NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah Dari Masa Lalu

Ria melangkah keluar dari lift di lantai lima. Jantungnya berdebar, namun ada rasa bangga yang menyelimuti dadanya saat melihat papan nama divisi yang akan menjadi dunianya. Namun, langkahnya terhenti saat seorang wanita dengan pakaian modis dan rambut pirang hasil balayage mahal berdiri tepat di depan meja resepsionis divisi.

Wanita itu mengerutkan kening, menatap Ria dari ujung kaki hingga ke turban sutranya. "Ria? Ria Rinjani?"

Ria tertegun. Suara itu terasa akrab, membawa kembali memori dari masa-masa paling suram dalam hidupnya. "Siska?"

Siska, teman SMA Ria, melangkah mendekat dengan ekspresi antara terkejut dan meremehkan. Siska adalah bagian dari kelompok populer di sekolah dulu, sementara Ria adalah gadis pendiam yang selalu memakai seragam lengan panjang untuk menutupi lebam di lengannya.

"Wah, dunia benar-benar sempit," ujar Siska sambil melipat tangan di dada. "Aku tidak menyangka akan bertemu si 'Gadis Malas' yang hobi bolos sekolah di kantor ini. Apa kau sedang melamar jadi bagian kebersihan?"

Ria menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di hatinya. Siska tidak tahu bahwa Ria adalah istri dari pemilik perusahaan ini. Di mata Siska, Ria tetaplah gadis malang yang tinggal bersama paman dan bibinya—karena memang Suno, ayah Ria, selalu menyembunyikan status Ria sebagai anak kandungnya demi menjaga reputasi.

Dulu, Siska sering berbisik di belakang Ria, mengira lebam di tubuh Ria adalah hasil pergaulan bebas, bukan karena siksaan ayahnya.

"Aku mulai bekerja hari ini sebagai Asisten Manajer Pemasaran, Siska," jawab Ria dengan suara yang stabil dan tenang.

Siska tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Asisten Manajer? Kau? Bagaimana bisa? Setahuku setelah lulus kau menghilang. Apa kau menggunakan koneksi pamanmu yang perusahaannya telah bangkrut itu? Atau jangan-jangan kau 'menjual diri' pada seseorang agar bisa masuk ke sini?"

Wajah Ria memanas, namun ia teringat janjinya pada diri sendiri. Ia tidak akan membiarkan orang lain menghancurkan harga dirinya lagi.

"Aku masuk ke sini melalui jalur wawancara resmi, Siska. Jika kau punya masalah dengan kualifikasi ku, silakan bicara pada Pak Hendra," ucap Ria, lalu berjalan melewati Siska menuju meja kerjanya yang baru.

Siska mendesis kesal. Ia segera berbalik dan menghampiri rekan-rekan setimnya yang lain. "Eh, kalian tahu tidak? Si anak baru itu, dia teman SMA-ku. Dulu di sekolah dia itu bermasalah sekali. Sering bolos, tubuhnya penuh bekas luka, dan keluarganya... yah, kalian tahu sendiri lah, tipe orang-orang yang tidak jelas. Hati-hati saja, jangan-jangan dia membawa pengaruh buruk di sini."

Rumor itu menyebar lebih cepat dari aroma kopi di pagi hari. Teman-teman setim Ria mulai memberikan tatapan curiga dan menjaga jarak.

Sepanjang pagi, Ria mendapatkan beban kerja yang cukup berat. Siska, yang ternyata adalah salah satu desainer senior di tim tersebut, sengaja memberikan berkas-berkas revisi yang berantakan pada Ria.

"Ini harus selesai sebelum makan siang, 'Anak Baru'. Jangan sampai bolos lagi seperti zaman sekolah, ya?" sindir Siska sambil meletakkan tumpukan dokumen di meja Ria.

Ria menatap tumpukan itu, lalu menatap Siska. Ia tidak membalas dengan makian. Ia hanya membuka laptopnya, memakai kacamata anti radiasi, dan mulai bekerja dengan kecepatan yang luar biasa. Kemampuan ekonominya membuat ia sangat cepat menganalisis data pasar, dan insting desainnya membuat ia bisa memberikan saran yang jauh lebih segar pada berkas Siska yang membosankan.

Diam-diam, Arya yang sedang memantau melalui CCTV di kantor pusat (atas akses rahasia dari Hendra), mengepalkan tangannya. Ia melihat bagaimana Siska memperlakukan Ria.

"Siska..." gumam Arya dengan tatapan dingin. "Kau baru saja menggali lubang untuk kariermu sendiri."

Namun, Arya tetap menahan diri. Ia ingin melihat bagaimana Ria memenangkan pertempuran ini dengan tangannya sendiri.

