Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 — Pertemuan di Aula Utama
Sekali dalam sebulan, seluruh pangeran Kerajaan Zhou diwajibkan hadir dalam pertemuan resmi di Aula Utama—sebuah tradisi yang telah berlangsung sejak generasi kakek buyut mereka, di mana Raja meninjau laporan dari setiap wilayah yang berada di bawah pengawasan para putranya.
Bagi Zhou Li yang lama, pertemuan semacam ini selalu menjadi momen yang membosankan—ia biasanya hanya duduk diam di ujung ruangan, sesekali menguap, dan buru-buru pergi begitu pertemuan selesai untuk kembali ke urusan dagangnya yang jauh lebih menarik baginya.
Namun kali ini, Zhou Chen memasuki Aula Utama dengan sikap yang jauh berbeda—tenang, waspada, dan diam-diam mengamati setiap detail yang bisa ia pelajari.
Aula itu luas, dengan pilar-pilar kayu besar berukir naga yang menopang langit-langit tinggi. Di ujung ruangan, di atas singgasana sederhana namun berwibawa, duduklah Raja Zhou Tian—ayahanda Zhou Li, seorang pria berusia lima puluhan dengan wajah yang menunjukkan beban bertahun-tahun memimpin kerajaan kecil yang terus-menerus berada dalam bayang-bayang ancaman kerajaan besar di sekitarnya.
Di kedua sisi aula, kesembilan pangeran berdiri berjajar sesuai urutan kelahiran mereka. Zhou Chen mengambil posisinya sebagai Pangeran Keempat, di antara Zhou Yun (Pangeran Kedua) yang berdiri tegap dengan sikap militer, dan Zhou Ming (Pangeran Kelima) yang tampak tenang namun matanya terus-menerus mengamati sekeliling seperti biasa.
"Laporan dari wilayah utara," kata seorang menteri, membuka gulungan panjang. "Panen musim ini menurun sepuluh persen dibanding tahun lalu akibat kekeringan berkepanjangan."
Raja Zhou Tian mengangguk pelan, wajahnya tetap tenang meski ada kekhawatiran tersembunyi di balik matanya. "Siapa yang bertanggung jawab atas wilayah itu?"
"Pangeran Ketujuh, Yang Mulia."
Semua mata beralih sejenak ke sosok pemuda kurus yang berdiri di ujung barisan—Zhou Feng, Pangeran Ketujuh yang "tidak memiliki apa-apa", tanpa dukungan bangsawan, jenderal, maupun sekte mana pun. Wajahnya pucat, jelas menahan tekanan berat dari kegagalan yang bukan sepenuhnya kesalahannya.
"Hamba... sudah berusaha mengatasi masalah irigasi, Ayahanda," katanya, suaranya bergetar. "Tapi sumber daya yang hamba miliki terbatas—"
"Alasan tidak akan mengisi lumbung yang kosong," potong Zhou Yun dari seberang ruangan, nada suaranya tajam dan meremehkan. "Kalau Adinda tidak mampu mengurus satu wilayah kecil, mungkin sebaiknya wilayah itu diserahkan kepada yang lebih cakap."
Zhou Feng menunduk, tidak berani membalas.
Zhou Chen memperhatikan pertukaran itu dengan seksama, dan tanpa sadar, Mata Dewa-nya aktif dengan sendirinya, menganalisis situasi di hadapannya bukan sebagai individu, melainkan sebagai sebuah masalah yang lebih besar.
Wilayah Utara — Analisis Singkat Masalah utama: Sistem irigasi lama, tidak dirancang untuk musim kering berkepanjangan Solusi potensial: Perbaikan jalur irigasi menggunakan teknik pengalihan air dari sungai terdekat Estimasi peningkatan hasil panen: 35–40% jika diperbaiki dengan benar Catatan: Bukan kesalahan pengelola wilayah, melainkan infrastruktur yang sudah usang sejak generasi sebelumnya.
Zhou Chen menahan diri untuk tidak langsung bersuara. Ia tahu, menunjukkan pengetahuan mendalam tentang irigasi secara tiba-tiba di hadapan seluruh istana hanya akan menarik perhatian yang tidak diinginkan—terutama dari Zhou Ming yang sudah mulai curiga.
