NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 TIKET YANG TIDAK PERNAH KUPAKAI

Kaluna memperhatikan jejak akses surel pada layar.

“Jadi mereka bukan hanya mengirim uang.”

Naren mengangguk. “Setidaknya ada orang dari jaringan mereka yang pernah buka surel itu.”

“Berarti Sentra Arunika mengendalikan rekening dan tiket.”

“Belum bisa disimpulkan sejauh itu,” kata Salindri. “Jaringan perusahaan bisa dipakai banyak orang.”

“Setiap ada bukti, selalu ada kemungkinan lain.”

“Kita belum tahu siapa yang pakai perangkat itu.”

Kaluna menutup halaman catatan surel. Ia memahami cara Salindri bekerja. Bukti harus memiliki batas. Dugaan tidak boleh berubah menjadi fakta hanya karena terasa masuk akal.

Walau begitu, nama Sentra Arunika sudah muncul terlalu sering. Map merah. Pembayaran perusahaan. Rekening Singapura. Orang kelima. Sekarang surel palsu.

“Itu cukup untuk meminta dokumen tiket secara resmi?” tanyanya.

Salindri mengangguk. “Kita bisa meminta catatan pemesanan, perubahan data, pembayaran, dan status keberangkatan.”

“Aku ingin tahu apakah tiket itu pernah dipakai.”

“Ada jawaban awal,” kata Naren.

Ia membuka dokumen dari maskapai. Tiket satu arah Jakarta–Singapura dipesan atas nama Kaluna Adiswara. Nomor paspor, tanggal lahir, dan kewarganegaraan sesuai. Jadwal keberangkatannya dua hari setelah kecelakaan.

Kaluna membaca tanggal itu perlahan. Saat penerbangan tersebut meninggalkan Jakarta, dirinya mungkin masih terbaring di suatu tempat tanpa mengetahui namanya sendiri.

“Apakah ada check-in?”

“Tidak ada.”

“Bagasi?”

“Tidak.”

“Nomor kursi?”

“Sudah dipilih saat pemesanan. Tapi tidak pernah ada kartu naik.”

“Catatan imigrasi?”

Salindri membuka lembar lain. “Tidak ada nama Kaluna Adiswara yang melewati pemeriksaan keberangkatan pada hari itu.”

Kaluna mengalihkan pandangan dari dokumen.

“Berarti aku tidak pernah naik pesawat.”

“Benar,” jawab Naren.

“Kenapa bukti ini baru ditemukan sekarang?”

“Karena selama ini yang disebarkan hanya salinan tiket,” kata Salindri. “Bukan catatan penggunaannya.”

“Arsen tidak memeriksa?”

“Sepertinya tidak.”

Kaluna tersenyum tipis tanpa merasa lucu. Mereka menemukan tiket satu arah, lalu langsung percaya dirinya pergi. Tidak ada yang memeriksa apakah ia datang ke bandara, meminta rekaman keberangkatan, atau mengecek apakah paspor itu pernah digunakan.

Bukti itu tampak cukup karena semua orang sudah lebih dulu percaya pada cerita yang dibangun.

Telepon Kaluna bergetar.

Pesan dari Elara muncul.

Aku boleh tahu kamu lagi apa?

Kaluna melihat jam. Seharusnya Elara sedang belajar dari rumah.

Sedang membaca dokumen.

Kamu tidak belajar?

Sudah selesai.

Dokumennya banyak?

Kaluna memotret bagian meja yang hanya memperlihatkan tumpukan kertas tanpa isi sensitif.

Banyak.

Elara membalas dengan foto buku tugas tipis.

Punyaku sedikit. Kita tukar?

Kaluna tersenyum.

Tidak boleh. Dokumenku membosankan.

Punyaku juga.

Pesan sederhana itu sedikit mengurangi ketegangan di dadanya. Setidaknya Elara masih menghubunginya tanpa membicarakan pengadilan, pengawasan, atau rasa takut harus memilih.

Naren menunggu sampai Kaluna menyimpan telepon.

“Kita lanjut?”

Kaluna mengangguk.

Naren menunjukkan catatan pemesanan tiket. Pemesanan dibuat melalui akun perjalanan direksi Mahardika Medika. Beberapa menit kemudian, alamat penerima diubah dan salinan konfirmasi dikirim ke surel palsu atas nama Kaluna.

“Siapa yang melakukan pemesanan?” tanya Kaluna.

“Hanya ada kode agen internal.”

“Tidak ada nama?”

“Akun perjalanan itu dipakai bersama.”

Kaluna langsung teringat bagaimana banyak urusan perusahaan ditangani lewat akun bersama, termasuk permintaan dari sekretariat.

“Siapa yang punya akses?”

“Sekretariat direksi, staf perjalanan, dan beberapa orang yang diberi kewenangan khusus,” jawab Naren.

“Dian?”

“Mungkin saat masih bekerja di Mahardika.”

“Revan?”

“Mungkin.”

“Sekretariat dewan?”

Salindri memeriksa catatan hak akses. “Akun itu pernah memberi hak penggunaan kepada sekretariat dewan untuk perjalanan rapat gabungan.”

“Kapan?”

“Beberapa bulan sebelum kecelakaan.”

“Lalu tidak dicabut?”

“Tidak ada catatan pencabutan.”

Kaluna menggeleng pelan. Perusahaan itu punya terlalu banyak akses bersama. Siapa pun yang cukup memahami sistem bisa masuk tanpa meninggalkan nama pribadi.

“Pembayaran tiket dari mana?”

Naren membuka lampiran tagihan.

“Dibayar memakai kartu perjalanan perusahaan.”

“Atas nama siapa?”

“Kartu unit, bukan kartu perorangan.”

“Unit mana?”

“Sekretariat direksi.”

Kaluna mengambil lembar itu. Tiket penerbangan atas namanya dibuat memakai uang perusahaan, melalui akun perusahaan, dengan dokumen yang disimpan perusahaan. Lalu tiket itu disebarkan seolah Kaluna diam-diam membeli jalan keluar.

“Apakah biaya tiket masuk dalam laporan pengeluaran?”

“Masuk,” jawab Naren.

“Dengan keterangan apa?”

“Perjalanan dinas direktur utama.”

“Siapa yang menyetujui?”

“Persetujuan otomatis karena nilainya masih di bawah batas pemeriksaan tambahan.”

Kaluna mengangkat wajah. “Jadi tidak ada orang yang perlu menandatangani?”

“Cukup akun pemesanan dan kartu unit yang aktif.”

“Sistem yang harusnya buat perjalanan gampang dipakai buat bikin seolah-olah aku kabur.”

Naren menggulir halaman.

“Ada satu perubahan jadwal.”

“Kapan?”

“Beberapa jam setelah kecelakaanmu.”

Kaluna mendekat. Tiket awalnya dipesan untuk penerbangan pagi. Setelah mobil Kaluna ditemukan di sungai, jadwal dipindahkan ke penerbangan malam.

“Kenapa diubah?”

“Tidak ada alasan tertulis.”

“Kalau cuma mau bikin bukti, kenapa jamnya diubah?”

Salindri terdiam sejenak.

“Mungkin biar waktunya kelihatan masuk akal.”

Kaluna membaca waktu penerbangan semula. Jika penerbangan pagi dipertahankan, jaraknya terlalu dekat dengan waktu kecelakaan. Kaluna tidak mungkin meninggalkan lokasi, mengganti pakaian, mengambil barang, lalu mencapai bandara.

Penerbangan malam membuat waktunya lebih masuk akal. Seolah-olah Kaluna sempat keluar dari sungai, bersembunyi, lalu pergi.

“Seseorang mengubah ceritanya setelah kecelakaan,” kata Kaluna.

Naren mengangguk. “Perubahan dilakukan setelah kabar mobilmu ditemukan mulai beredar di perusahaan.”

