“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Ujian Kesabaran Part. 1
“Selamat pa—"
“Khusus untuk anda. Jangan bicara padaku, jika tidak berkaitan dengan masalah pekerjaan. Karena selain masalah pekerjaan, aku tidak akan menjawabnya.” Suara itu dingin. Tajam. Mengandung kebencian yang belum sempat mendingin.
“Kau….”
“Yang mulia, tenang! Bersabarlah, ingat perkataan Denzel semalam,” bujuk Dorian saat Ragnar langsung tersulut emosinya.
“Kau benar! Rupanya apa yang Denzel katakan semuanya sangat tepat, dia sedang sangat marah padaku karena merasa aku menipunya. Padahal memang vampire memiliki kemampuan khusus sejak lahir, kan?” ujarnya lirih.
Dorian mengangguk, membenarkan apa yang Rajanya katakan. Meski begitu Ragnar memang sempat sedikit mempermainkan Ivory yang tulus mengkhawatirkannya. Ia pun sudah menebak bahwa kemarahan reinkarnasi ratunya juga tidak salah. Ditambah reinkarnasi ratunya sudah mengetahui kejadian di kehidupan masa lalunya dari sisi Elena saja.
“Iya, Yang mulia! Saya mengerti, tapi biarkan reinkarnasi Yang mulia ratu sedikit waktu dulu. Nanti aku akan mencari kesempatan untuk menjalankan scenario kita selanjutnya,” ujar Dorian.
Tidak ada pilihan lain, Ragnar berusaha bersabar untuk menghadapi sikap dingin dan ketus atas kemarahan Ivory. Lagipula, di depannya saat ini sudah menjulang tinggi berbagai berkas yang harus ia selesaikan secepatnya.
Di ruangan khusus CEO, udara terasa lebih dingin dari biasanya atau mungkin hanya perasaan Ragnar dan Dorian saja. Ivory sudah duduk di kursinya, punggung tegak, jemari lincah di atas papan ketik. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya tenang tanpa ekspresi berlebih. Sejak pagi, begitulah adanya. Jarak. Senyap. Profesional yang nyaris kejam.
“Ratuku,” panggil Ragnar, suaranya tertahan. “Bagaimana dengan jadwal makan siangku?”
Ivory meremat kuat ujung pakaiannya untuk melampiaskan kemarahannya yang tertahan saat mendengar Ragnar memanggilnya dengan sebutan ratu. Ia tidak ingin menjawab, tetapi ini sudah menjadi bagian dari pekerjaan yang harus ia lakukan.
Tanpa menoleh, Ivory menjawab datar, “Pukul dua belas tiga puluh. Dengan klien dari Singapura di restaurant yang sudah saya reservasi.”
“Setelah itu?”
“Tidak ada agenda lain yang tercatat.”
Ragnar mendengus pelan. “Aku tanya—”
“Jika tidak ada tambahan pekerjaan, saya izin melanjutkan laporan keuangan, Tuan Rowan,” potong Ivory, masih dengan nada yang sama. Dingin. Tegas. Tak ada celah.
Disisi lain, Ragnar juga mengepalkan tangan. Ia berdiri, melangkah mendekat, berhenti tepat di sisi meja Ivory. Biasanya, jarak sedekat ini akan membuat reinkarnasi ratunya menegakkan bahu dengan gugup. Tapi tidak kali ini. Ivory tetap mengetik. Tidak takut. Tidak menghindar. Seolah kehadiran Ragnar hanyalah furnitur mahal di ruangan itu.
“Kau sengaja bersikap seperti ini?” tanya Ragnar, suaranya mulai meninggi. “Aku tahu aku salah karena sudah mempermainkan perasaanmu semalam. Tapi aku ….”
“…jika ingin cepat memperbaiki hubungan, maka minta maaf saja. Mengaku salah, meski sebenarnya tidak melakukan kesalahan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”
Ragnar berniat membela diri, tetapi ia langsung teringat dengan peringatan dari Denzel semalam. Harus minta maaf, meski bukan kesalahannya sepenuhnya. “Maafkan aku, Ratuku! Semalam aku terlalu senang karena mendapat perhatianmu kembali setelah sekian lama. Jadi, aku … berpura-pura kesakitan dan menipumu.”
Ivory akhirnya menoleh. Tatapannya jernih, tanpa emosi. “Jika Tuan memiliki instruksi pekerjaan, silakan sampaikan. Di luar itu, tidak ada yang perlu saya tanggapi. Dan satu hal lagi, saya bukan reinkarnasi dari ratu anda. Jadi, berhenti memanggilku dengan sebutan itu.”
Kalimat itu seperti percikan api yang semakin memancing emosi Ragnar meluap.
“Kau memang Ratuku,” desis Ragnar. “Dan aku adalah Rajamu, suamimu.”
“Sudah aku tegaskan berulang kali, bahwa aku bukan Ratumu. Saya hanya sekadar sekretaris pribadi anda, manusia biasa yang bekerja untuk mencari nafkah,” balas Ivory tenang. “Itulah sebabnya saya hanya bekerja sesuai tugas saya.”
