Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Air Mata
Dreven menatap gerbang rumah gadisnya dengan datar, Shahinaz ternyata mengingkari janjinya dan berangkat sendiri tanpa izin. Padahal sebelumnya Shahinaz sudah mengiyakan persyaratan darinya untuk berangkat bersama, dengan catatan Dreven pulang ke Mansionnya.
Ia merasa kecewa dan marah sekaligus, namun ekspresinya tidak banyak berubah, seolah dia lupa bagaimana cara mengekspresikan perasaannya sendiri. Padahal baginya, menepati janji itu prinsip yang begitu penting. Rasa frustrasi melingkupi dirinya, apakah sesusah itu menerima dirinya di dalam hidup gadis itu?
"Jadinya dia berangkat sendiri Bos? Wajar sih, tuh bocil kayak anti sosial banget. Gue deketin selama seminggu aja, dia hawanya kayak darah tinggi terus sama gue." Kaendra membuka jendela mobil, setelah melihat keterdiaman Dreven yang nampak sekali terlihat jejak amarahnya.
Arsenio yang berada di sebelah Kaendra akhirnya menyela, "Gue jadi makin penasaran sama tuh cewek. Ngelihat debat sama lo waktu itu aja udah buat gue takjub, ditambah kemarin denger cerita langsung dari lo. Sayang sekali ya, gue belum bisa kenalan karena ternyata dia udah kabur duluan."
"Hushhh, jangan ngomong kencang-kencang, Dreven baru seminggu kenal cewek itu aja bucinnya udah bucin akut. Entar lo dikira nikung, mampus lo dimutilasi sama dia." bisik Kaendra sambil melirik Dreven yang wajahnya tak sedap dipandang mata, persis seperti ingin membunuh seseorang.
Kaendra dan Arsenio, kedua laki-laki itu memang menginap di Mansion Dreven kemarin malam.
Makanya, hari ini mereka ikut menumpang mobil Dreven juga meskipun salah satunya diharuskan untuk menyetir. Setelah dilakukan suit dan pertikaian sengit, akhirnya Kaendra yang diharuskan mengemudi untuk mereka.
"Jalan, sekolah." kata Dreven setelah duduk di kursi belakang dengan tenang.
Kaendra dan Arsenio menatap Dreven, yang kali ini tampak jauh lebih datar dan keruh dari sebelumnya. Tanpa berkata banyak lagi, Kaendra memutar stir dan mulai mengemudikan mobil menuju sekolah. Daripada mereka yang kena getahnya, lebih baik diam dan langsung menuruti titah Dreven saja.
"Positive Thinking aja bro, pergerakan lo terlalu cepet soalnya. Cewek mana yang nggak takut dan risih, ngelihat perhatian ugal-ugalan dari lawan jenis yang baru dikenalnya," ucap Kaendra yang sudah tidak tahan dengan suasana mobil yang cukup menyeramkan akibat aura gelap dari Dreven, "Apalagi setelah satu minggu gue ngejagain dia, gue paham kalau sifat dan karakternya beda dari orang kebanyakan. Dia tipikal orang yang suka menyendiri, dia perlu ruang sendiri, nggak setiap waktu dia pengin diganggu oleh orang lain."
Dreven hanya mendengarkan ucapan Kaendra dengan diam. Meski kata-kata sahabatnya terkesan masuk akal, hatinya tetap bergejolak. Kesabaran Dreven sedang teruji, dan meski dia mencoba memahami perspektif Shahinaz, rasa sakit akibat pelanggaran janji tetap menyakitkan.
"Susah sih kalau mau ngedeketin cewek penyendiri kayak Shahinaz. Bener kata Kaendra, Sekarang Shahinaz kabur dari lo, mungkin karena dia butuh ruang dan waktu buat sendirian. Pelan-pelan aja ngerubah Shahinaz sesuai keinginan lo bro, semua proses juga butuh waktu." lanjut Arsenio menambahkan.
"Harus banget, perlahan?" tanya Dreven dengan helaan nafas panjang. Tapi dia tidak bisa sesabar itu untuk menunggu Shahinaz datang ke sisinya. Sejak kecil, apa yang dia inginkan selalu terkabulkan dalam sekejap mata.
