NovelToon NovelToon
"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:516
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Getar Pertama Sang Mentari

Candu yang Tak Bernama

Ada musim yang tak terbaca oleh cuaca,

Saat debar menggantikan kata-kata.

Di antara tawa dan wajah yang teduh itu,

Rasa ini tumbuh tanpa butuh restu.

Bukan karena jubah putih yang menyapa mata,

Tapi karena rasa tenang yang kau bawa.

Cinta pertama adalah rahasia yang paling riuh,

Membuat hati yang polos, kini mulai berlabuh.

Bungah sampai di depan rumahnya dengan napas terengah-engah, bukan hanya karena lelah menggenjot sepeda, tapi karena debaran di dadanya yang tak kunjung reda. Ia menyandarkan sepedanya di bawah pohon mangga tanpa peduli apakah posisinya sudah benar atau belum.

Gadis itu langsung berlari masuk ke kamarnya, membanting tubuh ke atas kasur, dan membenamkan wajahnya di bantal.

"Duh, Bungah! Kamu kenapa sih?" gumamnya pada diri sendiri.

Bayangan wajah Gus Zidan saat menerima kotak kue tadi terus berputar-putar di kepalanya. Cara Zidan menyebut namanya dengan nada rendah yang lembut, cara pria itu tersenyum tipis—semuanya terasa seperti sihir bagi Bungah yang baru saja memasuki masa pubertas. Ini adalah perasaan yang benar-benar baru. Bukan seperti rasa sayang pada Ayah atau Kakak laki-lakinya, tapi sesuatu yang membuat perutnya terasa mulas sekaligus geli.

Ia bangkit dari kasur, lalu berjalan menuju cermin rias kecil di sudut kamar. Bungah menatap pantulan dirinya sendiri.

"Hidungku pesek begini... apa Kak Zidan suka ya?" bisiknya sambil memegang hidungnya. Ia kemudian mencoba merapikan jilbabnya, memastikan tidak ada rambut yang keluar. "Besok-besok kalau ke pondok lagi, aku mau pakai jilbab yang paling rapi. Biar Kak Zidan nggak manggil aku 'anak kecil' lagi."

Bungah tersenyum-senyum sendiri menatap cermin. Di usia ini, cinta pertama adalah segalanya. Dunia yang tadinya hanya berisi main di pantai dan kelulusan SMP, kini mulai berpusat pada satu nama: Gus Zidan.

Tanpa ia sadari, sifatnya yang polos kini mulai diwarnai dengan keinginan untuk terlihat cantik di mata seseorang. "Mentari Kecil" itu kini tidak hanya ingin menyinari dunia, tapi ia ingin menjadi satu-satunya cahaya yang paling terang di mata sang "Kutub Utara".

Tiba-tiba, suara Bunda memanggil dari dapur. "Bungah! Sudah diantar kuenya? Kok malah mesam-mesem di depan kaca?"

"Sudah Bunda! Tadi... tadi Ustadz Zidan bilang terima kasih!" teriak Bungah sambil melonjak kegirangan di atas kasur.

Bungah tidak tahu, bahwa di saat yang sama, di dalam kamarnya yang tenang, Gus Zidan sedang menatap kotak kue pemberiannya dengan tatapan yang sama dalamnya. Dua hati yang berbeda usia dan dunia itu, kini mulai terikat oleh benang yang sama.

***

Siang itu, matahari sedang terik-teriknya, tapi semangat Bungah lebih membara. Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk memilih gamis mana yang paling cantik dan memastikan jilbabnya tegak sempurna di dahi, ia berangkat menuju pesantren.

Sesampainya di ndalem (rumah Kyai), Zidan sudah menunggu di serambi samping yang sejuk, dikelilingi rak-rak kitab yang menjulang. Zidan nampak rapi dengan baju koko putih bersih dan aroma minyak kayu gaharu yang menenangkan.

"Assalamualaikum, Kak Zidan! Eh, Ustadz Zidan!" sapa Bungah dengan nafas sedikit memburu.

"Waalaikumussalam. Duduklah, Bungah. Sudah siap belajar?" tanya Zidan sembari membukakan sebuah kitab tipis berjudul Mabadi’ul Fiqhiyyah.

Pembelajaran pun dimulai. Zidan menjelaskan dengan sangat sabar, sementara Bungah berusaha fokus, meski sesekali matanya malah melamun menatap jemari Zidan yang lentik saat menunjuk baris-baris tulisan Arab.

