NovelToon NovelToon
PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Ujian Kebijaksanaan

Seminggu berlalu sejak pertemuan pribadinya dengan Kaisar Chu, dan kini Chu Feng berdiri kembali di lapangan latihan besar, bersama enam saudaranya, menanti dimulainya tahap terakhir Festival Penentuan—Ujian Kebijaksanaan.

Berbeda dengan dua tahap sebelumnya yang menekankan kekuatan mentah dan kemampuan tempur, tahap ini dirancang untuk menguji sesuatu yang jauh lebih halus namun sama pentingnya bagi seorang calon pewaris takhta: kemampuan berpikir strategis, membuat keputusan sulit di bawah tekanan, dan memimpin dengan bijaksana.

"Ujian ini," umum Kaisar Chu dari podium, suaranya menggema ke seluruh lapangan, "akan berbentuk simulasi krisis. Setiap peserta akan dihadapkan pada skenario yang sama—sebuah kerajaan fiktif yang menghadapi ancaman gabungan: bencana alam, serangan dari luar, dan perselisihan internal. Bagaimana masing-masing dari kalian menangani krisis ini akan dinilai oleh dewan tetua dan beberapa perwakilan sekte yang hadir sebagai pengamat independen."

Chu Feng mendengarkan dengan saksama, menyadari bahwa inilah tahap di mana bertahun-tahun mempelajari kitab-kitab strategi dan politik yang diabaikan orang lain di perpustakaan istana akhirnya bisa terbayar—bukan lewat kekuatan tempur yang masih jauh dari level saudara-saudaranya, melainkan lewat kecerdasan yang selama ini ia sembunyikan sama seriusnya dengan kultivasinya.

Simulasi berlangsung secara bergiliran, masing-masing peserta diberikan skenario yang sama namun harus menjawab secara terpisah di hadapan dewan juri, untuk memastikan tidak ada yang terpengaruh jawaban peserta lain.

Chu Heng, sang panglima muda, memilih pendekatan militer tegas—memobilisasi seluruh pasukan untuk menghadapi ancaman luar terlebih dahulu, mengorbankan sumber daya untuk bencana alam demi memastikan keamanan kerajaan. Keputusan yang solid, namun beberapa juri mencatat kurangnya pertimbangan terhadap penderitaan rakyat akibat bencana yang diabaikan.

Chu Ming, si ahli strategi, memilih pendekatan diplomatik—mencoba bernegosiasi dengan kekuatan luar sambil membagi sumber daya secara merata untuk masalah internal. Elegan, namun beberapa juri mempertanyakan apakah strateginya cukup tegas menghadapi ancaman nyata.

Satu per satu, saudara-saudaranya memberikan jawaban yang mencerminkan kepribadian dan kekuatan masing-masing—beberapa solid, beberapa menunjukkan kelemahan yang tidak terduga.

Ketika giliran Chu Feng tiba, ia melangkah ke tengah panggung dengan tenang, mendengarkan skenario yang dibacakan oleh salah satu tetua juri dengan saksama.

"Kerajaan Anda menghadapi gempa besar yang menghancurkan sepertiga wilayah pertanian, sementara pada saat bersamaan, kerajaan tetangga mengirimkan pasukan ke perbatasan dengan alasan yang tidak jelas. Di dalam istana sendiri, dua faksi bangsawan besar saling berselisih tentang siapa yang harus disalahkan atas krisis pangan yang mulai muncul. Apa yang akan Anda lakukan, Yang Mulia Putra Ketujuh?"

Chu Feng terdiam sejenak, bukan karena tidak tahu jawabannya, melainkan menyusun kata-katanya dengan hati-hati.

"Pertama," ia mulai, suaranya tenang namun jelas terdengar ke seluruh tribun, "saya tidak akan langsung memobilisasi pasukan penuh ke perbatasan. Pengiriman pasukan tanpa alasan jelas sering kali merupakan taktik intimidasi, bukan persiapan invasi sungguhan—menanggapi dengan mobilisasi penuh justru bisa memicu eskalasi yang tidak perlu, atau lebih buruk, menguras sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk krisis yang lebih mendesak."

Beberapa tetua juri saling melirik, tampak tertarik dengan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan peserta lain.

"Sebagai gantinya," lanjut Chu Feng, "saya akan mengirimkan delegasi diplomatik kecil namun tegas ke perbatasan—cukup untuk menunjukkan bahwa kerajaan waspada, tapi tidak provokatif. Sumber daya utama akan saya fokuskan pada penanganan bencana gempa, karena rakyat yang menderita akibat bencana alam adalah ancaman yang jauh lebih nyata dan mendesak dibandingkan potensi ancaman luar yang masih belum jelas motifnya."

