Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Merubah Pola Hidup
Sinar kelabu fajar belum sepenuhnya menyapu kegelapan di luar jendela ketika Alya membuka matanya. Angka digital merah pada jam weker di atas meja nakas menunjukkan pukul 04.30 pagi. Suasana rumah masih sangat hening, hanya terdengar suara jangkrik yang bernyanyi sisa semalam dan embusan angin dingin yang menyusup lewat celah ventilasi.
Di kehidupan sebelumnya, Alya baru akan terbangun dua jam lagi. Ia ingat betul pola hidupnya di tahun 2021 ini. Ia adalah wanita muda yang selalu bangun dengan perasaan lelah, menyeret langkahnya dengan malas ke kamar mandi, dan berangkat kerja dengan terburu-buru. Setelah seharian menghadapi tekanan pekerjaan sebagai staf junior di Megah Corp, ia akan pulang dengan tubuh remuk, lalu melampiaskan stresnya dengan memesan makanan cepat saji porsi besar dan berbaring di tempat tidur hingga larut malam sambil menonton serial drama.
Aku yang di masa ini memang sangat pemalas, batin Alya seraya menyibakkan selimutnya. Ia menunduk, menatap perutnya yang berlipat di balik piyama longgarnya, lalu menyentuh lengan atasnya yang terasa berat.
Dulu, ia membenci tubuh ini. Ia merasa tubuh ini adalah kutukan yang membuatnya tidak pantas dicintai, sebuah kelemahan yang membuat Siska selalu berhasil memposisikan diri sebagai "sahabat penyelamat" dan membuat Rendy terlihat seperti "ksatria dermawan" yang sudi menerimanya. Namun pagi ini, saat ia mengusap permukaan kulitnya yang utuh tanpa bekas luka tusukan, tidak ada lagi kebencian. Yang ada hanyalah rasa syukur dan sebuah tekad yang membaja.
Tubuh ini adalah kendaraannya. Jika ia ingin memenangkan peperangan melawan monster berwajah manusia seperti Rendy dan Siska, ia tidak bisa mengandalkan otak CEO-nya saja. Ia membutuhkan fisik yang kuat, mental yang tahan banting, dan disiplin baja. Ia tidak akan membiarkan dirinya terkapar tak berdaya lagi di lantai marmer dingin.
Alya beranjak dari tempat tidur. Ia membuka lemari pakaian lamanya, menyingkirkan kemeja-kemeja kerja yang kebesaran, dan menarik keluar sepotong kaus katun abu-abu serta celana training hitam yang sudah lama berdebu di sudut lemari. Ia mengikat rambut panjangnya menjadi cepol tinggi yang ketat, lalu mengenakan sepatu kets yang solnya bahkan masih tampak baru karena hampir tidak pernah dipakai.
Saat ia membuka pintu kamar dan menuruni tangga kayu, lantai berderit pelan. Udara dingin pagi seketika menerpa wajahnya begitu ia membuka pintu depan. Tanpa ragu, Alya melangkah keluar.
Langkah pertamanya menyusuri jalanan kompleks perumahan terasa sangat berat. Sendi-sendinya seolah memprotes gerakan tiba-tiba ini. Baru lima belas menit ia memaksakan diri berlari kecil, napasnya sudah memburu hebat. Paru-parunya terasa terbakar, kakinya bagaikan ditarik oleh beban puluhan kilogram, dan keringat dingin mulai membanjiri dahi serta punggungnya.
Alya berhenti sejenak di bawah sebuah lampu jalan yang temaram, memegangi lututnya sambil terengah-engah. Rasa mual melanda perutnya akibat kelelahan yang ekstrem. Ada bisikan kecil di kepalanya—sisa-sisa kebiasaan lama—yang menyuruhnya untuk menyerah, pulang, dan kembali tidur di kasur yang hangat.
Namun, di detik berikutnya, ingatan itu kembali menyergapnya. Bayangan senyum licik Siska dalam balutan gaun merah. Bisikan dingin Rendy sesaat sebelum pisau itu menembus dadanya.
“Pria mana yang betah dengan wanita yang selalu sok mengatur seperti dirimu?”
“Terima kasih banyak, Sayang.”
Alya mengatupkan rahangnya erat-erat. Matanya menajam, menyala oleh amarah yang mendidihkan darahnya. Sakit di kakinya, sesak di dadanya saat ini, tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit pengkhianatan dan kematian.
