NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ambruk di Ambang Pintu

Mobil sedan hitam itu meluncur masuk ke area parkir privat apartemen dengan kecepatan yang tidak biasa. Arash bahkan tidak mematikan mesin dengan sempurna sebelum ia melompat keluar, mengitari kap mobil, dan membuka pintu penumpang. Di sana, Raisa masih bersandar pada kaca jendela, matanya terpejam rapat dengan rona merah yang tidak wajar di kedua pipinya.

"Raisa, bangun. Kita sudah sampai di rumah," suara Arash terdengar mendesak.

Raisa mengerang pelan. Kesadarannya timbul tenggelam seperti lilin yang ditiup angin. Saat Arash membantu melepaskan sabuk pengamannya, Raisa mencoba untuk berdiri. Ia memaksakan kakinya menyentuh lantai beton parkiran yang dingin. Namun, baru dua langkah berjalan menuju lift, tubuhnya terhuyung ke samping.

"Aku ... aku bisa jalan sendiri ..." bisik Raisa, suaranya parau dan nyaris hilang.

"Jangan keras kepala!" Arash menyambar lengannya, menahan beban tubuh Raisa yang semakin berat.

Mereka naik ke lantai unit mereka dalam keheningan yang menyesakkan. Begitu pintu lift berdenting dan terbuka langsung di koridor depan pintu apartemen mereka yang mewah, Raisa merasa seolah seluruh energinya tersedot habis oleh gravitasi bumi. Rasa pusing yang tadi sempat mereda kini kembali menghantam seperti ombak besar. Pandangannya menggelap, dan seketika itu juga, kakinya menyerah.

Raisa jatuh terduduk, lalu tubuhnya perlahan ambruk ke lantai granit koridor yang dingin. Napasnya pendek-pendek dan cepat. Seluruh tubuhnya mulai bergetar hebat—sebuah respons alami tubuh yang sedang diserang demam tinggi.

Arash, yang sedang mencari kunci di saku jasnya, tersentak melihat pemandangan itu. "Raisa!"

Ia segera berlutut di samping wanita itu. Saat tangannya menyentuh kulit lengan Raisa, Arash menarik napas pendek karena terkejut. Panasnya tidak main-main. Raisa tidak hanya sakit, dia sedang terbakar. Tubuh wanita itu menggigil begitu hebat hingga giginya beradu, menciptakan suara gemeletuk yang memilukan di koridor yang sunyi itu.

"Dingin ... Arash ... dingin sekali tubuhku ..." igau Raisa dengan mata yang hanya terbuka separuh, menatap kosong ke arah langit-langit.

Arash merasakan kepanikan yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat menghadapi kerugian miliaran rupiah di bursa saham. Ia menatap pintu apartemen yang hanya berjarak dua meter, lalu menatap Raisa yang meringkuk seperti janin di lantai. Ego dan gengsinya sebagai pria yang selalu menjaga jarak dan otoritas kini bertarung hebat di dalam dadanya. Selama ini, ia selalu memastikan tidak ada kontak fisik yang terlalu "intim" kecuali jika diperlukan untuk sandiwara di depan Kakek.

Namun, melihat Raisa yang gemetar seperti burung kecil yang terluka, semua aturan kontrak itu terasa sampah.

"Sialan," umpat Arash pelan. Ia melemparkan kunci apartemennya ke lantai, membiarkan bunyi logam itu berdenting nyaring.

Tanpa ragu lagi, Arash membuang jas mahalnya ke lantai untuk menjadi alas sementara, lalu ia menyelipkan lengannya di bawah leher dan lutut Raisa. Dengan satu hentakan kuat, ia mengangkat Raisa ke dalam pelukannya. Posisi ini jauh lebih intim daripada saat di kantor tadi. Kepala Raisa terkulai di dadanya, tepat di atas jantung Arash yang berdetak liar.

Raisa secara tidak sadar mencari sumber panas, ia mengeratkan cengkeramannya pada kemeja putih Arash, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu. Hembusan napas Raisa yang panas mengenai kulit leher Arash, mengirimkan sensasi aneh yang membuat bulu kuduknya meremang.

"Tahan sebentar ya," gumam Arash, suaranya mendadak melunak, kehilangan semua ketajamannya.

Ia berhasil membuka pintu dengan satu tangan sementara tangan lainnya menahan Raisa agar tidak jatuh. Begitu masuk ke dalam, Arash tidak membawanya ke kamar tamu yang dulu biasa Raisa tempati. Ia melangkah menuju kamar utamanya—kamar yang sempat menjadi wilayah terlarang bagi siapa pun.

Arash meletakkan Raisa di atas ranjang king size yang berlapis sprei sutra abu-abu. Begitu punggung Raisa menyentuh kasur, wanita itu kembali meringkuk untuk mencari kehangatan di bawah bantal yang dingin.

"Jangan pergi ... Ayah ... tolong jangan biarkan mereka mengambilnya aku mohon ..." igau Raisa lagi. Air mata mulai mengalir dari sudut matanya yang tertutup, membasahi bantal.

Arash mematung di sisi tempat tidur. Ia melihat Raisa yang biasanya tangguh, berani mendebatnya, dan selalu mencoba terlihat kuat, kini hancur berkeping-keping karena kelelahan. Rasa bersalah mulai merayap di hati Arash. Ia teringat tumpukan dokumen yang ia berikan sebagai hukuman, sindiran-sindirannya yang tajam, dan bagaimana ia membiarkan Pak Surya menekan wanita ini hanya demi egonya sendiri.

Ia duduk di tepi ranjang, tangannya terulur ingin mengusap air mata Raisa, namun ia ragu. Jemarinya menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya ia memberanikan diri menyentuh pipi Raisa yang panas.

"Maafkan aku," bisik Arash sangat pelan, hampir tak terdengar oleh telinga manusia mana pun.

Arash segera berdiri dan bergerak cepat. Ia mengambil handuk kecil dan baskom berisi air hangat dari kamar mandi. Ia melepaskan kancing kemeja teratasnya, menggulung lengan kemejanya, dan mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan seumur hidupnya, yaitu merawat seseorang.

Dengan telaten, ia memeras handuk hangat dan meletakkannya di dahi Raisa. Raisa sedikit tersentak saat merasakan sentuhan air itu, namun perlahan tubuhnya mulai sedikit rileks. Arash kemudian mengambil selimut comforter ekstra tebal dari lemari dan menyelimuti Raisa hingga ke dagu, mencoba meredam menggigilnya yang parah.

Sepanjang malam itu, Arash tidak beranjak. Ia duduk di kursi berlengan tepat di samping tempat tidur, memperhatikan setiap tarikan napas Raisa. Sesekali ia mengganti kompresnya, memastikan suhu air tetap hangat. Ia melihat bagaimana wajah Raisa perlahan mulai tenang meski napasnya masih terasa berat.

Di tengah kesunyian malam itu, Arash menatap telapak tangannya sendiri. Tangan yang biasanya menandatangani pemutusan hubungan kerja atau akuisisi perusahaan yang kejam, malam ini digunakan untuk memeras handuk hangat demi seorang wanita yang seharusnya hanya menjadi "alat" dalam rencana bisnisnya.

"Kau benar-benar merepotkan, Raisa," gumam Arash sembari menatap wajah lelap Raisa yang kini tampak jauh lebih damai. "Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi semudah itu. Kau masih punya banyak hutang penjelasan padaku ... dan mungkin, aku juga punya banyak hutang padamu."

Arash menyadari bahwa malam ini, posisi tawar-menawarnya telah berubah. Ia bukan lagi sang majikan yang memegang kendali atas karyawannya. Di dalam kamar yang remang itu, ia hanyalah seorang pria yang sedang berjuang melawan ketakutannya sendiri akan kehilangan satu-satunya hal yang ternyata mulai berarti baginya.

Ia membiarkan kepalanya bersandar pada sandaran kursi, matanya tetap tertuju pada Raisa sampai perlahan kantuk mulai menjemputnya, namun tangannya tetap berada di dekat tangan Raisa, siap siAga jika wanita itu membutuhkannya kembali di tengah kegelapan malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!