"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."
Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.
Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.
Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.
Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?
Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Devan menghindari Naya
Pintu kamar berdecit pelan. Devan melangkah masuk membawa senampan makanan hangat. Penampilannya terlihat kontras namun memikat—rambut hitamnya diikat asal ke belakang, hanya mengenakan kaus dalam hitam yang mengepas di dada serta celana jeans lusuh. Di balik wajahnya yang sedingin es dan tatapan matanya yang datar, ada denyut kekhawatiran luar biasa yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat.
"Makan dulu. Jangan bikin orang tambah repot kalau kamu makin lambat pulih," ucap Devan datar, meletakkan nampan itu di atas meja samping tempat tidur tanpa menatap langsung ke mata Naya.
Naya yang masih terbaring lemas berusaha mengumpulkan sisa tenaganya. Ia menegakkan tubuh, memaksakan sebuah senyum tipis seolah rasa sakit di tangannya dan rasa lelah di sekujur tubuhnya tak pernah ada. Ia tak ingin Devan merasa bersalah.
"Aku sudah jauh lebih baik, Abang. Kamu tidak perlu secemas itu," bisik Naya, berusaha menata napasnya yang masih agak berat.
Devan menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuh, menatap Naya tajam. Tatapan matanya yang pekat menyimpan kelelahan, ketakutan, dan rasa bersalah yang nyaris pecah.
"Jangan berpura-pura kuat, Naya," potong Devan, suaranya berat dan rendah, sarat akan penyesalan yang mendalam. "Dan jangan pernah... jangan pernah lakukan hal bodoh seperti semalam lagi."
Ia melangkah mendekat, membungkuk sedikit hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Hawa dingin dari tubuh Devan beradu dengan napas hangat Naya.
"Kamu hampir mati karena memberiku darahmu. Ingat satu hal ini," bisik Devan serak, menatap lekat-lekat ke dalam iris mata Naya. "Tugasku adalah memastikan kamu selamat. Bukan sebaliknya. Jangan pernah pertaruhkan nyawamu untuk monster sepertiku lagi."
Naya tidak takut. Ia tidak menyela, tidak pula memalingkan wajah. Ia hanya menatap Devan dengan tatapan lembut yang penuh kehangatan—sebuah tatapan yang sanggup meluluhkan benteng pertahanan terdingin sekalipun.
Tanpa mengalihkan pandangannya, Naya tersenyum manis. Senyuman yang tenang, seolah tahu persis betapa kacau dan gelisahnya hati pria di hadapannya ini.
Sebelum Devan sempat menarik diri kembali ke dalam sikap cueknya, Naya memajukan tubuhnya. Dengan gerakan lembut dan perlahan, bibir Naya mendarat di pipi Devan. Sebuah kecupan hangat yang singkat, namun sanggup menghentikan detak waktu di dalam kamar itu.
Aroma manis kulit Naya dan kehangatan sentuhan itu merambat seketika ke seluruh tubuh Devan.
Devan membeku seketika.
Mata dinginnya membelalak pelan, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Jantungnya—yang selama ini terasa mati dan kaku—mendadak berdegup kencang tak beraturan. Seluruh kata-kata tajam yang sudah ia siapkan di lidahnya mendadak lenyap tanpa bekas.
Untuk beberapa detik, pria yang biasanya tak tersentuh itu kehilangan seluruh kendali dirinya, hanya bisa terpaku menatap Naya yang kini menyunggingkan senyum tipis tanpa dosa.
Devan menarik napas panjang, berusaha keras menguasai gejolak di dadanya. Ia memalingkan wajah cepat-cepat, merapikan ikatan rambutnya dengan canggung sebelum kembali memasang topeng dingin dan cueknya—meski warna kemerahan di ujung telinganya tak bisa berbohong.
"Habiskan makanannya," gumam Devan singkat dengan suara yang diusahakan sedatar mungkin, lalu berbalik cepat dan melangkah keluar kamar sebelum Naya menyadari betapa hancurnya pertahanan dirinya hanya karena satu kecupan kecil.
Begitu pintu kamar Naya tertutup rapat, benteng pertahanan yang berusaha dibangun Devan runtuh seketika.