Dengan napas yang masih tersengal, Alya menegakkan tubuhnya. Ia kembali mengayunkan kakinya, mempercepat langkahnya membelah kabut pagi. Ia berlari bukan untuk menjadi cantik demi pujian pria. Ia berlari untuk membersihkan kelemahannya, untuk menempa dirinya menjadi senjata yang tak terkalahkan. Setiap tetes keringat yang jatuh ke aspal seolah mencuci bersih kenaifan dan kebodohannya di masa lalu.
Satu jam kemudian, langit mulai terang oleh semburat jingga matahari terbit. Alya melangkah masuk kembali ke halaman rumahnya dengan tubuh basah kuyup oleh keringat. Kaus abu-abunya menempel ketat di tubuh, napasnya masih naik-turun, tetapi ada kepuasan luar biasa yang terpancar dari sorot matanya. Tubuhnya terasa lebih hidup dari sebelumnya.
Saat ia membuka pintu depan dan melangkah menuju ruang tengah, aroma harum bawang putih dan mentega yang ditumis menguar dari arah dapur.
"Ma?" panggil Alya dengan suara agak serak.
Mamanya, yang sedang sibuk mengaduk nasi goreng di atas wajan, menoleh. Spatula di tangannya nyaris terlepas saat melihat penampilan putrinya. Mata wanita paruh baya itu membelalak tak percaya.
"Ya ampun, Alya! Kamu kenapa, Nak? Habis kecebur di mana kok basah kuyup begini?" Mama bergegas mematikan kompor dan menghampiri Alya, mengambil selembar lap bersih dari meja makan untuk menyeka dahi putrinya.
Alya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat lepas dan tulus. Ia membiarkan ibunya mengusap keringat di wajahnya. "Alya nggak kecebur, Ma. Alya habis lari pagi keliling kompleks. Sampai ke taman depan sana."
Tangan Mama terhenti di udara. Ia menatap Alya dari atas sampai bawah dengan raut wajah keheranan yang teramat sangat. "Lari pagi? Kamu? Alya anak Mama yang biasanya kalau hari libur baru bangun jam delapan, hari ini bangun subuh buat lari pagi?"
"Iya, Ma," Alya tersenyum hangat, menatap lekat-lekat garis wajah ibunya yang masih sehat. Ada rindu yang kembali berdesir di dadanya, menyadari betapa berharganya momen sederhana ini. "Mulai hari ini, Alya mau ubah kebiasaan. Alya sadar selama ini Alya terlalu malas, nggak pernah perhatiin kesehatan badan. Badan Alya rasanya berat banget, cepat capek kalau kerja. Jadi, Alya mutusin buat mulai olahraga rutin."
Mama terdiam sejenak, menatap mata putrinya mencari kebohongan, namun hanya menemukan kesungguhan di sana. Perlahan, senyum bangga dan haru mengembang di bibir wanita itu. Ia menepuk pipi Alya yang kemerahan dengan lembut.
"Mama seneng banget dengarnya, Al. Mama sama Papa itu nggak pernah nuntut kamu harus kurus atau gimana, yang penting itu kamu sehat. Kalau badan kamu sehat, pikiran kamu juga pasti ikut segar. Tapi... jangan dipaksakan langsung berat ya olahraganya. Pelan-pelan saja."
"Pasti, Ma. Oh ya, Ma," Alya melirik ke arah wajan yang berisi nasi goreng sosis—menu sarapan favoritnya di masa lalu yang penuh karbohidrat dan lemak. "Mulai sekarang, Alya boleh minta tolong Mama buat sesuaikan bekal makan siang Alya, nggak? Alya mau kurangi makanan yang digoreng sama yang manis-manis. Mungkin... telur rebus, dada ayam panggang, sama sayur-sayuran segar aja."
Mata Mama semakin berbinar. Ia mengangguk antusias. "Boleh banget! Nanti siang Mama ke pasar beli sayuran yang segar-segar khusus buat kamu. Nasi goreng ini buat Papa kamu saja, kebetulan dia semalam minta dibikinkan. Nanti Mama buatkan kamu oatmeal pakai buah sama susu rendah lemak, ya? Mau?"
"Mau banget, Ma. Terima kasih ya, Mama yang paling cantik," Alya memeluk lengan ibunya sebentar, tak peduli tubuhnya masih berkeringat, membuat Mamanya terkekeh geli.
