(Sedang Tahap Revisi)
Terkadang Cinta itu bisa merubah segalanya, Keras nya batu akan melunak.
Terpaan dingin akan menghangat.
Ketika kita bertemu dengannya.
Seperti Aku melihat wajahnya saat hari pertama sekolah, Aku-lah Gilang Sanjaya berharap mewujudkan cinta kepada dia Anindya.
Halangan dan Rintangan akan daku hadapi untuk menikahi dia, ketika waktu itu telah tiba.
☪. Cerita Cinta Remaja bernuansa Islami
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Ridho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kain Rajutan
"Siapa yang dicintai dia, Ummi?" Bang Satria bertanya dengan wajah penuh senyuman licik.
"Iya siapa, Ummi?" tanya Anindya penasaran.
Aku hanya bisa menyampingkan sudut pandang menuju ke lain sisi, malu. Seperti itulah yang aku rasakan saat ini, rahasia kecil itu terbongkar di depan sang dewi pujaan hati.
"Hmm, siapa ya. Coba kalian tebak." Ummi melirik kami semua.
"Anin gak tau, Ummi." Dia menggelengkan kepalanya ketika tatapan Ummi menuju padanya.
"Abang juga enggak."
"Irwan juga gak tau, Ummi."
Semua menggelengkan kepala ketika di tanya Ummi, apa mereka sengaja melakukannya. Supaya akulah yang menjawab semuanya.
"Alang, bagaimana?" Dengan senyuman penuh arti Ummi bertanya kepadaku.
"A-a-anu," kataku terbata-bata.
"Anu apa, jawab dong."
"Iya! Jawab dong!" Seakan sudah rencanakan, Abang dan Irwan saling membantu menyudutkan aku agar mengaku.
Aku menarik nafas panjang dan melepaskan secara perlahan karbondioksida, dengan membaca bismillah aku berkata, "Anindya."
Mendengar jawaban yang aku katakan, membuat Anin terdiam dari kesibukannya memakan makanan.
"Cieee, rupanya Anindya toh." Wajah Bang Satria terlihat seperti meledek.
"Udah-udah Abang! Alasan Ummi meminta Anin datang kerumah ini untuk menyelesaikan semuanya."
"Maksudnya, Ummi?!" Aku dan Anindya bertanya serempak.
"Duh kompaknya kalian, gini-gini. Baru kali ini Ummi melihat Alang jatuh cinta kepada seorang wanita, dan baru kali ini Ummi melihat dia sampai menangis. Dulu dia itu gak mau namanya pacaran, menyukai wanita aja enggak. Tapi setelah bertemu kamu Anindya, dia langsung jatuh cinta. Yang artinya kamu cinta pertamanya." Tatapan wajah Ummi terlihat serius.
"Ta-tapi, Anin gak mau pacaran, Ummi."
"Ummi pun sama gak mau kalian pacaran, kalian boleh pacaran ketika hubungan kalian di nyatakan halal dalam ikatan pernikahan yang sah di mata agama."
"Kalian boleh berteman, asal jangan sampai melewati batas!" Lanjut Ummi tegas.
"Iya, Ummi," jawab Anindya.
"Kamu juga, Alang. Jika kamu sayang sama dia, do'akan dia dalam waktu sujud kamu bersama Sang Ilahi Allah SWT."
"InsyaAllah, Ummi."
"Nah alasan kedua kenapa Ummi meminta gadis manis ini kerumah, Ummi mau berikan ini kepada orang-tua kamu." Ummi memberikan bingkisan kepada Anin.
"Ini apa, Ummi?"
"Kain rajutan bertuliskan Assalamu'alaikum."
"Wahh, terima kasih, Ummi."
"Udah yuk kita selesaikan makannya, terus sholat Ashar berjamaah."
Dengan senyuman kami semua mengangguk tanda meng-iyakan ucapan dari wanita yang melahirkan aku dengan pengorbanan nyawa.
Sajadah terlah terbentang rapi menghadap kiblat nya ummat Muslim, semua terlah bersiap-siap melaksanakan sholat. Aku di tunjuk oleh Ummi untuk menjadi imam dalam sholat berjamaah ini.
Dalam kekhusyukan memimpin sholat, aku tuangkan seluruh perasaan ini di setiap sujud dalam sholat. Perasaan meminta kepada Sang Pencipta agar menjaga mereka dari jurang dosa di dunia, meminta agar di jodohkan bersamanya. Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran aku lafadz kan dengan irama indah. Surah Ar-Rahman aku lafadz kan di rakaat pertama, agar makmum selalu merasa bersyukur akan nikmat yang Tuhan berikan dari lahir sampai sekarang ini.
Yang Maha Pemurah, itulah arti dari surah Ar-Rahman. Mengartikan kebaikan-kebaikan yang di berikan Tuhan kepada hamba-hambanya, agar selalu mengingat kepada siapa kita hambanya untuk bersyukur, meminta, dan mengharapkan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah kamu dustakan, kata-kata ini terus terulang di dalam surah Ar-Rahman.
