NovelToon NovelToon
L.S. Underworld

L.S. Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Mafia
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ANDIKA,312

Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 4

Sinar matahari pagi menembus celah gorden apartemen La Puerta. Andika terbangun dengan perasaan yang jauh berbeda dari minggu-minggu sebelumnya. Tidak ada lagi alarm bernada sumbang yang memaksanya buru-buru ke dapur restoran, tidak ada lagi bau sabun cuci piring yang lengket di pakaiannya.

Setelah menikmati secangkir kopi hangat di balkon sambil memandangi Vigero ZX miliknya yang terparkir gagah di garasi bawah, ponsel Andika bergetar.

Sebuah pesan singkat dari Lamar masuk:

"Woy Andika! Kumpul di bengkel Strawberry jam satu siang. Saya sudah dapat ide bisnis gila yang bakal bikin kita semua kaya raya! Jangan lupa panggil Franklin sama L.J.!"

Andika tersenyum tipis. Rupanya malam tadi Lamar benar-benar memutar otaknya. Tanpa buang waktu, Andika segera menghubungi Franklin dan L.J. untuk memastikan mereka juga sudah menerima kabar tersebut.

Tepat pukul satu siang, suara deru mesin V8 Vigero ZX milik Andika memecah ketenangan kawasan industri Strawberry. Ia memarkirkan mobilnya tepat di samping SUV hitam L.J. dan mobil sport Franklin yang sudah lebih dulu tiba.

Di dalam bengkel, Lamar sudah berdiri di samping sebuah papan tulis putih tua yang dipenuhi coretan spidol merah dan peta wilayah Los Santos. Wajahnya tampak sangat percaya diri, lengkap dengan cengiran khasnya.

"Nah! Akhirnya lengkap juga tim impian kita!" seru Lamar begitu melihat Andika melangkah masuk bersama Franklin dan L.J.

Franklin melipat tangan di dada, menatap papan tulis itu dengan kening berkerut. "Oke Lamar, bersihkan cengiran konyolmu itu dan cepat beri tahu kita... ide 'jenius' apa yang kau maksud dari tadi malam?"

Lamar menepuk papan tulis itu keras-keras. "Dengar baik-baik, brothers! Kita tidak usah pusing-pusing bikin laboratorium narkoba di gurun atau mencuri mobil satu per satu. Bisnis besar yang kosong di Los Santos Selatan saat ini adalah... Distribusi Amunisi dan Logistik Senjata Berat Khusus!"

L.J. menurunkan sedikit kacamata hitamnya, mulai tertarik. "Hmm? Explain more, bredda."

"Begini," lanjut Lamar dengan gestur tangan yang heboh. "Semua geng di kota ini—Ballas, Vagos, bahkan geng Marabunta—mereka punya banyak senjata, tapi mereka selalu kehabisan peluru kaliber besar dan armor piercing untuk perang wilayah. Selama ini mereka beli dari penyelundup luar kota dengan harga mencekik. Kalau kita yang ambil alih jalur pasokan dari dermaga dan jual langsung ke mereka dengan harga kompetitif... kita tidak perlu ikut perang jaringan, kita cuma jadi 'pemasok resmi' seluruh jalanan Los Santos!"

Franklin mengusap dagunya, matanya meneliti peta di papan tulis. "Margin keuntungannya gila... dan kita tidak perlu berurusan dengan konsumen eceran. Tapi dari mana kita dapat pasokan awal peluru dan amunisi kelas militer itu dalam jumlah besar?"

Lamar langsung menunjuk ke arah Andika dan L.J. sambil tersenyum lebar.

"Di situlah peran kru kita!" kata Lamar. "L.J. punya jalur impor dari pelabuhan Liberty City. Tapi untuk kiriman pertama yang tiba sore ini di Dok Terminal Island... kita butuh tim eksekusi tangguh buat mengambil dan mengamankannya sebelum geng lain atau polisi tahu. Dan Andika..." Lamar menatap Andika, "dengan mobil barumu yang super kencang itu, kau yang jadi pengawal utama konvoi barang kita!"

Andika melangkah mendekati papan tulis, menatap jalur pengiriman di peta, lalu mengangguk mantap.

"Rp100.000.000 modal awal dari saya siap," tegas Andika. "Bagaimana Franklin? L.J.? Kita jalan hari ini?"

Franklin menatap Andika lalu menoleh ke Lamar, menyunggingkan senyum tipis. "Rencana ini sebenarnya... tidak buruk, Lamar. Oke, kita eksekusi sore ini juga!"

Tepat pukul empat sore, langit di atas Dok Terminal Island berubah menjadi jingga keemasan. Langit pesisir yang indah itu berbanding terbalik dengan aura tegang yang menyelimuti area gudang peti kemas nomor 14.

Dua truk boks ukuran sedang sudah terparkir rapi di balik tumpukan kontainer. Di sana, beberapa anak buah kepercayaan L.J. tampak sibuk memindahkan peti-peti kayu berlabel khusus dari kapal kargo kecil ke dalam truk.

L.J. membuka salah satu peti kayu menggunakan linggis. Krek!

Di dalamnya, ribuan kotak amunisi kaliber besar, magazin drum cadangan, hingga beberapa pucuk senapan serbu kelas militer tertata rapi. Sinar matahari sore memantul dari kelongsong peluru yang masih baru.

"Pure gold, brethren," ujar L.J. sambil mengusap salah satu peti amunisi. "Pasokan pertama senilai Rp800.000.000 bersih. Kalau ini sampai ke tangan geng-geng di kota, modal kita kembali tiga kali lipat dalam semalam."

