NovelToon NovelToon
Retak Di Antara Kita

Retak Di Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Priska Heriska

Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.

sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.

dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minggu penuh kesederhanaan

Keesokan harinya, matahari hari Minggu terbit membawa warna yang berbeda. Tidak ada lagi sisa-sisa mendung dari gerimis semalam, melainkan langit biru bersih yang menyiram atap seng rumah kami dengan cahaya yang hangat.

Sejak subuh, suasana rumah sudah menggeliat. Suara sapu lidi Ibu yang beradu dengan tanah di halaman samping menjadi alarm alami bagiku dan Kakak. Tidak ada yang bermalas-malasan. Kata-kata Bapak semalam seolah menjadi bahan bakar baru yang dipompa ke dalam nadi kami semua.

"Ris, ini uangnya. Jangan sampai ada yang kurang ya catatannya," bisik Kakak menepuk pundakku saat aku sedang memakai sandal di ambang pintu. Ia menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan kumal dan secarik kertas kecil berisi daftar belanjaan Ibu.

Aku tersenyum lebar, mengacungkan jempol. "Tenang saja, area operasi hari ini aman"

Kakak tertawa kecil, sebuah tawa lepas yang sudah lama tidak kudengar sejak kejadian kemarin lusa.

 Pagi ini, dia bertugas membantu Ibu menjemur pakaian dan membersihkan bagian dalam rumah, sementara Bapak sedang berjualan keliling, belum pulang.

Hari Minggu adalah satu-satunya hari di mana Bapak tidak pergi ke proyek bangunan, tetapi tangannya yang kasar seolah tidak pernah bisa benar-benar diam.

Aku berjalan menuju tukang sayur yang terletak di depan rumah, dekat dengan tempat tinggal kami. bukan di tempat gang yang kemarin kakak belanja.

Saat Melewati deretan rumah tetangga, aku sengaja menegakkan bahu, mengingat nasihat Bapak: tatap matanya, jalan lurus. Ternyata, ketakutan-ketakutan yang membayangi kami kemarin hanyalah kabut tipis yang langsung menguap begitu kami memilih untuk berani.

Di tukang sayur ujung jalan, suasananya jauh lebih tenang. Aku berhasil mendapatkan sawi, tahu kuning dan sebungkus tempe tanpa harus mendengar bisik-bisik yang menyakitkan telinga.

Sepulangnya aku dari belanja, ibu menyiapkan baskom dan siap untuk dimasak. Hari itu, Ibu memasak sayur bening sawi dan tempe goreng garing. Sederhana, namun bagi kami, itu adalah hidangan termewah karena dimakan bersama dengan hati yang lapang.

Siang harinya, rumah kembali hening, namun dalam keheningan yang produktif. Kakak kembali tenggelam dalam tumpukan buku rumus matematikanya. Kali ini, tidak ada lagi keraguan di wajahnya. Penanya menari dengan cepat di atas kertas, menyelesaikan satu demi satu soal tiruan ujian nasional.

Semangatnya menular kepadaku. Aku membuka kembali buku tugas Bahasa Indonesia-ku, membaca ulang puisi bebas yang kami tulis hingga larut malam tadi. Tinta hitamnya sudah kering sempurna, sekokoh tekad yang tertuang di dalamnya.

Tepat pukul 10.00 siang, aroma gurih tempe goreng yang baru diangkat dari wajan beradu dengan harum segar kuah sayur bening sawi buatan Ibu.

Di saat bersamaan, suara derit khas gerobak tua Bapak terdengar berhenti di depan rumah, disusul suara langkah kaki yang pelan. Bapak sudah pulang dari berjualan keliling suara langkah Bapak terdengar dari pintu depan, sedikit terengah namun membawa nada lega yang begitu hangat.

Ibu segera menyeka tangannya pada kain celemek dan bergegas menyambut Bapak. Aku dan Kakak pun langsung menutup buku masing-masing, seolah-olah kedatangan Bapak adalah aba-aba untuk sebuah perayaan kecil yang paling kami tunggu.

Ketika Bapak melangkah masuk, peluh tampak membasahi keningnya, meluncur melewati guratan-guratan lelah di wajahnya. Namun, matanya langsung berbinar begitu melihat meja makan kayu kami yang ringkih sudah dipenuhi makanan hangat.

dagangannya di luar tampak kosong bubur habis. sebuah tanda bahwa hari ini rezeki berpihak pada kerja keras Bapak.

"Pas sekali, Pak. Ini masakan baru saja matang, masih mengepul," kata Ibu sambil mengambilkan segelas air putih untuk Bapak.

Bapak meminum air itu sampai tandas, lalu tersenyum lebar. "Alhamdulillah, hari ini dagangan laris manis. Habis tak tersisa," ucap Bapak dengan nada penuh syukur yang membuat dada kami semua terasa lapang.

Kami pun segera duduk melingkari meja makan tanpa sekat. Ibu menyendok kan nasi putih hangat ke piring Bapak, lalu ke piring Kakak dan aku. Di tengah meja, semangkuk sayur bening sawi dengan kuah yang jernih dan sepiring penuh tempe goreng serta tahu kuning garing seolah menjelma menjadi hidangan paling mewah di dunia.

Saat menyuap nasi pertama, kehangatan langsung menjalar ke seluruh tubuh kami. Rasa gurih dan segar masakan Ibu terasa begitu sempurna, berpadu dengan suasana rumah yang kini bersih dan penuh energi positif.

