Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Hari
Pagi hari di rumah mertua. Meski tidak ada orang selain Gala, karena Saka dan Revin masih di rumah sakit, Rea berusaha untuk bangun lebih awal.
Tidak enak rasanya jika nanti mertuanya pulang, tetapi ia belum sempat beres-beres rumah dan menyiapkan makanan. Meski ia tidak lihai memasak, tetapi ia akan menyiapkan makanan, paling tidak delivery order.
Rea bangun lebih dulu sebelum Gala, sebuah mukjizat yang belum pernah dia dapatkan.
Biasanya, jika di rumahnya dulu saat sebelum menikah, Rea selalu bangun setelah matahari mulai naik di atas kepala, alias waktu zuhur.
Lalu setelah menikah kemarin, ia selalu dibangunkan oleh Gala, itupun dengan drama malas-malasan hingga bermenit-menit lamanya.
Rea melihat jam dinding yang menunjukan pukul empat pagi. Ia kemudian menoleh pada Gala yang kini memeluk pinggangnya dengan wajah menempel di dadanya.
"Modus," gumam Rea seraya mendorong pelan wajah Gala agar menjauh.
Bukan menuruti, Gala justru semakin erat memeluk Rea dan menduselkan wajahnya di dada gadis itu.
"Ish!" Rea kembali mendorong wajah Gala, kali ini lebih keras, membuatnya mengerang kesal.
"Minggir, Kak!"
"Berisik, masih pagi!" kata Gala tanpa merubah posisinya, justru menyamankannya.
"Nyaman ya, sandarannya?"
Gala bergumam, "Hm, empuk."
Rea melotot dan kali ini benar-benar mendorong Gala, hingga menjauh dan pelukannya terlepas.
"Mesum!"
Gala mengerjapkan matanya, seraya menguap. Ia menatap Rea dengan mata ngantuk dan berkedip dengan pelan.
"Tumben sudah bangun?" tanya Gala saat melihat Rea mencepol rambutnya, memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Rea duduk bersandar sambil memainkan ponselnya. "Belajar jadi menantu yang baik," katanya.
Gala mendengus pelan, lalu bergerak memeluk pinggang gadis itu, menyembunyikan wajahnya di sana.
"Lo senang banget apa, peluk-peluk gue?"
"Malas peluk guling, bosan."
Rea mendengus, lalu kembali fokus berselancar dengan ponsel pintarnya.
"Papa suka makanan apa, Kak?"
"Yang jelas bukan seafood, karena Papa juga punya alergi kayak gue."
"Ayam?"
Gala mengangguk pelan tanpa mengubah posisinya yang terasa begitu nyaman.
"Kalau Ibu, sukanya apa?"
Gala mendongak, menatap Rea dengan kening berkerut.
"Ngapain?" tanya Gala seraya menyipitkan matanya.
"Pesan makan."
"Buat?"
"Buat mertua gue, lah. Gak enak kalau mereka pulang, belum ada makanan di rumah."
Gala mendelik, lalu bergerak mengambil posisi duduk di sebelah Rea, mengintip layar ponsel di tangan gadis itu. Benar saja, di sana tampak Rea sedang berselancar di sebuah aplikasi pemesan makanan siap saji.
Gala bergerak menoyor kepala gadis itu. "Cewek itu masak!"
Rea mengusap kepalanya, sembari menatap Gala dengan bibir mengerucut sebal.
"Gue gak jago masak," katanya.
"Belajar makanya."
Gala bangkit, kemudian berlalu ke kamar mandi. "Solat dulu, entar masak bareng."
Rea mengangguk menuruti, karena azan baru berkumandang dari masjid terdekat.
Selesai salat jamaah, mereka beralih membereskan tempat tidur, sebelum berlalu ke dapur untuk mulai memasak.
Pertama-tama, mereka lebih dulu membuka kulkas untuk mencari bahan masakan.
"Ibu itu sukanya sup ayam, kalau Papa lebih suka ayam kecap," kata Gala seraya mengambil stok ayam di kulkas.
"Kalau lo, sukanya apa?" tanya Rea pada Gala, seraya mengambil tomat, daun bawang, bawang merah, wortel, seledri dan lain-lain.
Gala yang sedang mencuci ayam di wastafel, menoleh pada Rea dengan ekspresi datar.
"Gue sukanya lo."
Rea sontak menoleh dengan kedua alis terangkat. "Ya kali lo mau makan gue," balas Rea tak acuh.
