Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simfoni yang Sumbang
Setelah euforia kelulusan mereda, kegelisahan mulai menghantui Sekar Arum. Lembaran putih ijazah seolah menjadi lembaran kosong yang menuntut diisi dengan keputusan besar: jurusan kuliah.
Minggu-minggu persiapan ujian masuk UNS berjalan dengan penuh tekanan. Buku-buku tebal menjadi teman setianya, sementara bayang-bayang masa depan terus menari di benaknya. Namun, bukan soal ujian yang paling membuatnya resah, melainkan pilihan jurusan yang terasa seperti simfoni yang sumbang.
Sejak kecil, alunan musik dan gemerlap panggung telah menjadi napas hidupnya. Namun, keputusan untuk berhenti bernyanyi telah meninggalkan luka yang menganga, menimbulkan keraguan tentang arah yang seharusnya ia tempuh.
Di satu sisi, hatinya berbisik tentang keindahan seni, kebebasan berekspresi, dan keinginan untuk menginspirasi orang lain. Jurusan sastra, ilmu komunikasi, atau bahkan antropologi terasa menarik, menawarkan peluang untuk memahami manusia dan dunia di sekitarnya.
Namun, di sisi lain, bayangan Bapak dan Ibu terus menghantuinya. Harapan mereka yang tersirat dalam setiap ucapan dan tatapan, seolah menjadi beban berat yang membebani pundaknya.
Suatu malam, saat sedang menemani Bapak menonton televisi, obrolan ringan berubah menjadi perdebatan kecil yang menyisakan luka di hati Sekar Arum.
"Nak, kamu sudah memantapkan diri mau ambil jurusan apa?" tanya Bapak dengan nada santai.
Sekar Arum menghela napas panjang sebelum menjawab. "Aku masih bingung, Pak. Aku tertarik pada beberapa jurusan, tetapi belum bisa memutuskan," kata Sekar Arum, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
"Bapak sarankan kamu ambil jurusan ekonomi saja," kata Bapak dengan nada yang mantap, tanpa menoleh sedikit pun dari layar televisi. "Jurusan itu paling aman dan menjanjikan masa depan yang terjamin. Lulusan ekonomi selalu dicari perusahaan-perusahaan besar."
Sekar Arum merasa ada sesuatu yang mencubit hatinya. Ia tidak menyangka bahwa Bapaknya akan memberikan saran yang begitu terang-terangan.
"Tapi, Pak, aku tidak terlalu berminat dengan ekonomi. Aku lebih suka belajar tentang manusia, budaya, dan masyarakat," kata Sekar Arum, berusaha menjelaskan perasaannya dengan hati-hati.
Bapak tertawa kecil. "Itu hanya hobi, Nak. Yang penting itu masa depan. Kamu harus memikirkan bagaimana kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarga," kata Bapak menatap Sekar Arum dengan tatapan yang penuh harapan. "Kamu harus memikirkan bagaimana kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarga," kata Bapak, menekankan setiap kata.
Sekar Arum merasa dadanya sesak. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia mencintai Bapaknya dan tidak ingin mengecewakannya, tetapi ia juga tidak ingin mengorbankan impiannya sendiri.
"Pak, aku mengerti apa yang Bapak katakan. Tapi, aku merasa bahwa aku tidak akan bahagia jika aku bekerja di bidang yang tidak aku sukai," kata Sekar Arum dengan suara bergetar. "Aku ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, tetapi aku juga ingin menikmati apa yang aku lakukan."
Bapak menghela napas panjang. "Nak, hidup itu tidak selalu tentang kesenangan. Kadang-kadang, kita harus melakukan hal-hal yang tidak kita sukai demi masa depan yang lebih baik," kata Bapak dengan nada bijak. "Bapak hanya ingin yang terbaik untukmu. Bapak tidak ingin kamu mengalami kesulitan di masa depan."
Sekar Arum terdiam sejenak. Ia tahu bahwa Bapaknya hanya ingin melindunginya dan memberikan masa depan yang terjamin. Namun, ia juga merasa bahwa Bapaknya tidak mengerti apa yang sebenarnya ia inginkan.
"Pak, aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk sukses di bidang apa pun yang aku pilih," kata Sekar Arum dengan penuh keyakinan. "Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa membanggakan Bapak dan Ibu."
Bapak menatap Sekar Arum dengan tatapan yang penuh arti. Ia melihat tekad dan semangat di mata anaknya. Ia mulai merasa ragu dengan keputusannya.
"Nak, Bapak tidak ingin memaksamu. Bapak hanya ingin kamu memikirkan semua pilihan dengan matang," kata Bapak dengan nada yang lebih lembut. "Yang terpenting, kamu harus bahagia dengan apa yang kamu lakukan."
Sekar Arum tersenyum lega. Ia merasa bahwa Bapaknya mulai membukakan hati untuknya.
