Seorang wanita bernama Arabella Gwenevieve berusia 22 tahun.. Hidupnya begitu kelam setelah dijual oleh kedua orang tuanya dan menikah dengan seorang pria yang dijodohkan dengannya.. Namun pernikahan tersebut hanya berlangsung selama beberapa bulan dan suaminya kembali mencampakkannya.. Hidupnya berubah setelah bertemu dengan seorang mafia yang sangat kejam dan di takuti di kota tersebut..
penasaran seperti apa kisahnya?
Ikuti Kisah nya terus.. jgn lupa like and vote sebanyak banyaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yaya genza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Charles.? "
Terdengar suara panggilan kakeknya di belakang. Secara otomatis Charles menoleh. Ia mengangguk sementara kakeknya bergerak mendekat.
"Kenapa kau melamun disini? Kurasa kau dan aku punya banyak hal yang harus dibicarakan terkait bisnis. "
"Aku sedang tidak berminat membahas soal bisnis. " Jawab Charles datar. Javas mengernyit.
"Ada apa nak.? Aku lihat akhir akhir ini kau gelisah dan sangat sensitif.? "
Charles hanya diam, tak mengatakan apa apa.
" Apa kau khawatir soal Rosye? Aku mengerti, kau pasti tidak nyaman dengan rencana pernikahan ini. Kau kesal karena harus menikah lagi, tetapi kau tahu ini bagus untuk kita. "
Telapak tangan Javas menyentuh punggung cucunya.
"Kau harus fokus Charles. Kau hampir menggenggam dunia di tanganmu.! "
Charles menghela nafas.
"Aku akan kembali ke apartemen ku setelah ini. Sampai bertemu nanti di hari pertunangan. "
***
Hari itu terasa panjang bagi Arabella. Ia bekerja tanpa henti, memastikan semua tugasnya selesai dengan sempurna. Meskipun selama beberapa hari terakhir dalam pelatihan lapangan, Arabella melakukan beberapa hal yang tidak maksimal.
Sudah beberapa hari ini Arabella bekerja tanpa henti untuk mempersiapkan segalanya di gedung hotel itu. Ia juga bertemu orang orang baru yang bersikap baik padanya.
Ketika malam tiba, perjamuan yang diadakan setiap malam itu dengan tamu tamu berbeda. Mulai dipenuhi dengan tamu tamu berpakaian mewah. Musik klasik mengalun lembut di latar belakang, sementara para pramusaji sibuk melayani minuman dan makanan.
Arabella berusaha tetap tenang, meskipun matanya terus melirik ke arah tamu tamu itu. Ia takut melihat wajah yang dikenalnya, terutama Charles. Namun, hingga malam larut, Charles tidak nampak di manapun.
Arabella mendesah lega di dalam hati.
"Syukurlah aku tidak bertemu Charles. Kalau saja aku bertemu dengannya, aku pasti akan habis. " Gumamnya.
Saat acara berlangsung. Arabella terus bekerja tanpa henti, membawa nampan dan gelas gelas berisi koktail.
"Arabella.? " Tiba tiba suara seorang wanita memanggilnya.
Arabella spontan menoleh dan melihat wanita cantik yang tak muda lagi tersenyum padanya. Seketika mata Arabella melebar terkejut.
"N.. Nyonya Marta.? "
"Hai.! Sudah lama tidak berjumpa. "
Marta Davidson, bergerak otomatis menghampiri Arabella. Wanita itu bahkan tidak ragu saat memberikan kecupan di pipi kanan dan kiri seorang gadis pramusaji seperti Arabella. Wanita itu sepenuhnya tersenyum lebar, hangat dan baik hati. Persis seperti wanita yang Arabella kenal sejak ia muda.
"Kau bekerja disini.? " Tanya nyonya Marta. Arabella menatap seragamnya.
"Iya, nyonya. Ini.. Pekerjaan baruku."
"Kenapa kau tidak kembali ke sanggar saja? Kau tahu, kau selalu diterima di sana. Aku kehilangan seorang penari berbakat. "
Sejak sekolah menengah atas, Arabella masuk ke dalam Eschol pole dancing, dan beberapa kali ia menang dalam kompetisi. Dari sanalah Arabella bertemu Marta Davidson. Sejak ia lulus sekolah, ia telah bekerja dengan wanita itu sebagai penari tiang dengan gaji yang cukup.
Arabella bahkan di tunjuk menjadi mentor. Tetapi karena harus menikah, Arabella melepaskan pekerjaan itu dan ia tidak menyangka akan bertemu Marta Davidson di sana.
"Aku tidak yakin tubuhku masih lentur. " Kata Arabella tersenyum muram.
Marta Davidson membawa Arabella ke sudut area perjamuan.
"Aku senang bertemu denganmu lagi, sayang. Apa yang terjadi.? "
"Aku bercerai dari suamiku. " Arabella tersenyum lagi. Namun ekspresi di wajah Marta menunjukkan penyesalan.
