lama dari yang lain. Telapak tangannya terasa dingin. Dadanya berdegup tidak beraturan. Dalam kepalanya, suara-suara yang tidak ia undang mulai bermunculan. Ia takut salah, takut gagal, dan takut mengulang cerita yang sama.
Ia menelan ludah, lalu buru-buru memasukkan kartu itu ke dalam tas, seolah dengan begitu rasa paniknya ikut tersembunyi.
“Pen?” panggil Libra pelan dari sampingnya. Ia menyadari apa yang Giselle lakukan.
Giselle menoleh. “Hm? Apa, Ba?”
Libra menatapnya sebentar. “Lo okey?”
“Enggak apa-apa,” jawab Giselle cepat. Jawaban itu justru terlalu cepat untuk dikatakan baik-baik saja. Ia tersenyum, tapi senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya.
Libra tidak memaksa. Ia hanya mencondongkan badannya sedikit lebih dekat ke arah Giselle. “Tarik napas dulu.”
Giselle menurut, pelan, sekali, dua kali. Meski jantungnya masih berisik.
Hari itu berjalan seperti biasa. Pelajaran demi pelajaran lewat tanpa benar-benar singgah di kepalanya. Giselle lebih banyak melamun. Matanya menatap papan tulis, tapi pikirannya sibuk memutar kemungkinan terburuk.
Bagaimana jika nilainya jelek? Bagaimana jika ibu kecewa lagi?
Saat bel terakhir berbunyi, Giselle menghela napas panjang. Seperti baru keluar dari ruangan sempit tanpa udara. Jam masih menunjukkan pukul satu siang. Hari ini sekolah mereka memang diakhiri lebih cepat, mengingat hari Senin nanti akan dilaksanakan ujian kenaikan kelas.
“Mau langsung pulang?” tanya Libra sambil berjalan di sampingnya.
“Gak mau,” jawab Giselle. Biasanya mereka pulang pukul tiga sore. Masih ada waktu dua jam yang cukup untuk mereka habiskan.
“Kita ke ruang musik, yuk," ajak Libra
Giselle menoleh. Sedikit kaget, tetapi matanya seketika berbinar. Tentu saja ia tidak akan menolak ajakan Libra. Sudah lama rasanya mereka tidak ke sana. Tidak bernyanyi. Tidak benar-benar melepas penat. Giselle jelas tidak bisa bernyanyi ketika di rumah karena itu akan membuat ibunya marah. Ibunya paling tidak suka Giselle menyanyi. Katanya, bernyanyi itu tidak ada gunanya, lebih baik belajar untuk memperbaiki nilai.
“Ayok, Ba. Udah lama gak main gitar,” ujar Giselle dengan semangat.
Libra tersenyum kecil. “Let's go.”
Siang itu, sekolah terasa lebih sepi dari biasanya. Beberapa kelas kosong, lorong-lorong lebih sunyi. Ruang musik berada di ujung gedung, pintunya sedikit berdecit saat dibuka. Ruang musik tidak selalu dibuka. Mereka harus meminjam kunci terlebih dahulu pada Pak Diki yang biasanya menjaga sekolah ini.
Aroma kayu dan debu tipis langsung menyambut mereka.
“Gue kangen tempat ini,” gumam Giselle.
Libra terkekeh. “Gue juga.”
Mereka duduk berhadapan. Giselle mengambil mikrofon, Libra duduk di dekat gitar. Tidak banyak bicara. Tidak perlu. Ada hal-hal yang memang tidak harus dijelaskan dengan kata-kata.
Mereka memilih lagu yang ringan. Lagu tentang bertahan. Tentang hari esok yang masih bisa diusahakan.
Suara Giselle mengalun pelan di awal. Sedikit bergetar. Tapi semakin lama, semakin stabil. Libra ikut bernyanyi, suaranya menyatu, menenangkan. Di ruangan itu, untuk beberapa menit, Giselle bukan murid dengan nilai buruk. Bukan anak yang selalu ditekan. Ia hanya gadis yang bernyanyi, dan merasa cukup.
Saat lagu selesai, Giselle tertawa kecil. Napasnya terengah, tapi dadanya terasa lebih lapang.
“Capek,” katanya.
“Tapi seneng, kan?” balas Libra.
Giselle mengangguk. “Iya.”
Ia masih takut. Ujian itu nyata. Tekanan itu belum pergi, tetapi setidaknya hari ini, ia tidak sendirian menanggungnya. Setidaknya hari ini, ia sempat bernapas.
Libra menoleh ke arahnya. “Kita jalanin pelan-pelan aja, Pen. Gue yakin lo bisa. Yang penting udah berusaha. Perkara hasilnya gimana nanti kita cukup berdoa.”
Giselle tersenyum kecil. “Makasih, Ba.”
Hari itu berakhir tanpa keajaiban. Tidak ada janji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, ada satu hal yang pasti—Giselle masih berdiri. Masih berusaha. Dan untuk sekarang, itu sudah cukup.
...***...
20 Januari 2026