I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di dalam Aula Pertemuan Utama Istana Perak, keheningan yang megah mendadak terpecah oleh dentangan lonceng sihir bernada tinggi.
GONG—!
Suara itu berasal dari Aegis Artifact di dinding utama—sebuah kristal patron yang terhubung langsung dengan tanda vital para ksatria kasta Sovereign. Cahaya merah tembaga yang mewakili keberadaan Jenderal Kaelen redup secara mendadak, lalu redup total hingga pecah menjadi serpihan abu halus.
Para bangsawan tinggi Kekaisaran yang sedang menghadiri perjamuan diplomatik terdiam seketika. Gelas-gelas kristal berisi anggur mahal meluncur dari genggaman beberapa menteri, pecah berantakan di atas lantai pualam putih.
"Kaelen... gugur?" bisik salah satu anggota Dewan Sihir Utama. Wajahnya pucat pasi, tak percaya pada penglihatannya sendiri. "Jenderal Kaelen—puncak pertahanan fisik Kekaisaran—tewas di tangan penyusup tunggal?!"
Kepanikan meledak dalam hitungan detik. Teriakan para bangsawan bersahut-sahutan dengan perintah darurat dari para kapten pengawal istana. Pasukan Royal Guard bergerak kacau, merapatkan barisan di sekitar takhta emas, sementara para penyihir istana sibuk merapalkan mantra perlindungan bertingkat yang belum pernah diaktifkan sejak Perang Besar lima puluh tahun lalu.
Di atas takhta, Penguasa Kekaisaran duduk tanpa suara. Tatapannya dingin, namun jemarinya yang mencengkeram sandaran takhta tampak berguncang halus. Gugurnya Kaelen bukan sekadar kehilangan seorang jenderal; itu adalah bukti bahwa tatanan hukum dan kekuatan biologis Aethelgard telah diruntuhkan oleh entitas yang tidak mereka pahami.
Sementara kepanikan melanda bagian dalam istana, pintu gerbang utama Istana Perak yang terbuat dari besi murni perlahan terbuka dengan derit berat.
Ren Vaelen melangkah masuk menembus badai hujan.
Tubuh manusianya secara medis telah hancur. Daging di paha dan lengannya robek, tulang rusuknya patah tertekan ke dalam, dan napas manusianya tersengal-sengal penuh rasa sakit yang nyata. Langkah kaki Ren pincang, menyisakan jejak darah segar di atas lantai pualam putih yang bersih. Sebagai manusia biasa berstatus Zero-Core, Ren hanyalah wadah fana yang rapuh dan berada di ambang batas kematian biologis.
Namun, di balik langkah Ren yang tertatih, udara di seluruh Istana Perak tidak lagi bergerak sesuai hukum alam.
【Level 4: Absolute Null — Memproyeksikan Manifestasi Utama】
Pemicuan Level 4 tidak memberikan kekuatan sihir atau regenerasi pada tubuh Ren. Sebaliknya, modul itu retak—membuka celah terkecil bagi Sang Tokoh Utama Sejati: The Absolute Anomaly.
Ren Vaelen bukanlah sang pahlawan atau entitas terkuat itu sendiri. Ren hanyalah "cermin fana" dan titik tumpu rendah yang dipinjam agar keberadaan Sang Anomali Mutlak bisa bermanifestasi di Aethelgard tanpa menghancurkan alam tersebut seketika.
Ratusan prajurit pengawal istana dan penyihir elit Dewan telah bersiaga di halaman dalam. Senjata-senjata bertatahkan batu sihir diacungkan, puluhan lingkaran mantra bersinar terang di udara malam.
Namun, ketika keberadaan tak tertepi dari The Absolute Anomaly memancar tipis di belakang punggung Ren, seluruh lingkaran sihir itu bergetar hebat—lalu padam satu per satu bagaikan hisapan ruang hampa.
Para penyihir memuntahkan darah; sihir mereka tidak ditangkis atau dipantulkan, melainkan dianggap tidak pernah ada saat mendekati koordinat tempat Sang Anomali memfokuskan pandangannya.
"Jangan mendekat! Monster!" teriak seorang kapten pengawal dengan suara gemetar, menurunkan tombaknya yang mendadak melengkung dan kehilangan struktur molekulnya.
Ren tidak memandang mereka. Dengan mata manusia yang lelah dan tertutup darah, ia menatap lurus ke arah pintu utama aula istana. Dalam ketidaktahuannya sebagai wadah biasa, Ren hanya tahu satu hal: ia adalah medium yang membawa takdir kehancuran bagi kesombongan Kekaisaran.
Setiap langkah kaki Ren yang terseret menyisakan garis merah di atas marmer perak—sebuah jejak fana yang menandai hadirnya Sang Anomali Sejati di gerbang penghabisan Aethelgard.