NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Calon Kakak Ipar

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Sehari sebelum pernikahan, Selena Anderson ditinggalkan tunangannya. Ethan Carter pergi ke luar negeri tanpa berpamitan hanya meninggalkan pesan bahwa ia belum siap menikah.

Ketika kepergian Ethan mengancam nama baik dua keluarga besar, Jason Carter, kakak Ethan datang dengan sebuah tawaran yang tak pernah Selena bayangkan. Ia bersedia menggantikan Ethan di altar.

Selena akhirnya menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.

Namun kehidupan bersama Jason perlahan mengubah segalanya. Di balik sikap dinginnya, Selena menemukan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari Ethan.

Sampai Ethan kembali. Dan ingin mendapatkan Selena kembali. Sayangnya, perempuan yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi istri kakaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Selena tetap berada di kamar hingga menjelang siang. Ia sebenarnya ingin keluar untuk makan, tetapi mengingat Ethan masih berada di rumah membuatnya enggan meninggalkan kamar. Ia tidak ingin kembali berhadapan dengan pria itu, apalagi harus berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.

Setelah memastikan lorong di luar kamarnya sepi, Selena akhirnya keluar. Namun, baru saja menuruni tangga, ia melihat Ethan duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.

Selena langsung mengalihkan pandangan dan berbelok menuju dapur.

"Selena,"

Langkahnya terhenti sesaat, tetapi ia tidak menoleh.

"Aku sudah bilang tidak ingin bicara denganmu," jawabnya dingin.

Ponsel di genggaman Ethan terlempar sembarangan ke bantalan sofa saat suara dingin itu menusuk pendengarannya. Gerakan Ethan berlangsung secepat kilat, didorong oleh amarah membakar yang mengaburkan akal sehatnya. Hanya dalam beberapa langkah lebar, ia telah memangkas jarak di antara mereka, menyusul Selena di ambang pintu dapur.

Sebelum wanita itu sempat melangkah lebih jauh, cengkeraman tangannya yang kuat mengunci pergelangan tangan Selena secara mendadak. Tarikannya begitu impulsif dan bertenaga, memaksa tubuh ramping itu berputar menghadapnya hingga napas mereka kembali beradu di udara sunyi.

"Jangan menghidariku, Selena." desis Ethan tajam, sorot matanya berkilat liar menatap wajah yang berusaha keras menghindarinya.

Ibu jarinya menekan urat nadi di pergelangan tangan Selena, merasakan denyutan cepat yang berpacu di balik kulit halus tersebut. Setiap kali wanita itu mencoba bersikap seolah dirinya tidak ada, rasa sakit yang membakar di dadanya selalu memicu Ethan untuk bertindak semakin nekat.

"Dan tatap mataku saat kamu bicara, Selena," tuntutnya dengan suara berat bergetar. "Jangan pernah berani memunggungiku lagi."



Selena menatapnya tajam. "Setelah apa yang kamu lakukan, kamu masih berharap aku bersikap biasa kepadamu?"

Ethan terdiam.

"Jangan mendekatiku lagi, Ethan." Selena berbalik menuju dapur tanpa memberinya kesempatan untuk menjawab. Kali ini, ia tidak ingin mendengar alasan ataupun permintaan maaf dari pria itu. Ia hanya ingin Ethan menjauh darinya.

Ethan tidak terima kembali diabaikan. Ia segera mengejar Selena, lalu menangkap pergelangan kembali tangannya.

"Lepaskan!" Selena berusaha menarik tangannya, tetapi Ethan justru membawanya mundur hingga punggungnya terbentur dinding. Pria itu menahan tubuhnya dengan kedua tangan, menghalangi jalan keluar.

"Aku belum selesai bicara denganmu," ujar Ethan, menatapnya dengan rahang mengeras.

"Aku sudah bilang tidak ingin bicara denganmu!" Selena mendorong dadanya, berusaha menciptakan jarak. "Berhenti menyentuhku!"

Namun, Ethan masih belum bergeming. Kedua telapak tangan Ethan menumpu kuat pada permukaan dinding dingin di sisi kepala Selena, mengurung wanita itu tanpa celah untuk meloloskan diri. Deru napas Ethan terdengar berat, memburu di udara sempit yang memisahkan wajah mereka. Bau kopi pagi yang belum tersentuh berbaur dengan kepedihan pekat yang mendidih di rongga dadanya.

