Siapa aku, seorang pecundang?
Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.
Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.
Tingkat Saint? Hah...
Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?
Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Penyelamatan.
"... Cepat keluarkan mereka semua!"
Di dalam kastil tua itu, suasana berubah menjadi sangat kacau. Orang-orang berteriak histeris, berlarian menyelamatkan diri ke segala arah.
"Apa yang sebenarnya terjadi di dalam?!" tanyaku setengah berteriak pada seorang wanita yang nekat melompat dari balkon lantai dua.
"Ada... ada Iblis di dalam sana!" jawab wanita itu dengan napas memburu dan wajah pucat pasi. "Kalian harus melarikan diri! Iblis itu membantai siapa saja yang berada di dekatnya!"
"Iblis?!"
Mungkinkah itu Lyzeas?! Tapi mana mungkin... Bukankah dia seharusnya ada di... Tidak! Ini pasti dia! Aku masih ingat arah mata angin yang ia tuju tempo hari. Tidak salah lagi, dia sedang berusaha menyerang Gymalon! Tapi kenapa? Apa motifnya melakukan semua ini?!
"... Tidak ada waktu untuk berpikir!" teriak Sandra memutus lamunanku. "Kita masuk sekarang!"
Aku mengangguk tegas, lalu melangkah lebar menyusul Sandra dan Steven yang sudah menerobos masuk terlebih dahulu. Begitu mendobrak pintu kayu besar di hadapan kami, sebuah aula yang amat luas dan suram menyambut kedatangan kami.
"Bagaimana cara kita menemukannya di tempat seluas ini?" tanya Sandra sembari mengedarkan pandangannya dengan waspada. "Ruangan ini terlalu—"
"Tolong! Tolong kami!"
Jeritan histeris seorang wanita mendadak bergema dari lantai atas. Tanpa membuang waktu sedetik pun, kami langsung melesat menuju sumber suara.
Tapi saat kami tiba di lantai atas, sosok makhluk bersayap itu sudah keburu melesat pergi melintasi jendela yang hancur, meninggalkan pertumpahan darah serta sehelai bulu hitam pekat—bulu yang persis sama seperti yang pernah kulihat sebelumnya.
"Hei, kau tidak apa-apa?!"
Aku bergegas menghampiri seorang gadis yang terkulai lemas di atas lantai kayu yang dingin. Meski secara fisik ia tidak tampak mengalami luka luar, raut wajahnya yang diliputi trauma hebat sudah cukup menggambarkan kengerian yang baru saja terjadi.
Gadis itu terdiam membisu. Seseorang di sampingnya lalu menepuk pelan pundaknya, membuat gadis kecil itu tersentak kaget. Pria di sebelahnya—yang tampaknya adalah sang ayah—bangkit berdiri menyapa kami dengan luka goresan segar di wajahnya. Di punggungnya, ia membopong seorang wanita yang terluka parah, yang kemungkinan besar adalah istrinya.
"... Nak, terlalu banyak kengerian yang kami lihat di sini. Makhluk itu telah membantai banyak sekali orang..." bisik pria itu dengan suara bergetar. "Sudah terlambat jika Kekaisaran baru berniat mengirimkan bantuan sekarang."
"Tuan, bisakah Anda memberikan detail lebih lanjut tentang apa yang terjadi?" potongku menyela ragu.
"Aku... aku tidak bisa mengingat apa-apa sebelum kalian tiba dan melepaskan kami," jawabnya sambil menggeleng lemas.
"Tunggu sebentar," kataku terheran-heran. "Mengapa pria di perkemahan tadi bilang mereka bisa menyadari apa yang mereka lakukan meskipun tidak bisa mengendalikan tubuhnya?"
"Itu benar untuk kejadian di luar! Kami memang bisa mengingat beberapa hal di sana. Tapi saat dipaksa melangkah masuk ke dalam kastil ini... seluruh ingatan kami mendadak sirna begitu saja," terangnya pilu. "Kalau begitu, izinkan kami pergi."
Dengan hati-hati, pria itu kembali menggendong istrinya yang terkulai lemas, sembari menuntun anak perempuannya keluar dari aula.
"Nak...?"
Kami mendadak menoleh saat mendengar panggilan dengan suara yang sangat familiar itu.