“Berarti dia masih memantau.”

“Ya.”

“Siapa yang menerima konfirmasi perubahan?”

Naren menunjukkan dua alamat. Surel palsu Kaluna. Akun perjalanan direksi.

“Tidak ada telepon?”

“Ada nomor kontak.”

Nomor itu sama dengan yang digunakan pada rekening Singapura. Kartu prabayar atas identitas Sulastri.

Kaluna membaca angka-angkanya. Rekening dan tiket bukan hanya memakai surel yang sama. Keduanya juga memakai nomor yang sama.

“Apakah nomor itu aktif saat perubahan tiket dilakukan?”

“Iya.”

“Bisa diketahui lokasinya?”

“Catatan lama hanya menunjukkan area menara seluler.”

“Di mana?”

“Sekitar gedung lama Mahardika Medika.”

Kaluna teringat kendaraan yang pernah menjemput dua pria dari gedung tersebut. Sulastri juga pernah bekerja di sana sebelum meninggal.

Gedung lama semakin sering muncul dalam penyelidikan.

“Apakah Sentra Arunika punya kantor di dekat sana?”

Naren membuka catatan alamat.

“Alamat resminya tidak. Tapi salah satu gudang yang tercantum dalam kontrak lama berjarak kurang dari dua kilometer.”

“Gudang itu benar-benar ada?”

“Bangunannya ada. Kita belum tahu apakah pernah dipakai untuk kegiatan logistik.”

Kaluna menandai alamat tersebut.

“Kita periksa.”

“Tidak hari ini,” kata Salindri.

“Kenapa?”

“Gudang itu sudah berganti penyewa. Kalau kita datang sekarang tanpa dokumen, kita bakal ditolak.”

“Kita juga sering ditolak.”

“Makanya kita harus datang dengan dasar yang benar.”

Kaluna tidak membantah lagi.

Ia kembali ke tiket. Pilihan kursi dekat jendela. Nomor paspor yang tepat. Jadwal yang diperbaiki setelah kecelakaan. Semua dibuat oleh seseorang yang tahu bagaimana biasanya dia bepergian.

“Apakah ada permintaan makanan atau catatan lain?”

Naren membuka rincian penumpang.

“Tidak ada makanan khusus.”

“Bagasi?”

“Nol.”

“Itu aneh.”

“Kenapa?”

“Kalau aku benar-benar mau kabur, aku pasti bawa barang.”

“Mungkin mereka sengaja bikin seolah kamu pergi tanpa persiapan.”

“Aku nggak mungkin pergi cuma dengan pakaian yang melekat di badan.”

Salindri mengangguk. “Justru itu yang membantu. Tiketnya ada, tapi tidak ada persiapan perjalanan.”

“Apakah ada kendaraan menuju bandara?”

“Tidak ada pesanan resmi atas namamu,” jawab Naren.

“Hotel tidak mencatat aku menginap.”

“Benar.”

“Tidak ada check-in, tidak ada bagasi, tidak ada imigrasi.”

“Benar.”

“Lalu apa yang mereka punya selain kertas tiket?”

“Cerita yang sudah dipercaya banyak orang,” kata Salindri.

Kaluna terdiam. Satu kertas ternyata cukup ketika orang-orang sudah siap mencurigainya.

Telepon Salindri berdering. Ia menerima panggilan dari staf yang sedang memeriksa dokumen pemesanan. Setelah mendengarkan beberapa saat, ia menyalakan pengeras suara.

“Kami menemukan catatan perubahan kontak,” kata suara dari seberang. “Ada tiga catatan perubahan alamat surel tiket.”

“Tiga kali?” tanya Naren.

“Awalnya akun perjalanan direksi. Lalu surel pribadi atas nama Kaluna. Setelah perubahan jadwal, satu alamat lain ditambahkan sebagai salinan.”

“Alamat siapa?” tanya Kaluna.

Staf itu membacanya.

