DARK RONIN
Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.
Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Battle Ronin
Pintu tertutup rapat di belakang mereka, kunci berdentang nyaring, memisahkan ruangan itu dari dunia luar. Cahaya lampu minyak yang tiba-tiba menyala terang menyinari enam sosok yang berdiri mengelilingi mereka — enam pria dengan wajah dingin tanpa ekspresi, pakaian gelap, dan pedang yang terhunus sejajar dengan dada. Di belakang mereka, Garo Takemaki tersenyum puas, bersandar pada dinding seakan menonton pertunjukan yang sudah lama ia tunggu.
"Kalian terjebak," suaranya terdengar tenang namun penuh ancaman. "Tidak ada jalan keluar. Serahkan pedang kalian, mungkin aku akan membiarkan kalian hidup sedikit lebih lama."
Kakashi melangkah satu langkah ke depan, menempatkan dirinya tepat di antara enam pedang itu dan Aoi yang gemetar di tempat tidur. Shizuka berdiri di sisi kirinya, pisau pendek tergenggam erat, napasnya tertahan namun matanya tetap tajam.
"Jangan biarkan mereka mendekat ke Aoi," bisik Kakashi pelan, hanya terdengar oleh Shizuka. "Lindungi dia di setiap detik. Aku akan menahan yang di depan."
Shizuka mengangguk, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. "Hati-hati. Mereka tidak terlihat biasa."
Belum sempat Kakashi menjawab, enam sosok itu bergerak serentak — bukan berlarian, melainkan melangkah dengan irama yang sama, teratur, seakan satu tubuh yang terbagi menjadi enam. Tiga orang berbelok ke arah kanan, tiga orang lainnya ke arah kiri, memisahkan mereka tanpa perlu kata-kata.
"Pisahkan mereka," perintah Garo dingin. "Jangan biarkan mereka berkumpul kembali."
Kakashi mencoba melangkah ke tengah, namun tiga orang di hadapannya langsung menyerang. Pedang mereka berkilau, bukan menyerang secara sembarangan — setiap ayunan terarah, tepat, dan mengunci setiap kemungkinan jalan keluar. Ia menangkis serangan pertama dengan gagang pedang hitamnya, terdorong mundur selangkah oleh kekuatan yang tak terduga besarnya.
Di sisi lain, Shizuka juga didesak mundur. Tiga orang di hadapannya bergerak begitu cepat, mengelilinginya, menyerang dari dua sisi sekaligus. Ia menangkis, mengelak, melompat ke samping, namun setiap kali ia menghindari satu serangan, dua serangan lain datang menyusul.
"Aoi, mundur ke dinding! Jangan bergerak!" teriak Kakashi sambil menangkis serangan kedua yang nyaris membelah bahunya. Aoi memeluk lututnya di sudut ruangan, menutup mulutnya agar tidak berteriak, matanya lebar menatap pertarungan yang terjadi di hadapannya.
Pertarungan itu berlangsung tidak seimbang sejak awal. Kakashi dan Shizuka harus bertahan sambil terus menjaga jarak agar Aoi tidak terkena serangan, sementara lawan mereka tidak memiliki beban seperti itu. Mereka menyerang tanpa ragu, tanpa henti, seakan tidak mengenal rasa lelah atau belas kasihan.
Kakashi menyadari bahwa mereka tidak bisa terus berdiri berdekatan seperti ini — lawan mengunci mereka dengan rapat, dan semakin lama mereka berkumpul, semakin sempit ruang untuk bergerak.
"Shizuka! Ke kanan! Pisahkan!" teriaknya sambil menangkis dua pedang sekaligus, mendorong lawan-lawannya sedikit mundur.
Shizuka mengerti. Ia melompat ke samping, menjauh dari Kakashi, dan tiga orang lawan langsung mengikutinya, memisahkan mereka sepenuhnya. Ruangan itu kini terbagi menjadi dua medan pertarungan — Kakashi menghadapi tiga orang di sisi kiri, Shizuka di sisi kanan, masing-masing sendirian.
Kakashi mengatur napasnya, memegang pedang hitam itu dengan kedua tangan. Tiga orang di hadapannya berdiri dalam formasi segitiga, tidak terburu-buru menyerang, seakan menikmati momen menakuti mangsanya. Ia melangkah maju lebih dulu, menyerang dengan ayunan yang kuat — namun pedangnya ditangkis dengan mudah, dan seketika dua lawan lainnya menyerang ke arah rusuknya. Ia terpaksa mundur, menangkis satu, mengelak dari yang lain, jantungnya berdegup kencang.
Mereka cepat. Sangat cepat. Dan lebih kuat dari yang ia duga. Setiap serangan mereka terarah tepat pada titik-titik lemah, setiap gerakan mereka menutup kemungkinan untuk melawan balik. Kakashi mundur terus, keringat mulai membasahi punggungnya. Ia belum pernah bertarung melawan orang-orang dengan gaya seperti ini — terlatih secara khusus, dingin, efisien, tanpa kelebihan satu gerakan pun.