"Pak Esvalon?!" seru kami kaget.
Dengan langkah kaki yang tertatih-tatih dan tubuh penuh goresan, kusir tua itu berjalan lambat menghampiri kami.
"Ternyata kalian... Jangan pikir kalian bisa lolos begitu saja dari sini!" seru sebuah suara dingin yang mendadak muncul di belakang Pak Esvalon.
"ARGHHHHH!"
Sebelum Pak Esvalon sempat berbalik atau membalas ucapan kami, sebuah mata pisau tajam tiba-tiba menembus dadanya dari arah belakang.
"... Bukankah aku tadi sudah mendorongmu ke balkon?!" racau pria asing itu sambil tersenyum menyeringai. "Hmm... Mungkin memang akan lebih cepat dan menyenangkan jika kau mati sekarang?"
"Sialan!" desahku penuh amarah.
Tanpa membuang waktu, aku menarik dan melempar belati dari dalam sakuku dengan akurasi penuh. Pisau itu melesat cepat dan langsung menebus dada pria berjubah yang mengenakan pakaian dengan lambang Matahari yang sama seperti sebelumnya.
Ia tersungkur dan jatuh berguling dari atas tangga. Namun, ajaibnya, raut wajah pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit sedikit pun. Tepat sebelum napas terakhirnya berembus mati, bibirnya yang berdarah menyunggingkan senyum fanatik dan berbisik pelan...
"Hidup... Lyzeas!"
Aku berlutut untuk memastikan kondisi Pak Esvalon. Napas kusir tua itu makin tersendat, dan darah segar menyembur berceceran dari mulutnya tiap kali ia memaksakan diri bersuara.
"Tolong... sampaikan kepada anakku... Ugh! Ugh!" terbatuk-batuk, ia mencengkeram lengan bajuku erat-erat. "Katakan padanya... jagalah ibunya. Dan ambil... harta terakhir kalian..."
Kepalanya terkulai lemas ke samping. Cengkeramannya mengendur, dan napasnya berhenti seketika.
"... Jadi seperti ini akhir hidupnya?" gumam Sandra. Meski ekspresi wajahnya berusaha tetap kaku, nada suaranya bergetar menahan gejolak emosi di tenggorokannya. "Dunia ini benar-benar kejam..."
"Hei, kalian di sana!"
Sebuah teriakan keras memutus duka kami. Kami mendadak menoleh dan mendapati sekumpulan prajurit Kekaisaran telah mengepung area aula. Zirah dan senjata mereka tampak bersimbah darah.
"Apakah mereka juga bagian dari orang-orang gila itu?!" teriak salah seorang prajurit seraya mengacungkan pedangnya dengan penuh kewaspadaan.
Salah satu rekannya melangkah mendekat untuk memeriksa kami. Setelah meneliti penampilan kami dan tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan, ia menganggukkan kepala—memberi isyarat kepada pasukan lainnya untuk menurunkan senjata.
"Dark Regium..." cetus seorang penyihir militer Kekaisaran di barisan belakang. Tangannya menggenggam tongkat sihirnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku bersumpah akan menghancurkan kalian sampai tak tersisa!"
"Semuanya, bopong mayat pria tua itu lalu lempar ke pembakaran!" perintah komandan prajurit tegas.
"Kenapa harus dibakar, Pak?" tanyaku menahan diri.
"Ini perintah langsung dari Pontiff Aurelius!" jawabnya dingin. "Para penganut Dark Regium adalah bidah—orang-orang terkutuk yang dikutuk oleh surga dan para dewa! Tubuh mereka yang terkontaminasi tidak boleh disemayamkan secara wajar!"
Kami tidak memiliki kekuatan untuk melawan perintah militer tersebut. Para prajurit mengangkat jasad Pak Esvalon tanpa rasa iba, lalu melemparkannya begitu saja ke dalam kobaran api unggun besar yang membakar tumpukan mayat korbankan lainnya di luar kastil.
Prajurit Kekaisaran segera menggiring warga yang sebelumnya terhipnotis menuju area karantina. Sementara itu, setelah memastikan kami bertiga hanyalah petualang independen yang kebetulan terlibat, mereka menyuruh kami segera pergi dan memperingatkan untuk menutup mulut rapat-rapat.
Bersambung...