Jam makan siang hampir tiba, namun suasana di lantai lima justru semakin memanas. Hendra, sang Kepala HRD, tiba-tiba memanggil tim pemasaran untuk rapat darurat di ruang kolaborasi. Rupanya, ada keluhan dari salah satu klien besar mengenai konsep desain kampanye terbaru yang dianggap hambar dan tidak memiliki jiwa.

Siska, sebagai desainer senior, tampak gelisah. Ia tahu konsep itu adalah miliknya. Namun, saat ia melihat Ria masuk ke ruang rapat, sebuah ide licik muncul di kepalanya untuk mengalihkan kesalahan.

"Mohon maaf, Pak Hendra," ujar Siska dengan nada dramatis saat rapat dimulai. "Sebenarnya saya sudah mencoba memperbaiki konsep ini, tapi asisten baru kita, Ria, terus saja menyela dan memberikan data-data ekonomi yang membingungkan. Mungkin karena latar belakangnya yang... yah, bermasalah sejak sekolah, dia tidak mengerti estetika kelas atas."

Beberapa rekan kerja mulai berbisik, menatap Ria dengan sinis. Siska tersenyum penuh kemenangan, yakin Ria akan tertunduk malu seperti saat di SMA dulu.

Hendra mengerutkan kening, ia melirik Ria yang tetap duduk tenang dengan tablet di tangannya. "Ria, apa kau punya penjelasan? Siska bilang kau menghambat pekerjaannya."

Ria berdiri perlahan. Tidak ada getaran ketakutan di wajahnya. Ia mengoperasikan tabletnya dan menghubungkannya ke layar proyektor besar di ruang rapat.

"Saya tidak menghambat, Pak. Saya hanya mencoba menyelamatkan tim ini dari kegagalan," suara Ria terdengar jernih dan berwibawa.

Di layar, muncul sebuah perbandingan data yang sangat tajam. "Konsep yang dibuat Siska menggunakan palet warna yang sudah ketinggalan zaman untuk target pasar Gen-Z. Berdasarkan data pemasaran dan riset pasar yang saya olah pagi ini, audiens kita sekarang lebih menyukai minimalist-organic. Saya sudah menyiapkan draf revisinya secara mandiri."

Ria menampilkan desain baru—sebuah perpaduan antara busana modern dengan sentuhan motif abstrak yang ia gambar sendiri semalam. Desain itu sangat segar, berani, dan terlihat sangat mahal.

Ruangan seketika sunyi. Bahkan Hendra pun tertegun. Desain itu jauh lebih baik daripada apa pun yang pernah dihasilkan Siska selama satu tahun terakhir.

"Tentang masa lalu saya yang disebut Siska," lanjut Ria, matanya menatap Siska dengan tajam namun dingin. "Memang benar saya sering terluka dan bolos sekolah. Tapi luka-luka itu tidak membuat otak saya tumpul. Justru karena saya harus bertahan hidup di tengah tekanan, saya belajar untuk bekerja dua kali lebih keras daripada orang-orang yang hidupnya terlalu nyaman hingga lupa caranya berinovasi."

Siska memucat. Ia mencoba membalas, "Kau... kau hanya beruntung! Kau pasti mencuri ide ini dari internet!"

"Cukup, Siska!" bentak Hendra. "Data ini akurat, dan desain ini sangat orisinal. Ria baru bekerja setengah hari dan dia sudah menyelamatkan wajah agensi ini di depan klien. Sementara kau? Kau justru menghabiskan waktu dengan bergosip."

Hendra menatap seluruh tim. "Mulai hari ini, Ria tidak lagi di bawah arahan Siska. Dia akan memimpin proyek branding untuk klien besar minggu depan secara independen. Siska, kau fokus pada revisi administrasi saja."

Rapat dibubarkan. Siska keluar dengan wajah merah padam karena malu, sementara rekan-rekan yang tadi mencibir kini mulai mendekati Ria untuk bertanya tentang datanya.

Ria kembali ke mejanya, menghela napas panjang. Ia merasa beban di bahunya sedikit terangkat. Ia tidak menggunakan nama Arya, ia tidak menggunakan kekuasaan sebagai istri pemilik. Ia menang karena otaknya sendiri.

Di kantor pusat, Arya yang melihat semua itu melalui layar monitor tersenyum tipis. Ia mengusap layar yang menampilkan wajah Ria.

"Kerja bagus, Sayang," gumam Arya bangga. Namun, ia menyadari satu hal; Ria semakin kuat, dan itu artinya ia harus bekerja lebih keras untuk menjadi pria yang pantas bersanding di samping wanita sehebat itu.

Tiba-tiba, pesan dari nomor asing kembali masuk ke ponsel Ria: "Hebat juga kau bisa bertahan hari ini. Tapi bagaimana jika orang kantormu tahu bahwa kau adalah 'pembunuh' ibu kandungmu sendiri? Mari kita lihat seberapa tinggi kau bisa terbang, Ria."

Ria meremas ponselnya. Soraya mulai melancarkan serangan fitnah yang paling keji.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!