Alamat tersebut menggunakan domain perusahaan yang tidak langsung dikenali Kaluna. Naren mengetik nama domain ke dalam pencarian arsip. Hasilnya muncul beberapa saat kemudian.

Domain itu terdaftar atas nama sebuah perusahaan konsultasi pengadaan yang pernah bekerja untuk Mahardika Medika.

“Siapa pemiliknya?” tanya Kaluna.

Naren membaca profil perusahaan. Perusahaan tersebut sudah tidak aktif. Alamat kantornya sama dengan alamat lama salah satu vendor Sentra Arunika.

“Nama kontaknya?” tanya Salindri.

Naren menggulir halaman. Nama seorang konsultan tercantum sebagai penerima administratif.

Fadli Wirawan.

Kaluna mengangkat wajah.

Fadli hadir dalam pertemuan hotel. Fadli ikut menyusun audit yang menuduhnya melakukan penggelapan. Kini perusahaan yang pernah terhubung dengan Fadli juga menerima salinan perubahan tiket Singapura.

“Berarti Fadli tahu soal tiket,” kata Kaluna.

“Setidaknya perusahaan yang terhubung dengannya menerima salinan,” ujar Salindri.

“Dia masih bisa bilang tidak tahu?”

“Bisa. Akun itu bisa saja dikelola orang lain.”

Kaluna mengambil foto layar.

“Cari dia.”

“Kita sudah cari.”

“Cari lagi.”

Naren memperhatikan data alamat perusahaan Fadli.

“Ada satu alamat rumah lama.”

“Masih aktif?”

“Belum tahu.”

“Hubungi.”

Naren mencoba nomor yang tercantum. Nomor tidak aktif. Nomor kantor juga sudah mati.

Kaluna tidak merasa heran.

“Apakah keluarganya ada?”

“Ada nama istri dalam data perusahaan lama,” jawab Naren. “Tapi mereka tercatat pindah dua tahun lalu.”

“Ke mana?”

“Belum ada alamat baru.”

Salindri menutup map tiket.

“Untuk sekarang, cukup buat bilang tiket itu tidak pernah dipakai dan dibuat lewat akun perusahaan.”

“Belum cukup membersihkan namaku.”

“Belum.”

“Setidaknya cerita pelarian itu sekarang bisa dipertanyakan.”

“Cukup kuat.”

Kaluna mengangguk pelan.

Ada banyak hal yang berubah dari tiket itu. Dulu kertas itu dipakai untuk membuktikan Kaluna pergi. Sekarang justru orang-orang yang membuatnya mulai meninggalkan jejak.

Naren menerima pesan baru dan membaca isinya.

“Ada perkembangan soal Fadli.”

“Apa?”

“Alamat perusahaan lamanya pernah menerima kiriman dokumen seminggu setelah kecelakaanmu.”

“Dari mana?”

“Sentra Arunika Logistik.”

“Isinya?”

“Nggak ada rinciannya. Cuma tertulis dokumen audit.”

Kaluna kembali memikirkan Fadli. Tiket itu, audit, dan perusahaan yang terhubung dengan Sentra Arunika mulai terasa seperti satu rangkaian.

Sebelum Kaluna sempat meminta penyelidikan dilanjutkan, teleponnya kembali bergetar.

Kali ini pesan dari Arsen.

Aku menemukan salinan awal laporan penggelapan. Tanggal pembuatannya enam hari setelah kecelakaanmu. Fadli yang menyusun.

Kaluna membaca pesan itu sampai selesai.

Ternyata laporan yang menghancurkan namanya dibuat setelah ia menghilang.

Laporan itu dibuat ketika dia sudah tidak bisa membela diri.

Orang yang menyusunnya juga menerima salinan perubahan tiket. Salinan itu kemudian dipakai untuk membuat orang percaya Kaluna telah melarikan diri.

1
Adinda
kaluna cerai aja sama Arsen buat apa sama pria penghianat istrinya belum ditemukan malah nikah lagi sama naren aja kaluna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!