Apakah selama ini kita mendustakan nikmat yang di berikan Sang Pencipta, ketika mendapatkan rejeki berupa harta, tahta, kesehatan, kebahagiaan sampai cinta. Kita sering lupa mengucapkan Alhamdulillah ketika mendapatkan kebahagiaan, kita sering lupa sujud menyembah kepadanya. Kita hanya bersujud ketika nikmat itu telah di cabut olehnya, musibah, sakit, kehilangan harta sampai keluarga. Apakah seperti itu kita membalas kebaikannya, ketika hancur ingat kepadanya, ketika bahagia lupa siapa yang memberikan itu semua.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
fa biayyi ālāi rabbikumā tukażżibān
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
...
Setelah selesai sholat berjamaah, aku mengantarkan Anindya untuk pulang ke rumahnya. Tak lupa membawa membawa bingkisan dari ummi untuk keluarga wanita yang membuat aku jatuh cinta.
"Anin pulang ya, Ummi. Terima kasih telah mengundang Anin main ke rumah," kata dia penuh senyum.
"Iya, Sayang. Sering-sering yah main ke sini." Ummi memeluk dia dan mencium keningnya.
"Hati-hati yah di jalan, salam untuk orang-tua kamu di rumah," sambung Ummi.
"InsyaAllah, Ummi. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Dalam perjalanan pulang aku mengatakan kepadanya, "Maaf ya."
"Maaf? Maaf kenapa?
"Atas kejadian tadi."
"Enggak apa-apa kok, ingat kata-kata yang di berikan Ummi. Kita gak boleh pacaran dan kita hanya sebatas teman, jadi kamu gak boleh lagi seperti kemarin."
"InsyaAllah, akan aku lakukan semuanya di jalan Allah."
Akhirnya sampailah kami di kediaman rumah wanita yang selalu aku sebutkan namanya di dalam doa.
"Ayo masuk," ajaknya.
"Aku langsung pulang aja ya."
"Enggak! Masuk atau di jewer!" Dia memainkan dua jari di depan mataku.
"I-iya, siap."
Setelah mengucap salam, wanita itu langsung mendatangi umminya untuk memberikan bingkisan itu dan menyampaikan salam hangat dan aku duduk menunggu di ruang tamu.
Umminya mendekati aku dengan senyuman ramah dan berkata, "Terima kasih ya atas kain rajutannya, sampaikan kepada ummi kamu bahwa Ummi sangat menyukainya."
"Alhamdulillah, baik akan saya sampaikan, Ummi."
"Adek! Jangan lupa buatin temen kamu minum dan bawa juga kue yang ada di dalam kulkas."
"Iya, Ummi!" jawabnya dari dapur.
"Duduk dulu ya sebentar, Ummi mau ke belakang."
"Baik, Ummi," ucapku memberikan senyuman.
Di dalam hati selalu membayangkan ketika suatu saat nanti telah tiba, keluarga ini akan menjadi keluarga aku juga. Saling mengunjungi penuh canda tawa sampai nyawa menutup usianya.
'Semoga Allah akan mengabulkan doa ini."
Tak berapa lama aku menunggu, datanglah perempuan muslimah itu membawakan minuman dan cemilan kue kepadaku.
"Nih minum dulu, dan oh ya ini kue cokelat loh."
"Benerkah?!" Wajah aku langsung sumringah ketika tau bahwa itu adalah kue cokelat.
"Iya beneran, gih buka dan makan."
Aku langsung membuka tutup tempat kue itu berada, dengan semangat mengambil kue cokelat itu dan langsung memakannya.
"Bagaimana rasamya?" Wajah perempuan itu menatap serius meminta pendapat dariku.
"Enak banget. Ini kamu belinya dimana?"
"Gak beli kok." Dia menggelengkan kepalanya.
"Terus, kamu bikin?"
"Iya, kemarin Anin dan ummi mencoba membuat kue cokelat ini. Kamu suka kan?"
"Iya suka banget, rasa cokelat nya enak." Aku menunjukkan ekspresi wajah penuh nikmat di hadapannya.
"Habisin ya, Anin tinggal sebentar." Dia melangkah pergi kembali ke dapur.
Setelah 30 menit lamanya aku menunggu sambil memakan kue cokelat, perempuan dia kembali menghampiri dengan jilbab yang menutupi setengah badannya dan gamis yang berwarna pink menutupi tubuhnya. Aku tertegun melihat penampilannya, betapa cantiknya dia ketika berpakaian seperti itu.
"Kamu kenapa menatap seperti itu?"
"Cantik!" Spontanitas aku menjawab pertanyaan itu.
"Apa?"
"Kamu cantik sekali berpenampilan seperti itu."
"Huuu bisa aja dianya, eh nih bawa pulang." Dia memberikan kotak kecil kepadaku.
"Ini apa?"
"Kue cokelat, untuk temen makan ketika kamu belajar."
"Benarkah!" Mengetahui itu membuat aku hampir memeluknya.
"Eh eh, gak boleh gak boleh belum mukhrim!!" Dengan kedua tangannya dia menghalau tubuhku.
"Astaghfirullah, maaf-maaf gak bermaksud. Sangking senangnya mendapatkan kue cokelat seenak ini membuat aku langsung pengen meluk."
"Dasar!" cetusnya.
"Bakso deh bakso."
"Hmmm ngerayu dianya, oke 2 mangkok besok setelah pulang sekolah."
"Siap, Bos."
😁😁
#FWC#
#FWC#
#FWC#
#FWC#
#FWC#
#FWC#
😀😀😀
#FWC#
😁😁😁
#FWC#