Di sela-sela makan, Kakak bercerita dengan mata berbinar tentang soal-soal matematika yang berhasil ia pecahkan pagi ini. Bapak mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk, sambil mengobrol dengan ibu. Tidak ada lagi ganjalan atau sisa ketakutan dari hari kemarin. Di atas meja makan sederhana itu, pukul sepuluh siang di hari Minggu, kami merayakan keberanian baru keluarga kami yang lahir dari kesederhanaan dan keteguhan hati.

Setelah makan siang yang penuh rasa syukur itu, kehangatan di dalam rumah kami tidak lantas menguap. Waktu seolah berjalan lebih lambat, memberikan kami kesempatan untuk benar-benar menikmati hari Minggu yang damai ini.

Menjelang pukul satu siang, udara di luar mulai terasa menyengat, membuat atap seng rumah mengeluarkan bunyi gemertak khasnya. Bapak, yang tampak begitu kelelahan setelah keliling sejak subuh, akhirnya merebahkan diri di atas tikar di ruang tengah. Suara dengkur halus Bapak segera terdengar, menjadi musik latar yang menenangkan bagi kami. Ibu dengan telaten merapikan sisa makanan di dapur, sementara aku dan Kakak memilih untuk duduk di emperan samping rumah, mencari semilir angin.

"Ris," panggil Kakak pelan sambil memandangi langit siang yang masih bersih. "Makasih ya, berani ke tukang sayur tadi pagi."

"Ah, biasa saja, Kak. Lagian bener kata Bapak, kalau kita jalan lurus dan gak buat salah, orang lain juga segan sendiri," jawabku sambil memainkan kerikil dengan ujung sandal.

Kakak tersenyum, lalu kembali membuka buku catatannya. Sore itu, dia tidak lagi berkutat dengan rumus yang rumit, melainkan mulai menyusun jadwal belajarnya sendiri untuk minggu-minggu ke depan. Semangatnya benar-benar telah pulih.

Ketika matahari mulai tergelincir ke barat sekitar pukul empat sore, hawa panas perlahan berganti menjadi sejuk. Bapak sudah terbangun lalu membersihkan gerobak buburnya. Kami mengelap bagian kaca dan kayu yang terkena cipratan kuah, menyiapkannya agar besok pagi gerobak itu siap bertempur lagi dalam kondisi bersih.

Ibu sendiri sudah berada di halaman depan, mengangkat jemuran yang pagi tadi di jemur Kakak. Bau harum sabun cuci yang khas menguar bersama angin sore, memenuhi pekarangan rumah kami yang kini terasa jauh lebih lapang dan bersih. Ibu melipat pakaian-pakaian itu satu per satu di ruang tengah sambil sesekali melempar candaan pada kami.

Malam pun tiba tanpa ketakutan.

Makan malam kami kali ini adalah sisa sayur bening dan tempe tadi siang yang dipanaskan kembali oleh Ibu. Meski menunya sama, rasanya tetap luar biasa nikmat. Di bawah pendar cahaya lampu putih yang agak redup, kami makan malam ditemani obrolan ringan tentang rencana besok. Bapak bercerita tentang rute jualan yang baru, Kakak membahas tugas sekolahnya, dan Ibu mendengarkan sambil tersenyum simpul.

Sekitar pukul sembilan malam, rasa kantuk mulai menggelayuti mata kami. Sebelum menutup pintu depan dan menguncinya, Bapak sempat berdiri sebentar di ambang pintu, menatap ke luar halaman, Tidak ada lagi beban berat di pundaknya.

Malam itu, kami semua tidur dengan nyenyak. Di balik dinding rumah yang sederhana, di bawah atap seng yang kini terasa seperti pelindung paling kokoh, kami tahu bahwa hari esok mungkin akan tetap berat. Namun, kami tidak lagi takut, karena kami menghadapi dunia sebagai satu keluarga yang utuh dan berani.

1
Gunadi Hudaya
priska, bisa ikuti aku? ada beberapa bagian yg ingin aku review dari novelmu kalo kamu tidak keberatan
Priska: Tentu saja boleh kakak
total 1 replies
Gunadi Hudaya
dulu aku memang pernah menikmati pendidikan di sekolah dasar. tp sdh lama sekali. dan ternyata saat berhadapan dengan keponakanku yg sd juga ga bisa related. sd dulu dan sd sekarang beda sekali
Priska: Benar SD sekarang berbeda, terimakasih kk udah mau mampir 🙏
total 1 replies
Jiayou
semangat ya kak
pokoknya harus Sampek ending
Priska: iya terimakasih kakak udah mampir 🙏
total 1 replies
Bayu Aksa
Berasa nostalgia jaman sekolah dasar 🤭💪semangat terus ya👍
Priska: siap, terimakasih kk
total 1 replies
Dino Prayoga
seruuu😍😍
Priska: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Dino Prayoga
💪
Huang ying308
halo kak , semangat👍
Priska: hai, terimakasih kak
total 1 replies
Pae Karjo
bagus semangat 💪💪
Priska: terimakasih
total 1 replies
jinggaarundari
waduhh, sedih juga ya jadi Riska...
Priska: iya, terimakasih sudah mampir kk
total 1 replies
Huang ying308
💪💪💪 semangat KK ⭐⭐⭐⭐⭐
Priska: terima kasih
total 1 replies
Rahman Ncusbre
yo tetap semangat
Priska: terima kasih
total 1 replies
Novita Wulan Sari
Ceritanya seru dan Emosional banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!