Ini adalah lanjutan dan Berondong Bayaran, CEO Cantik Bagian pertama.
Setelah memilih melanjutkan pernikahan dan merobek kontrak yang pernah mereka buat. Keenan Arka Adrian yang berusia 22 tahun, serta istrinya Amanda Marcelia Louise yang kini telah berusia 32 tahun. Mereka sepakat menjalani biduk rumah tangga ditengah segala perbedaan yang ada.
Mampukah mereka mempertahankan rumah tangga yang telah dibangun dengan susah payah tersebut?. (Jangan lupa baca bagian pertamanya di "Berondong Bayaran, CEO Cantik)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pratiwi Devyara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syuting
Esok harinya sesuai janji, Arka berangkat dari rumah menuju lokasi syuting sebelum jam delapan pagi. Sebab jam delapan semua talent harus sudah berada di tempat.
Ketenaran yang mulai diraih, tak lantas menjadikan Arka sebagai aktor yang menerapkan jam karet.
Seperti banyak aktor dan aktris pada umumnya yang apabila sudah memiliki nama, maka cenderung akan banyak tingkah.
Datang sering terlambat, ada saja permintaan aneh yang mereka kemukakan selama syuting. Mulai dari meminta kursi pribadi, menyuruh kru membersihkan barang mereka dan lain-lain.
"Man, aku berangkat syuting. Doain ya."
Arka mengirim pesan singkat itu pada sang istri. Sedang Amanda kini tengah berada dalam perjalanan menuju ke kantor Gareth. Sebab mereka akan membicarakan perihal kerjasama yang telah mereka rencanakan sebelumnya.
Amanda dan Gareth sengaja bertemu di pagi hari. Sebab siangnya mereka ada rapat penting di kantor masing-masing.
Arka menilik ke arah handphone, meski tengah fokus menyetir mobil. Namun Amanda belum membalas pesan yang ia kirim tadi.
"Ah, mungkin Amanda belum bangun." pikir Arka.
Maka pria itu pun lanjut mengemudi dan menaikkan kecepatan. Setibanya di lokasi syuting, Arka langsung di sambut dengan sangat baik.
Ia telah cukup dikenal dan banyak Production House yang berebut ingin bekerjasama dengannya. Namun Arka sedikit pemilih, agar dirinya terkesan eksklusif. Meski dengan bayaran berapapun sejatinya ia menerima.
Namun ia tak bekerjasama dengan PH yang menghasilkan sinetron atau film yang menurutnya kurang bagus. Seperti yang Rio bilang itu hanya akan merusak citra.
"Kita nyari duit boleh, bro. Tapi pilih-pilih juga, jangan semuanya di embat." tukas sahabatnya itu pada Arka.
"Gue juga nggak mau sembarangan." ujar Arka.
"Masa gue main sinetron azab." lanjutnya lagi.
"Kalau ceritanya masuk akal mah nggak apa-apa, ini terlalu mengada-ada anjir. Kepepet keuangan pun gue belum tentu mau." tambahnya kemudian.
Dan seperti biasa Rio tertawa, lalu pembahasan pun berlanjut ke sinetron-sinetron lainnya yang memang dirasa pantas untuk di roasting.
***
"Ka, udah ready kan?"
Salah satu koordinator talent berkata pada Arka. Saat itu Arka sudah selesai di touch up. Seperti di ketahui jika untuk keperluan syuting apapun, laki-laki dan perempuan semuanya di makeup. Itu untuk menghindari wajah berminyak saat di depan kamera.
"Kita ke ruangan briefing dulu." ujar koordinator talent tersebut.
"Oke." jawab Arka lalu beranjak.
Ia mengikuti langkah sang koordinator tersebut hingga mereka tiba di sebuah ruangan. Dan betapa terkejutnya Arka melihat adanya Elina ditempat itu. Elina pun sama terkejutnya.
Ternyata mereka berada di satu project kali ini. Tentu saja keduanya langsung antusias dan saling menyapa satu sama lain.
Setelah mendengar arahan dan penjelasan secara panjang lebar kali tinggi. Tibalah saat proses syuting akan dimulai.
Tak ada reading atau latihan yang dilakukan di hari-hari sebelumnya. Semuanya tumplek di saat itu juga. Untungnya iklan tersebut tak ada dialog dan narasinya akan diisi oleh orang lain atau pengisi suara.
"Oke siap, kamera, rolling and action."
Para talent beradegan sesuai apa yang telah diarahkan di ruang briefing tadi. Untungnya Arka adalah penghafal adegan sekaligus dialog yang cepat. Berhubung ini tak ada dialog, jadi pekerjaannya jauh lebih ringan.
Di dalam iklan tersebut ia di pasangkan dengan Elina. Ada beberapa adegan mereka yang cukup mesra layaknya sepasang kekasih.
Karena seorang pekerja yang profesional, keduanya pun melakukan hal tersebut dengan baik.
"Cut."