"Bagaimana dengan perselisihan internal di antara faksi bangsawan?" tanya salah satu juri.

"Saya akan memanggil kedua faksi tersebut secara terpisah, bukan bersamaan," jawab Chu Feng tanpa ragu. "Ketika dua pihak yang berselisih dipertemukan langsung di tengah krisis, emosi cenderung mengalahkan logika. Dengan berbicara secara terpisah, saya bisa memahami kekhawatiran masing-masing faksi tanpa memicu konfrontasi langsung, lalu menawarkan solusi yang mengakomodasi kepentingan keduanya—misalnya, membagi tanggung jawab distribusi bantuan pangan secara merata di antara kedua faksi, sehingga keduanya merasa memiliki peran penting dalam penyelesaian krisis, bukan sekadar disalahkan."

Keheningan menyelimuti tribun sejenak, sebelum salah satu tetua juri—seorang wanita tua dengan reputasi sebagai salah satu ahli strategi paling dihormati di kerajaan—mengangguk pelan, sebuah senyuman tipis terbentuk di wajahnya yang biasanya sulit terkesan.

"Jawaban yang matang," komentarnya, "dan yang lebih penting, menunjukkan pemahaman bahwa kepemimpinan sejati bukan sekadar menunjukkan kekuatan, melainkan mengetahui kapan harus menahan diri dan kapan harus bertindak tegas."

Gumaman kagum mulai terdengar dari tribun, sebagian besar penonton yang sebelumnya menyaksikan pertandingan Chu Feng melawan Chu Yan kini menyaksikan sisi lain dari pangeran yang selama bertahun-tahun dianggap tidak berbakat—sisi yang jauh lebih halus, namun tidak kalah mengesankan.

Ketika seluruh tahap ujian selesai dan dewan juri berkumpul untuk membahas hasil akhir, ketegangan menyelimuti seluruh lapangan. Meski Festival Penentuan tidak secara langsung menentukan pewaris takhta—itu adalah keputusan final yang tetap berada di tangan Kaisar Chu sendiri—hasil festival ini akan menjadi pertimbangan besar dalam keputusan tersebut, sekaligus menentukan reputasi masing-masing pangeran di mata seluruh kerajaan dan sekte-sekte yang hadir sebagai pengamat.

Setelah beberapa saat, Kaisar Chu kembali berdiri di podium, gulungan hasil akhir di tangannya.

"Berdasarkan penilaian gabungan dari ketiga tahap—Kekuatan Dasar, Pertarungan Berpasangan, dan Kebijaksanaan—dewan juri telah menyusun peringkat akhir festival tahun ini."

Ia membuka gulungan itu perlahan, suasana tegang menyelimuti seluruh lapangan.

"Peringkat pertama, dengan keunggulan signifikan di Tahap Kekuatan Dasar dan Pertarungan Berpasangan: Putra Keenam, Chu Yan."

Sorak-sorai membahana, meski tidak mengejutkan siapa pun—hasil yang memang sudah diperkirakan sejak awal mengingat dominasi Chu Yan di dua tahap pertama.

"Peringkat kedua: Putra Kedua, Chu Ming, dengan keunggulan di Tahap Kebijaksanaan dan performa solid di dua tahap lainnya."

Nama-nama lain disebutkan satu per satu, hingga akhirnya tersisa satu nama yang belum diumumkan.

"Dan peringkat keempat," Kaisar Chu berhenti sejenak, matanya melirik ke arah Chu Feng dengan ekspresi yang sulit dibaca, "Putra Ketujuh, Chu Feng—naik dari posisi yang tidak diperhitungkan sama sekali di awal festival, menjadi salah satu dari empat besar berkat performa luar biasa di Tahap Pertarungan Berpasangan dan Tahap Kebijaksanaan."

Keheningan sejenak sebelum tribun meledak dalam sorak-sorai yang bahkan lebih riuh dari pengumuman-pengumuman sebelumnya—bukan karena Chu Feng menang, melainkan karena pencapaiannya benar-benar di luar dugaan siapa pun, sebuah kisah bangkit yang jarang sekali disaksikan langsung dalam sejarah Kerajaan Chu.

Di tribun kehormatan, Su Yue bertepuk tangan dengan senyum lebar, matanya berbinar bangga. Di sisi panggung, Chu Yan sendiri—meski masih memegang gelar juara—menatap adiknya dengan ekspresi yang jauh lebih hormat dibandingkan awal festival dimulai.

