Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Dingin
Ibu Marni menghabiskan malam itu di kamar tamu mewah lantai bawah, tetapi tidak ada yang bisa tidur. Suara langkahnya yang gelisah bergema di lantai marmer hingga larut.
Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum fajar benar-benar menyingsing, Amara mendengar suara mobil jemputan Ibu Marni tiba. Tanpa pamit, tanpa sarapan bersama, ibu mertuanya itu pergi.
Namun, kepergiannya meninggalkan getaran waspada di udara rumah. Amara tahu ini bukan akhir. Ini adalah pengumpulan kekuatan.
Prediksinya terbukti lebih cepat dari yang dia kira.
Hari masih pagi, Luna sudah berangkat sekolah dengan Taxi Online (Amara dengan sengaja meminta Yuni tidak ikut mengantar), ketika Rafa tiba-tiba muncul di ambang pintu ruang kerjanya.
Dia tidak berpakaian kerja. Dia mengenakan kaos dan celana training, rambutnya acak-acakan, matanya bengkak dan liar, seperti binatang yang terpojok. Bau alkohol samar-samar masih menempel padanya.
“Kita perlu bicara,” gumamnya, suaranya serak.
Amara, yang sedang memeriksa detail teknis denah klinik di komputernya, tidak menoleh.
“Saya sedang bekerja.”
“Sekarang!” bentaknya, suaranya meninggi.
Perlahan, Amara memutar kursinya. Dia memandangnya dengan ekspresi datar, seperti seorang ilmuwan mengamati spesimen yang tak menarik. Dia sudah memakai ‘zirah’-nya hari ini: jumpsuit hitam dari bahan drill yang tegas, rambut disanggul rapi, wajah bersih tanpa riasan kecuali pelembab. Dia sengaja ingin terlihat tak tersentuh.
“Baiklah. Bicara.”
Rafa menatapnya, seolah mencari celah emosi di wajahnya yang dingin. Tidak menemukannya, dia mulai dengan suara bergetar. “Ibu bilang… Ibu bilang kamu tahu. Dan kamu punya… bukti.”
“Ya,” jawab Amara singkat. Dia membuka laci meja, mengambil sebuah map folder cokelat tipis. Tanpa kata-kata, dia mengeluarkan isinya dan menyebarkannya di atas meja kerjanya: cetakan foto Yuni dan Rafa di taman, foto kaus dan jam tangan di kamar Yuni (dia cetak dari rekaman ponselnya), dan salinan catatan pola kepergian Rafa yang dia buat di notebook-nya.
Rafa mendekat, matanya melototi bukti-bukti itu. Wajahnya memucat, lalu memerah.
“Kamu… kamu menyelidikiku? Kamu mengobrak-abrik kamar Yuni?”
“Kamu mengobrak-abrik pernikahan kita,” balas Amara, suaranya tetap tenang, seperti melaporkan cuaca.
“Aku hanya mengumpulkan fakta. Seperti yang selalu kamu ajarkan: semua keputusan harus berdasarkan data, kan?”
Sarkasme itu seperti tamparan. Rafa terduduk di kursi di seberang meja, seperti kakinya tidak lagi kuat menopangnya. “Ini… ini tidak seperti yang kamu kira.”
“Oh, benar? Lalu seperti apa? Ceritakan versimu. Aku punya waktu.” Amara menyilangkan tangannya, menunggu.
Rafa menghela napas berat, tangannya meremas-remas rambutnya.
“Aku… terjebak. Itu dimulai lama sekali, saat Luna masih bayi. Kamu… kamu saat itu sangat sedih, sangat jauh. Dan Yuni… dia ada. Dia selalu tersenyum, selalu membantu. Itu hanya… pelarian bodoh. Dan kemudian, itu berlanjut. Aku tahu itu salah. Aku ingin berhenti, tapi…”
“Tapi nyaman?” sela Amara, suaranya mulai meninggi meski dia berusaha keras mengendalikannya. “Mudah? Tidak perlu usaha? Dia tidak menuntutmu untuk berbicara, untuk merasa, untuk menjadi partner? Dia hanya menerima saja, seperti furnitur yang bisa kau gunakan kapan saja kau mau?”
“Jangan berkata begitu!” Rafa membentak, bangkit berdiri. “Kamu pikir ini mudah bagiku? Setiap hari aku hidup dengan rasa bersalah ini! Aku terperangkap!”
