Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Milan, tujuh belas tahun lalu.
Ada aturan tidak tertulis yang dipelajari setiap anak keluarga mafia sebelum ia belajar membaca: apa pun yang terjadi di balik pintu ruang kerja ayahmu, kau tidak melihatnya, kau tidak mendengarnya, dan yang paling penting, kau tidak pernah menyebutnya lagi setelah pintu itu tertutup. Orang-orang dewasa menyebutnya omertà — kode diam yang lebih tua dari negara Italia itu sendiri, lebih suci daripada gereja mana pun yang mereka kunjungi setiap Minggu. Yao Conti, tujuh tahun, belum tahu kata itu. Malam itu, ia hanya tahu bahwa diam adalah satu-satunya hal yang memisahkannya dari kematian.
Hujan turun seperti peluru, menghantam kaca jendela mansion tua di Via Solferino dengan ritme yang nyaris seperti detak jantung yang panik. Yao kecil bersembunyi di balik tirai beludru merah tua, mendekap boneka kain compang-camping yang sudah kehilangan satu matanya, dan menyaksikan dunia yang ia kenal runtuh dalam hitungan menit — bukan dengan ledakan, bukan dengan teriakan panjang, tapi dengan sesuatu yang jauh lebih senyap: tiga ketukan pintu yang sopan, lalu keheningan, lalu satu suara tumpul yang membuat lantai di bawah kakinya sedikit bergetar.
Ayahnya, Ferdinand Conti, kepala keluarga Conti yang legendaris — pria yang biasanya mengisi seluruh ruangan hanya dengan berdiri di dalamnya — kini tergeletak di lantai marmer ruang kerja dengan darah yang merembes ke celah-celah ubin seperti sungai kecil yang mencari muara. Ibunya, Mei-Lin, seorang perempuan Asia yang dulu meninggalkan segalanya demi cinta yang dianggap keluarganya sendiri sebagai pengkhianatan, memeluk tubuh suaminya sambil menjerit dalam bahasa yang bercampur — Italia, Mandarin, dan isak tangis yang tak berbahasa apa pun.
"Yao, tesoro, jangan lihat," bisik pengasuhnya, Sofia, sambil menutup mata gadis kecil itu dengan telapak tangan yang gemetar. Ibu jarinya menekan terlalu keras, seolah takut Yao akan lolos begitu saja jika genggamannya melonggar barang sedetik.
Tapi Yao sudah melihat. Ia melihat pria berjas hitam dengan bekas luka melintang di rahangnya — pria yang selama ini ia panggil Paman Enzo, tangan kanan ayahnya, orang yang biasa menggendongnya berkeliling kebun anggur keluarga sambil menyanyikan lagu-lagu rakyat Sisilia dengan suara sumbang yang selalu membuatnya tertawa. Pria itu berdiri di ambang pintu, pistol masih mengepul di tangannya, wajahnya sedatar batu nisan — wajah yang sama yang pernah mencium keningnya dan menyebutnya piccola mia di pesta ulang tahun keenamnya.
"Ricordati questo momento, piccola," katanya pelan, seolah menyadari ada sepasang mata kecil yang mengintip dari balik tirai. Ingat momen ini. "Ini pelajaran pertamamu tentang dunia kita. Darah tidak pernah benar-benar setia. Hanya kekuasaan yang setia." Ia tidak tersenyum saat mengatakannya. Itulah yang paling mengerikan bagi Yao dewasa ketika ia mengingatnya kembali bertahun-tahun kemudian — bukan kekejamannya, tapi betapa biasa saja kekejaman itu terlihat di wajahnya, seolah membunuh Ferdinand Conti hanyalah satu tugas lagi dalam daftar tugas hari itu.
Sofia menyeretnya menjauh dari tirai itu, membawanya melalui lorong pelayan yang sempit dan gelap, tempat bau lilin yang meleleh bercampur dengan bau logam darah yang mulai menyebar ke seluruh mansion. Yao ingat setiap detailnya — ubin dingin di bawah kakinya yang telanjang, suara napas Sofia yang terengah-engah, dan bagaimana wanita itu terus bergumam dalam bahasa Sisilia yang tidak sepenuhnya dimengerti Yao kecil, semacam doa yang lebih terdengar seperti permohonan putus asa daripada keyakinan.
