Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Aneh
#13
Farhan diam termenung, menatap gelap malam dari balik jendela ruang kerjanya. Pikirannya tak pernah benar-benar tenang, ia gelisah sejak menerima kabar tentang kelahiran putranya. Tapi tak bisa berbuat apa-apa sebab kedua orang tuanya melarang ia pergi menemui Dina serta bayinya.
Namun, berita tentang meninggalnya Ghaza, bayi laki-lakinya, kini kembali membuat harinya terasa berbeda. Hampa, seperti menyesal, tapi ia menampiknya. Justru dengan tega dia mengirimkan akta cerai resmi pada Dina, tapi entah kenapa sesudahnya ia justru tak bisa berhenti memikirkan mantan istrinya itu.
Apakah karena akta cerai itu ia urus dengan terburu-buru tanpa pertimbangan matang, selain karena sebab keegoisannya. Bahkan tak sampai dua minggu sejak Dina meminta berpisah, akta cerai tersebut sudah keluar tanpa ada sidang, toh dirinya sudah mengucapkan talak di depan hakim yang mengesahkan perceraiannya.
Tentu saja semua berjalan lancar berkat bantuan uang untuk melicinkan segalanya.
Tapi kini, secara tidak langsung Farhan merasa sudah berhasil mengamankan aset Permana Group tanpa takut Dina akan menambahkan gugatan pembagian harta gono-gini. Benar apa kata kedua orang tuanya, mengurus perceraian dengan cepat adalah hal yang paling tepat.
Padahal di belakang layar, Pak Jatmiko mengupayakan cara kotor agar bisa menghapus jejak nama Dina serta San Apparel dari Permana Group.
Klek!
Seseorang membuka pintu ruang kerja, rupanya Pak Jatmiko yang datang, wajah pria paruh baya itu nampak berseri-seri. “Farhan, ada berita baik,” katanya.
“Berita apa, Yah?” sahut Farhan datar seperti tak berminat.
“Akhirnya! Akhirnya! Besok Tuan Aqsa Rifaldy akan menandatangani kesepakatan, Permana Group menjadi penyuplai bahan baku untuk produk ArreV,” ujar Pak Jatmiko, senang dan heboh bukan main.
“Padahal sudah sejak dulu kita mengontak ArreV, tapi kenapa baru sekarang mendapatkan jawaban. Apa jangan-jangan karena kehadiran Sarah dan Malika? Ah, iya, mereka memang pembawa keberuntungan untuk kita.”
Pak Jatmiko terus berbicara sendiri, namun, tanpa Farhan sadari, sebenarnya pria itu sedang mencuci otak Farhan dengan berbagai macam hal-hal indah, agar nama Dina semakin terkubur.
“Syukurlah, Yah. Semoga ini bisa jadi jembatan kita melebarkan sayap ke seluruh nusantara.”
“Amin! Hahaha.”
Tok!
Tok!
Tok!
“Maaf mengganggu,” ucap Sarah setelah mengetuk pintu. “Makan malam sudah siap, Silahkan Ayah, Mas. Kita makan malam sama-sama.”
“Iya, iya, baiklah.” Pak Jatmiko langsung pergi meninggalkan ruang kerja, tinggallah Sarah dan Farhan di sana.
Wanita itu mendekati suaminya, memeluk sang suami dari arah belakang, “Ayo makan malam, Mas,” ajaknya.
“Aku belum lapar,” jawab Farhan datar, tapi juga tak menolak pelukan istrinya.
Sarah melepaskan belitan tangannya, lalu memutar tubuh suaminya hingga mereka berdiri berhadapan. “Kenapa? Kamu sakit?” tanya Sarah, sedikit panik, sambil menempelkan telapak tangan di kening, pipi, serta leher Farhan.
“Tidak, hanya belum lapar. Tak ada alasan lain.” Farhan kembali mengelak.
“Tapi kemarin malam juga Mas nggak makan malam? Kalau sakit gimana? Aku dan Malika masih butuh kamu, Mas,” kata Sarah dengan wajah sendu. Namun, tiba-tiba berubah saat teringat Dina dan anaknya.
“Apakah ini ada kaitannya dengan Mbak Dina dan anak kalian?”
Farhan memilih diam, karena ia pun tak masih bingung mengartikan perasaannya, apakah benar-benar sedih dan merasa kehilangan? Atau mungkin hanya transisi saja, hidup tanpa Dina setelah beberapa tahun berumah tangga.
“Aku turut berduka untuk anak kalian, Mas. Meskipun aku juga tak suka dengan pilihan yang diambil Mbak Dina untuk pergi dari rumah tanpa pamit.”
“Hmm, terima kasih, tapi sekarang tak ada yang perlu disesali, semua urusanku dengannya sudah berakhir.”
