Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Sore itu, mendung kembali menggelayut di langit Jakarta, menciptakan suasana temaram yang selaras dengan suasana hati Amara. Di dalam rumah, kebisingan justru mendominasi. Ryan sedang kedatangan beberapa teman organisasinya untuk membahas proyek maket. Suara tawa Arga dan denting gelas kopi yang ditaruh di meja kayu ruang tamu menjadi latar suara yang tak kunjung reda.
Amara memilih untuk tidak masuk ke kamar. Ia merasa pengap jika terus mengurung diri. Dengan buku catatan tebal dan kamus di tangannya, ia duduk di sudut ruang makan yang posisinya agak tersembunyi, namun tetap bisa melihat ke arah pintu utama. Besok adalah ujian praktek Bahasa Inggris—pidato persuasif tanpa teks. Fokusnya harus seratus persen, tapi pikirannya masih sering melenceng ke kejadian di jalanan dua hari lalu.
Sejak hari itu, ia tidak melihat Nicholas. Tidak ada pesan WhatsApp, tidak ada motor besar yang menunggu di gerbang sekolah, dan tidak ada lagi sapaan "Ifa" yang mengganggu tidurnya.
"Ra, lo kalau pusing belajar di situ, masuk kamar aja. Berisik ya?" teriak Ryan dari ruang tamu.
"Nggak apa-apa, Bang. Di sini lebih adem," sahut Amara tanpa menoleh.
Ia kembali bergumam, melatih pelafalan kata 'Vulnerability' dan 'Persistence'. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia lebih tenang tanpa gangguan Nicholas. Ia merasa menang karena akhirnya pria itu tahu batasan.
Namun, ketenangan semu itu hancur saat suara deru mesin motor yang sangat ia kenali berhenti tepat di depan pagar. Jantung Amara berdegup satu kali lebih kencang. Ia mencengkeram pulpennya kuat-kuat.
Cklek.
Pintu depan terbuka. Suara langkah sepatu yang berat terdengar masuk, diikuti oleh salam yang rendah dan serak.
"Sori telat. Tadi ada urusan bentar di bengkel," ucap suara itu.
Itu Nicholas.
Suara yang dua hari lalu ia bentak habis-habisan. Suara yang biasanya terdengar sombong, kini entah kenapa terdengar lebih datar dan sedikit... lelah.
"Woi, Nick! Sini, duduk. Tinggal lo doang nih yang belum koreksi bagian pondasinya," seru Arga.
Begitu mendengar suara Nick semakin dekat ke arah ruang tengah, Amara refleks memutar tubuhnya membelakangi arah pintu. Ia menyembunyikan wajahnya di balik buku catatan yang terbuka lebar, seolah-olah ia sedang sangat khusyuk menghafal. Ia tidak ingin melihat pria itu, dan ia tidak ingin pria itu melihat matanya yang sebenarnya masih menyisakan sedikit rasa bersalah.
Amara bisa merasakan kehadiran Nick di ruangan itu. Ia bisa mencium aroma samar rokok dan parfum maskulin yang sempat ia rindukan namun ia benci secara bersamaan. Nick sekarang berdiri hanya beberapa meter darinya, mungkin sedang melepas jaket kulitnya atau menaruh kunci motor di meja.
"Ifa ada di rumah, Yan?" tanya Nick pelan. Suaranya terdengar ragu, sangat tidak khas Nicholas.
"Tuh, di pojokan. Lagi mau ujian praktek besok. Jangan diganggu dulu, lagi sensi dia," jawab Ryan setengah bercanda.
Amara merasakan sepasang mata menatap punggungnya. Ia bisa merasakan tatapan Nick yang intens, seolah ingin menembus buku catatan yang ia pegang. Namun, Nick tidak mendekat. Ia tidak memanggilnya, tidak juga mencoba menjahilinya seperti biasanya.
Hening sejenak di antara mereka, di tengah kebisingan teman-teman Ryan yang lain.
"Oke," jawab Nick pendek.
Lalu terdengar suara kursi digeser. Nick duduk di sofa, membelakangi Amara. Untuk pertama kalinya, mereka berada di satu ruangan namun bersikap seolah-olah mereka adalah orang asing yang tidak sengaja terjebak di tempat yang sama.
