Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manifesto Anti Nikah Seorang Nara Amelinda
Nara Amelinda tidak membenci pernikahan tapi ia hanya tidak menyukainya.
Oke, itu bohong... Ia sangat tidak menyukainya.
Bagi Nara, pernikahan adalah konsep yang terlalu dibesar-besarkan oleh masyarakat, terlalu dirayakan oleh keluarga besar, dan terlalu sering dijadikan solusi untuk semua masalah hidup mulai dari
“biar ada yang ngurus” sampai “biar cepat dewasa”.
Padahal menurut pengamatannya selama dua puluh empat tahun hidup di dunia fana ini, menikah tidak otomatis membuat seseorang menjadi, bahagia, dewasa, kaya, ataupun waras.
Buktinya? Grup WhatsApp keluarga.
Pagi itu, Nara bangun dengan perasaan damai. Ia meregangkan tubuh di kasur kosannya yang tidak terlalu luas, tapi cukup nyaman untuk orang yang masih berjuang membayar hidup tanpa bantuan pasangan.
Ia meraih ponsel.
Jam menunjukkan pukul 06.12.
Alarm belum berbunyi, itu adalah pertanda baik hidup masih bisa dikontrol.
Nara tersenyum kecil, lalu membuka grup WhatsApp bernama Keluarga Besar RT + Bonus Drama.
Dan di situlah kedamaian itu mati.
📸 Foto undangan pernikahan
📩 “Alhamdulillah, putri kami menikah bulan depan. Mohon doa restu.”
Nara menatap layar dengan ekspresi datar.
Lagi, ini undangan keempat minggu ini.
Ia menggulir layar ke atas, tiga pesan sebelumnya adalah foto prewedding sepupu jauhnya yang berpose di sawah, padahal Nara tahu betul orang itu alergi lumpur.
“Hebat,” gumamnya.
“Cinta bisa menyembuhkan alergi.”
Nara melempar ponsel ke samping bantal.
Ia bangkit, berjalan ke dapur kecil kos, dan membuat kopi hitam tanpa gula. Kopi pahit adalah satu-satunya hal pahit yang ia izinkan masuk ke hidupnya. Selain cicilan, tentu saja.
Sambil menunggu air mendidih, pikirannya melayang.
Semalam, ia baru saja menghadiri pernikahan teman SMA. Teman yang dulu meminjam penghapusnya, sekarang sudah bersanding di pelaminan dengan senyum yang terlalu lebar untuk orang yang katanya baru tiga bulan kenal calon suaminya.
“Kamu kapan?”
“Kok sendiri terus?”
“Jangan pilih-pilih, Nara.”
Kalimat-kalimat itu masih terngiang.
Nara tidak anti cinta, ia hanya anti dipaksa hidup dengan orang yang salah.
Menurutnya, menikah adalah keputusan seumur hidup. Seharusnya tidak diambil hanya karena takut dibilang terlambat, bosan ditanya keluarga atau kalah cepat dari sepupu.
Ia menuang kopi ke cangkir, lalu duduk di kursi lipat.
“Hidupku baik-baik saja,” katanya pada diri sendiri.
“Aku punya kerjaan, bisa bayar makan, bisa beli skincare diskon, dan bisa tidur miring tanpa ada yang ngorok.”
Itu definisi bahagia versi Nara.
Ponselnya bergetar, nama Ibu muncul di layar.
Nara menatap layar itu lama bahkan terlalu lama.
Insting bertahan hidupnya langsung aktif.
“Kenapa rasanya kayak mau disidang?” gumamnya.
Ia mengangkat telepon.
“Halo, Bu.”
“Nara,” suara ibunya terdengar cerah sangat menyilaukan telinga.
“Kamu lagi ngapain?”
Nah.
Pertanyaan itu selalu jadi pembuka bencana.
“Minum kopi,” jawab Nara jujur.
“Dan mempertahankan hidup.”
“Jangan bercanda,” kata Bu Ratna, meski nada suaranya terdengar senang.
“Ibu mau ngobrol.”
“Ibu mau ngobrol atau mau menginterogasi?”
“Halah, kamu ini.”
Nara menyandarkan punggung ke kursi.
“Oke, Bu. Ngobrol soal apa?”
“Ibu kemarin ketemu Tante Sari.”
Dada Nara langsung terasa sesak.
Nama itu saja sudah cukup untuk memicu trauma ringan.
“Dan?” tanyanya pelan.
“Anaknya sudah menikah.”
Tentu saja, Nara menutup mata.
