PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Pengawasan
Jihan meletakkan garpu peraknya dengan tenang. "Tidak ada hubungannya dengan itu, Zara. Aku dan Alkhan baik-baik saja. Kami sudah sepakat menjadi teman. Mungkin dia hanya sedang terjebak di kantor ayahnya."
"Tapi biasanya," Anena menyela sambil menopang dagu, "Alkhan akan datang meskipun dunianya sedang runtuh jika itu menyangkut dirimu, Jihan. Dia masih sangat peduli padamu."
"Benar. Dia itu pengawal setiamu yang paling siaga sejak SMA," goda Felix yang diikuti anggukan setuju dari Dianra.
Jihan berusaha tetap tenang meski sedikit tidak nyaman. "Kami hanya teman, Felix. Tolong jangan mulai lagi. Kita semua di sini adalah lingkaran pertemanan yang sama, tidak ada yang spesial."
"Oh, benarkah tidak ada yang spesial?" Dianra memajukan tubuhnya dengan tatapan penuh selidik yang jenaka. "Lalu bagaimana dengan kekasih rahasiamu itu, Jihan? Kau pikir aku tidak tahu kau sering tersenyum sendiri melihat ponselmu? Kau belum mengenalkannya pada kami. Siapa dia? Anak konglomerat mana yang berhasil mencuri hati seorang Alvarezh?"
Wajah Jihan sedikit memerah saat teringat sosok Zeiran, kekasihnya yang merupakan seorang perwira militer. Hubungan yang ia jaga dengan sangat rapat. Zara sendiri hanya diam, pura-pura tidak tahu apa-apa soal kekasih rahasia Jihan yang tidak dipublikasikan.
"Kekasih apa? Kalian berimajinasi terlalu jauh," Jihan mengalihkan pembicaraan dengan cepat sambil melirik jam tangan Cartier di pergelangan kirinya. Segera wajahnya berubah sedikit panik. "Maaf… aku harus pergi. Ini sudah hampir jam lima."
Keempat temannya berhenti makan serempak.
"Hah? Baru juga mulai! Bukankah butik dan kafemu sudah selesai kau cek pagi tadi?" tanya Zara heran.
"Jihan… kau ulang tahun. Kau tidak bisa pergi duluan begitu saja," Anena ikut memprotes.
"Kau punya janji lain?" tanya Dianra penuh selidik.
Jihan berdiri sambil menata tas kecilnya, suara lembutnya terdengar sedikit cemas. "Aku tidak bisa berada di luar mansion sebelum langit gelap, begitupun dengan Jinan. Kak Alvaren akan marah besar jika tahu aku masih berkeliaran."
Sebenarnya aku juga sangat ingin segera pulang untuk melihat hadiah rahasia dari Zeiran. Firasatku bilang mungkin hadiah itu sudah tiba di kamarku. Batin Jihan
Felix ikut berdiri, memegang kursinya dengan sopan. "Setidaknya biarkan kami mengantarmu ke pintu?"
Jihan menggeleng sambil tersenyum. "Tidak perlu, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah merayakannya denganku. Ini sangat berarti."
"Kalau kau tidak liburan dengan kami nanti… kami culik," Zara memeluknya cepat sebagai salam perpisahan.
Anena menepuk pipi Jihan pelan. "Dan kau harus cerita minggu depan bagaimana upacara kelulusanmu."
"Hati-hati di jalan. Sampaikan salam dariku untuk Jinan juga," pesan Dianra sambil menggenggam tangannya sejenak.
Felix menunduk sedikit dengan sopan. "Sampai jumpa, Jihan. Selamat ulang tahun untuk Jinan juga."
Jihan kemudian berjalan melewati lorong panjang marmer Soleil d’Or, gaun hitam yang ia kenakan bergoyang lembut mengikuti langkahnya yang anggun namun terburu-buru. Dan menuruni tangga besar menuju parkiran privat.
ketika Jihan mendekati mobil miliknya, ia sama sekali tidak menyadari satu hal.
Di seberang jalan, berhenti diam seperti bayangan dalam cerita gelap, terdapat sebuah mobil hitam dengan logo perak yang tak salah lagi mobil Marculles.
Mata seseorang dari dalam mobil mengikuti setiap langkah Jihan dengan tajam.
Di dalam mobil Rolls Royce William duduk di kegelapan kursi belakang dengan rahang yang mengeras. Bayang-bayang ancaman Daddynya tentang pembatalan pengalihan saham utama Marculles terus berdengung di kepalanya. Kesepakatan dengan Rahez bukan lagi sekadar opsi, itu adalah satu-satunya jalan untuk mengamankan takhtanya.
Rafael yang duduk di samping kursi pengemudi memutar tabletnya, mengarahkan layar ke arah William.
Di seberang jalan sana, sosok wanita muda yang baru saja keluar dari restoran terlihat jelas.
"Itu dia, Tuan," ucap Rafael rendah. "Putri bungsu keluarga Alvarezh. Adik kandung Rahez."
William menyipitkan mata, menatap sosok yang berdiri di kejauhan itu. Penampilan wanita itu memancarkan aura dark feminine yang kuat namun elegan. Tubuhnya ramping dan ideal layaknya model papan atas, dibalut pakaian yang sedikit berani potongan yang menonjolkan lekuk tubuhnya namun tetap terlihat mahal.
William mendengus sinis. "Pakaiannya terlalu terbuka. Aku tidak suka wanita yang terlalu memamerkan diri."
"Bisa diatur setelah pernikahan, Tuan," jawab Rafael dengan nada tenang. "Dia masih seorang pelajar."
William tersentak, tatapannya menajam penuh hinaan. "Pelajar? Apa Rahez sudah gila menyerahkan seorang anak kecil untuk menemaniku di tempat tidur?"
"Bukan anak kecil, Tuan. Usianya sudah legal. Dia mahasiswi tingkat akhir S2. Akademiknya luar biasa, tidak seperti anak-anak kebanyakan. Dipastikan dia akan lulus sebelum hari pernikahan, jadi tugas akademisnya tidak akan mengganggu kewajibannya sebagai istri Anda."
William berdesis, membuang muka ke arah jendela. "Kekanak-kanakan. Aku bisa membayangkan gaya pergaulannya pesta kampus, drama remaja, dan rengekan tidak berguna. Aku tidak punya waktu untuk mengasuh bocah."
"Justru itu keunggulannya, Tuan," Rafael mencoba meyakinkan tuannya. "Karena dia masih muda dan belum memulai karier profesionalnya, dia tidak memiliki basis kekuasaan sendiri. Dia akan jauh lebih mudah dikontrol. Dia hanya akan fokus berada di bawah kendali Anda tanpa ada gangguan ambisi pribadi."
Mendengar kata kontrol, minat William sedikit terusik. Namun, ada hal lain yang lebih penting baginya. “Hubungannya dengan pria yang sudah mati itu?" tanya William dengan suara yang tiba-tiba memberat.
"Rahez dan wanita itu adalah adik kandungnya, Tuan."
Adik kandungnya. Jadi kau adalah adiknya. Bagus. Kau akan membayar setiap rasa sakit yang diberikan kakakmu padaku melalui wanita ini. Batin William
Tepat saat itu, Jihan yang berada di kejauhan, Wajahnya yang semula terlihat dingin dan tak tersentuh tiba-tiba berubah, memberikan senyum yang sangat hangat dan ramah kepada salah satu pelayan yang menyapanya di depan tangga. Namun, begitu orang itu berlalu, wajahnya kembali datar, sedingin es, dan penuh rahasia.
perpaduan yang mematikan, kecantikan yang unreal, riasan wajah tipis yang menonjolkan fitur wajah polosnya.Sebuah kontradiksi yang membuatnya terlihat berbeda dari puluhan wanita yang pernah ditawarkan pada William.