Beberapa adegan selesai, meski ada sedikit pengulangan. Kemudian syuting di lanjut dengan adegan demi adegan berikutnya. Sampai akhirnya semua proses benar-benar selesai.
Saat itu sudah jam setengah sepuluh malam. Orang-orang mungkin mengira iklan yang sedikit, syutingnya pun sebentar.
Namun kenyataannya tak sesederhana itu. Apalagi jika ada adegan yang harus di ulang hingga beberapa kali. Itu merupakan sesuatu yang memakan cukup banyak waktu.
***
"Hhhh, capek juga ya hari ini."
Elina berujar pada Arka ketika mereka telah pulang dari lokasi syuting dan makan di sebuah restoran cepat saji yang buka selama 24 jam.
"Iya lumayan, untungnya semua bisa bekerjasama dengan baik." ujar Arka.
"Iya bener. Karena gue pernah syuting bareng artis baru yang aktingnya bebal banget. Nggak tau siapa yang casting, bisa-bisanya orang kayak gitu lolos." tukas Elina.
"Salah mulu ya?" tanya Arka.
"Hmm bukan lagi. Kalau nggak karena udah tanda tangan kontrak, mungkin gue udah tinggalin tuh lokasi. Saking capeknya gue ngulang mulu." ujar Elina lagi.
Arka tertawa.
Pada saat yang bersamaan Amanda baru saja pulang dari kantor. Para karyawan pun pulang di jam yang sama hari itu.
Mereka semua lembur menyelesaikan pekerjaan. Amanda meraih handphone dari dalam tas. Sejak tadi pagi ia tak ada sama sekali menyentuh perangkat itu.
Ia melihat ada pesan dari Arka yang dikirim pagi tadi. Amanda mencoba menelpon suaminya itu dan Arka sendiri meninggalkan handphonenya di mobil. Karena ia pikir hanya sekedar makan, habis ini pulang.
"Ka, kamu masih di lokasi atau udah pulang?" tanya Amanda melalui WhatsApp.
Tak ada balasan.
"Tidur ya?. Apa gimana?" tanya nya lagi.
Tetap tak ada balasan sama sekali. Mungkin memang masih di lokasi dan belum selesai take adegan, pikir Amanda. Akhirnya wanita itu pun memutuskan untuk tidak lagi mengirim chat.
***
"Abis ini mau kemana, Ka?" tanya Elina ketika acara makan mereka sudah hampir selesai.
"Kemana lagi, paling pulang." jawab Arka.
"Nggak mau kemana gitu?" tanya perempuan itu lagi.
"Minum maksudnya?" Arka langsung to the poin sambil tertawa.
"Ayolah, bentar doang. Udah lama juga kita nggak minum bareng. Bentar aja sejam dua jam, abis itu pulang." ujar Elina.
Arka diam, ia sejatinya agak ragu pada ajakan tersebut. Namun demi melihat wajah temannya yang penuh harap itu, ia jadi tak tega untuk menolak.
"Ya udah, tapi bentar doang ya. Gue nggak bisa sampai pagi, karena besok harus kerja." ujar Arka.
"Oke, paling kita nge-beer doang. Yang ringan-ringan aja." tukas Elina.
"Oke." jawab Arka.
Tak lama mereka pun terlihat meninggalkan tempat tersebut. Amanda sendiri sudah setengah perjalanan. Tetapi ia masih juga belum mendapatkan balasan dari Arka.
Mendadak timbul rasa khawatir, meski telah berusaha ia berpikir positif. Sebagai seorang istri tentu saja pikiran wanita itu jadi kemana-mana.
"Ri, lo syuting bareng Arka nggak?"
Amanda mencoba mencari tau tentang suaminya dari Rio. Tak lama Rio pun membalas.
"Nggak, Man. Arka sendiri yang dikasih job sama mbak Arni."
"Oh, gue pikir kalian bareng. Mau nanya aja, soalnya jam segini koq Arka susah di hubungi. Gue chat nggak di jawab.
"Jam segini mah biasanya masih syuting, Man. Mau cuma iklan doang yang seuprit, kadang syutingnya makan waktu loh. Apalagi kalau talentnya yang tipe salah mulu."
"Tapi Arka nggak gitu kan?" tanya Amanda.
"Iya Arka nggak, talent lain?"
"Oh iya, oke deh. Berarti masih di lokasi ya, nggak kemana-mana."
"Iya, tenang aja. Percaya sama Arka, Man. Lo paham suami lo kayak apa kan?"
"Iya sih. Ya udah deh, thank you ya Ri."
"Sama-sama. Nggak usah mikir macem-macem, ntar malah ribut." tukas Rio.
"Iya penasehat Riri. Wkwkwk."
Rio kemudian membalas Amanda dengan emoticon yang lucu namun menyebalkan.
Daaaan...sekarang author favorit aq update lagi. Senangnyaaa....Sehat² terus ya, kakak Dev...we love you 😍😍😍
sehat sehat kak author