Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 – Ayah yang Memilih Pergi
Kia pertama kali menyadari ada sesuatu yang berubah dari cara ibunya menatap ponsel.
Pagi itu, rumah kecil mereka masih diselimuti bau kopi hitam murah dan nasi hangat. Hujan turun tipis sejak subuh, membuat udara dingin menyelinap lewat celah jendela. Kia sedang mengenakan sepatu sekolah ketika melihat ibunya berdiri membelakangi meja makan, ponsel di tangan, layar menyala, tapi tak disentuh.
“Ibu?” panggil Kia.
Ibunya terkejut kecil, lalu cepat-cepat mematikan layar ponsel. Senyumnya muncul, senyum yang terlalu cepat dan terlalu dipaksakan.
“Kamu sudah siap?” tanyanya.
Kia mengangguk pelan. Tapi matanya tidak lepas dari wajah ibunya. Ada lingkar gelap di bawah mata itu, lebih dalam dari biasanya. Ada sesuatu yang berat di bahunya, seolah ibunya memikul beban yang tak kasatmata.
“Ibu nggak apa-apa?” tanya Kia hati-hati.
Ibunya meraih tas Kia dan menyodorkannya. “Sekolah yang baik. Jangan telat.”
Jawaban yang menghindar.
Kia tidak memaksa. Ia sudah terbiasa membaca bahasa diam ibunya. Jika ibunya belum siap bicara, maka ia akan menunggu.
Namun sepanjang perjalanan ke sekolah, dada Kia terasa tidak nyaman. Perasaan itu mengikuti langkahnya, menempel seperti bayangan.
Hari itu berlalu lambat.
Pelajaran masuk ke kepala Kia tanpa benar-benar ia pahami. Ia menulis, mencatat, menjawab pertanyaan guru dengan otomatis. Tapi pikirannya berkali-kali kembali ke rumah.
Ke wajah ibunya.
Ke ponsel yang tak disentuh itu.
Saat bel pulang berbunyi, Kia bergegas. Ia mengayuh sepeda lebih cepat dari biasanya, membelah jalanan basah dengan napas memburu.
Ia hanya ingin segera sampai rumah.
Ibunya duduk di ruang tamu ketika Kia tiba.
Bukan sedang memasak. Bukan melipat pakaian. Ia hanya duduk di kursi kayu tua, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Ponsel tergeletak di meja kecil di depannya.
Kia berhenti di ambang pintu.
“Ibu?” suaranya pelan.
Ibunya menoleh. Mata mereka bertemu.
Dan saat itulah Kia tahu—kali ini, ibunya tidak akan menghindar.
“Kia, duduk,” kata ibunya lirih.
Nada suaranya membuat jantung Kia berdebar tidak karuan. Ia duduk perlahan di kursi seberang, menunggu.
Ibunya menarik napas panjang. Sekali. Dua kali. Seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang telah lama tertahan.
“Ibu dapat kabar dari Papa kamu,” ucapnya akhirnya.
Kata Papa terdengar asing. Seperti nama seseorang yang sudah lama tidak menjadi bagian dari hidup mereka.
Kia menelan ludah. “Kenapa?”
Ibunya menunduk. Jemarinya saling meremas. “Dia… akan menikah.”
Ruangan itu terasa menyempit.
Kia mematung.
Menikah.
Kata itu jatuh begitu saja, sederhana, tapi efeknya menghantam keras. Bukan karena Kia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Tapi karena kenyataan itu kini diucapkan dengan jelas, tanpa basa-basi.
“Dengan siapa?” tanya Kia, suaranya nyaris datar.
“Perempuan dari keluarga terpandang,” jawab ibunya pelan. “Keluarganya sudah lama mengenal Papa kamu.”
Kia tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Pantas,” gumamnya.
Ibunya mengangkat wajahnya. “Kia…”
“Apa?” Kia menatap ibunya. “Bukannya itu yang mereka mau sejak awal?”
Ibunya terdiam.
Kia bangkit berdiri. Ia berjalan mondar-mandir kecil di ruang sempit itu, mencoba menenangkan pikirannya.
“Terus Papa bilang apa lagi?” tanyanya.
Ibunya menghela napas panjang, lalu berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar, “Dia minta… kita tidak menghubunginya lagi.”
Kalimat itu mematahkan sesuatu di dalam diri Kia.
Ia berhenti melangkah.
Tidak menghubunginya lagi.
Berarti selama ini, keberadaan mereka masih dianggap—meski samar. Dan sekarang, hubungan itu diputus secara resmi.
“Kenapa?” tanya Kia pelan.
Ibunya menggeleng. “Katanya… supaya tidak ada masalah dengan keluarga barunya.”
Kia tertawa. Tawa pendek, kering, dan pahit.
“Jadi kita masalah,” katanya. “Aku masalah.”
Ibunya berdiri dan mendekat. “Bukan begitu—”
“Lalu bagaimana?” potong Kia, suaranya mulai bergetar. “Papa bisa menikah, punya keluarga baru, dan kita harus pura-pura nggak pernah ada?”