Amara mencoba fokus kembali pada teks pidatonya. “The importance of mental health...” Namun, telinganya justru menangkap setiap kata yang diucapkan Nick kepada teman-temannya. Nick bicara seperlunya, tidak banyak tertawa, dan suaranya terdengar sangat profesional saat membahas maket. Pria itu benar-benar menuruti kata-kata Amara: dia menjaga jarak.
Satu jam berlalu. Amara merasa tenggorokannya kering karena terus berlatih bicara sendiri. Ia berdiri, berniat mengambil air minum di dispenser yang letaknya di dapur, persis melewati area ruang tamu tempat mereka berkumpul.
Ia berjalan dengan langkah cepat, menunduk, dan mencoba tidak melirik ke arah sofa. Namun, saat ia sampai di ambang pintu dapur, sosok jangkung Nicholas keluar dari sana sambil membawa teko air yang kosong.
Mereka berpapasan tepat di pintu yang sempit.
Amara membeku. Nicholas berhenti mendadak.
Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Amara melihat ada lingkaran hitam di bawah mata Nicholas, wajahnya tampak lebih tirus. Tidak ada lagi kilat jahil di matanya, yang ada hanya kekosongan yang dalam. Nicholas segera mengalihkan pandangannya ke bawah, ke arah kaki Amara.
"Sori," ucap Nick sangat pelan.
Ia memberikan jalan, memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menempel di tembok agar Amara bisa lewat tanpa menyentuh kulitnya sedikit pun. Ia benar-benar menjaga jarak sesuai permintaan Amara.
Amara berjalan melewati Nick dengan hati yang terasa diremas. Ia mengambil gelas, mengisi air dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia merasa aneh. Bukankah ini yang ia inginkan? Nick yang pendiam, Nick yang tahu batasan, Nick yang tidak mengaturnya. Tapi kenapa rasanya justru lebih menyakitkan daripada saat Nick memaksanya pulang?
"Nick, kopi lo udah dingin nih!" teriak Arga dari depan.
"Buang aja. Gue mau balik," sahut Nick dari depan dispenser.
Amara menoleh. "Kak..."
Suara Amara sangat pelan, nyaris seperti bisikan. Nicholas berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh sepenuhnya. Ia hanya berdiri mematung di ambang pintu dapur, membelakangi Amara.
"Maketnya belum selesai, kan?" tanya Amara ragu.
"Gue udah kasih catatannya ke Ryan. Gue ada urusan lain," jawab Nick dingin. "Sesuai permintaan lo, gue nggak akan muncul lama-lama di depan lo."
Nicholas kemudian melangkah pergi, mengambil jaketnya di sofa, dan berpamitan singkat pada teman-temannya. Detik berikutnya, suara deru mesin motornya terdengar menjauh, meninggalkan rumah itu kembali pada kebisingan Ryan dan teman-temannya—tapi bagi Amara, rumah itu mendadak terasa jauh lebih sepi.
Malam itu, Amara tidak bisa tidur nyenyak. Ia terus terbayang wajah Nicholas yang terlihat hancur di dapur tadi. Ia merasa jahat. Ia menyebut Nick tidak dewasa, tapi justru dialah yang saat ini merasa tidak dewasa karena tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.
Keesokan harinya, saat ujian praktek Bahasa Inggris dimulai, Amara berdiri di depan kelas. Semua teman-temannya, termasuk Daffa, menatapnya dengan kagum.
"True strength is not about controlling others, but about controlling our own fears and ego..."
Amara mengucapkan kalimat itu dengan penuh penekanan. Ia bicara tentang ego, tapi pikirannya melayang pada Nicholas. Ia sadar, Nicholas mungkin adalah red flag bagi banyak orang, tapi baginya, Nicholas adalah satu-satunya orang yang rela menjadi jahat hanya untuk memastikan ia tetap baik-baik saja.
Setelah ujian selesai, Amara berjalan menuju loker. Ia menemukan sebuah bungkusan kecil di sana. Di dalamnya ada sekaleng kopi dingin kesukaannya dan sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan yang berantakan.
"Semangat ujiannya, Amara. Gue nggak akan ganggu, gue cuma mastiin lo nggak lupa minum."
Tanpa tanda tangan, tapi Amara tahu siapa pemiliknya. Ia mendekap kaleng kopi itu di dadanya, menyadari bahwa meskipun ia meminta Nicholas menjauh, pria itu tetap menjaganya dengan caranya yang paling sunyi.