Gala selesai mencuci ayamnya, kemudian berjalan menghampiri Rea. Ia mencium dan menggigit pipi gadis itu tanpa aba-aba.
"Akh, sakit!"
Rea menepuk pipi Gala dengan kencang saat merasakan sakit di pipinya, mana basah pula.
"Kalau dimakan lebih sakit, tapi enak," kata Gala dengan ambigu, seraya menyalakan kompor untuk merebus ayamnya.
Rea menepuk pundak Gala dengan keras. "Ngawur!"
Rea mengerti, tentu saja. Dia bukan gadis polos yang tidak tahu maksud ucapan Gala tadi.
Sambil merebus ayamnya, Gala beralih menatap Rea yang tengah mengiris bawang merah untuk digoreng sebagai taburan.
"Kurang tipis itu potongnya, entar susah kering," kata Gala seraya mengambil alih talenan dan pisaunya.
Ia bergerak mencontohkan irisan bawang dengan baik dan benar.
Rea berdecak pelan, cowok itu benar-benar sudah mahir ternyata.
"Kok lo bisa masak, sih?" protes Rea tak terima karena Gala lebih jago dari padanya.
"Gue biasa masak di cafe."
Rea membulatkan bibirnya, iya juga. Gala bekerja di cafe, tentu saja dia sudah mahir dalam hal memasak.
"Berarti lo kokinya?" tanya Rea dengan tatapan mengarah pada tangan Gala yang sangat cekatan.
"Pemiliknya."
Rea membulatkan matanya. "Serius?"
Gala menggeleng. "Cafe dari Papa, tapi sudah atas nama gue."
Rea mengangguk mengerti, pantas saja sejak kemarin Gala tampak santai meski sempat bolos dari cafe, ternyata dis pemiliknya.
"Lo lanjut masak, gue mau kerjain yang lain," kata Gala setelah selesai dengan pekerjaan memasaknya, hanya tinggal menunggu ayam matang dan bumbu meresap.
"Gue masak doang?" tanya Rea sembari menatap punggung Gala yang polos, karena cowok itu baru saja melepas kaosnya, menyisakan celana boxer yang dikenakan.
Gala menoleh, dan menatapnya sinis. "Selesai masak, kerjain yang lain lah."
Rea mendengus, ia pikir Gala akan bersikap lembut dengan membiarkan dia bersantai, tak perlu melakukan pekerjaan lain karena takut membuatnya lelah.
Namun, Gala tetaplah Gala, si galak dan manja. Ah, menyebalkan sekali cowok itu.
Rea melanjutkan masaknya hingga matang, lalu menaruhnya di dalam mangkuk, untuk kemudian ia simpan di bawah tudung saji.
Setelah itu, Rea mencuci wajan dan panci bekas ia memasak, kemudian berlalu ke kamar mandi dekat dapur, hendak memasukan cucian ke dalam mesin.
Tak lama, Gala datang dengan keringat membasahi dahi, hingga mengalir ke leher dan dadanya.
Rea yang melihat hal tersebut sontak menelan ludah. Tatapannya mengarah pada satu titik keringat yang bergerak turun perlahan, dari leher ke dada, lalu ke perut rata yang sedikit berotot, hingga berhenti dan menghilang di peraduan pusar cowok itu.
Fyuh
Rea mengerjapkan matanya berulang kali saat hembusan nafas Gala menerpa wajahnya.
"Zina mata lo," bisik Gala seraya menggeser sedikit tubuh Rea agar ia bisa masuk ke kamar mandi, mengambil air untuk mengepel lantai.
Rea menggigit bibir bawahnya, sialan ia ketahuan. Kenapa tatapannya tidak pernah bisa sinkron jika tentang cowok tampan.
Rea meringis pelan saat merasakan Gala kembali melewatinya seraya menggigit pelan daun telinganya.
"Otak kecilnya dicuci, biar bersih," katanya sebelum berlalu dari hadapan Rea.
Rea menghembuskan nafasnya dan mengusap kasar wajahnya. Ia memejamkan mata, lalu tak lama menjambak rambutnya dengan frustasi.
"Ah, sialan! Pikiran kotor gue merajalele," pekik Rea tertahan.
Masih terbayang jelas di kepalanya saat tetesan keringat tadi berjalan dengan begitu lambat, seolah tengah mendamba kulit putih Gala.
Rea memukul pelan kepalanya, berharap apa yang ia bayangkan segera menghilang dari kepalanya.