Namun, di tengah-tengah penjelasan Zidan tentang tata cara wudhu, tiba-tiba raut wajah Bungah berubah. Ia merasa perut bagian bawahnya mendadak mulas dan melilit hebat. Ada sesuatu yang terasa basah dan hangat mengalir, membuatnya merasa tidak nyaman.

"Bungah? Kamu kenapa? Wajahmu pucat," Zidan menghentikan bacaannya, nampak khawatir.

Bungah memegang perutnya, wajahnya mulai ketakutan. "Kak... perut Bungah sakit banget. Terus... terus kayak ada yang keluar."

Bungah berdiri hendak pamit ke kamar mandi, namun saat ia berdiri, matanya melirik ke arah lantai kayu tempatnya duduk tadi. Ada noda merah di sana. Sontak, gadis polos itu gemetar hebat. Air matanya langsung luruh.

"Kak Zidan! Kak... Bungah berdarah! Bungah mau mati ya Kak? Bungah sakit apa?" tangis Bungah pecah. Ia yang belum pernah mengalami ini benar-benar mengira dirinya sedang terluka parah atau terkena penyakit mematikan.

Zidan terpaku. Sebagai seorang laki-laki dewasa dan juga guru agama, ia langsung paham apa yang terjadi. Ini adalah momen transisi Bungah dari anak-anak menuju dewasa. Namun, melihat Bungah yang menangis histeris karena ketidaktahuannya, hati Zidan terasa teriris sekaligus bingung harus berbuat apa.

"Bungah, tenang... jangan nangis. Kamu nggak apa-apa. Kamu nggak sakit," ucap Zidan dengan suara yang sangat lembut, berusaha menenangkan meski ia sendiri merasa canggung luar biasa.

Zidan segera berdiri dan memanggil Umi Aisyah dengan nada sedikit panik. "Umi! Umi! Tolong ke sini sebentar, ini... Bungah..."

Umi Aisyah yang mendengar teriakan putranya segera berlari menghampiri. Melihat Bungah yang menangis sesenggukan sambil memegang perut dan noda merah di pakaiannya, Umi Aisyah langsung paham. Beliau segera memeluk Bungah dengan hangat.

"Sshhh... sayang, jangan takut. Ini tanda kalau Bungah sudah jadi gadis dewasa. Ini berkah, Nduk," bisik Umi Aisyah menenangkan.

Zidan memalingkan wajahnya, ada rasa haru sekaligus getaran aneh di hatinya. Hari ini, di depan matanya, "Mentari Kecil" itu telah resmi beranjak dewasa. Kutub jiwanya merasa semakin ingin melindungi gadis yang baru saja menemukan fase baru dalam hidupnya itu.

1
Feni sang penulis novel
halo kak aku izin komen ya aku sudah membaca semua novel kakak semuanya aku suka dan kakak juga termasuk novel yang terbaik dan yang pertama aku lihat yang bagus cerita novelnya aku pun suka banget sama cerita novel kakak semuanya dan semua alurnya aku suka banget kak💪💪 dan aku punya novel buatan aku sendiri yang berjudul seorang wanita mafia cantik tolong mampir ya kak siapa tahu kakak suka dengan alur ceritanya itu udah ada bab 13 bab kak kalau kakak suka mampir aja ke novel aku ya kak tetap semangat untuk kakak aku cinta banget sama kakak tetap semangat dan tetap jangan putus asa demi masa depan kita💪💪💪
Feni sang penulis novel
halo kakak aku sudah membaca novelnya semua yang yang aku suka sama alur jidan terdiam seribu bahasa tapi semua novel kakak semuanya bagus kok yang aku suka cuman bidan terdiam 1000 bahasa ceritanya bagus kok dan 100% aku suka sama novel kakak dan kakak semangat terus untuk membuat karya terbaik jangan putus asa ya kak aku pun sama kok pengikut aku masih sedikit tapi aku punya 11 novel yang salah satunya seorang mafia wanita cantik kalau kakak suka mampir dulu ke novel aku dan novel itu sudah ada 13 bab tolong baca kalau nggak pun nggak apa-apa kok kakak tetap semangat untuk membuat karyanya sendiri ya kak jangan putus asa semangat kakak aku cinta kakak banget😍😍😍😍💪💪
Rina Casper: trimakasih sudha mampir kkk😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!