"Sudah, sudah, sana mandi! Nanti masuk angin kalau keringatnya kering di badan," usir Mama pura-pura galak seraya kembali menuju kompornya.
Alya tersenyum dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Rasa hangat menjalar di dadanya. Perubahan kecil ini saja sudah membuat ibunya tersenyum begitu lebar. Ia bersumpah akan terus menjaga senyum itu agar tidak pernah pudar oleh tipu daya manusia serakah mana pun.
Setelah mandi dengan air dingin yang menyegarkan seluruh sarafnya, Alya duduk di meja belajarnya. Ia membuka sebuah buku catatan bersampul kulit hitam yang sudah lama tidak ia sentuh. Ia mengambil pena, menarik napas panjang, dan mulai menyusun ulang seluruh jadwal kehidupannya.
Tangannya bergerak lincah di atas kertas. Ia menulis dengan tulisan tegak bersambung yang tegas, jauh dari kesan ragu-ragu.
Jadwal Harian Alya (Mulai 15 Mei 2021):
04.30 - 05.30 : Bangun, pemanasan, lari pagi / kardio ringan.
05.30 - 06.30 : Mandi, sarapan nutrisi tinggi, persiapan kerja.
06.30 - 07.30 : Perjalanan ke Megah Corp, evaluasi pergerakan saham pagi di mobil.
08.00 - 17.00 : Jam kerja. (Target: Ambil alih proyek akuisisi PT. Cipta Laras yang akan meledak bulan depan).
17.00 - 18.00 : Analisis dokumen investasi bodong Rendy (Kumpulkan bukti).
19.00 - 20.00 : Olahraga malam (Yoga / angkat beban ringan).
20.00 - 21.00 : Waktu bersama Papa dan Mama (Pastikan mereka tidak bertemu Rendy tanpa pengawasanku).
21.00 - 22.00 : Susun strategi lanjutan. Tidur.
Alya menatap jadwal tersebut dengan saksama. Sangat padat, namun terstruktur rapi. Ini adalah jadwal seorang CEO yang sedang bersiap untuk berperang, bukan jadwal seorang staf junior yang menunggu nasib baik datang menghampiri.
Ia mencoret beberapa bagian dan menambahkan sebuah catatan kecil di sudut kertas: "Cari alasan logis untuk menghubungi Kai Aditya sore ini."
Mengingat nama Kai, detak jantung Alya menjadi sedikit lebih tenang. Kai. Pria yang di masa lalu pernah ditolak olehnya, pria yang selalu menatapnya dengan pandangan tulus dan berbicara padanya sebagai seseorang yang setara. Jika ia butuh sekutu di luar lingkar pergaulan Megah Corp yang telah disusupi ular seperti Siska, maka Kai adalah orang pertama yang harus ia jangkau. Ia membutuhkan keahlian Kai di bidang audit untuk membedah kedok perusahaan konsultan keuangan abal-abal milik Rendy tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Semuanya sudah siap," gumam Alya pelan.
Ia menutup buku catatan itu dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Alya berdiri menghadap cermin panjang di kamarnya. Pagi ini, ia memilih pakaian yang berbeda. Bukannya memakai blus dengan motif ramai yang biasa ia gunakan untuk menyamarkan lipatan lemaknya, Alya memilih kemeja lengan panjang berwarna navy polos yang potongannya pas di badan, dipadukan dengan celana panjang bahan berwarna hitam.
Meskipun perut dan pinggangnya masih terlihat berisi, posturnya pagi ini berbeda. Bahunya tidak lagi membungkuk. Punggungnya tegak lurus, dagunya sedikit terangkat, dan tatapan matanya tajam serta penuh perhitungan. Aura ketidakpercayaan diri yang selalu menyelimutinya seakan lenyap tak bersisa, digantikan oleh wibawa kepemimpinan yang telah ditempanya selama lima tahun ke depan.
"Mari kita lihat, Siska... kejutan apa yang akan kuberikan padamu di kantor hari ini," bisik Alya pada pantulannya sendiri.
Dengan langkah yang mantap dan elegan, Alya menyandang tas kerjanya, keluar dari kamar, dan turun ke ruang makan untuk menyantap sarapan sehat pertamanya, siap menghadapi kerasnya dunia korporasi dan intrik berdarah yang menunggu di hadapannya. Kesempatan kedua ini tidak akan pernah ia sia-siakan.