William memperhatikannya hingga Jihan masuk ke dalam mobil dan melesat pergi.
"Dia hampir tidak pernah muncul di lingkaran sosialita di kota Arthenapolis, Tuan," tambah Rafael. "Citra publiknya bersih, dia dikenal pandai dan tertutup. Tidak ada skandal, tidak ada jejak yang cacat."
William menyandarkan punggungnya, sebuah seringai kejam muncul di sudut birbirnya. "Aku akan menjadikannya wanita paling patuh yang pernah ada. Aku akan membawanya ke titik serendah mungkin di bawah kakiku. Dia mungkin merasa dirinya adalah permata Alvarezh. di tanganku, dia hanya akan menjadi alat untuk menyeimbangkan posisiku di depan daddy ku dan dunia."
Kau pikir kau bisa tetap dingin dan polos setelah masuk ke rumahku, Jihan? Aku tidak butuh cinta, aku akan menghancurkan harga dirimu sebagai seorang Alvarezh. Batin William
"Jadwalkan pernikahan secepatnya, Rafael," perintah William dingin. "Aku ingin melihat seberapa cepat wajah polosnya itu pecah saat dia berhadapan denganku."
Mobil Marculles itu menghidupkan mesin. Suaranya halus, mahal, dan berbahaya. Dan dua pria di dalamnya tahu, Takdir seseorang bernama Jihan… baru saja mulai berubah.
—-
beberapa hari kemudian
Kediaman Alvarezh
Langit sore tampak muram, seolah ikut berkabung atas hilangnya para generasi Alvarezh.
Di kediaman keluarga yang megah itu, suasana duka masih menyelimuti. Namun di ruang kerjanya, Rahez duduk dengan wajah dingin, sementara jemarinya mengetuk perlahan permukaan meja kayu hitam.
“Tuan Rahez, saya baru saja mendapat kabar dari Rafael, asisten Tuan William Marculles. Tuan William... dia menolak penundaan. Dia ingin pernikahan itu segera diresmikan.” Zaffer melapor dengan nada tegang, mencoba untuk tetap terdengar profesional.
“Aku sudah menduga. William Marculles adalah pria yang tidak suka membuang waktu. Dia hanya melihat bisnis. Ini sudah cukup lama, Zaffer.” Rahez dengan suaranya rendah dan penuh perhitungan.
Rahez mencondongkan tubuh sedikit, memberikan penekanan pada suara rendahnya yang menyengat. “Berkabung atas kepergian Alvaren sudah menghabiskan terlalu banyak waktu berharga. Sudah cukup untuk memberi drama publik bahwa aku adalah saudara yang malang. Sekarang, drama itu harus dibayar dengan pintu gerbang global yang akan dibuka oleh si kejam William.”
Rahez berhenti sejenak dan memiringkan kepalanya, seolah sedang menikmati bayangan dendam di matanya sendiri. "Alvaren… selalu menjadi favorit ayah. Setidaknya dunia sekarang tahu siapa yang bertahan." Ia menurunkan penanya, lalu menatap Zaffer dengan tajam. "Bagaimana dengan sisa jaringan Alvaren?"
“Sedang dibersihkan, Tuan. Para loyalis yang tersebar di kementerian, keamanan, dan NGO sudah mulai dipetakan. Beberapa sudah… diam," jawab Zaffer segera sambil merendahkan pandangannya.
Rahez mengangguk tipis, bibirnya hampir membentuk senyuman kejam. "Pastikan mereka benar-benar hilang. Tidak boleh ada yang tersisa untuk mengganggu rencanaku."
"Kami sedang menangani yang terakhir, Tuan. Setelah itu… tidak ada lagi bayangan Alvaren yang dapat mengancam Alvarezh Group," Zaffer menelan ludah, merasakan aura dingin di ruangan itu.
Rahez mendesis kecil, merasa puas dengan laporan tersebut. "Bagus. Dunia tidak membutuhkan pahlawan palsu."
