"Hangatkan tubuhku. Only one night."
Sebuah kalimat yang mengubah seluruh kehidupan Leon dan Bianca yang bertemu di Paris secara kebetulan.
Pertemuan singkat yang awalnya sebatas di Paris saja, siapa sangka berlanjut hingga saat keduanya kembali ke Indonesia.
Keduanya dipersatukan dengan status yang berbeda. Atasan dan bawahan. Hal tersebut membuat Leon memanfaatkan wewenangnya untuk bertindak dan bertingkah agresif kepada Bianca yang diam-diam telah mencuri ciuman pertamanya di Paris.
🫧🫧🫧
Halo semua! Ini novel terbaru Kak Shen. Yuk kepoin! 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
It's Not Your First!
...“Dari gerak tubuh dan kelihaianmu dalam bercinta saja sudah menjelaskan bahwa itu bukan yang pertama kalinya. Then, now you ask me to believe what you say?” – Bianca Francesca...
Setelah Leon keluar dari kamar untuk menjemput makanan ke lobby, Bianca bergegas bangkit dari kasurnya dan berlari ke kamar mandi dengan tubuh yang tak tertutup sehelai benangpun.
Setibanya gadis itu di kamar mandi, ia melihat pantulan dirinya di cermin yang ada di dinding washtafel.
“Huh! Waktu di Paris sok-sok’an nolak. Eh keenakan. Sekarang? Malah makin buas!” gerutu Bianca saat melihat ada begitu banyak kissmark yang Leon tinggalkan di sekitar leher hingga ke dadanya. Bahkan, tanda-tanda merah itu membuat dirinya bergidik ngeri saking banyaknya.
“Haaa ….” Bianca menjambak rambutnya menggunakan kedua tangan. Ia menatap pantulan cermin saat membayangkan jika ia menjadi musuh karyawan karena memiliki hubungan special dengan CEO. Apa sebaiknya ia menolak memiliki hubungan dengan pria itu?
Bianca menggelengkan kepalanya. Ia menempik semua pikiran-pikiran negatif yang membuatnya pusing. Ia bergegas mandi untuk membersihkan diri. Tak membutuhkan waktu yang lama, ia pun telah selesai mandi. Ia membungkus badan dan kepalanya menggunakan jubah mandi dan handuk. Kemudian ia keluar dengan tubuh yang segar.
Saat Bianca keluar dari kamar mandi, ia tak menemukan sosok Leon di kamar itu. Ia pun berinisiatif untuk merapikan ranjang yang kusut dan membereskan beberapa pakaian basah mereka yang tergeletak berantakan di atas lantai.
Sementara itu, Leon sedang berada di ruang tamu dan menerima telfon dari seseorang.
“Sudah ku duga, itu memang bukan kecelakaan biasa.”
^^^“Pelakunya … istri Pak Reinhard sendiri.”^^^
“Ck!” Leon mendecak saat mengetahui siapa pelaku yang telah membuat kakak kandungnya kecelakaan hingga terbaring koma di rumah sakit.
Sorot mata biru Leon terlihat menatap lurus ke arah balkon yang ada di ruang tamu. Rahangnya menegang dengan pembuluh darah yang tampak di permukaan kulit.
“Kumpulkan semua bukti-bukti yang ada. Jangan sampai ada yang terlewatkan.”
^^^“Baik, Pak.”^^^
“Ah. Satu lagi, selidiki transaksi banknya juga. Aku curiga dia memelihara gig0lo di luar sana.”
Usai memberikan perintah pada pria yang ada di balik ponsel, Leon mematikan ponselnya. Ia menghela nafas sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada. Ia berjalan menuju pintu balkon di mana tirai sedang menari-nari terkena terpaan angin.
Sesaat kemudian ia tersadar di apartemen itu tak hanya ada dirinya. Tapi juga ada Bianca. “Haa … aku melupakannya.”
Leon bergegas menuju ke kamar dan melihat Bianca sedang membelakanginya sembari membersihkan ranjang.
“Ngapain dirapikan? Nanti bakalan kusut lagi,” bisik Leon ke telinga Bianca sembari memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Ia mendaratkan hidungnya ke tengkuk Bianca yang tak tertutup rambut karena rambut gadis itu sedang dibungkus oleh handuk. Sembari menghirup aroma wangi dari tubuh gadis itu, Leon mengecup lembut tengkuk indah milik Bianca.