Di sisi lain ruangan, keadaan Shizuka jauh lebih berat. Ia hanya memegang dua pisau pendek, sementara lawannya memegang pedang panjang yang jangkauannya jauh lebih luas. Ia berusaha mendekat, mencari celah untuk menyerang, namun setiap kali ia melangkah maju, dua pedang menyambar beriringan, memaksanya mundur.
Satu pedang meluncur cepat, menyayat lengan kirinya. Shizuka meringis, menahan rasa perih, darah segar menetes ke lantai. Belum sempat ia menekan lukanya, serangan kedua datang — ia mengelak tepat waktu, namun ujung pedang menyayat pinggangnya. Panas perih menjalar seketika.
"Mundur... Shizuka..." batinnya, namun tidak ada tempat untuk mundur. Dinding sudah di belakangnya. Tiga pedang itu kembali menyambar, dan ia harus melompat ke samping, terjatuh berlutut sejenak, lalu bangkit kembali dengan napas yang memburu.
Luka di lengan, luka di pinggang, dan kini sayatan tipis di pipinya. Darah mulai menetes di mana-mana, mengotori pakaian gelapnya. Ia kesulitan bernapas, kakinya terasa semakin berat, namun ia tidak membiarkan dirinya jatuh. Aoi masih menonton. Kakashi masih bertarung. Ia tidak boleh menyerah.
Namun lawan-lawannya tidak memberi ampun. Mereka melihat kelemahannya, dan semakin mendesak. Setiap serangan kini lebih cepat, lebih tajam, seakan ingin mengakhiri pertarungan ini secepat mungkin.
Di sisi Kakashi, ia juga mulai terdesak. Ia mencoba menyerang dengan cepat, namun pedang-pedang lawan selalu ada di sana — menangkis, memblokir, membalas dengan serangan balik yang mematikan. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan: pola serangan mereka tidak seperti pengawal biasa, tidak seperti prajurit yang dilatih untuk menjaga. Setiap gerakan mereka dirancang untuk melukai, untuk melumpuhkan, untuk membunuh secepat dan seefektif mungkin.
Ia mundur selangkah lagi, menangkis serangan yang hampir membelah bahunya, dan saat pedang lawan beradu dengan pedangnya, ia melihat mata pria itu — dingin, kosong, tanpa perasaan. Tiba-tiba ingatannya melompat kembali ke percakapan kakek tua di gubuk itu.
"Ada dua jenis ronin... yang kedua... mereka yang terjebak dalam kegelapan. Menjadi pembunuh bayaran, menjual pedang mereka kepada siapa saja yang membayar."
Kakashi menatap tiga orang di hadapannya, lalu menoleh sejenak ke arah Shizuka yang kini terhuyung-huyung, darah menetes dari luka-lukanya. Pola serangan itu, ketepatan itu, ketiadaan belas kasihan itu...
"Kalian..." suaranya terdengar berat di tengah pertarungan. "Kalian bukan pengawal Garo."
Salah satu pria di hadapannya menyeringai tipis, namun tidak menjawab. Pedangnya kembali menyambar.
"Kalian adalah ronin," lanjut Kakashi, semakin yakin dengan setiap kata yang terucap. "Pembunuh bayaran yang disewa. Itulah sebabnya tidak ada yang bisa menghentikan kalian. Itulah sebabnya Tuan Kenzaburo..." Ia menelan ludah, rasa pahit memenuhi kerongkongannya. "Itulah sebabnya beliau tewas begitu cepat."
Pria itu diam saja, namun senyum di bibirnya melebar. Diamnya itu adalah jawaban yang paling mengerikan.
Di sisi lain, Shizuka tersentak mendengar kata-kata itu. Ia hampir tidak sanggup berdiri lagi, napasnya tersengal, namun kenyataan itu menamparnya lebih keras daripada serangan apa pun. Musuh mereka bukan sekadar penjaga bayaran biasa — mereka adalah pembunuh profesional, orang-orang yang hidup dari mengambil nyawa, yang tidak lagi memiliki tuan, tidak lagi memiliki kode kehormatan, hanya uang dan perintah.
Dan mereka berdua — Kakashi yang baru memegang pedang sungguhan setelah sekian lama, dan ia yang terlatih namun belum pernah bertarung melawan musuh seberbahaya ini — mencoba mengalahkan enam orang seperti itu.
"Shizuka!" seru Kakashi, menangkis dua pedang sekaligus, lengannya terasa panas dan kesakitan. "Tetap berdiri! Jangan jatuh!"
"Aku tahu..." jawabnya pelan, menyeka darah di pipinya dengan punggung tangan yang gemetar. "Aku tahu..."
Namun kakinya terasa semakin lemah. Tiga pedang di hadapannya kembali bergerak. Ia mengelak dari yang pertama, menangkis yang kedua, namun yang ketiga menyambar ke arah perutnya — ia menahan dengan lengan, terhuyung mundur hingga punggungnya membentur dinding batu.