Kaendra dan Arsenio saling bertukar pandang. Berat pasti bagi Dreven yang hidupnya selalu dipermudahkan dengan sekali jentikkan tangan, dari lahir dia sudah hidup dengan kemewahan yang menyertainya. Kaendra kemudian mencoba memberikan dorongan lebih, sekali-kali Dreven harus hidup layaknya orang biasa.
"Lo inget soal blackcard lo yang ditolak mentah-mentah sama Shahinaz? Dari situ aja harusnya lo udah sadar, kalau Shahinaz itu cewek berkelas. Beruntung cinta pertama lo jatuh ke cewek yang tepat, dia nggak peduli sama harta kekayaan lo, dan dia lebih peduli sama kehidupan dirinya sendiri." Kaendra menjelaskan dengan perlahan lagi.
Arsenio mengangguk setuju dengan pendapat Kaendra. Karena jika dia diposisi Shahinaz saat itu, tanpa pikir panjang pasti dia langsung mengambil kartu unlimited itu, lalu menggunakannya sepuas yang dia inginkan.
"So, what next?" kata Dreven berusaha menerima masukan dari orang lain. Apalagi perkataan sahabatnya ada benarnya juga sejak tadi.
"Mungkin lo harus mengubah pendekatan lo dulu. Jangan hanya fokus pada apa yang lo inginkan, tapi coba lihat dari sudut pandang Shahinaz. Tunjukkan bahwa lo menghargai kebutuhannya, tanpa mementingkan harapan lo sendiri lebih dulu." pikir Kaendra yang sebenarnya dia juga bingung harus memberikan saran apa.
Arsenio menambahkan, "Dari cerita Kaendra sebelumnya, Shahinaz jelas butuh waktu dan ruang untuk dirinya sendiri. Dia bukan tipe cewek yang bisa didekati dengan cara yang agresif, jadi perlu lebih sabar dan peka terhadap sinyal yang dia berikan. Tunjukkan kalau lo bisa menghargai keputusannya dan tetap ada untuk dia tanpa menekan."
Dreven berdehem. Meskipun jawaban mereka masuk akal, tetap saja Dreven merasa takut. Jika dia bergerak secara perlahan, bukankah memberi kesempatan kepada laki-laki lain untuk mendekati gadisnya?
Drrrttt... Drrrttt...
Ponselnya bergetar cukup lama, itu tandanya ada panggilan masuk dari seseorang. Tetapi Dreven dalam suasana cukup buruk sekarang, apa dia harus mengangkatnya? Berhubung Dreven masih baik hati sekarang, dia segera mengeceknya barangkali itu panggilan penting dari seseorang.
"Anjirrr, si Dreven bisa senyum woyyy. Gue baru pertama kali ngelihat si Dreven senyum!" kata Arsenio yang memang sejak tadi terus memperhatikan Dreven.
"Mana-mana, gue nggak lihat!" balas Kaendra yang ketika menatap Dreven, wajahnya masih terlihat sama dan tidak ada yang berubah.
Bagaimana tidak tersenyum, Dreven mendapat panggilan telepon dari pujaan hatinya. Shahinaz Wijaya, akhirnya setengah sekian lama Shahinaz tidak merespon pesan atau panggilannya, sekarang gadis itu tau kalau dirinya benar-benar hidup di sampingnya.
"Yes, dear?"tanya Dreven ingin tau, ada masalah apa sehingga Shahinaz menghubunginya. Mungkin dia ingin meminta maaf, merasa menyesal karena telah mengingkari janjinya.
Namun nihil, tidak ada jawaban dari gadis itu. Dreven kembali mengecek teleponnya, panggilan masih terhubung, tetapi kenapa tidak ada suara dari Shahinaz? Ponsel Shahinaz rusak atau bagaimana?
"Woyyy... Ada cewek pingsan di rooftop! Kalian yang di kelas ke sini deh, tuh cewek kehabisan banyak darah!" setelah sekian lama Dreven menunggu ada jawaban dari Shahinaz, akhirnya terdengar juga suara dari sana.
Dreven mengernyit sekilas. Siapa yang dimaksud ada perempuan pingsan di rooftop? Apa Shahinaz? Jika iya, Dreven sudah mulai panik sekarang!
"Anjirrr, ini darahnya nggak berhenti-henti woyyy. Kita nggak terlambat nolongin dia kan? Coba cek, tuh cewek masih bernafas atau nggak?"masih terdengar suara sayup-sayup dari seberang telepon. Namun Dreven masih bisa mendengar dengan jelas.
"Masih bernapas kok, langsung bawa ke UKS aja. Ehhh, tapi dibawa UKS juga nggak mungkin, ini cewek harusnya dibawa ke rumah sakit dan masuk UGD."sahut yang lainnya.
Dreven semakin menegang di tempat. Dari segi manapun, perempuan yang dimaksud oleh mereka pasti gadisnya bukan? Jejak khawatir dari wajahnya langsung terlintas, dia benar-benar panik sekarang.
"Dra, ngebut." kata Dreven memberi titah pada Kaendra dengan suara yang agak sedikit bergetar.
"Lo mau gue ngelanggar lampu lalu lintas Bos?" tanya Kaendra sambil memelototkan matanya.
"Nggak masalah." balas Dreven sambil terus memasang pendengarannya.
"Emang kenapa sih? Kok lo khawatir banget setelah nerima telepon itu." jawab Kaendra penasaran.
Dreven tak menjawab. Sebaliknya, dia mengeraskan panggilan suaranya. Dia tidak mau menjelaskan apapun kepada mereka, karena dia dilanda kepanikan sekarang.
"Ini kalau dibawa turun pakai tangga manual, keburu darahnya habis kali. Tapi kalau pakai lift, kita nggak ada akses juga buat pakai itu, soalnya ada PIN yang harus kita input kan?"terlihat masih sedang berdiskusi bagaimana caranya untuk menurunkan Shahinaz. Bayangkan, dari lantai tiga gedung sampai bawah, itu cukup menguras waktu dan tenaga. Apalagi yang dihadapkan mereka sekarang adalah pasien gawat darurat sekarang.
"Ekhhhmmm, can you hear me?" tanya Dreven yang tentu saja tidak didengar oleh mereka. Kenapa mereka tidak ada yang menyadari jika ponsel Shahinaz sedang melakukan panggilan dengannya? Rasa-rasanya dia ingin membunuh mereka sekarang juga!
"Coba hubungi petugas UKS, udah ada yang dateng belum?"tanya seseorang dari seberang telepon sana lagi.
"Ya nggak ada lah, ini masih pagi banget tau. Cukup kita tau PIN buat masuk lift, masalah ini harusnya cepet kelar."jawab yang lain lagi, "Ehhh, ponsel cewek ini lagi terhubung sama seseorang cuyyy. Apa dia udah punya firasat bakal sekarat kayak gini."
Dreven akhirnya bisa bernafas lega, ketika ada yang melihat status panggilan yang sedang berlangsung sekarang. Apalagi ada suara gemerisik sebentar, sepertinya mereka sedang mengecek panggilan itu.
"Halo, dengan siapa di sana? Mohon maaf, pemilik ponsel ini sedang tidak sadarkan diri dan perlu mendapat bantuan medis secepatnya."kata seseorang yang akhirnya membalas panggilan ini juga.
"PIN, 11335790." jawab Dreven yang dibuat setenang mungkin.
"Maksudnya apa ya?"tanya seseorang diseberang sana dengan heran.
Arsenio menyela panggilan mereka, "Biar gue yang jelasin sama mereka, lo tinggal terima beres aja. Dra, kecepatannya tambahin lagi. Ini udah deket sama sekolah kok, nggak masalah kalau lo nambahin kecepatan."
Dengan menghela nafas panjang, akhirnya Dreven memberikan ponselnya pada Arsenio juga. Tangannya sudah bergetar hebat, rasa cemas yang dilanda oleh Dreven sekarang jelas saja bukan main-main. Disaat ia bahagia mendapat panggilan telepon dari Shahinaz, kenapa berita menyakitkan seperti ini yang harus didengar olehnya!
"Gue Arsenio Sosialisasi Winromanov. Dan yang lagi terhubung sama panggilan ini sekarang, itu kontak telepon dari Dreven Veir Kingsley. Lo pasti tau siapa dia kan? PIN Lift yang kalian butuhin sekarang adalah 11335790." kata Arsenio menjelaskan dengan sangat sabar, "Bantuin dia gotong sampai bawah ya, kita bentar lagi sampai di sekolah."
