NovelToon NovelToon
Anak Kembar Sang Milyarder

Anak Kembar Sang Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"

Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.

Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?

Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Fitnah

Seperti yang dijanjikannya, Reynan mengajak si kembar dan juga Liana belanja di sebuah mall. Dia ingin meluangkan sedikit waktunya untuk menemani anak-anaknya, kapan lagi ada kesempatan untuk menemani mereka, selain itu ia ingin mengambil hati dua bocah yang selama ini tidak sengaja telah ditelantarkannya.

"Kalian belanja dulu ya? Ambil saja apapun yang kalian mau. Aku mau terima telepon dulu di luar." Reynan memberikan nasehat kepada Liana agar membantu anak-anaknya untuk membeli keperluannya. Dia juga menyerahkan salah satu kartu hitam miliknya.

"Bapak nggak ninggalin kami kan?" tanya Liana khawatir Reynan akan meninggalkannya.

Reynan berdecak. "Memangnya kamu pikir aku sudah gila ninggalin kalian di sini? Aku cuma mau angkat telepon sebentar, setelah itu balik lagi ke sini. Jangan terlalu jauh-jauh, kalian bisa cari baju di toko sekitar sini."

Liana mengangguk. "Baik pak!"

Reynan langsung melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga. Sedangkan Liana dan dua anaknya masuk ke sebuah toko baju yang tidak jauh dari situ.

"Mommy, kita boleh beli baju lebih dari satu nggak?" tanya Kenzie.

Liana mengangguk. "Iya boleh sayang, tapi jangan banyak-banyak ya? Kalian masing-masing pilih dua baju, oke?"

"Siap, mommy."

Liana memberikan kebebasan kepada dua anaknya untuk memilih pakaian yang disukainya. Si kembar senang, di dalam toko itu mereka tertuju pada sebuah manekin kecil yang dipajang berjajar di dalam toko.

"Mau maling kalian! Ayo cepat pergi dari sini!"

Refleks Liana menoleh dan mendapati Kenzie terjatuh ke lantai. Bocah berusia lima tahun itu menangis.

"Kenzie!"

Liana langsung berlari dan menolongnya. Sedangkan Kenzo diam dengan matanya tertuju pada sosok wanita tersebut.

"Dasar penjahat! Kenapa kau dorong adikku," hardiknya.

"Kalian hendak mencuri ya?!"

Liana mendelik. "Apa kau bilang? Mencuri?"

Liana membantu Kenzie dan kembali menoleh pada wanita yang diyakini sebagai karyawan toko.

"Iya, kalau bukan mau mencuri memangnya mau apa lagi," bantah wanita itu.

Liana berdecih. Begitu arogannya wanita di depannya itu. Belum juga memegang barang sudah dituduh sebagai pencuri, begitu buruknya.

Liana melangkah maju mendekat pada wanita itu dan langsung, plak! Liana melayangkan tamparan padanya. Ia tidak  terima anaknya diperlakukan begitu kasar oleh orang lain, apalagi posisinya tidak bersalah. "Berani sekali kau mendorong putraku dan menganggapnya maling! Memangnya kau punya bukti apa hingga menuduh kami begitu keji!"

Tak peduli kalaupun harus berurusan dengan petugas keamanan. Ia hanya tak terima anaknya diperlakukan begitu buruk oleh pelayan toko.

"Buktinya emang tidak ada, tapi aku yakin orang-orang sepertimu tidak akan sanggup membeli pakaian di toko kami. Lebih baik kau bawa saja anak-anakmu yang dekil ini pergi dari sini sebelum bos kami datang dan mengusir kalian!"

Wanita itu mendorong Liana dan memintanya untuk pergi. Di situ Liana masih juga belum begitu mengerti kenapa diperlakukan sebegitu buruknya. Dalam hatinya ia bergumam 'mimpi apa hingga membuatnya dipermalukan seperti ini'

"Kamu itu hanya seorang pelayan, tapi sikapmu begitu arogan. Kalau nggak ingin ada pengunjung ditutup aja tokonya! Menghina orang nggak mampu beli, memangnya kamu sendiri mampu untuk membeli barang-barang yang kau jaga di sini? Memangnya berapa gaji kamu hingga membuat sesombong ini!"

Wanita itu menatapnya sinis dan berakhir membuang muka, seolah-olah apa yang dikatakannya itu sudah benar.

"Aku sedang bicara denganmu, kenapa tak dijawab? Kalau kamu menuduh tentu harus memiliki bukti. Jangan tiba-tiba menuduh orang tanpa memiliki bukti yang kuat mbak, bisa jadi timbul fitnah. Kalau saya nggak terima gimana? Memangnya mbak siap masuk penjara?"

Datanglah seorang pria berbadan kekar berjalan dengan arogannya. Dia berdiri tepat di depan Liana yang masih bersitegang dengan salah satu karyawannya. "Ada apa ini?" Bariton suaranya begitu keras menggema di udara.

Liana maupun wanita itu refleks menoleh. Wanita itu melangkahkan kakinya mendekat pada pria yang diakui sebagai manager toko tempatnya bekerja. Dia langsung mengadu sudah diperlakukan sangat buruk oleh pengunjung.

"Pak, perempuan ini barusan menampar saya pak, dia tidak bersikap sopan pada saya. Mohon dikasih ketegasan."