"Shizuka!" Aoi berteriak dari sudut ruangan, air mata mengalir deras di wajahnya.
Shizuka tidak menjawab. Ia menegakkan tubuhnya kembali, meski keringat bercampur darah menetes di wajahnya. Ia tidak akan jatuh. Tidak di depan keponakannya. Tidak di depan Kakashi.
Kakashi melihat keadaan itu, rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mencengkeram hatinya. Ia berjuang melepaskan diri dari tiga lawannya, namun mereka menguncinya dengan rapat, tidak membiarkannya melangkah satu langkah pun ke arah Shizuka.
"Kalian mempekerjakan pembunuh bayaran..." desis Kakashi ke arah Garo yang masih berdiri tenang di sudut ruangan. "Orang-orang yang tidak punya kehormatan."
Garo tertawa pelan, tawa yang penuh kebencian dan kemenangan. "Kehormatan tidak mengisi perut, Kakashi. Kehormatan tidak membuatku menjadi penguasa wilayah ini. Mereka melakukan apa saja yang kubayar. Dan mereka sangat baik dalam pekerjaannya."
Kakashi mengepal tangannya erat, pedang hitam itu terasa semakin berat di genggamannya. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: mereka tidak akan menang dengan cara bertahan seperti ini. Mereka tidak akan selamat jika terus hanya menghindar dan menangkis. Lawan mereka adalah para ahli pembunuhan, dan semakin lama pertarungan berlangsung, semakin besar kemungkinan mereka jatuh.
Namun apa yang bisa ia lakukan? Tiga orang di hadapannya tidak memberi celah sedikit pun. Dan Shizuka... ia melihat Shizuka terhuyung lagi, sayatan lain muncul di pahanya, membuat langkahnya semakin pincang.
"Shizuka..." bisiknya, hatinya perih. "Tahanlah sedikit lagi. Kumohon..."
Lawan-lawannya menyadari keraguannya, keraguan yang muncul karena kekhawatiran akan Shizuka. Mereka menyerang lebih cepat, lebih ganas, memanfaatkan celah itu. Kakashi terpaksa mundur, pedangnya hampir terlepas dari genggamannya, napasnya tersengal-sengal. Ia belum pernah berada di posisi yang begitu putus asa.
Di sisi lain ruangan, Shizuka merasakan kekuatan perlahan meninggalkan tubuhnya. Ia menatap ke arah Kakashi, lalu ke arah Aoi yang menangis tanpa suara. Ia tahu ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Luka-lukanya terlalu banyak, darah yang hilang terlalu banyak. Namun ia menyempatkan satu senyum tipis — senyum perpisahan, senyum permohonan maaf.
"Jangan tinggalkan Aoi..." batinnya, menatap Kakashi. "Tolong..."
Salah satu pedang lawan meluncur ke arah lehernya. Shizuka tidak sempat mengelak sepenuhnya. Ia memiringkan kepala, namun ujung pedang tetap menyayat sisi lehernya. Darah segar memancar. Ia terhuyung ke belakang, kakinya tidak lagi sanggup menopang berat tubuhnya, dan perlahan ia berlutut di lantai yang dingin.
"Shizuka!" teriak Kakashi, suaranya pecah. Ia mencoba berlari ke arahnya, namun tiga orang lawan langsung menghadangnya, memblokir setiap jalan yang bisa ia ambil.
Garo tersenyum lebar. "Sudah hampir selesai," ucapnya pelan. "Tinggal kau, Kakashi. Lalu gadis itu. Dan semuanya akan berakhir."
Kakashi berdiri sendirian, dikelilingi oleh enam pembunuh yang kini bergerak mendekat bersamaan, Shizuka terbaring tak sadarkan diri di sisi lain ruangan, Aoi menangis di sudut ruangan, dan ia... ia tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan mereka semua.
Namun di saat itulah, di saat harapan hampir padam, ia merasakan sesuatu — genggaman di gagang pedang hitam itu terasa berbeda. Seakan ada kekuatan yang mengalir dari kayu berukir wajah iblis itu, masuk ke tangannya, ke lengan, ke seluruh tubuhnya. Ia teringat pesan kakek tua itu sekali lagi:
"Selesaikan misi terakhirmu... tapi jangan biarkan kebencian menguasaimu."
Kakashi menarik napas panjang, mengumpulkan sisa tenaganya, lalu mengangkat pedang itu perlahan. Matanya yang tadi penuh kekhawatiran dan keraguan kini berubah — menjadi tenang, tajam, tak tergoyahkan. Ia tidak lagi melihat enam musuh. Ia hanya melihat satu hal: orang-orang yang menyakiti keluarganya.
"Siapa pun kalian..." ucapnya pelan namun tegas, suaranya bergema di ruangan yang hening itu. "Kalian mungkin terlatih untuk membunuh. Tapi kalian tidak pernah belajar melindungi."
Ia melangkah maju, satu langkah mantap, dan untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai — Kakashi yang menyerang duluan.