Namun, saat matanya bertemu sekilas dengan Zhou Feng yang berdiri gemetar di ujung ruangan, sesuatu dalam dirinya—entah sisa kepribadian Zhou Li yang lama, atau nilai-nilai yang dibawa Zhou Chen dari dunianya sendiri—membuatnya tidak bisa sepenuhnya diam.
Setelah pertemuan resmi berakhir, para pangeran mulai membubarkan diri satu per satu. Zhou Chen sengaja memperlambat langkahnya, menunggu hingga Zhou Feng berjalan sendirian menuju gerbang aula, jauh dari pandangan saudara-saudara lainnya.
"Kakak Keempat?" Zhou Feng tampak terkejut saat Zhou Chen tiba-tiba berjalan di sampingnya. Selama ini, tidak ada satu pun saudaranya yang repot-repot menyapanya di luar situasi formal.
"Wilayah utara," kata Zhou Chen tanpa basa-basi, "masalahnya bukan pada bagaimana kau mengelolanya. Sistem irigasinya sudah terlalu tua."
Zhou Feng menatapnya bingung. "Kakak... tahu tentang sistem irigasi?"
"Aku banyak membaca," jawab Zhou Chen, alasan yang kini sudah menjadi semacam kebiasaan baginya. "Kalau kau mau, aku bisa membantu menyusun rencana perbaikan. Bukan untuk mengambil alih wilayahmu—hanya membantu menyelesaikan masalah yang sebenarnya bukan salahmu sejak awal."
Untuk sesaat, Zhou Feng hanya terdiam, matanya berkaca-kaca menahan emosi yang sudah lama ia pendam. Selama bertahun-tahun, ia selalu dianggap sebagai pangeran paling lemah, paling tidak berguna, tanpa dukungan siapa pun—bahkan dari saudara-saudaranya sendiri.
"...Kenapa Kakak mau membantu hamba?" tanyanya pelan. "Bukankah ini... perebutan takhta? Bukankah seharusnya kita saling bersaing?"
Zhou Chen menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis—senyum yang membawa kebijaksanaan yang jauh melampaui usia sembilan belas tahun tubuhnya.
"Karena aku tidak tertarik menaklukkan takhta dengan menginjak orang lain," jawabnya. "Kalau kerajaan ini ingin bertahan di tengah ancaman kerajaan-kerajaan besar di luar sana, kita membutuhkan lebih banyak orang yang bekerja sama, bukan saling menjatuhkan demi kursi kosong."
Kata-kata itu, sederhana namun tulus, menyentuh sesuatu dalam diri Zhou Feng yang sudah lama tak tersentuh—harapan bahwa mungkin, ia tidak sepenuhnya sendirian dalam istana yang penuh persaingan ini.
Dari kejauhan, di balik salah satu pilar aula, Zhou Ming diam-diam menyaksikan pertukaran singkat itu, alisnya terangkat sedikit.
Pangeran Keempat... mendekati Pangeran Ketujuh yang tidak punya kekuatan apa pun?
Sebagai seorang yang mengandalkan informasi dan logika politik, tindakan itu tidak masuk akal baginya—kecuali jika Zhou Li memiliki tujuan yang lebih dalam daripada sekadar kebaikan hati semata.
Atau mungkin, pikirnya, mulai menyusun teori baru dalam kepalanya, dia sedang mencari sekutu. Sekutu yang lemah, tapi loyal—karena tidak punya pilihan lain.
Ia tersenyum tipis pada dirinya sendiri, sebuah rasa tertarik yang jauh lebih dalam mulai tumbuh menggantikan kecurigaan sederhana sebelumnya.
Menarik. Sepertinya Pangeran Keempat yang dulu dianggap bodoh ini, mulai bermain permainan yang jauh lebih rumit daripada yang terlihat di permukaan.
Ia belum tahu seberapa dekat tebakannya dengan kebenaran—dan ia juga belum menyadari, bahwa dirinya sendiri kelak akan dihadapkan pada pilihan yang akan mengubah arah hidupnya sendiri di tengah perebutan takhta yang semakin memanas ini.
Bersambung ke Bab 8 — Sekutu yang Tak Terduga