Bibir pria itu melengkung memungut senyum yang tak sanggup lagi ia tahan. Dada yang biasanya dingin dan hampa, kini bergemuruh oleh kehangatan samar yang membuncah riang. Rasa manis bekas cipratan takdir—dan kecupan lembut Naya di pipinya—membuat Devan memegangi dadanya sendiri sambil menyandarkan punggung di balik pintu. Ada dorongan gila dalam dirinya untuk berbalik, merengkuh Naya, dan membalas kecupan itu dengan sejuta kehangatan yang selama ini ia sembunyikan.
Namun, bayangan akan siapa dirinya menyengat kesadarannya bagai sembilu.
Monster tidak boleh jatuh cinta, bisik akal sehatnya yang kejam. Sensasi terbakar di malam purnama, kehausan akan darah... aku hanya akan menghancurkannya.
Rasa bahagia itu perlahan menguap, berganti menjadi benteng tak kasatmata yang dipaksa berdiri kokoh. Devan mengusap wajahnya kasar, memutuskan satu hal: ia harus pergi, sebelum rasa ini menjadi terlalu dalam untuk dipatahkan.
Malam purnama mematikan itu akhirnya usai. Badai telah berlalu, dan Pulau Sane kembali pada ritmenya yang tenang. Kafé kecil milik mereka kembali dibuka seperti biasa—menghidangkan aroma biji kopi sangrai dan semilir angin laut yang menyejukkan.
Dua bulan sudah berlalu sejak Naya terdampar di pulau ini. Dua bulan pula waktu berjalan, dan di antara riuhnya helaan napas para pengunjung kafé, ada sebuah jarak membeku yang tak pernah bisa ditembus Naya.
Devan berubah dingin lagi dan ini lebih dingin . Pria itu selalu menghindar.
Jika Naya berjalan memasuki dapur kafé, Devan akan langsung melangkah keluar membawa nampan bersih. Jika mata mereka tak sengaja beradu dari balik meja bar, Devan adalah orang pertama yang melarikan pandangannya, bertindak seolah Naya hanyalah angin lalu. Ia selalu memastikan ada jarak beberapa langkah di antara mereka, tak pernah membiarkan Jemari mereka berpapasan lagi.
Sore itu, gorden kafé bergoyang tertiup angin pantai. Naya berdiri di balik meja kasir, memperhatikan Devan yang sedang membelakangi dirinya, merapikan cangkir-cangkir keramik dengan gerakan teratur.
"Abang " panggil Naya pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh deru ombak di luar.
Genggaman Devan pada cangkir keramik itu mengetat sejenak, namun ia tak berbalik. "Ada apa? Kalau ada pesanan yang kurang, panggil staf lain."
Naya melangkah mendekat. Setiap pijakan kakinya terasa amat berat, menahan sesak yang membendung di dada selama dua bulan terakhir.
"Sampai kapan kamu mau lari dari aku?" tanyanya, suaranya bergetar menahan rindu yang tertahan. "
Devan memejamkan mata erat-erat. Jantungnya berdegup gila-gilaan—sama nyaringnya dengan rasa ingin memeluk wanita di belakangnya ini. Namun ia memaksakan suaranya terdengar dingin dan tanpa perasaan saat berbalik.
"Aku tidak lari, Naya. Aku hanya sibuk," jawab Devan datar, menatap tepat ke dahi Naya—menolak menatap matanya secara langsung. "Kafé sedang ramai. Sebaiknya kamu kembali bekerja."
."Jangan melangkah lebih jauh. Jangan memaksaku untuk menyakitimu."
"Aku tidak takut," balas Naya tegas, meski air matanya akhirnya menetes membasahi pipi. "
Devan mengepalkan tangannya di samping tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Menembus benteng pertahanannya sendiri adalah hal tersulit yang pernah ia lakukan, tetapi membiarkan Naya terjerat dalam kegelapan hidupnya adalah sebuah kesalahan yang tak akan pernah ia maapkan.
Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Devan memalingkan wajahnya, melangkah pergi melewati Naya begitu saja. Angin sore berembus dingin di antara mereka, meninggalkan Naya yang terpaku menatap punggung pria itu yang makin menjauh—membawa cinta yang begitu dekat, namun terasa seakan berada di belahan dunia yang berbeda.