NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEPERTI BIASA

Singkat cerita, ketika sampai waktu sore, aku bersiap-siap untuk menuju pendopo Ustadz Furqon. Sudah masuk waktunya aku menjalankan tugas mengajar mengaji anak-anak desa.

Bapak yang sedang di temani oleh Mas Padi di teras, tampak mengobrol santai. Sejak satu jam lalu Mas Padi datang. Dan aku merasa bersyukur bisa memiliki tetangga sepertinya. Kepeduliannya kepada bapak terasa sangat membantu agar mental dan kondisi fisiknya segera membaik.

Dengan setelan gamis, jilbab panjang, dan membawa tas kecil di sampingku, aku berpamitan.

"Pak, Mas, saya mau ngajar dulu ya. Udah masuk waktunya." kataku.

"Oh, iya Nak. Hati-hati di jalan." jawab bapak.

"Iya Nis, semangat ngajarnya ya." ucap Mas Padi.

"Oh iya Pak, kalo mau makan lagi, masih ada kok ikan gorengnya. Sayur sop juga masih banyak. Sekalian ajak Mas Padi makan bareng di sini." kataku.

"Halah, gak usah repot-repot Nis. Biar buat Bapak aja yang kamu masak. Hehehe..." jawab Mas Padi sambil cengengesan.

"Iya, nanti Bapak ajak makan bareng." kata bapakku.

"Ya udah, Nisa berangkat dulu. Assalamu'alaikum..." aku sambil mencium tangan bapak, dan bersaliman dengan Mas Padi.

Mereka berdua menjawab bersamaan, "Wa'alaikumsalam..."

Aku segera mengambil sepeda yang kutaruh di samping rumah. Dan bergegas berangkat.

Sore hari ini langit agak mendung, tidak seperti tadi siang yang terasa panas cukup menyengat kulit. Memang, jika sudah memasuki musim hujan, cuaca agak sulit untuk ditebak.

Angin berhembus pelan, membawa hawa agak dingin karena cuaca sedikit mendung itu. Suara gowesan sepedaku menemaniku. Beberapa warga yang berpapasan denganku di jalan, tampak berbeda-beda sekarang.

Ada yang masih menyapaku dengan baik, ceria, sopan. Ada juga beberapa yang agak sinis menatapku. Dalam hati aku terkadang merasa aneh. Kenapa sebagian warga menjadi seperti itu padaku. Kenapa juga sebagian mereka terasa agak menjaga jarak denganku.

Setahun ini aku rasakan semua itu. Sendirian. Aku tak merasa bapak seperti itu juga, mungkin aku yang belum tahu. Karena aku tak ada di posisi bapak.

"Yaa Alloh... Kuatkan aku dan Bapakku..." gumamku dalam hati sambil terus menggowes sepeda.

Sesampainya di depan area makam, aku sedikit agak memasang wajah cuek saat melihat sosok Gilang berdiri di samping jalan.

Seolah aku berlagak tak kenal. Tapi sebenarnya dalam hatiku, masih ada rasa kasihan padanya.

Dia melambaikan tangannya kepadaku, dengan senyuman yang terasa agak ngeri bagi orang lain yang melihatnya. Dengan tatapan kedua matanya yang kosong. Dan juga, aroma anyir darah kering yang kucium. Padahal jarak antara aku lewat dengan dia berdiri sedikit agak jauh.

"Kakak..." ucapnya sambil terus menatapku yang berlalu melewatinya.

Sengaja aku tak menjawabnya. Karena tadi sudah kukatakan padanya untuk tidak selalu mengikutiku. Walau sudah cukup banyak aku tahu tentangnya.

Tak lama kemudian, aku sampai di pendopo. Sudah hadir hampir semua murid mengajiku. Namun, jujur saja, setelah kejadian satu tahun yang lalu itu, ada beberapa murid yang sengaja diminta oleh orang tuanya untuk tidak lagi mengaji denganku.

Aku tak tahu apa alasannya. Tapi aku coba memahami sendiri. Mungkin sebagian orang tua merasa khawatir, atau bahkan merasa takut jika anaknya tetap mengaji denganku.

Padahal kalau dipikir-pikir, aku tak melakukan kesalahan pada anak-anak mereka. Aku juga tidak menjerumuskan ke hal-hal yang tidak baik. Atau menyimpang selama mengajar.