“Bu,” katanya sabar,
“aku nggak kenal anak Tante Sari dan aku juga nggak makan nasi dari pernikahannya. Jadi info itu nggak terlalu relevan sama hidupku.”
“Ibu cuma cerita.”
“Biasanya ‘cuma cerita’ itu ada lanjutannya.”
Bu Ratna terkekeh.
“Nara, kamu sudah 24.”
“Bu,” potong Nara cepat,
“aku tahu umurku. Aku lihat KTP tiap hari.”
“Teman-temanmu sudah banyak yang menikah.”
“Dan aku ikut bahagia dari jauh. Sangat jauh.”
“Nara—”
“Ibu,” Nara menghela napas.
“Aku nggak anti nikah, aku itu cuma nggak mau nikah buru-buru.”
“Kalau jodohnya sudah ada?”
Nara terdiam.
Ada jeda terlalu panjang di antara mereka.
“Bu,” katanya akhirnya,
“kalau jodoh itu benar-benar ada, dia tahu alamat kosanku. Nggak perlu dijemput paksa.”
Hening.
Lalu Bu Ratna berkata pelan,
“Sebenarnya… jodohmu sudah ada.”
Nara merasa tengkuknya dingin.
“Bu,” katanya waspada,
“kalau ini bercanda, aku nggak ketawa.”
“Ini bukan bercanda.”
“Kalau ini sinetron, tolong digantiin channelnya pindah ke stand up comedy bu.” Nara mencoba mengalihkan perhatian ibu nya.
“Nara!”
Nara berdiri.
“Oke,” katanya cepat.
“Kita lurusin dulu ya nyonyah, aku belum siap nikah, aku bahkan belum siap punya tanaman yang hidup lebih dari sebulan.”
“Itu beda.”
“Buat aku, sama-sama tanggung jawab seumur hidup.”
Bu Ratna menarik napas.
“Nara, dulu orang tua kalian sudah sepakat.”
Di titik itu, Nara yakin hidupnya resmi mulai berubah genre.
“Bu,” katanya perlahan,
“sepakat itu biasanya buat arisan, atau beli tanah. Maaf ya Bu tapi bukan buat masa depan anak orang.”
“Itu janji.”
“Janji siapa coba?”
“Orang tua.”
“Kan aku nggak ikut tanda tangan,” balas Nara cepat.
“Jadi secara hukum dan moral, aku bebas.”
“Nara!”
“Ibu,” Nara memejamkan mata.
“Aku mau hidupku tenang. Aku mau menikah karena cinta, bukan karena nostalgia orang tua.”
“Cinta bisa tumbuh.”
“Iya, Bu... Nara ngerti. Tapi trauma juga bisa.”
Hening lagi.
Nara tahu ibunya tidak suka kalah argumen.
“Nanti kita bicarakan lagi,” kata Bu Ratna akhirnya.
“Ibu cuma mau kamu pertimbangkan.”
Telepon ditutup, Nara menatap ponsel di tangannya.
Lalu ia menjatuhkannya ke kasur.
“yaaah si ibu Ratna ngambek telfon asal ditutup aja kagak ada basa basi nya apa kek...” katanya pada langit-langit kamar.
“Oke ... hidupku barusan diancam secara halus.”
Ia mengusap wajah.
Prinsip anti nikah yang selama ini ia pegang bukan karena ia tidak percaya cinta. Tapi karena ia percaya pada dirinya sendiri.
Ia pernah melihat terlalu banyak pernikahan yang bertahan karena gengsi, bahagia di luar, tetapi lelah di dalam, penuh senyum di foto,, dan penuh luka di rumah.
Nara tidak mau seperti itu, ia ingin memilih, ia ingin yakin.
Ia ingin tidak bangun pagi dengan perasaan terjebak.
Ponselnya kembali bergetar, kali ini dari Naya.
“Nar, hidupmu aman?”
Nara tertawa kecil.
“Relatif aman tapi bikin sport jantung Nay.”
“Ibuku baru saja mengancam masa depanku.”
“Nikah?”
“DING DING DING.”
Nara menjatuhkan diri ke kasur.
“Aku cuma mau hidup tenang,” katanya pelan. “Kenapa susah amat?”
"kamu juga sih lah Nar, berapa lama lu ngejomblo nggak ada pasangan???"
"Ya dari aku lahir dong!!"
Ia belum tahu bahwa prinsip anti nikah yang ia banggakan itu akan diuji.
Bukan besok, bukan lusa tapi segera.
Dan bukan oleh cinta melainkan oleh sebuah janji lama yang tidak pernah ia buat.