Yang tidak diketahui Yao kecil malam itu — dan yang baru akan ia pahami tujuh belas tahun kemudian, lapis demi lapis, seperti mengupas kulit bawang yang setiap lapisnya membuat matanya semakin perih — adalah bahwa Sofia bukan sekadar pengasuh yang kebetulan berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Sofia telah bekerja untuk keluarga Conti sejak sebelum Yao lahir, telah menyaksikan tiga generasi Don datang dan pergi, dan telah kehilangan suaminya sendiri delapan tahun sebelumnya dalam perang wilayah yang nyaris identik dengan yang sedang terjadi malam ini — sebuah kehilangan yang tidak pernah ia bicarakan pada siapa pun, termasuk pada Ferdinand yang mempekerjakannya justru karena kesetiaan yang lahir dari duka yang sama.
Mereka bersembunyi di gudang anggur bawah tanah selama berjam-jam, dikelilingi rak-rak botol tua yang berdebu, mendengarkan langkah-langkah berat yang menggema di lantai atas, pintu-pintu yang dibanting, dan sesekali tembakan yang jauh lebih menakutkan justru karena datang dalam keheningan yang menyusul setelahnya. Yao mendekap boneka kainnya erat-erat, matanya yang bulat menatap kegelapan tanpa benar-benar melihat apa pun, pikirannya masih terjebak pada gambar terakhir ayahnya di lantai marmer itu.
"Kita akan pergi jauh, Yao," bisik Sofia akhirnya, ketika fajar mulai menyusup melalui celah-celah kecil di dinding gudang anggur. Wajah wanita itu pucat, matanya merah karena menangis dalam diam sepanjang malam, tapi tangannya yang menggenggam tangan Yao tidak pernah gemetar — sebuah ketenangan yang, Yao akan sadari bertahun-tahun kemudian, adalah hasil dari seseorang yang sudah pernah kehilangan segalanya sekali, dan tahu persis bagaimana caranya bertahan setelahnya. "Kita akan pergi ke tempat di mana tidak seorang pun mengenal nama Conti. Kau harus melupakan siapa dirimu, sayang, hanya untuk sementara — hanya agar kau bisa tetap hidup untuk mengingatnya kembali suatu hari nanti."
"Bagaimana dengan Mama?" tanya Yao kecil, suaranya nyaris tidak terdengar.
Sofia tidak menjawab. Ia hanya memeluk Yao lebih erat, dan dalam pelukan itu, gadis kecil itu untuk pertama kalinya memahami bentuk kesedihan yang tidak memiliki dasar — kesedihan yang akan menjadi teman setianya selama tujuh belas tahun berikutnya.
Mereka meninggalkan Milan sebelum matahari sepenuhnya terbit, menyelinap melalui pintu belakang yang jarang digunakan, berjalan kaki menembus jalanan kota yang masih sepi, hingga akhirnya menaiki kereta pertama menuju perbatasan Swiss dengan hanya pakaian yang mereka kenakan dan sebuah amplop uang tunai yang telah disiapkan Ferdinand sebagai jaga-jaga — sebuah rencana darurat yang tidak pernah ia sangka akan benar-benar dibutuhkan secepat itu.
Malam itu, di usia tujuh tahun, Yao Conti belajar bahwa cinta adalah kemewahan yang tidak mampu dibeli oleh keluarga mafia mana pun — dan bahwa dendam adalah satu-satunya warisan yang benar-benar milik seorang anak yatim piatu.
Sisilia, di malam yang sama, tujuh ratus kilometer ke selatan.
Gerald Moretti, delapan tahun, duduk di tangga marmer mansion keluarganya, mendengarkan pertengkaran ayahnya dengan seseorang di telepon. Ia tidak mengerti banyak kata-kata yang diucapkan, tapi ia mengerti nada suara itu — nada yang sama yang selalu mendahului seseorang menghilang dari kehidupan mereka untuk selamanya, nada yang sudah ia dengar tiga kali sebelumnya tanpa pernah benar-benar memahami apa artinya.