Liana mendelik memelototinnya. Ia tak menyangka wanita itu sangatlah licik. "Hei, bukankah kamu yang nggak sopan sama kami? Kamu sudah mendorong anak saya hingga membuatnya terjatuh, apakah saya harus diam saja?"

"Diam kau!" Pria itu membentak. Liana cukup tersinggung karena tidak dihargai keberadaannya.

"Memangnya apa salah saya, pak! Saya datang  ke sini dengan maksud baik, tapi karyawan di sini mendorong anak saya hingga terjatuh, bahkan dia sudah memfitnah kami hendak mencuri di toko ini. Kalau anda tetap mempekerjakan karyawan seperti dia, saya yakin sekali, tidak lama lagi usaha anda bakalan bangkrut!"

"Sudah kubilang diam lah! Memangnya kau pikir kau itu siapa? Berani sekali kau memperlakukan karyawaku dengan sangat buruk! Cepat  minta maaf padanya!"

Pria yang tak lain adalah manager di toko itu membentak Liana cukup keras dengan kilat matanya berapi-api. Dia tak ingin tahu siapa yang mencari masalah dan siapa yang harus dibela. Baginya kedudukannya sebagai manager harus diakui oleh semua orang, termasuk pelanggan yang berdatangan ke tokonya.

"Apa anda bilang? Saya harus minta maaf sama dia?" Liana menarik ujung bibirnya. "Tidak! Memangnya dia siapa mengharuskan saya untuk minta maaf. Jelas-jelas dia sudah mendorong anak saya dan memfitnah kami sebagai pencuri, apa itu tidak keterlaluan?"

Pria itu membantah. "Keterlaluan kau bilang? Kau itu yang keterlaluan! Sudah membuat kekacauan di toko kami masih juga menganggap kami yang bersalah. Cepat minta maaf dan pergi dari sini. Toko ini tidak bisa melayani pembeli sombong sepertimu!"

Kenzo mengepalkan tangannya dan melangkah, dia berdiri tepat di hadapan pria itu tanpa rasa takut. "Kau bilang kami sombong? Apa kau tidak sadar dengan sikapmu itu om? Kau bahkan tidak bisa menerima tamu dengan baik."

"Diam kau anak kecil! Tajam sekali lidahmu!"

Karyawan itu mendekat dengan menggelayuti tangan managernya sembari berkata. "Bapak, saya yakin mereka ini hanyalah penipu. Dari awal masuk toko ini sudah celingukan seperti maling. Saya yakin kalau mereka ini ingin mencuri di toko kita."

Liana heran, kenapa orang-orang yang ada di situ langsung menyerangnya seperti musuh, padahal tujuannya sangat baik, berniat ingin membantu anaknya memilih pakaian. Ia sangat menyesal masuk ke dalam toko tersebut.

"Mommy! Sebaiknya kita pergi saja dari sini. Masih banyak toko lain yang bisa kita kunjungi," celetuk Kenzo.

"Iya sayang, tentu kita pergi dari sini. Tapi mommy masih penasaran, kenapa mereka begitu kompak menyerang kita? Apa ini benar-benar inisiatif mereka atau~~

"Itu karena aku yang memintanya."

Seorang wanita dengan  rambut digerai tiba-tiba muncul dari belakangnya. Refleks Liana menoleh dan mendapati keberadaan Karina dengan posisi berdiri tegap dan tangannya bersilang di dada menatapnya angkuh.

"Oh..., rupanya kau biang keroknya?" Akhirnya Liana tahu kenapa semua orang menganggapnya begitu buruk, ternyata kakak angkatnya yang menyebarkan fitnah mengenai keburukannya. "Apakah seluruh isi mall ini akan menganggapku seperti maling, Karina? Hebat  sekali dirimu, sekali kau bicara maka semua orang akan mempercayaimu. Ternyata bisamu sangat luar biasa, bahkan sanggup melumpuhkan lawanmu," maki Liana.

"Akhirnya kau akui kehebatan ku, Liana! Ini akibatnya jika berani melawanku!"

Liana menarik ujung bibirnya. Sungguh tangannya ingin sekali melayangkan tamparan padanya.

"Karina, kalau kau merasa memiliki masalah denganku, sebaiknya kau hadapi aku secara langsung! Nggak perlu kau fitnah sana sini. Bahkan anakku yang tidak tahu apa-apa harus dijadikan korban. Kau itu sebenarnya manusia atau bukan sih?"

1
Dwi Agustin N Muftie
lah padahal kan tdi sudah ngobrol sama Dion. sengaja ya
Dwi Agustin N Muftie
nah kan akhirnya kepleset juga. Antra nama Dion dan doni😄😄
Ryn
lanjut thor
Anita Rahayu
buat karina dan suami kena karma😈😈😈😈
Ryn
lanjut thor
Evi Lusiana
reinan bosmu itu,ayah dr anak²mu ana
tia
dobel up thor
tia
udah gk sabar siapa ayah dari si kembar
tia
lanjut thor jgn digantung 🤭
tia
lanjut thor
Ika Dw: oke...
total 1 replies
tia
ada kemungkinan liana tidur dgn rey,,, semangat thor
tia
lanjut thor
Ika Dw: siap👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!