Melihat Selena terpojok seperti ini mengingatkannya pada malam-malam badai di apartemen lama mereka, saat wanita itu biasa menyandarkan kening di bahunya untuk mencari rasa aman. Namun kini, pancaran di mata jernih itu telah bermutasi menjadi kebencian murni yang membakar habis kewarasannya. Ethan menundukkan kepala, memangkas sisa ruang hingga aroma vanila lembut dari surai Selena menusuk indra penciumannya dengan kejam.

"Kenapa kamu selalu berusaha kabur seolah aku ini monster pembawa petaka?" bisik Ethan dengan suara bergetar tertahan, matanya terpaku pada bibir pucat yang terus melontarkan penolakan.

Rasa sakit yang teramat nyata meremukkan keangkuhannya, menuntut kepastian yang tak pernah ia dapatkan. "Lihat aku baik-baik. Apa begitu sulit bagimu untuk sekadar membalas tatapanku?"

Selena menatap Ethan tanpa gentar, meski rahangnya mulai mengeras karena kesal dengan sikap pria itu. lalu kembali menatap Ethan.

"Karena kamu memang sedang bertingkah seperti monster, Ethan. Kamu pikir mengurungku seperti ini akan membuatku berubah pikiran?"

Tuduhan itu bagai minyak yang dituangkan ke dalam api di dada Ethan. Alih-alih tersentak mundur, tatapannya justru semakin kelam, terkunci sepenuhnya pada bibir yang baru saja melontarkan kata-kata kejam tersebut. Seluruh akal sehatnya runtuh, tergantikan oleh dorongan impulsif untuk membuktikan bahwa ikatan di antara mereka belum sepenuhnya musnah.

Dengan napas yang memburu panas, Ethan merapatkan tubuhnya, memiringkan kepala seraya menunduk cepat demi meraup bibir Selena. Tangannya yang menempel di dinding menengang, di belakang tubuh wanita itu untuk menahan tumpuan gerakannya. Ia ingin merenggut kembali rasa manis yang dulu menjadi miliknya seutuhnya, membungkam setiap penolakan yang terus meremukkan ulu hatinya.

"Panggil aku sesukamu," bisik Ethan serak, embusan napasnya menyapu bibir Selena hanya beberapa milimeter sebelum ia menuntut pagutan paksa tersebut. "Tapi aku tidak akan membiarkanmu melupakan rasa ini."

Selena spontan memalingkan wajah, membuat bibir Ethan hanya menyentuh sudut bibirnya. Tangannya segera mendorong dada pria itu, berusaha menciptakan jarak di antara mereka.

"Ethan, cukup!"

Suara Selena terdengar tegas. Ia menatap Ethan dengan amarah yang sulit disembunyikan, sama sekali tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.

"Apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu? Aku sudah bilang tidak, kenapa kamu masih memaksaku?"

Ethan terdiam, tetapi sorot matanya menunjukkan betapa sulit baginya menerima penolakan itu. "Kamu bahkan tidak mau memberiku kesempatan untuk..."

"Kesempatan untuk apa?" potong Selena. "Memaksaku melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan? Membuatku semakin membencimu?"

Wajah Ethan menegang. "Aku mencintaimu, Selena."

"Kalau begitu, berhentilah memperlakukanku seolah perasaanku tidak penting!" Selena menepis tangan Ethan yang kembali bergerak hendak menyentuhnya. "Kamu boleh mencintaiku, tetapi kamu tidak berhak memaksaku membalas perasaanmu."

Ethan menatapnya tanpa menjawab. Napasnya masih belum teratur, sementara kedua tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya.

Selena memanfaatkan kesempatan itu untuk melewatinya. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh.

"Jangan lakukan ini lagi, Ethan. Aku tidak ingin hubungan kita berakhir dengan cara seperti ini."

Setelah mengatakan itu, Selena meninggalkan dapur.

Ethan tidak mengejarnya. Ia hanya berdiri terpaku, menatap pintu yang baru saja dilewati Selena. Kata-kata wanita itu terus terngiang di telinganya, terutama satu kalimat yang paling sulit ia terima.

Bagi Selena, hubungan mereka mungkin hanya sesuatu yang harus diakhiri. Namun, bagi Ethan, ia belum sanggup menganggap semua yang pernah mereka miliki sebagai masa lalu.

1
Allea
selena bodoh🤭
Dessy C: iya kak 🤭 pemeran utama versi oon kak 🙈
total 1 replies
Allea
selena kurang tangguhlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!