Dengan gerakan pelan ia memutar pena emas di antara jarinya, lalu menunjuk ke udara seolah memberikan perintah perang. “Katakan pada Rafael, aku akan mempersiapkan segalanya dengan kecepatan Marculles Group. Aku ingin upacara pernikahan apa pun yang mereka inginkan dalam satu minggu. Kita harus segera mengamankan kerja sama mereka demi mencapai tujuan kita di pasar global. Aku sudah terlalu lama terjebak di Aestrasia ini.”
Zaffer menghela napas lega, namun ada keraguan yang tersisa di wajahnya. “Baik, Tuan Rahez. Saya akan sampaikan. Tapi Tuan.. mengenai Nona Jihan…”
Tatapan Rahez seketika menjadi setajam silet, menusuk Zaffer hingga udara di ruangan itu terasa membeku. “Ada apa? Apa masalahnya dengan Jihan?”
“Nona Jihan... dia baru saja dipaksa kembali ke kediaman ini. Emosinya sangat tidak stabil setelah menyaksikan pemakaman Tuan Alvaren. Apakah Nona Jihan sudah menyatakan kesediaannya untuk menikah dengan Tuan William? Dia baru saja kehilangan segalanya, Tuan.” Zaffer menelan ludah, berusaha menjaga ketenangannya.
Rahez tertawa dingin tanpa sedikit pun humor.
Suaranya bergetar karena kebencian yang mendalam terhadap saudara-saudaranya yang ia yakini selalu menjadi favorit ayahnya, Khaizar. “Kesediaan? Jihan tidak punya pilihan, Zaffer.”
Rahez mencondongkan tubuh ke depan, matanya memancarkan ancaman yang mengerikan. “Hidupnya sekarang harus berguna untukku. Untuk Alvarezh Group. Jika dia tidak berguna, apa bedanya dia dengan mayat-mayat itu? Kau pikir aku akan membiarkannya hidup jika dia menentang tujuanku? Dia akan berakhir seperti Alvaren atau krisis seperti Jinan, dan bisa lebih buruk lagi. Kau urus saja persiapan pernikahannya. Ini akan menjadi kesepakatan bisnis yang paling penting untuk kekuasaanku.”
Rahez kembali tertawa kecil, sebuah suara kering yang tidak mengandung kegembiraan sedikit pun. “Jihan selalu menjadi malaikat kecil yang dilindungi Alvaren dan Jinan. Sekarang mereka sudah tiada, perlindungan itu hilang. Jihan akan melakukan apa saja untuk melindungi satu-satunya hal yang tersisa padanya.”
“Tuan muda... Jinan, Tuan?” Zaffer menundukkan kepalanya, semua ekspresi kekhawatiran lenyap digantikan kepatuhan.
Senyum tipis yang penuh kemenangan muncul di bibir Rahez. “Tepat. Selama Jinan masih bernapas di rumah sakit itu, Jihan akan menjadi tawanan. Dia akan menuruti setiap permintaanku, termasuk menikahi pria yang dia benci, asalkan kembarannya selamat.”
“Saya mengerti, Tuan Rahez. Saya pastikan dia tunduk,” jawab Zaffer sambil menunduk.
Rahez mengambil sebatang cerutu dari kotak di mejanya, lalu menyalakannya dengan pemantik emas. “Bagus. Sekarang dengarkan. Pernikahan ini harus sempurna. William Marculles adalah penguasa media. Aku ingin dunia melihat bahwa Jihan adalah pengantin yang bahagia.”
Ekspresi kepuasan mendalam dan arogansi terukir jelas di wajahnya. “Pilihkan dia gaun terbaik. Bawa desainer dari Paris. Gelang, kalung, tiara. Semuanya. Adreena akan mengurus detail sosialita dan yang sangat penting, Zaffer... Aku ingin semua jejak digitalnya dibersihkan.”
Zaffer mengangguk, ia mengeluarkan pena dari sakunya untuk mencatat detail sensitif. “Jejak digital, Tuan? Maksud Anda...”