Ibunya meraih tangan Kia. “Ibu minta maaf.”
Maaf.
Kata itu lagi.
Kia menarik tangannya perlahan. “Kenapa Ibu yang minta maaf?”
Ibunya terdiam. Air mata menggenang di matanya.
“Karena Ibu tidak bisa memberi kamu keluarga yang utuh,” ucapnya lirih.
Kia menggeleng cepat. “Ibu jangan bilang gitu.”
Tapi dadanya terasa sakit.
Bukan karena keluarga mereka tidak utuh.
Melainkan karena ayahnya memilih untuk tidak melengkapinya.
Malam itu, hujan turun deras.
Kia duduk di kamar, menatap dinding kosong. Pikirannya melayang ke potongan-potongan ingatan tentang ayahnya.
Pria yang datang sesekali, membawa permen atau mainan murah. Pria yang jarang menatap matanya lama-lama. Pria yang selalu pergi sebelum malam.
Ia ingat pernah menunggu di depan rumah, berharap ayahnya datang menjemputnya seperti anak-anak lain. Tapi yang datang hanya angin sore dan kekecewaan.
Kini, penantian itu resmi berakhir.
Ayahnya tidak akan datang lagi.
Karena ia memilih untuk pergi.
Beberapa hari setelah kabar itu, Kia melihat ayahnya.
Tidak sengaja.
Ia sedang berjalan pulang dari sekolah, memilih rute memutar untuk menenangkan diri. Saat melewati sebuah restoran keluarga, matanya tertarik pada pemandangan di balik kaca.
Seorang pria duduk di sana.
Ayahnya.
Pria itu mengenakan kemeja rapi, rambutnya tersisir baik. Di depannya duduk seorang perempuan anggun, wajahnya cerah, senyumnya lepas. Mereka tertawa kecil, saling mencondongkan tubuh, terlihat akrab.
Bahagia.
Kia berdiri terpaku di seberang jalan.
Dadanya terasa sesak. Napasnya pendek.
Ia menyadari satu hal yang menyakitkan:
Ayahnya terlihat jauh lebih hidup di sana daripada di hidup mereka.
Kia ingin berteriak. Ingin masuk dan menanyakan satu pertanyaan sederhana—kenapa aku tidak cukup?
Tapi kakinya tidak bergerak.
Ia hanya berdiri, menatap sampai pandangannya buram. Hingga akhirnya, ia berbalik dan pergi.
Langkahnya cepat. Hampir berlari.
Air mata akhirnya jatuh, bukan di depan ayahnya, tapi di trotoar sepi yang tidak peduli.
Di rumah, ibunya menyadari perubahan Kia.
Kia menjadi lebih diam. Lebih keras. Lebih cepat tersulut emosi. Ia jarang mengeluh, tapi sikapnya seperti tembok yang mulai dibangun perlahan.
Suatu malam, ibunya mengetuk pintu kamar Kia.
“Kia?”
“Masuk aja,” jawab Kia.
Ibunya duduk di tepi kasur. “Ibu tahu kamu marah.”
Kia menatap lurus ke depan. “Aku nggak marah.”
Ibunya tersenyum sedih. “Kamu belajar menyembunyikannya.”
Kia menghela napas. “Aku cuma capek.”
Ibunya menggenggam tangan Kia. “Kamu tidak salah. Jangan pernah berpikir begitu.”
Kia menatap tangan mereka yang saling bertaut. Tangan ibunya kasar, penuh bekas kerja keras.
“Kalau Papa suatu hari datang…” ucap ibunya ragu.
Kia menggeleng. “Dia nggak akan datang.”
Nada suaranya terlalu yakin untuk seorang anak seusianya.
“Dan kalau pun dia datang,” lanjut Kia pelan, “aku nggak tahu apakah aku masih mau membuka pintu.”
Ibunya terdiam.
Malam itu, Kia membuat keputusan dalam diam.
Ia tidak akan lagi menunggu seseorang yang memilih meninggalkannya.
Di sisi lain kota, ayah Kia duduk sendirian di ruang kerjanya.
Ia menatap foto lama—seorang perempuan muda dengan senyum sederhana, menggendong bayi kecil.
Foto yang tidak pernah ia pajang.
Tangannya bergetar saat menyentuh bingkai foto itu.
“Maaf,” gumamnya.
Bukan karena ia tidak tahu rasa bersalah.
Tapi karena ia memilih kenyamanan.
Dan pilihannya hari ini akan menjadi luka bagi anak yang kelak akan membencinya.
Kia berdiri di depan cermin keesokan paginya.
Wajahnya terlihat sama. Tapi ada sesuatu yang berubah di matanya.
Ia mengikat rambutnya, mengenakan seragam, dan menatap pantulannya sendiri.
“Mulai sekarang,” bisiknya, “aku hidup buat aku dan Ibu.”
Ayah yang memilih pergi tidak lagi punya tempat di hidupnya.
Dan tanpa ia sadari, keputusan itu akan memengaruhi cara ia mencintai, membenci, dan bertahan—hingga bertahun-tahun kemudian.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya