NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Selesai berkata, Ratu Es menyerang dengan jurus Tapak Salju Pemutus Jiwa. Seluruh istana bergetar. Hawa dingin yang dilepaskannya jauh lebih kuat daripada racun di tubuh Liang Shan.

Liang Shan tidak menghindar. Ia justru melepaskan semua pertahanan tenaga dalamnya dan membiarkan serangan Ratu Es mengenai dadanya.

BOMM!!!

Ratu Es terbelalak. Serangannya yang mematikan justru terserap ke dalam pusat racun di tubuh Liang Shan. Dengan teknik Metamorfosis, Liang Shan menggunakan energi dingin Ratu Es untuk memicu ledakan tenaga Yang dari teknik Sembilan Matahari.

"Ini adalah akhir dari dendammu, Ratu Es," bisik Liang Shan.

Ia mengayunkan tangannya, dan sebuah tebasan transparan yang sangat besar membelah istana menjadi dua. Ratu Es terlempar, tubuhnya hancur karena panas luar biasa yang keluar dari tubuh Liang Shan.

Sebelum tewas, Ratu Es menatap Liang Shan dengan pandangan yang aneh, campuran antara benci dan kerinduan.

"Kau sangat mirip dengannya saat dia marah, ambillah permata itu ..., dan pergilah ke Puncak Langit Terlarang ..., carilah Dewa Tanpa Nama ..., dia ..., dia sebenarnya adalah ..."

Sayang sekali, sebelum menyelesaikan kalimatnya, Ratu Es telah tewas lebih dulu.

Tanpa banyak bicara, Liang Shan segera mengambil kelima permata itu. Kulitnya pucat seperti salju. Ia telah memenangkan pertempuran, namun merasa nyawanya kini hanya tinggal seutas benang.

Han Xiang dan Yue Niang berlari menghampirinya setelah es yang mengikat mereka mencair.

"Liang Shan! Bertahanlah!" Han Xiang menangis, mencoba menyalurkan energinya yang lemah.

Liang Shan tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat langka. "Kita harus segera... ke Puncak Langit Terlarang. Waktuku... tidak banyak lagi."

***

Kematian Ratu Es Gunung Selatan ternyata bukanlah akhir, melainkan pemicu dari sebuah mekanisme pertahanan yang jauh lebih besar.

Saat Istana Es itu mulai runtuh, Liang Shan yang dalam kondisi sekarat berhasil membawa Han Xiang dan Yue Niang keluar.

Namun, sebelum mereka mencapai kaki gunung, langit di atas mereka mendadak berubah menjadi warna ungu yang pekat.

Sesosok pria dengan jubah emas yang dihiasi bordiran naga hitam turun dari langit dan menginjak udara seolah-olah ada tangga tak kasat mata di sana.

Sosok itu tidak membawa senjata, namun kehadirannya membuat hawa sakti Liang Shan tertekan hingga ke titik nadir.

Pria ini adalah Satu dari Empat Penjaga Langit, yang dikenal sebagai Guru Besar Mo Kuan. Ia adalah pemimpin dari Ordo Bayangan, organisasi rahasia yang berada di atas Menteri Wei dan bahkan di atas para Datuk Dunia Persilatan.

"Liang Shan," suara Mo Kuan berat dan bergema, mengandung tenaga dalam yang mampu menggetarkan tulang.

"Kau telah mengganggu keseimbangan. Ratu Es hanyalah seorang penjaga gerbang yang gagal. Namun, mengalahkan dia dengan merusak jiwamu sendiri adalah tindakan yang bodoh."

Liang Shan mencoba mengangkat tangannya untuk membentuk Pedang Tanpa Wujud, namun jantungnya mendadak berdenyut menyakitkan.

Pemuda itu memuntahkan darah hitam yang kini bercampur dengan butiran es.

"Jangan paksa dirimu," kata Mo Kuan sambil melambaikan tangan, dan sebuah gelombang tekanan gravitasi menghantam Liang Shan hingga ia terhempas ke tanah.

"Kekuatanmu saat ini hanyalah pinjaman dari maut. Kau belum layak menghadapi Dewa Tanpa Nama." ujarnya dengan senyum mengejek.

Mo Kuan sengaja tidak membunuh Liang Shan. Baginya, Liang Shan saat ini tidak lebih dari seekor semut yang sedang sekarat.

Dia justru mengambil kembali dua dari lima permata yang tadi sempat diambil Liang Shan dari Ratu Es.

"Aku akan meninggalkan tiga permata padamu sebagai umpan," ujar Mo Kuan dingin. "Jika kau bisa mencapai Puncak Langit Terlarang dalam keadaan hidup, aku akan menunggumu di sana. Jika tidak, maka sejarah keluarga Liang akan berakhir menjadi tumpukan salju di sini."

Setelah itu, Mo Kuan langsung menghilang dalam sekejap mata, meninggalkan Liang Shan dalam kehinaan dan rasa sakit yang luar biasa.

Kekalahan telak dari Mo Kuan menjadi tamparan keras. Liang Shan menyadari bahwa di atas langit masih ada langit.

Kekuatannya yang ia kira sudah hebat, ternyata belum ada apa-apanya di hadapan tokoh-tokoh Ordo Bayangan yang selama ini bersembunyi di balik layar sejarah.

Han Xiang segera memeriksa kondisi Liang Shan. Wajah gadis itu memucat.

"Nadi Sembilan Matahari dan hawa Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang sudah saling mengunci, Liang Shan. Kau tidak bisa menggunakan tenaga dalam lagi selama tiga bulan ke depan. Jika kau memaksa, pembuluh darahmu akan meledak."

"Apa, tiga bulan?" Liang Shan mengepalkan tangannya. "Aku tidak punya waktu selama itu! Han Xiang, gunakan teknik Jarum Penghancur Nadi. Paksa energinya keluar!"

"Tidak!" Han Xiang berteriak, air mata mengalir di pipinya. "Aku seorang tabib untuk menyembuhkanmu, bukan untuk membantumu bunuh diri!"

Yue Niang duduk di samping mereka sambil memetik kecapinya dengan nada yang sangat rendah dan sedih.

Gadis itu memberikan isyarat kepada Liang Shan bahwa mereka harus bersembunyi dan memulihkan diri.

Namun, dunia persilatan tidak memberi mereka kesempatan. Ordo Bayangan telah menyebarkan pengumuman bahwa siapa pun yang bisa membawa tiga permata yang tersisa pada Liang Shan akan diberikan gelar kebangsawanan dan ilmu silat tingkat tinggi.

Dalam kondisi tanpa tenaga dalam, Liang Shan menjadi sangat rentan. Mereka kini diburu oleh kelompok-kelompok kecil namun terorganisir.

Di sebuah hutan bambu di wilayah tengah, mereka dikepung oleh Tiga Saudara Li, pembunuh bayaran yang menggunakan teknik kerja sama yang sangat rumit.

Liang Shan terpaksa bertarung hanya dengan mengandalkan teknik bela diri fisik murni tanpa tenaga dalam. Ia menggunakan batang bambu untuk menangkis pedang lawan.

TRAKK!!! TRAKK!!!

Meskipun tekniknya tinggi, tapi tanpa tenaga dalam, serangan Liang Shan tidak cukup kuat untuk melukai lawan secara fatal. Ia berkali-kali terkena sayatan pedang hingga darah membasahi jubah hitamnya.

"Hahaha! Lihat si naga kecil ini! Sekarang dia hanya seekor cacing!" ejek Li tertua.

Saat kondisi semakin kritis, muncul seorang tokoh baru dari balik kabut hutan. Pria ini mengenakan pakaian compang-camping, membawa sebuah botol arak besar, dan jalannya sempoyongan.

Ia adalah Si Pengemis Gila, Hong Chi.

Tanpa banyak bicara, Hong Chi menyemburkan arak dari mulutnya. Arak itu mendadak berubah menjadi peluru-peluru air yang menghantam Tiga Saudara Li hingga terpental jauh.

"Anak muda, kau memiliki bau Liang Qi, tapi kau juga memiliki bau mayat," ujar Hong Chi sambil cegukan.

Liang Shan menjura hormat, meski tubuhnya goyah. "Terima kasih, Senior. Siapakah Senior sebenarnya?"

"Aku hanya orang tua yang berhutang nyawa pada Ayahmu. Dia pernah memberiku makan saat aku hampir mati kelaparan dua puluh tahun lalu," Hong Chi duduk di atas batang bambu yang melengkung.

"Dengar, Liang Shan. Ordo Bayangan telah mengirim Pendekar Tapak Hitam untuk mencegatmu di perbatasan wilayah Utara. Kau tidak akan bisa lewat dengan kondisimu yang sekarang."

Hong Chi menatap Liang Shan dengan tajam. Lalu melanjutkan, "Hanya ada satu cara untuk menghadapi situasi ini. Kau harus mempelajari teknik Napas Kosong. Teknik ini tidak menggunakan tenaga dalam, melainkan menggunakan energi alam di sekitarmu sebagai senjata. Tapi risikonya, kau bisa kehilangan akal sehatmu."

1
jhoni
parah bnget jalan cerita nya, bnr" d luar nurul... mc nya lemah jg keracunn trus musuh" nya kekuatan nya d atas mc, ending nya mo bikin ke ajaiban ya thor bwt mc nya bebas dari racun trus ranah nya meningkat dratis🤣🤣🤣🤣
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
mcnya terlalu lemah terluka parah terus Thor... kurang menarik bacanya
asri_hamdani
bukannya lidahnya udah dipotong Mentri Wei 🤔
asri_hamdani
Menarik, cerita wuxia classic 👍
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
ini cerita silat clasic...🤔🤔😀😀
Junn Badranaya: Benar, kak
total 1 replies
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
nyimax....🤔🤭
jhoni
ne mc nya ga bs d sembuhin apa tu racun nya, lawan nya aja d luar nurul Thor🤭
Junn Badranaya: Bisa kak, wkwk. Kan itu ujian buat dia bisa lebih tragis🤣
total 1 replies
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!