“AKU YANG TERPERANGKAP, RAFA!” teriak Amara untuk pertama kalinya, meledak. Dia bangkit, menatapnya dengan mata yang membara.
“Aku terperangkap dalam kebohonganmu! Dalam rumah ini yang jadi penjara! Aku terperangkap dalam peran sebagai istri yang puas, sementara suamiku berselingkuh dengan pembantu kami! Kau pikir rasa bersalahmu menyamakan rasa penghinaan yang kau timpakan padaku?”
Dia menarik napas dalam, dadanya naik turun. Tapi air mata tidak datang. Hanya amarah yang putih dan bersih.
“Aku tidak ingin mendengar alasanmu. Aku tidak peduli lagi dengan penderitaanmu. Sekarang, ada dua hal yang akan terjadi.”
Rafa terdiam, terpana oleh ketegasannya.
“Pertama, Yuni pergi. Hari ini juga. Dia tidak akan lagi menginjakkan kaki di rumah ini atau mendekati Luna.”
“Kamu tidak bisa…”
“AKU BISA!” potong Amara. “Atau semua bukti ini akan menjadi konsumsi publik dan pengadilan. Pilih.”
Rafa menatapnya, melihat seorang asing. Ini bukan Amara yang dia kenal. Ini adalah wanita dengan inti baja.
“Kedua,” lanjut Amara, suaranya kembali datar dan terukur, “kita akan memulai proses hukum untuk perceraian yang damai.
Aku sudah berkonsultasi dengan pengacara. Aku menginginkan hak asuh penuh atas Luna, pembagian aset yang adil berdasarkan kontribusi tidak langsungku selama ini, dan tunjangan anak.
Jika kau kooperatif, ini akan berjalan cepat dan diam-diam.”
Rafa tertawa getir, hampir histeris. “Jadi itu rencanamu? Menghancurkan aku? Menghancurkan keluarga kita?”
“Keluarga kita sudah hancur, Rafa! Kau yang menghancurkannya!” suara Amara pecah sejenak, tapi dia segera menguasai diri.
“Aku hanya merapikan puing-puingnya. Sekarang, pilihlah. Apakah kau akan mengusir Yuni, atau harus aku yang melakukannya?”
Siang itu, setelah pertengkaran yang melelahkan dan penuh ancaman terselubung, Rafa akhirnya mengalah. Dia memanggil Yuni ke ruang kerja, tempat Amara masih duduk seperti ratu yang mengadili.
Yuni masuk, wajahnya sudah pucat. Dia pasti sudah mendengar teriakan mereka.
“Yuni,” mulai Rafa dengan suara lelah.
“Kamu… kamu harus pergi.”
Yuni menatap Rafa, lalu Amara. Matanya yang biasanya tunduk, kini berkilat dengan sesuatu yang keras—kombinasi ketakutan dan kebencian.
“Saya minta maaf, Bu,” katanya pada Amara, tapi nada dan tatapannya sama sekali tidak menyesal. “Tapi Bu… kalau saya disuruh pergi seperti anjing, saya tidak terima. Saya punya harga diri. Dan saya tahu banyak hal. Tentang keluarga ini. Tentang Bapak.” Dia menoleh ke Rafa.
“Rahasianya tidak hanya ada di kamar saya, Pak.”
Ancaman itu jelas. Amara merasa mual. Tapi dia sudah siap.
“Tidak ada yang mengusirmu seperti anjing, Yuni,” ucap Amara, suaranya dingin. Dia mengambil sebuah amplop dari laci.
“Ini adalah pesangon. Jauh lebih besar dari yang diwajibkan hukum. Plus, tiket bis sekali jalan ke kampung halamanmu.”
Dia meletakkan selembar kertas di atas meja.
“Dan ini adalah perjanjian kerahasiaan. Kamu tanda tangan, kamu ambil uangnya, dan kamu hilang. Kamu tidak akan pernah menghubungi keluarga ini lagi, atau membicarakan apapun yang terjadi di rumah ini kepada siapapun, termasuk di media sosial.”
Yuni melirik amplop tebal itu, rakus dan takut sekaligus. “Kalau… kalau saya tidak tanda tangan?”
“Maka,” Amara mengeluarkan ponselnya, menekan satu tombol, dan rekaman suara percakapan ancaman Yuni tadi terdengar jelas dari speaker kecilnya,
“aku akan laporkan kamu untuk pemerasan.