Fokus pada kegiatannya, membuat Rea tidak sadar jika Gala sudah kembali dan melihat tingkahnya dengan kening berkerut.
"Lo ngapain?" tanya Gala dengan heran, membuat tingkah Rea terhenti seketika.
"Hah?" Gadis itu tampak salah tingkah. "Enggak kok," katanya seraya mencari apa yang bisa ia kerjakan. Padahal dia sudah menyalakan mesin cucinya, jadi untuk apa lagi ia di sana.
Gala tersenyum miring, lalu berjalan masuk ke kamar mandi itu dan menutup pintunya, membiarkan Rea terhadang di dalam.
Rea membulatkan matanya, menatap Gala dengan panik. "Lo ngapain?" tanyanya sedikit takut, terlebih saat Gala semakin mendekatinya.
"Mandi," jawab Gala masih dengan senyum miringnya, ia semakin memepet tubuh Rea ke tembok.
"I-iya, gue keluar dulu," ucap Rea sambil mendorong tubuh Gala agar menjauh, namun Gala tak bergerak sedikitpun.
Gala semakin memepetkan tubuh mereka, hingga tak ada jarak di antara keduanya.
"Kenapa gak ikut mandi aja?"
Rea bergidik saat merasakan deru nafas Gala menerpa wajahnya. Suara cowok itu bahkan terdengar serak di telinganya, membuat Rea merinding.
"Gue belum mau mandi," kata Rea seraya menatap lurus ke depan, ke dada bidang Gala.
Karena jika ia mendongak, maka belum tentu wajahnya selamat dari jangkauan bibir Gala.
"Sudah siang, nanti kuliah, kan? Mandi bareng aja, biar cepat."
Rea menelan ludah susah payah. Apakah kesuciannya akan hilang saat ini juga, pikirannya berkecamuk.
Tubuh Rea semakin tegang, saat merasakan tangan Gala bergerak melingkarkan tangannya di pinggang cowok itu, lalu menarik kepalanya agar bersandar di dada Gala.
Gala memeluk erat kepala Rea agar tetap bersandar padanya. "Dengar, gak?" tanya Gala dengan suara pelan.
Rea mengangguk, ia mendengarnya. Detak jantung Gala yang sangat cepat, menjadi back sound di tengah-tengah mereka.
"Gala, Rea! Kalian dimana?"
Pelukan mereka merenggang. Rea mendongak untuk menatap Gala dengan matanya yang membulat sempurna. Sedangkan Gala hanya diam dan menatapnya tanpa ekspresi apapun.
"Gala, Rea, kalian di dalam?"
Terdengar ketukan dari luar pintu kamar mandi, membuat Rea semakin panik. Tidak dengan Gala yang dengan santai melepas pelukannya, dan berjalan membuka pintu itu.
Pintu terbuka, menampilkan Saka yang berdiri di sana dengan kening mengernyit.
"Kalian ... Lagi mandi?" tanya Saka dengan sedikit ragu.
Melihat penampilan Gala yang sudah bertelanjang dada, membuat pikiran kotor hinggap di kepalanya.
Ia melirik Rea sekilas, beruntung gadis itu masih berpakaian utuh, sehingga ia tidak zina mata.
"Mandi lah, Pa. Masa tidur?" tanya Gala tanpa ekspresi sedikit pun.
Saka menggaruk tengkuknya dan tersenyum garing. "Ya sudah deh, lanjut. Maaf, kalau ganggu."
Gala memutar bola matanya malas. "Ganggu banget," katanya sebelum kembali menutup pintu itu.
Rea bergegas mendekat dan hendak keluar, namun Gala lebih dulu menahannya.
"Mau ngapain?"
"Keluar, lah. Gak enak sama Papa dan Ibu," kata Rea yang mendapat gelengan tegas dari Gala.
Cowok itu mendorong tubuh Rea agar kembali ke tempat mandi.
"Mandi dulu, baru keluar."
"Tapi--"
"Mandi sendiri atau gue mandiin?" tanya Gala dengan nada ancaman.
Rea menatap Gala dengan memelas. "Masa berdua?" tanyanya merengek, berusaha untuk tidak melakukan hal lebih di hari ini, atau kesucian matanya akan terenggut, bahkan kesucian tubuhnya.
Gala berdecak. "Mandi aja, gue gak akan apa-apain lo. Kalau mau makan, butuh waktu lama. Gak enak, kalau harus buru-buru."
Rea sontak memukul pundak cowok itu. "Kak Gala!"
.
.
.
To be continue ...