Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takhta Ketiadaan
Udara di dalam Ruang Takhta terasa kental dan berbau karat. Kutukan yang menguar dari sarung tangan Varian bukanlah sihir elemen biasa, melainkan Aura Kematian sihir terlarang yang mengorbankan nyawa perapalnya sendiri untuk memutuskan ikatan jiwa targetnya dari tubuh fisik.
"Kau terlalu naif, Kaelen," Varian melangkah pelan, auranya meninggalkan jejak hangus di atas karpet beludru. "Kau pikir Inti Leviathan itu membuatmu kebal? Benda itu diciptakan untuk menyaring mana, bukan untuk menyaring energi jiwa murni. Jika aku menyentuhmu, logamu itu akan hancur bersama jantungmu."
Kaelen tidak menjawab. Ia menganalisis pergerakan pamannya. Varian benar; Kaelen bisa merasakan ancaman mematikan dari energi merah darah tersebut. Inti Leviathan di dadanya berdenyut menyakitkan, seolah menolak untuk menelan energi kotor itu.
Tiba-tiba, Varian melesat dengan kecepatan yang tak masuk akal.
Ia tidak menggunakan senjata. Ia menerjang murni dengan kedua tangannya yang berkilau merah. Kaelen memutar tubuhnya, menepis lengan pamannya dari sisi luar. Namun, saat kulit Kaelen bergesekan dengan aura merah itu, rasa sakit luar biasa menyengatnya. Lengan jubah Kaelen hancur menjadi debu, dan kulit lengannya melepuh hitam seketika.
Kaelen mendesis menahan sakit dan melompat mundur. Sial, aku benar-benar tidak bisa menelannya langsung.
"Lihat?! Kau tidak lebih dari sekadar bocah malang yang memegang mainan terlalu besar!" Varian tertawa buas, kembali menerjang dengan serangan beruntun.
Kaelen dipaksa bertahan. Ia menggunakan kecepatan fisiknya untuk menunduk, mengelak, dan memblok serangan Varian yang bertubi-tubi. Pualam di sekitar mereka hancur setiap kali Varian meleset dan menghantam lantai. Ruang Takhta yang megah kini berubah menjadi reruntuhan.
"Ayahmu terlalu lemah!" raung Varian, mengayunkan tinjunya lurus ke dada Kaelen. "Dia tidak berani mengambil risiko untuk memperluas kekuasaan klan! Aku yang memimpin kita! Aku yang seharusnya"
Kaelen menghindari tinju itu dengan Langkah Bayangan. Sambil berputar, Kaelen menendang keras lutut Varian. Terdengar bunyi retakan tulang, membuat sang paman tersandung ke depan. Memanfaatkan momen itu, Kaelen menghantamkan siku kirinya telak ke rahang Varian.
Varian terpelanting, menabrak pilar penyangga hingga retak. Pria tua itu meludahkan darah, matanya melotot gila. Aura merah di tangannya kini merambat naik ke leher dan wajahnya, memakan energinya sendiri demi menambah kekuatan.
"Kau membicarakan kekuasaan, Paman," ucap Kaelen, napasnya memburu, lengannya yang melepuh terasa kaku. "Tapi kau hanya berkuasa karena orang lain takut pada apimu. Bagaimana jika api itu padam? Apa yang tersisa darimu?"
Kaelen menutup matanya. Ia tidak memfokuskan Inti Leviathan untuk menyerap dari luar. Jika kutukan jiwa tidak bisa ditelan, maka ia akan menciptakan kekosongan yang tidak bisa dimasuki oleh kutukan itu.
Kaelen membalikkan polaritas Inti Leviathan sekali lagi, memompa seluruh mana purba yang ia simpan dari Akar Magma, dan melepaskannya keluar bukan sebagai ledakan, melainkan sebagai Zona Kedap.
Sebuah pendar ungu kelam menyelimuti seluruh tubuh Kaelen, menempel di kulitnya seperti lapisan kedua. Ini bukan pusaran penelan; ini adalah penolakan absolut. Sebuah perisai ketiadaan.
Varian meraung, menerjang maju dengan sisa-sisa tenaga hidupnya. Ia mengarahkan kedua tangannya yang berbalut kutukan merah langsung ke jantung Kaelen.