"Keluarga Conti sudah selesai," kata ayahnya, Salvatore Moretti, dengan suara dingin yang membuat bulu kuduk Gerald kecil berdiri. "Enzo sudah mengurusnya. Milan sekarang milik kita." Ada jeda singkat, lalu suara Salvatore turun lebih pelan lagi, seolah mengucapkan sesuatu yang bahkan tidak ingin didengar dinding-dinding rumahnya sendiri. "Sampaikan pada Ricci dan orang-orang di Timur bahwa bagian mereka aman. Tidak ada yang akan melacak dana itu kembali pada kita. Katakan pada mereka perjanjian tiga arah kita tetap berlaku seperti biasa."
Gerald tidak tahu siapa keluarga Conti. Ia tidak tahu bahwa di kota lain, seorang gadis kecil sedang kehilangan segalanya karena keserakahan yang sama yang mengalir dalam darah keluarganya sendiri. Ia hanya tahu bahwa dunia orang dewasa dipenuhi rahasia gelap yang disimpan di balik pintu-pintu berlapis kayu mahoni, dan bahwa suatu hari nanti, ia akan mewarisi semua rahasia itu — suka atau tidak.
Ibunya telah meninggal delapan bulan sebelumnya, kanker yang menggerogotinya perlahan sementara ayahnya terlalu sibuk dengan urusan bisnis untuk benar-benar hadir di sisi ranjangnya sampai hari-hari terakhir. Sejak itu, Gerald kecil belajar untuk tidak lagi berharap kehangatan dari siapa pun di rumah besar yang dingin itu — hanya pelayan-pelayan yang berbicara dengan bisikan hormat, dan ayah yang memandangnya lebih seperti aset masa depan daripada anak yang membutuhkan pelukan.
Ia menyelinap mendekati pintu ruang kerja ayahnya malam itu, mengintip melalui celah kecil, menyaksikan Salvatore Moretti berdiri di depan jendela besar yang menghadap kebun anggur, telepon masih menempel di telinganya, punggungnya tegak seperti biasa — punggung seorang pria yang tidak pernah membiarkan dirinya terlihat lemah, bahkan di depan cermin sekalipun.
"Pastikan tidak ada yang tersisa," lanjut Salvatore, suaranya turun menjadi bisikan yang lebih dingin dari sebelumnya. "Istrinya juga, jika ia melihat sesuatu. Dan anak perempuan itu — cari tahu di mana dia berada." Ia terdiam sejenak mendengarkan jawaban di ujung telepon, lalu menambahkan, nyaris seperti gumaman pada dirinya sendiri, "Ricci akan senang mendengar ini. Begitu juga rekan-rekan kita di Hong Kong — beri tahu mereka jalur pengapalan tetap aman untuk kuartal ini."
Kata-kata itu menyusup ke dalam kesadaran Gerald kecil tanpa benar-benar dipahami maknanya, tersimpan begitu saja dalam ingatan seperti benda asing yang belum menemukan tempatnya — sebuah bom waktu kecil yang akan meledak bertahun-tahun kemudian, ketika ia akhirnya memahami setiap kata yang pernah ia dengar malam itu: bahwa ayahnya tidak pernah bertindak sendirian, bahwa jaringan yang menghancurkan keluarga Conti membentang jauh melampaui satu pistol dan satu tangan kanan yang menariknya, menyambung dari Milan ke Roma, dan dari Roma menyeberangi lautan hingga ke pelabuhan-pelabuhan Hong Kong yang bahkan tidak bisa dibayangkan Gerald kecil pada usia itu.
Ia kembali ke kamarnya sebelum ayahnya menyadari kehadirannya, berbaring di ranjang besar yang terasa terlalu luas untuk tubuh kecilnya, menatap langit-langit yang dihiasi lukisan malaikat-malaikat barok yang menurutnya selalu terlihat lebih sedih daripada suci. Ia tidak menangis — Salvatore telah lama mengajarkannya bahwa air mata adalah kelemahan yang tidak dimiliki seorang Moretti sejati — tapi ia merasakan kekosongan yang aneh, semacam firasat bahwa dunia baru saja bergeser ke arah yang tidak bisa ia kendalikan.
Ia tidak tahu bahwa tujuh belas tahun kemudian, takdir akan mempertemukannya dengan gadis kecil di balik tirai itu, dan bahwa cinta mereka akan dibangun di atas fondasi yang paling rapuh: kebohongan yang diwariskan oleh orang tua mereka, dan sebuah kode diam yang telah mengikat dan menghancurkan lebih banyak keluarga daripada peluru mana pun.