"Oh iya Kak, maaf kita nggak paham maksud Kak Dreven apa tadi."jawab seseorang dari seberang sana, "Kalian, bantuin gotong cewek ini ke bawah secepatnya. Gue dapet PIN Lift dari Kak Dreven. Cepetan gih, Kak Dreven katanya bentar lagi nyampai ke sekolah."
Kaendra mengemudi dengan kecepatan yang semakin meningkat, melewati setiap kendaraan dengan hati-hati namun tegas. Sedangkan Arsenio terus berusaha menjelaskan situasi melalui telepon, berharap anak-anak di sekolah dapat menurunkan Shahinaz secepat mungkin, mengikuti instruksinya dengan baik.
Rasa cemas yang menekan hati Dreven membuat pikirannya penuh dengan bayangan buruk.
Bagaimana jika mereka terlambat? Bagaimana jika Shahinaz tidak dapat diselamatkan? Apalagi bagian tubuh Shahinaz yang terluka adalah kepala, bukankah itu terlalu riskan jika tidak diobati dengan segera?
"Dra, hurry up!" desak Dreven dengan nada yang sudah dipenuhi dengan ancaman.
Kaendra hanya mengangguk, tidak berani menentang. Arsenio menutup panggilan setelah memastikan semua informasi sudah disampaikan dengan jelas. Dia menoleh ke belakang, menatap Dreven dengan penuh perhatian.
"Tenang Bro, Shahinaz udah diturunin ke bawah dan lagi dapet pertolongan pertama. Ini bentar lagi nyampai kok, jadi setelah itu kita langsung bawa dia ke rumah sakit dan dapet perawatan medis lebih lanjut." kata Arsenio mencoba menenangkan, meski dalam hatinya sendiri pun terbesit keraguan.
"Hooh, santai aja Bos. Entar kita nyampai di sana, Shahinaz langsung masuk ke mobil dan di bawa ke rumah sakit kok." jawab Kaendra menenangkan juga.
Dreven duduk dengan gelisah di kursi belakang, pandangannya tajam menembus jendela mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Pikirannya penuh dengan bayangan buruk, seolah-olah waktu berlalu terlalu lambat, padahal setiap detik yang terbuang terasa seperti ancaman nyata bagi Shahinaz.
Hingga ketika mobil mereka sampai di sekolah, dan Kaendra tetap melajukannya hingga sampai lapangan utama, itu semata-mata demi mempersingkat jalan mereka. Yang terpenting, ada Dreven yang bisa menjadi tameng mereka karena melakukan pelanggaran. Mobil yang dipakai juga mobil Dreven. Tapi dia yakin tak ada yang berani melawan Dreven sih, toh dia juga ada kaitannya dengan sekolah megah ini bukan?
Mereka akhirnya menjadi pusat perhatian banyak murid, karena memang itu santapan sehari-hari mereka. Tanpa lama dan tanpa membuang banyak waktu, Dreven langsung masuk ke dalam UKS dan memastikan gadisnya baik-baik saja. Tapi nihil, Shahinaz bahkan belum siuman dan darah masih sedikit demi sedikit merembes dari kepala gadis itu.
"Langsung bawa ke rumah sakit aja bro. Dokter yang ditugasin di sekolah ini juga datangnya nggak tau kapan, dia butuh penanganan medis lebih lanjut kelihatannya." kata Kaendra menyadarkan Dreven dari kepanikan panjangnya itu.
Dreven mengangguk. Tanpa pikir panjang, dia menggendong Shahinaz ala bridal style, membawa dengan hati-hati menuju mobilnya berada. Dia memantapkan hatinya sendiri jika Shahinaz akan baik-baik saja, tidak akan ada yang terjadi dengan gadisnya, dia yakin gadisnya akan selalu disampingnya selamanya.
Untuk kedua kali setelah sekian lama Dreven menjadi dingin dan tak tersentuh dari banyaknya orang, Dreven akhirnya menitikkan air matanya meski dengan cepat Dreven menghapus jejak air mata itu dari pelipis matanya!