Kaelen berdiri diam. Ia membiarkan tangan Varian menghantam dadanya.
Brak!
Benturan itu menghasilkan suara seperti kaca tebal yang dipukul palu godam. Tangan Varian terhenti tepat di atas pakaian Kaelen, tertahan oleh lapisan ungu kelam. Kutukan merah darah itu mencoba merobek perisai Kaelen, namun alih-alih menembusnya, kutukan itu tertolak mentah-mentah dan memantul kembali ke tubuh Varian.
"T-tidak...!" Varian tersedak. Matanya membelalak horor saat kutukan mematikan yang ia panggil berbalik menyerangnya.
Darah memancar dari pori-pori kulit Varian. Pria itu jatuh berlutut di depan Kaelen, mencengkeram dadanya sendiri. Bekas luka bakar di wajahnya robek, dan matanya kehilangan cahaya kehidupan dalam hitungan detik. Kutukan itu mencabut jiwanya dengan brutal.
Tubuh tanpa nyawa Paman Varian ambruk ke lantai pualam dingin, tepat di bawah anak tangga menuju singgasana.
Keheningan kembali menyelimuti Ruang Takhta, hanya diselingi oleh deru badai dan gemuruh petir dari luar jendela yang hancur. Kaelen berdiri di sana, menatap mayat pria yang telah merenggut segalanya darinya. Tidak ada rasa lega. Tidak ada kebahagiaan. Hanya rasa hampa yang perlahan memudar.
Perisai ungu Kaelen meredup. Ia menarik napas panjang yang gemetar, merasakan tulang-tulangnya seolah remuk. Ia telah mendorong batas tubuhnya melampaui logika manusia.
"Kau terlihat mengerikan, Bos."
Suara Lyra memecah kesunyian. Gadis itu melangkah masuk ke Ruang Takhta, diikut oleh Silas yang membawa lentera mana cadangan. Di belakang mereka, suara sorak-sorai geng jalanan Rexor yang sedang menjarah isi kastil terdengar sayup-sayup dari lantai bawah.
Lyra melirik mayat Varian, lalu menendang kakinya pelan. "Benar-benar mati. Baguslah. Aku tidak perlu repot-repot mengotori belatiku."
Silas berjalan mendekati Kaelen, menyorotkan lentera ke arah dada pemuda itu. Inti Leviathan masih berdenyut pelan, meski warnanya kini kembali biru pucat. "Artefak itu bertahan," gumam Silas kagum. "Dan kau tidak meledak. Kurasa mulai malam ini, aku harus menulis ulang seluruh buku panduan anatomi sihir."
Kaelen tersenyum tipis, sangat tipis, nyaris tak terlihat. Ia melangkah melewati tubuh pamannya, menaiki tangga pualam, dan berhenti tepat di depan singgasana Adiwangsa. Takhta yang terbuat dari lelehan pedang itu terasa dingin saat ia menyentuhnya.
"Pasukan fisik di bawah sudah menyerah," lapor Lyra, menyandarkan punggungnya ke pilar. "Rexor menuntut pertemuan denganmu di Aula Utama untuk membagi wilayah Sektor Atas. Dia sudah mulai bersikap seolah dia penguasa baru kekaisaran ini."
Kaelen berbalik. Ia duduk di atas singgasana tersebut. Jubah kulitnya yang robek, darah yang mengering di wajahnya, dan pendar biru di dadanya menciptakan siluet yang jauh lebih menakutkan daripada sosok dewa perang mana pun.
"Biarkan Rexor berpesta malam ini," ucap Kaelen dingin, matanya memancarkan kegelapan absolut. "Besok pagi, beri tahu dia bahwa tidak ada pembagian wilayah. Klan Adiwangsa tidak hancur; klan ini hanya berganti kepemimpinan. Aku akan membentuk tatanan baru. Dan jika Rexor atau siapa pun dari Distrik Bawah maupun Distrik Atas keberatan..."
Kaelen merentangkan tangannya, dan sebuah pusaran kecil kabut hitam berputar di atas telapaknya.
"...mereka bisa mencoba memadamkan ketiadaan."