"Pasti berat untukmu Arabella. " Sejak dulu wanita itu selalu baik hati.
"Apa kau baik baik saja.? " Tanyanya kemudian.
"Ya, tentu. "
Senyum di wajah Marta merekah.
"Beberapa hari lagi, putriku Rosye akan bertunangan disini. Semua yang dipersiapkan disini adalah untuknya. "
"Putri nyonya.? "
"Ya, si bungsu. " Jawab Marta tersenyum
"Akan ada pertunjukan tari tiang disini, sebagai persembahan dariku dan sanggar. Apa kau ingin bergabung.? "
"B.. Bergabung.? "
"Bayarannya cukup mahal untuk sekali pertunjukan. Kupikir kau akan senang bisa tampil lagi.? "
"A.. Aku tidak yakin aku masih ingat gerakannya. " Jawab Arabella. Marta tertawa.
"Datanglah ke sanggar besok, lalu lenturkan tubuhmu. Kau itu salah satu penari tiang paling berbakat di sanggarku, Arabella. Kurasa berlatih satu atau dua hari saja kau bisa mengejar yang lain. "
"Bayarannya cukup mahal. Bagus. Aku memang sedang membutuhkan uang. Sangat membutuhkannya. " Pikir Arabella.
"Maukah kau bergabung, sayang.? Aku mohon..! " Marta menatap Arabella penuh permohonan. Dan Arabella pun mengangguk.
Disinilah Arabella saat ini. Berada di pesta pertunangan putri dari nyonya Marta Davidson. Arabella memiliki dua tugas hari ini, sebagai gadis pramusaji dan penari tiang.
Pesta megah pun dimulai. Belum ada tanda tanda kehadiran putri nyonya Marta ataupun pria yang akan bertunangan dengannya.
Arabella terus bekerja, membagikan minuman, menawarkan kudapan kudapan. Sampai akhirnya seluruh perhatian semua orang terfokus pada kedatangan seorang pria. Pria yang akan bertunangan dengan putri nyonya Marta.
Dengan penuh rasa ingin tahu, Arabella mengambil posisi agar ia bisa melihat lebih leluasa ke arah pria yang akan bertunangan dengan Rosye nanti. Dan betapa terkejutnya Arabella ketika melihat Charles Aldridge ada di sana. Sebagai calon tunangan putri nyonya Marta.
"D.. Dia ada disini.! " Gumam Arabella dengan kaget.
Flashback On
Charles berada dalam perjalan bersama kakeknya, ia duduk di mobil menuju gedung hotel tempat dimana pertunangannya dan Rosye akan dilaksanakan.
Sayangnya, beberapa hari menghindar dari semua orang tidak lantas membuat Charles membaik. Ia semakin marah, kesal dan ingin memaki siapapun setiap hari.
"Kau banyak diam Charles. " Ujar Javas.
"Kakek tau aku tidak suka basa basi. " Jawabnya datar.
"Beberapa hari ini kau sulit dihubungi. "
"Apakah itu menjadi masalah.? Yang terpenting saat ini aku datang untuk pertunanganku. "
Javas Aldridge menatap keluar.
"Apakah semua karena gadis itu.? " Ucap Javas kemudian. Pasti yang dimaksud kakeknya adalah Arabella. Mendengar itu Charles semakin tegang.
"Kau sudah mengizinkanku melakukan apa yang ku suka. "
"Dengan syarat kau akan fokus pada tujuan. Tapi kau tidak fokus Charles. " Kakeknya menepuk nepuk tempurung lututnya yang mulai sakit.
"Aku tidak melarangmu mencari kesenangan, aku bahkan tidak mempermasalahkanmu seandainya memiliki banyak wanita di kediamanmu. Tentunya harus dengan syarat, kau akan memastikan mereka tidak mempengaruhimu. "
"Apakah kakek tau siapa dia.? " Tanya Charles. Pria tua itu bersandar ke kursi mobil yang empuk.
"Aku akan tahu jika aku mencari tahu. Tapi aku tidak berminat. Aku hanya fokus pada Rosye. Kau tau, keluarganya akan memiliki akses yang lebih besar pada perjanjian kekuasaan. " Javas mengerucutkan bibir.
"Itu permainan kekuasaan antara para pejabat tinggi. Mereka memasang harga berupa harta, jabatan, bahkan nyawa anggota keluarga mereka. Ini seperti permainan dadu, undian dengan resiko kelas dunia. Nama yang keluar akan memiliki akses terhadap kelompok yang kalah. Kelompok yang kalah akan memasang tubuh mereka untuk melindungi kelompok yang menang. "
"Dengan kata lain, jika kau yang menang. Mereka akan memberikan seluruh kekuatan di pihakmu. " Kata Charles menyahut.
HAPPY READING♥
Jangan Lupa Like, Komen, Subscribe Sayangku♥
kake nya Carles atau musuhnya tour