Sebelum Ragnar sempat membalas, pintu diketuk cepat. Dorian, asisten pribadinya, menyembul masuk dengan senyum hati-hati. Senyum orang yang tahu sedang berjalan di ladang ranjau. Ingat, pendengaran seorang vampire sangat sensitif, sehingga ia bisa mendengar dengan jelas pertengkaran keduanya meskipun saat itu ia sedang berada di luar ruangan.
“Tuan, dokumen kontraknya sudah—” Dorian terdiam saat merasakan atmosfer ruangan. Ia menelan ludah. “Sudah siap untuk anda tandatangani.”
“Letakkan saja di mejaku,” kata Ragnar tajam.
Dorian melirik Ivory. “Nona Ivory, bisa tolong cek halaman ketiga? Ada revisi kecil dari legal.”
Ivory mengangguk singkat, menerima map tanpa sepatah kata tambahan. Jari-jarinya bergerak cepat, lalu ia menyodorkan kembali map itu.
“Sudah sesuai,” katanya. Lalu kembali ke layar komputernya, mengabaikan keduanya.
Dorian menghela napas dalam hati. “Dingin sekali…”
Saat Ivory izin keluar untuk mengantar berkas, Ragnar langsung memutar badan ke arah Dorian.
“Sampai kapan dia akan bersikap seperti itu?” bentaknya tertahan. “Ini sudah berlalu beberapa jam sejak datang ke perusahaan. Dan dia masih mendiamkan aku, mengabaikan semua perkataan yang aku ucapkan jika diluar pekerjaan. Aku bahkan sudah minta maaf, meski aku merasa tidak bersalah. Tapi dia … mengabaikannya dan bersikap tak peduli sama sekali.”
Dorian mengangkat kedua tangan, menenangkan. “Yang mulia, kita sudah sepakat, ingat? Jangan terpancing. Ini bagian dari scenario dan juga tentang peringatan Denzel semalam bahwa anda tidak boleh memaksanya.”
“Tapi dia menguji kesabaranku,” geram Ragnar.
“Saya tahu, Yang mulia.” kata Dorian pelan, “sepertinya Denzel memang menebaknya dengan tepat. Reinkarnasi yang mulia ratu berusaha menghindar dari anda dengan memanfaatkan kejadian semalam.”
Ragnar terdiam. Rahangnya mengeras, tapi napasnya perlahan turun.
Dorian melanjutkan, lebih hati-hati, “Kalau Yang mulia ikut terpancing marah sekarang, semua rencana kita berantakan. Anggap saja ini… fase pertama. Diamnya dia adalah batas. Kita tinggal belajar menghormatinya. Anda tenang saja, saya akan segera menjalankan scenario selanjutnya untuk membuat Reinkarnasi yang mulia tatu lebih dekat dengan anda.”
Beberapa detik berlalu sebelum Ragnar akhirnya mengangguk tipis. “Baiklah,” katanya singkat. “Aku akan bersabar. Sisanya aku akan serahkan padamu, Dorian.”
“Siap, Yang mulia! Kali ini saya akan pastikan tidak ada yang datang mengacau ataupun menggagalkan scenario yang sekarang seperti yang scenario pertama,” ujar Dorian penuh percaya diri.
“Mmm, aku selalu percaya padamu. Lalu bagaimana dengan Denzel? Apakah tugasnya lebih berjalan lancar daripada misi permintaan maafku?” tanya Ragnar menjadi penasaran akan sikap Elena saat Denzel berusaha mendekatinya.
Namun sebelum Dorian menjawabnya. Tiba-tiba pintu terbuka kembali dan Ivory masuk dengan langkah tenang, tanpa menoleh, tanpa senyum dan Ragnar tahu satu hal pasti. Kesabarannya akan diuji terus menerus mulai sekarang. Sementara Ragnar dan Dorian hanya memperhatikannya dalam diam.
Tak lama kemudian Dorian berkata, “Nona Ivory, bersiaplah! Kau yang akan menemani Tuan Rowan mengikuti rapat di restaurant siang ini. Aku tidak bisa ikut mendampingi, karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan setelah makan siang selesai.”
Bersambung ….
Jangan sampe ada pertumpahan darah. Ya, meskipun kaum Vampir memang identik dengan hal itu... 😩
Tubuhnya masih belum menerima kekuatan sihirnya... Sehingga Denzel harus turun tangan untuk mengendalikan sihir hitam milik Elena...
Ivory yang sabar yah, aku yakin kakakmu akan baik-baik saja.. Benar kata Ragnar, sebaiknya kamu tinggal di Istana dulu.. Karena kaum Werewolf masih berkeliaran... 😩
Dan sekarang, Ivory udah pulang ke rumahnya, ke Istana nya bersama Ragnar...
Kabar Elena gimana yah? Apa dia udah baik-baik saja?
Karena kalo ngga, nyawa Dorian sendiri yang jadi taruhannya 🤣