Chu Feng membungkuk formal ke arah tribun, menerima sorak-sorai itu dengan ketenangan yang sama seperti biasa, meski di dalam dirinya, ia tahu bahwa pencapaian ini bukanlah akhir dari perjalanannya—melainkan hanya awal dari sesuatu yang jauh lebih besar yang menantinya di luar tembok Kerajaan Chu.

Malam itu, setelah perayaan resmi festival berakhir dan sebagian besar tamu mulai kembali ke tempat asal mereka, Chu Feng duduk sendirian di beranda paviliunnya, menatap kalung peninggalan ibunya yang kini tergantung di lehernya.

"Kau sudah membuat keputusan?" tanya suara di dalam dirinya, mengetahui betul apa yang sedang dipikirkan Chu Feng.

Aku akan pergi ke Sekte Awan Langit, jawab Chu Feng dalam hati, tekadnya sudah bulat sejak percakapannya dengan ayahnya seminggu lalu. Festival ini sudah cukup membuktikan bahwa aku tidak lagi bisa bersembunyi sepenuhnya di sini. Dan kalau kelompok yang menyerang desa ibuku benar-benar mulai mencariku, aku butuh tempat yang lebih aman untuk berkembang.

"Keputusan yang bijaksana," komentar suara itu, nada bangga terdengar jelas. "Tapi bersiaplah, Pangeran Ketujuh. Jalan yang kau pilih ini tidak akan pernah semudah yang kau bayangkan sekarang."

Chu Feng menatap ke arah langit malam yang bertabur bintang, pikirannya melayang pada semua yang telah terjadi dalam beberapa minggu terakhir—penemuan pecahan tubuh Dewa, kebangkitan kekuatan yang selama ini tersembunyi, pertemuan dengan Su Yue, dan kebenaran menyakitkan tentang pengorbanan ibunya.

Aku tahu, pikirnya, tekadnya semakin mantap. Tapi aku sudah tidak punya pilihan untuk kembali lagi. Satu-satunya jalan yang tersisa adalah maju—demi diriku sendiri, demi warisan ibuku, dan demi menemukan kebenaran yang lebih besar yang masih menunggu di luar sana.

Ia tidak menyadari bahwa keputusan itu akan membawanya jauh dari rumah yang selama ini ia kenal—menuju sekte kecil yang hampir bangkrut, pertemuan dengan makhluk-makhluk yang akan menjadi partner setianya, dan pada akhirnya, menuju pengkhianatan yang akan mengubah dirinya selamanya.

1
Nanik S
Menjadi Murid sekte
Nanik S
Chu Feng ada teman dalam perjalanan
Nanik S
Akhirnya Chu Feng pergi menuju Sekte Langit
Irhab Hauzan: lanjut kak🙏
total 1 replies
Nanik S
Siapa nanti yang akan berkhianat pada Chu Feng apakah itu Su Yue
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya 🙏👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng harus berlindung disekte dan terus berlatih agar menjadi Kuat
Irhab Hauzan: terimakasi🙏😄
total 1 replies
Nanik S
Keturunan siapakah sebenarnya Ibu Chu Feng
Nanik S
Lanjutkan💪💪💪
Irhab Hauzan: terimakasih 🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Yan... kenapa tidak malu melawan adiknya yang paling Lemah
Irhab Hauzan: suka mbuly soalnya😄👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng.... mulai menunjukan kemampuannya dan pasti akan berbahaya bagi Kakak²nya😇😇😇
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng memang harus berhati hati karena kelicikan wanita
Irhab Hauzan: 😄😄😄 wanita memang tipudaya
total 1 replies
Nanik S
Semoga pangeran Ketuju tidak terlalu tertarik dengan asmara agar cerita ini tidak membosankan
Irhab Hauzan: terimakasih atas masukanya🙏
total 1 replies
Nanik S
Ada yang mengawasi ... dan kenapa sang Dewa tidak menyadarunya
Irhab Hauzan
terimakasih masukanya🙏
Nanik S
Lanjutkan Tor... jangan sampai ada perjodohan atau pernikahan muda pasti Ceritanya sudah TDK akan menarik
Nanik S
Lanjutkan Tor💪💪💪
Nanik S
Dewa... yang dianggap Intensitas tertinggi
Nanik S
Semoga cerita ini sampai selesai
Irhab Hauzan: terimakasih supportnya🙏
total 1 replies
Nanik S
Hadir.... cukup menarik di awal
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai k salam kenal . masuk grup aku mau gak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!