Tapi... Ya sudahlah... Aku coba terima semua kondisi itu dengan lapang dada.

"Assalamu'alaikum..." ucapku saat menaiki lantai pendopo.

"Wa'alaikumsalam..." jawaban anak-anak serentak.

"Hayooo... Dirapikan meja sama tasnya..." kataku, saat kulihat sebagian dari mereka bermain satu sama lain. Segera mereka semua merapikan kembali meja belajar dan tas yang berserakan.

Aku langsung duduk di depan. Mengeluarkan buku absen. Dan mulai memimpin mereka untuk berdo'a terlebih dahulu.

Setelah selesai berdoa, aku meminta semuanya untuk menyiapkan alat sholat mereka masing-masing.

"Ayok, kita sholat Ashar berjama'ah dulu ya kayak biasanya..."

"Iya Bu..." jawab mereka.

Terlihat langsung anak perempuan mengeluarkan mukena dari dalam tas, sedangkan yang laki-laki segera ambil wudhu di keran sebelah pendopo.

Alhamdulillah, semuanya nampak tertib walau sesekali mereka bercanda dengan riang.

"Eh, Haris, janga gitu ah, basah tuh baju si Farhan..." ucapku menegur Haris saat melihat ia menyipratkan air wudhu.

"Hehehe... Iya Bu..." jawab Haris.

"Tau nih, Haris bercanda mulu deh... Basah tau bajuku..." kata Farhan.

"Udah ah sana! Gantian!" kata Farhan saat Haris sudah selesai wudhu.

Aku temani sampai semua anak laki-laki selesai wudhu semua. Dan langsung ke pendopo lagi.

"Haris, kamu jadi imam sholat sekarang. Ayo maju." kataku.

"Ah, gak mau ah Bu... Farhan aja sekarang yang jadi imam..." jawabnya sambil merengut.

"Eh... Kenapa? Ayo maju. Kan kemarin Farhan udah jadi imam. Gantian kamu." jawabku.

"Tau nih, maju dong kamu!" kata Farhan sambil mendorong pelan tubuh Haris ke depan.

Dan mulailah Haris mengucap takbir tanda sholat ashar dimulai. Seluruh anak-anak yang jadi makmum mengikuti. Aku tetap mengawasi mereka. Supaya tidak bercanda dalam sholatnya. Sampai seluruhnya selesai, dan Haris memimpin baca do'a singkat.

Aku lanjutkan kegiatan mengajar anak-anak dengan tertib dan semangat. Ya walaupun, sesekali ada yang saling menjewer, sesekali ada yang berlarian, ada juga yang tampak mengantuk. Semua itu sudah menjadi rutinitasku sehari-hari.

Dan aku merasa bahagia bisa berbagi ilmu dengan mereka...

Ketika kegiatan mengaji sudah selesai semua, jam di dinding pendopo sudah menunjukkan pukul lima sore. Langit pun semakin mendung. Dan angin terasa lebih kencang berhembus disertai hawa dingin yang semakin terasa.

"Ayok, kita pulang sekarang ya, udah hampir hujan." kataku.

"Inget ya, langsung pulang ke rumah! Jangan main kemana-mana dulu!" tambahku.

Mereka semua mengiyakan. Dan satu persatu bersaliman denganku. Sudah datang juga beberapa orang tua untuk menjemput anaknya. Ada yang pakai sepeda motor. Ada juga yang hanya berjalan kaki sambil membawa payung. Berjaga-jaga hujan turun.

Tapi... Ada satu anak yang akan pulang sendirian. Dia adalah Farhan.

"Farhan, kamu gak dijemput sama Ibumu?" tanyaku.

"Enggak Bu..." jawabnya singkat.

"Aduh, ya udah, ayok Ibu anter sampe rumah ya..."

"Bener Bu?"

"Iya, ayok sama Ibu. Jangan pulang sendirian. Ibu juga khawatir kamu kehujanan di jalan nanti."

"Ya udah, makasih ya Bu..."

Akhirnya aku membonceng Farhan dengan sepedaku. Ku gowes dengan agak cepat. Karena rumah Farhan agak jauh dari yang lainnya.

Gowesanku semakin cepat saat terdengar suara petir. Dan angin pun semakin kencang berhembus. Membuat dedaunan dari pohon di sekitar jalan bergesekan dan berjatuhan sebagian.

Dan... Tiba-tiba...

"Blaaarrr!!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!