Dengan rekaman ini dan bukti perselingkuhan, kamu tidak hanya akan pergi dengan tangan kosong, tapi mungkin akan berurusan dengan polisi. Pilih.”
Rafa memandang Amara dengan takjub dan ngeri. Dia tidak menyangka istrinya bisa seberapa taktis dan kejam.
Yuni terpojok. Matanya berkaca-kaca, kali ini karena kemarahan yang tak berdaya. Dia melihat Rafa, mengharapkan pertolongan, tetapi pria itu hanya menundukkan kepalanya, tak sanggup menatapnya.
“Baik, Bu,” desis Yuni akhirnya, suaranya penuh kepahitan. “Saya tanda tangan.”
Proses berlangsung cepat dan tegang. Amara menyaksikan Yuni menandatangani perjanjian dengan tangan gemetar, lalu mengambil amplop uang tunai tanpa menghitungnya.
Yuni pergi ke kamarnya, mengemasi barang-barangnya dengan kasar dan cepat. Dalam waktu kurang dari satu jam, dia sudah berdiri di pintu depan dengan sebuah koper besar dan tas ransel.
Rafa menghilang entah ke mana, tak sanggup menyaksikan kepergiannya.
Amara berdiri di foyer, memastikan Yuni tidak mengambil barang yang bukan miliknya. Saat Yuni melangkah keluar, dia berbalik. Wajahnya yang biasanya polos kini terdistorsi oleh dendam dan kekalahan.
Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Amara, berbisik dengan suara parau yang penuh racun:
“Jangan salahkan hanya Rafa, Bu. Ketidakbahagiaan itu menular. Dan Ibu juga sudah lama tidak ada di sini.”
Lalu, dengan senyum tipis yang penuh kemenangan palsu, Yuni berbalik dan menghilang ke dalam lift, meninggalkan Amara berdiri kaku di pintu rumahnya.
Kata-kata itu menggantung di udara seperti sisa aroma busuk.
Ibu juga sudah lama tidak ada di sini.
Pintu lift tertutup. Sunyi.
Amara berbalik, menutup pintu depan dengan perlahan. Bunyi klik yang final. Dia menyandarkan punggungnya di daun pintu yang keras, menatap lorong rumah besar yang tiba-tiba terasa sangat, sangat kosong.
Dia melihat ke sekeliling: vas mewah, lukisan abstrak, tangga spiral yang elegan. Semuanya terasa asing. Apakah Yuni benar? Apakah dia, Amara, sudah lama ‘pergi’? Meninggalkan diri sendiri, meninggalkan pernikahannya, jauh sebelum perselingkuhan itu dimulai?
Dia berjalan pelan ke ruang keluarga, merasakan dinginnya marmer di bawah kaki telanjangnya. Dia teringat dirinya bertahun-tahun yang lalu, penuh semangat, penuh ide. Lalu pelan-pelan memudar, terkubur di bawah tumpukan rutinitas dan harapan orang lain.
Namun, bukankah itu yang dia perjuangkan sekarang? Untuk kembali?
Suara langkah kaki di tangga membuatnya menoleh. Rafa berdiri di sana, wajahnya hancur.
“Dia pergi,” kata Amara, bukan sebagai pertanyaan.
Rafa mengangguk. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, meminta maaf, atau menjelaskan lagi. Tapi Amara mengangkat tangan, menghentikannya.
“Jangan. Tidak sekarang. Aku… aku butuh ruang. Luna akan pulang nanti. Kau urus makan malamnya. Aku akan keluar.”
Dia berjalan ke ruang kerjanya, mengambil jaket dan tasnya. Dia melewati Rafa tanpa menyentuhnya, tanpa menatapnya lagi.
Di dalam mobil, dia melihat rumah mereka di kaca spion. Benteng itu kini sunyi. Musuh pertama telah diusir. Tapi pertempuran yang sebenarnya, pertempuran melawan bayangan masa lalu, rasa bersalah, dan rekonstruksi diri, baru saja dimulai.
Dan kata-kata Yuni, seperti kutukan sekaligus pencerahan, terus bergema di kepalanya, memaksanya untuk bertanya: Siapa sebenarnya yang telah meninggalkan rumah ini lebih dulu? Dan bisakah dia—Amara yang baru, yang dingin dan kuat ini—benar-benar menemukan jalan pulang, ke diri sendiri?
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.