Bianca terkejut dengan mata yang terbelalak. Bukan hanya pelukan Leon yang membuatnya terkejut, bahkan ucapan pria itu cukup membuatnya terkejut sampai-sampai ia ingin meremas bibir pria itu. Semalaman ia dihajar tanpa istirahat. Bahkan pagi ini pinggangnya teramat sakit karena hentakan pria itu sangat kuat malam tadi.
“Lagi?” tanya Bianca sembari menolehkan kepalanya menghadap ke belakang. “No. Aku mau pulang.”
Cup!
Leon mendaratkan sebuah ciuman ke bibir Bianca.
“Kamu nggak boleh pergi selagi aku belum memberi izin,” terang Leon tanpa basa basi. Ia melarang gadis itu meninggalkan apartemen karena ia tahu bahwa hari ini gadis itu memiliki janji untuk bertemu dengan Rey, mantan tunangannya.
“Leon … gimana kita mau memulai hubungan kalau hubunganku dengan Rey belum selesai?”
Leon membelalak. Ia bergegas memutar tubuh Bianca agar menghadap ke arahnya. Kemudian ia memegang kedua pipi Bianca dan menatap bola mata hazel gadis itu. “So, we are in a relationship? Hmm?”
“Maksudnya?” tanya Bianca tak mengerti sembari mengerutkan keningnya.
“Ya pacaran!” seru Leon yang tak bisa menutupi kesenangannya.
“Kapan aku bilang kita pacaran?”
“Gimana kita mau memulai hubungan kalau hubunganku dengan sampah itu belum selesai?” Leon mengulang ucapan Bianca tadi tapi mengganti nama ‘Rey’ dengan sebutan ‘sampah’.
“That’s mean, you wanna be my woman! Right?!” imbuhnya sambil memeluk tubuh Bianca ke dalam pelukannya.
“Le—”
“I love you so much,” ucap Leon yang tanpa sadar memotong ucapan Bianca.
“Leon ….” Panggil Bianca dengan nada yang sama sekali tak menunjukkan rasa senang. Ia menatap ke arah Leon yang saat itu memeluk tubuhnya dengan erat.
“Kamu pernah bilang, kalau aku mencuri ciuman pertamamu. Jangan bilang … itu juga benar-benar malam pertama yang kamu lakukan denganku? Anehnya … kenapa kamu nggak pernah melakukannya dengan mantanmu? Apalagi kamu tinggal di—”
“I have no ex before.” Leon menjawabnya dengan santai. Kedua matanya menunjukkan kejujuran dari apa yang ia ucapkan barusan.
“Impossible!” bantah Bianca sembari terkekeh pelan. “Kalau kamu jujur, aku juga nggak akan marah.”
“Aku nggak percaya wanita,” jelas Leon singkat.
“Then? Why you ask me to be your woman?”
“Entahlah. Bagiku kamu itu berbeda.”
“Nggak mungkin. Aku nggak percaya itu. Lagian, kita udah 2 kali melakukannya. Dari gerak tubuh dan kelihaianmu dalam bercinta saja sudah menjelaskan bahwa itu bukan yang pertama kalinya. Then, now you ask me to believe what you say?”
Leon menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia menghembuskannya secara perlahan. Dengan suara yang lembut ia menjelaskan kepada Bianca. “Bi, lelaki itu nggak sama dengan perempuan.”
“And I … I … hah.” Leon menghela nafasnya dengan berat. Ada sebuah kalimat yang rasanya sangat malu ia ucapkan.
“Aku ini pria. Bukan hal tabu kalau saat nafsuku memuncak, aku nonton video-video por—”
“Stop!” Bianca menempelkan telapak tangannya ke bibir Leon. Entah kenapa ia malu jika mendengar pria itu melanjutkan ucapannya. Namun, belum lama telapak tangannya menutupi mulut pria itu, mendadak ada sensasi aneh dan hangat di telapak tangannya.
Bianca mendelik saat menyadari pria itu menciumi telapak tangannya. Ia bergegas menarik tangannya dan berteriak. “Leon!”
“Should we watch it together?” goda Leon dengan tatapan mesumnya. Ia mengajak gadis itu untuk menonton video mesum bersama. Entah itu hanya sebatas gurauan, atau memang pria itu sungguhan mengajaknya.
...🫧🫧🫧...
...BERSAMBUNG…...
semangat terus🥰💪