Sarah mengangguk, dalam hati ia tertawa senang, karena kini tak ada lagi penghalang. “Iya, aku setuju, Mas. Kamu sudah melakukan hal yang benar. Jangan khawatir, dan jangan lagi menoleh ke belakang, karena di sini ada aku dan Malika yang akan meramaikan hari-hari mu. Kita akan punya dunia kita sendiri, aku, Mas, dan Malika.”
Cup.
Sarah mengecup bibir Farhan sekilas, kemudian bibir berwarna merah menyala itu tersenyum. Maksud Sarah ingin tersenyum lembut, tapi Othor lihat seperti senyuman maklampir.
•••
Sementara itu, di rumah Dina dan kedua orang tuanya.
Dina masih duduk dalam diam ketika Bu Rara kembali memasuki kamar. Sejak tadi perempuan itu tidak banyak bicara, lebih tepatnya sejak menerima akta cerai yang datang bersamaan dengan hari meninggalnya Ghaza.
Tatapannya kosong mengarah ke jendela, tetapi pikirannya berkelana ke begitu banyak hal. Setidaknya satu beban di hatinya sedikit berkurang, karena ia tak perlu lagi mengurus proses perceraiannya dengan Farhan. Tapi Dina masih belum percaya jika putranya telah tiada, hatinya hampa, dan air matanya terus berlinang ketika setiap pagi dan petang ia harus mengosongkan ASI nya yang melimpah.
Seharusnya Ghaza yang menikmatinya, agar lekas tumbuh besar dan sehat kembali. Tapi, kini— Allah telah menulis takdir terbaik untuk Ghaza, agar tidak terlalu lama menderita.
Setidaknya Dina tidak berkeinginan membunuh darah dagingnya, meski Ghaza benar-benar terlahir dengan kondisi tak sempurna, tapi Dina bahagia karena telah berhasil menjalankan perannya sebagai seorang ibu yang sempurna untuk putranya.
Kini ia hanya sedih, karena ASI yang seharusnya untuk Ghaza hanya tertimbun di kulkas. Entah pada siapa Dina hendak memberikan cairan penuh gizi tersebut, karena tetangga sekitar tak ada yang memiliki bayi, kenalan Dina pun demikian, tak ada yang butuh ASI.
Ingin rasanya Dina membuang semua stok ASI yang ia punya, tapi naluri keibuannya melarang Dina melakukan hal itu. Siapa tahu di ujung dunia entah sebelah mana masih ada yang membutuhkan ASI nya, atas pertimbangan itulah, Dina tak mau berhenti memompa ASI nya, meski hanya berakhir seperti timbunan di kulkas.
“Sudah selesai, Nak?” tanya Bu Rara, membuyarkan lamunan Dina.
Dina merapikan pakaiannya, lalu menuang ASIP ke dalam plastik khusus untuk ASIP, tak lupa Dina menuliskan tanggal dan waktu pumpingnya.
“Sudah, Ma,” jawab Dina, sementara Bu Rara membantunya menyimpan ASIP ke dalam kulkas.
“Ayo, bergegas, Papamu sudah menunggu.”
Dina mengangguk, sekali lagi ia menatap cermin, memeriksa penampilannya. Hari ini kedua orang tuanya akan menemaninya ke rumah sakit untuk pemeriksaan luka pasca operasi caesar yang dijalaninya minggu lalu.
Di pantulan cermin, Dina melihat bayangan dirinya dengan bentuk tubuh ideal pasca bersalin. Seharusnya ia menggendong bayi, tapi—
Dina buru-buru menepis pikiran tersebut, karena ia sudah berkata bahwa ia ikhlas melepas kepergian Ghaza kembali ke pemiliknya.
•••
“Sudah bagus bekas lukanya, Bu. Jadi saya tak perlu menutupnya dengan perban lagi,” ujar Dokter kandungan. “Maaf, apakah Ibu ingin sekalian memasang alat kontrasepsi?” tanya dokter.
Dina menggeleng, mencoba tersenyum meski rasanya getir. “Saya sudah bercerai, Dok.”
Dokter itu langsung kenya dari kesalahannya, “Aduh, maaf, Bu. Saya tidak tahu—”
“Tidak apa-apa, Dok.”
Sesudahnya, Dina pun pamit keluar dari ruangan, di ruang tunggu ia tak menemukan keberadaan kedua orang tuanya.
Dina berjalan dengan kedua mata awas mengamati sekitar, ia mencari keberadaan kedua orang tuanya. Menelepon pun tak bisa, karena ponselnya ada di dalam tasnya yang saat ini dipegang Bu Rara.
Brugh!
Tiba-tiba seseorang menyenggol pundaknya dari belakang. Kedua mata Dina berkedip cepat, sesekali ia mengucek nya memastikan bahwa ia tak salah lihat.
“Dina! Kamu Dina ’kan?” tebak orang itu.
tpi km bisa mnikmati perempuan lain...
dasar serakah... tk ada otak🙄🙄