Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIMBANGAN YANG RETAK
"Lo jangan ngarang ya! Alfred nggak pernah bilang kalau hidup Ibu itu hasil nyolong dari orang lain!"
Suara Viona melengking, bergetar di sela-sela peron stasiun yang kian mendingin. Dadanya terasa dihujam ribuan jarum es; napasnya tersangkut di tenggorokan yang mendadak kering. Ia mencoba meronta, namun rel kereta yang melilit kakinya terasa seperti cengkeraman raksasa purba. Logam dingin itu merambati betisnya, menyedot energi safir yang menjadi tumpuan eksistensinya sebagai Sang Jangkar.
The First Archivist hanya memiringkan kepalanya sedikit. Kacamata lensa tunggalnya memantulkan cahaya perak yang merayap dari langit-langit stasiun. Ia memutar pena bulu tulangnya dengan gerakan anggun, seolah sedang memimpin sebuah orkestra kematian yang sunyi.
"Alfred hanya memberikan bagian yang enak didengar, Manusia. Dia adalah kurator, dan seorang kurator hanya memamerkan artefak yang indah di etalase, sementara bangkai dan busuknya disimpan rapat di ruang bawah tanah," sahut Sang Pengarsip. Suaranya datar, namun memiliki resonansi yang membuat tulang belakang Viona menggelenyar ngilu.
Viona melirik ke arah pria tua berseragam kereta api zaman kolonial di depannya. Pria itu tampak menyusut; kulitnya yang keriput kian menempel pada tulang, sementara api hitam di lenteranya berdenyut semakin kencang. Setiap denyut api itu seolah-olah mengisap sisa-sisa warna dari wajah ibunya, Elena, yang terpantul di dalam kaca lentera tersebut. Bayangan Elena di sana tampak sedang tertawa riang di dapur rumah mereka, namun perlahan-lahan, tawa itu berubah menjadi isak tangis tanpa suara seiring memudarnya pendar emas di matanya.
"Liat kakek itu, Vio. Dia harusnya mati dengan tenang seratus tahun lalu. Tapi takdirnya ditahan, napasnya diperpanjang secara paksa hanya untuk menjadi donor energi bagi 'keajaiban' yang kamu nikmati sekarang," lanjut Sang Pengarsip. Ia melangkah maju, membiarkan ujung sepatunya menginjak butiran hujan perak yang menggenang di lantai peron. Tetesan itu tidak menciprat; mereka justru menjauhi kakinya seolah takut pada otoritas yang ia bawa.
"Gue nggak pernah minta keajaiban yang kayak gini! Gue cuma mau hidup normal!" raung Viona. Ia memaksakan tangannya yang gemetar untuk membuka payung birunya yang masih tertekuk.
"Nggak ada yang normal setelah kamu menyentuh Jantung Waktu, Nirmala. Dunia ini adalah timbangan. Kamu menambah berat di satu sisi, maka sisi lain akan terangkat ke arah kehampaan."
Di belakang Sang Pengarsip, Lukas mematung dengan mulut setengah terbuka. Satu jarinya masih menempel pada layar gawainya yang retak, terperangkap dalam satu milidetik yang dibekukan oleh kekuatan Sang Pengarsip. Julian pun tidak lebih baik; ia berdiri seperti patung perunggu di tengah pose menyerang, pedang pendeknya hanya berjarak beberapa inci dari punggung Sang Pengarsip, namun tidak pernah benar-benar mencapainya. Keheningan di tempat itu begitu pekat, hingga Viona bisa mendengar detak mesin jam raksasa yang seolah tertanam di bawah fondasi stasiun.
Distorsi visual di peron semakin parah. Dinding beton stasiun modern mulai terkelupas, menyingkapkan struktur kayu jati tua dari abad ke-19 yang dipenuhi lumut dimensi. Suara kereta api uap yang tak kasat mata menderu di kejauhan, bercampur dengan pengumuman keberangkatan KRL yang suaranya terdengar seperti diputar mundur. Jakarta sedang ditarik dari dua arah yang berlawanan, dan Viona adalah poros yang menahannya agar tidak robek.