"Terima kasih, Pak. Aku akan memikirkan semuanya dengan baik-baik," kata Sekar Arum.
Namun, perdebatan dengan Bapaknya belum berakhir di situ. Keesokan harinya, saat sedang membantu Ibunya memasak di dapur, Ibu juga memberikan pendapatnya tentang pilihan jurusan Sekar Arum.
"Nak, kenapa kamu tidak coba jurusan kedokteran saja?" tanya Ibu dengan nada penuh harap. "Menjadi dokter itu pekerjaan yang mulia. Kamu bisa membantu orang lain dan mendapatkan penghasilan yang layak."
Sekar Arum terkejut mendengar perkataan Ibunya. Ia tidak pernah terpikir untuk menjadi dokter. Ia tidak terlalu menyukai pelajaran IPA dan merasa bahwa dirinya tidak cocok dengan dunia kedokteran.
"Tapi, Bu, aku tidak tertarik dengan kedokteran. Aku tidak suka melihat darah dan merasa tidak sanggup menghadapi pasien yang sakit," kata Sekar Arum dengan nada jujur.
Ibu menghela napas panjang. "Nak, Ibu hanya ingin kamu memiliki masa depan yang cerah. Menjadi dokter itu pilihan yang tepat untuk perempuan. Kamu bisa bekerja sebagai dokter dan sekaligus mengurus keluarga," kata Ibu, berusaha meyakinkan Sekar Arum. "Selain itu, menjadi dokter juga mendapatkan status sosial yang tinggi di masyarakat."
Sekar Arum merasa semakin tertekan. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan kepada orang tuanya bahwa ia tidak ingin menjadi apa yang mereka inginkan. Ia ingin menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi replika dari harapan-harapan mereka.
"Bu, aku mengerti apa yang Ibu inginkan. Tapi, aku merasa bahwa kedokteran bukan jalan hidupku," kata Sekar Arum dengan suara lirih. "Aku ingin melakukan sesuatu yang sesuai dengan passionku dan membuatku bahagia."
Ibu terdiam sejenak. Ia menatap Sekar Arum dengan tatapan yang penuh arti. Ia melihat kesedihan dan kebingungan di mata anaknya. Ia mulai merasa bahwa ia telah terlalu memaksakan kehendaknya.
"Nak, Ibu tidak ingin membuatmu tertekan. Ibu hanya ingin kamu memiliki masa depan yang cerah," kata Ibu dengan nada yang lebih lembut. "Yang terpenting, kamu harus bahagia dengan pilihanmu."
Sekar Arum tersenyum lega. Ia merasa bahwa Ibunya mulai memahaminya.
"Terima kasih, Bu. Aku akan memikirkan semuanya dengan baik-baik," kata Sekar Arum.
Setelah berbicara dengan Bapak dan Ibunya, Sekar Arum merasa semakin bingung dan tertekan. Ia tidak tahu harus memilih jurusan apa. Ia takut mengecewakan orang tuanya, tetapi ia juga tidak ingin mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
Ia memutuskan untuk mencari waktu untuk menenangkan diri dan memikirkan semuanya dengan matang. Ia pergi ke tempat yang biasanya ia gunakan untuk menenangkan diri, yaitu sungai di dekat desanya.
Ia duduk di tepi sungai, menatap air yang mengalir deras. Ia merasakan ketenangan dan kedamaian di hatinya. Ia berusaha untuk mengosongkan pikirannya dan mendengarkan suara hatinya.
Setelah beberapa lama berdiam diri, Sekar Arum mulai merasakan pencerahan. Ia menyadari bahwa ia tidak perlu memilih antara kebahagiaan orang tuanya dan kebahagiaannya sendiri. Ia bisa menemukan jalan tengah yang memuaskan semua pihak.
Ia menyadari bahwa ia harus memilih jurusan yang sesuai dengan passionnya, tetapi ia juga harus memikirkan prospek kerja di masa depan. Ia ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, tetapi ia juga ingin menjadi mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.
Dengan hati yang mantap, Sekar Arum memutuskan untuk mengambil jurusan ilmu komunikasi. Ia merasa bahwa jurusan ini sesuai dengan minat dan bakatnya. Ia pandai berbicara, berkomunikasi, dan menulis. Selain itu, jurusan ilmu komunikasi juga memiliki prospek kerja yang luas, mulai dari jurnalis, public relation, hingga marketing.
Sekar Arum berharap bahwa keputusan ini akan membuat Bapak dan Ibunya bangga
Ia berjanji akan belajar dengan giat dan meraih prestasi yang membanggakan agar dapat membuktikan bahwa ia telah memilih jalan yang tepat.
Dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih, Sekar Arum kembali ke rumah. Ia siap menghadapi ujian masuk UNS dan meraih cita-citanya. Ia tahu bahwa perjalanan masih panjang, tetapi ia yakin bahwa ia mampu melewati semua rintangan dan meraih kebahagiaan sejati.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*