"Jadi... kalau gue balikin semuanya sekarang, kakek ini bakal bebas? Ibu bakal... balik lumpuh lagi?" tanya Viona. Suaranya kini mengecil, nyaris menyerupai bisikan angin.
Sang Pengarsip tersenyum. Senyum itu tidak memberikan ketenangan; ia lebih mirip garis luka yang dipaksa terbuka di wajah porselennya. "Bukan sekadar lumpuh, Viona. Karena kamu telah memicu Paradoks Balik di Monas, mengembalikan utang ini berarti menghapus setiap detik kebahagiaan yang kalian alami sejak 'reset' itu. Ibumu tidak akan ingat kamu pernah menyelamatkannya. Dia akan mati di rumah sakit sepuluh detik setelah kamu membuat pilihan ini."
Viona memejamkan mata. Bayangan senyum ibunya saat sarapan tadi pagi melintas seperti slide film yang terbakar. Aroma nasi goreng mentega, hangatnya sinar matahari di ruang makan, dan tawa ayahnya, Nathan—semuanya terasa seperti pasir yang mulai meluncur keluar dari genggamannya.
"Lo jahat banget ya," desis Viona. Matanya terbuka kembali, kini berpendar dengan warna safir yang lebih pekat, hampir mendekati hitam. "Lo bilang lo mau ngoreksi kesalahan, tapi lo sendiri yang bikin pilihan ini jadi mustahil buat gue."
"Saya bukan jahat. Saya adalah Penyeimbang. Dan tugas saya adalah memastikan tidak ada 'sampah' emosional yang menyumbat aliran sejarah." Sang Pengarsip mengangkat pena bulu tulangnya tinggi-tinggi. Cahaya ultraviolet mulai berkumpul di ujung pena tersebut, membentuk simbol-simbol kuno yang seolah-olah haus akan darah waktu. "Waktumu habis, Sang Jangkar. Pilih sekarang: Biarkan kakek ini hancur dan Jakarta perlahan memudar menjadi abu, atau hapus keberadaan ibumu dan pulihkan hukum semesta."
Viona menggenggam gagang payung birunya hingga buku jarinya memutih. Ia merasakan koin di dalam dadanya—bekas Jantung Waktu yang sudah pecah—berdenyut panas. Ia tahu, ia tidak bisa menang melawan hukum alam semesta dengan cara bernegosiasi. Ia harus melakukan sesuatu yang di luar logika para pengarsip.
"Gue pilih... opsi ketiga."
Sang Pengarsip mengerutkan kening. Untuk pertama kalinya, ketenangan di wajahnya terusik. "Tidak ada opsi ketiga dalam buku saya."
"Makanya, lo harus sering-sering update buku lo," sahut Viona dengan nada nekat yang muncul dari keputusasaan.
Dengan satu gerakan sentakan yang menguras seluruh tenaganya, Viona tidak mengarahkan payung birunya ke arah Sang Pengarsip. Ia justru menghujamkan ujung payung tersebut ke lantai peron, tepat di titik di mana bayangan gerbong kereta kolonial dan KRL modern saling bertumpukan.
BLAARRR!
Ledakan energi safir yang sangat besar menghantam pusat tabrakan dimensi tersebut. Gelombang kejutnya membuat waktu yang membeku di stasiun itu mendadak retak. Lukas dan Julian terlempar ke belakang saat gravitasi kembali berfungsi secara brutal. Suara deru kereta uap yang tak kasat mata tadi berubah menjadi jeritan logam yang memekakkan telinga.
"Vio! Apa yang lo lakuin?!" teriak Lukas sambil berusaha bangkit, gawainya mengeluarkan asap hitam.
Viona tidak menjawab. Ia sedang sibuk menahan tekanan energi yang luar biasa. Lantai stasiun mulai terbelah, menyingkapkan pusaran air perak di bawahnya. Namun, bukannya menghapus warna, pusaran itu kini mulai menarik masuk sosok pria tua berlentera hitam dan Sang Pengarsip secara bersamaan.
"Kamu mencoba menggabungkan kedua garis waktu ini secara permanen?!" Sang Pengarsip berteriak, suaranya mulai terdistorsi oleh tarikan pusaran. "Kamu gila! Jika mereka menyatu, kamu akan kehilangan statusmu sebagai manusia selamanya! Kamu akan menjadi bagian dari mesin stasiun ini!"
"Biarin! Asal kakek ini nggak menderita lagi dan Ibu tetep punya hidupnya!" Viona berseru, rambutnya berkibar liar diterjang angin dimensi.
Julian melompat maju, mencoba menarik Viona keluar dari pusat pusaran, namun ia tertahan oleh tembok transparan yang diciptakan oleh ledakan energi tersebut. "Viona! Jangan nekat! Lo nggak bakal bisa balik kalau lo masuk ke dalam pusaran itu!"
Viona menoleh ke arah Julian dan Lukas. Ia memberikan senyuman tipis—senyuman perpisahan yang sama dengan yang diberikan Nathan sepuluh tahun lalu. "Jagain Ibu ya, Lukas. Bilang sama dia... kopinya jangan kebanyakan gula."
Tepat saat Sang Pengarsip mencoba menuliskan kata penghapusan terakhir di udara, Viona menarik payungnya kembali dan melompat masuk ke jantung pusaran air perak tersebut, membawa serta pria tua berlentera hitam itu bersamanya.
ZING!
Cahaya putih membutakan segalanya. Suara kebisingan stasiun mendadak lenyap, berganti dengan kesunyian yang mencekam.
Beberapa saat kemudian, Lukas dan Julian mendapati diri mereka berdiri di peron Stasiun Kota yang normal. Hujan perak sudah berhenti. Kereta api uap kolonial sudah hilang. Pria tua itu pun sudah tidak ada. Semuanya tampak seperti stasiun biasa di malam hari, kecuali satu hal: di tengah peron, tergeletak sebuah payung biru tua yang kainnya sudah hancur, menyisakan kerangka logam yang patah menjadi dua.
Julian mengambil patahan payung itu dengan tangan gemetar. Ia menatap ke arah rel yang sepi. "Dia beneran pergi..."
"Bukan cuma pergi, Bang," Lukas menunjuk ke arah papan jadwal kereta digital di atas mereka.
Papan itu tidak lagi menampilkan rute Bogor atau Bekasi. Di sana, tertulis satu kalimat pendek yang membuat bulu kuduk mereka berdiri:
"PERON 0: KEBERANGKATAN MENUJU ORIGIN. PENUMPANG: NIRMALA PUTRI MAHENDRA."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang teratur terdengar dari arah terowongan gelap di ujung peron. Bukan langkah Sang Pengarsip. Langkah ini terasa lebih berat, lebih kuno, dan membawa aroma tanah makam yang basah.
Sosok pria dengan jubah compang-camping muncul. Wajahnya tertutup kain kasa, namun di tangannya ia memegang sebuah jam saku yang sudah mati.
"Jangan senang dulu, anak muda," ucap pria berjubah itu dengan suara yang terdengar seperti ribuan suara orang mati. "Viona baru saja masuk ke sarang kami. Dan di Origin, waktu bukan untuk dijaga... tapi untuk dikonsumsi."
Lukas menelan ludah, ia segera mengangkat gawainya yang tinggal memiliki sisa baterai satu persen. "Terus lo siapa lagi? Jangan bilang lo bosnya Pak Pengarsip tadi?"
Pria berjubah itu melepas penutup wajahnya, menyingkapkan wajah yang hancur namun masih memiliki kemiripan dengan Nathan Mahendra.
"Aku adalah Nathan yang kalian lupakan," bisik pria itu sambil menunjuk ke arah rel. "Dan jika kalian ingin menjemput Viona, kalian harus membayar tiketnya dengan ingatan kalian yang paling berharga."