"Bagus," kata Franklin yang berdiri mengawasi situasi di atas kap mesin mobilnya dengan teropong. "Lamar, kau drive truk pertama. L.J. pegang truk kedua. Saya dan Andika bakal mengawal dari depan dan belakang."

Andika menyadarkan badannya pada Vigero ZX Matte Black miliknya. Ia memeriksa magazin pistol yang tersisip di balik jaket kulit hitamnya, memastikan semuanya siap untuk kejutan apa pun di jalan raya.

"Rutenya lewat mana, Franklin?" tanya Andika.

"Kita ambil jalur pintas lewat jalan tol Palomino Freeway langsung menuju gudang penyimpanan baru kita di Cypress Flats," jawab Franklin. "Hindari jalur kota. Kalau ada yang mencoba memotong konvoi ini, habisi sebelum mereka sempat menghubungi polisi."

"Siap," tegas Andika.

Brummm!

Dua mesin truk besarmeraung bersamaan dengan suara V8 Vigero ZX milik Andika dan mobil Franklin. Konvoi bernilai ratusan juta rupiah itu pun mulai bergerak perlahan meninggalkan area dermaga.

Awalnya perjalanan terasa lancar. Angin laut membelai kaca mobil saat mereka melaju di jalan tol Palomino Freeway. Namun, baru beberapa kilometer mendekati terowongan jalan tol, Andika yang berada di barisan paling belakang melihat sesuatu yang mencurigakan dari kaca spionnya.

Tiga unit SUV berukuran besar berwarna merah gelap—ciri khas mobil geng Vagos—muncul melesat dari arah belakang dengan kecepatan tinggi.

"Franklin! Kita punya ekor!" teriak Andika melalui radio komunikasi di kabinnya. "Tiga SUV Vagos mendekat cepat dari belakang truk L.J.!"

Dari jendela SUV Vagos terdepan, dua pria bertato keluar setengah badan sambil mengacungkan senapan otomatis dan langsung memuntahkan tembakan ke arah roda truk L.J.!

Dada-dada-dada-dat!

"Dammit! Dem Vagos wan' rob wi cargo!" terekam suara cemas L.J. dari radio saat truknya mulai oleng terkena cipratan peluru musuh.

"Andika, tahan mereka di belakang! Jangan biarkan mereka mendekati truk!" perintah Franklin dari depan.

"Serahkan pada saya!" balas Andika mantap.

Andika membanting setir Vigero ZX-nya 180 derajat di tengah jalan tol, menginjak pedal gas penuh memotong jalur ketiga SUV Vagos tersebut. Bisnis besar mereka berempat baru saja dimulai, dan Andika tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan investasi ratusan juta rupiah mereka begitu saja!

Sreeeech!

Ban belakang Vigero ZX membakar aspal saat Andika menyalip dan melintangkan bodi mobilnya tepat di depan SUV Vagos terdepan. Tanpa memberi ruang sedikit pun, Andika langsung menginjak pedal gas penuh, menabrakkan bumper depan mobil ototnya ke bagian samping SUV musuh hingga mobil itu terpelanting menghantam dinding beton terowongan!

Brak! Sparks memercik memenuhi kegelapan terowongan!

"Satu runtuh!" teriak Andika melalui radio komunikasi.

Namun, dua SUV Vagos sisanya terus melaju makin agresif. Salah satu anggota Vagos mengarahkan senapan serbu tepat ke arah kaca depan Vigero ZX. Peluru-peluru berkaliber berat menembus udara, membentur kaca depan mobil Andika. Beruntung, lapisan kaca anti-peluru peninggalan mekanik Cypress Flats menahan gempuran tersebut hingga hanya menyisakan retakan seperti sarang laba-laba.

"Ancuk! Kaca mobil baruku!" umpat Andika penuh amarah.

Sambil terus memegang kemudi dengan tangan kiri, tangan kanan Andika menyambar senapan otomatis dari samping jok. Ia menurunkan sedikit kaca jendela samping, menyejajarkan posisi mobilnya dengan SUV Vagos kedua, dan memuntahkan tembakan presisi tepat ke arah ban depan kendaraan musuh!

Bang! Bang! Bang!

Ban SUV itu meletus seketika. Kendaraan besar itu hilang kendali, melintir hebat, dan terguling beberapa kali di tengah jalan tol hingga menyumbat pergerakan SUV Vagos terakhir.

Di saat bersamaan, Franklin yang berputar balik dari barisan depan muncul membantu. Mobil sport Franklin menyenggol keras SUV Vagos terakhir hingga terdorong keluar dari jalur tol dan masuk ke dalam jurang pembatas!

Boom! Ledakan kecil menggema dari dasar jurang. Suasana jalan tol Palomino Freeway mendadak kembali hening, hanya tersisa kepulan asap hitam dan jejak gesekan ban di aspal.

"Gila! Manuver gila, Andika!" suara Lamar terdengar berteriak histeris di radio. "Kau benar-benar menghancurkan mereka semua!"

"Truk aman, L.J.?" tanya Andika sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.

"Praise God, bredda! Cargo intact, thanks to ya!" balas L.J. lega dari kabin truknya.

Franklin menyejajarkan mobilnya dengan Vigero ZX milik Andika, mengacungkan jempolnya dari balik kaca. "Ayo cepat bergerak! Suara ledakan tadi pasti bakal memancing LSPD. Kita selesaikan pengiriman ini!"

Tanpa membuang waktu lagi, konvoi tersebut melaju cepat meninggalkan jalan tol dan berhasil menembus gerbang masuk kawasan industri Cypress Flats. Dua truk boks penuh berisi pasokan amunisi dan senjata berat itu parkir dengan selamat di dalam gudang rahasia baru milik mereka.

Di dalam gudang yang luas dan tertutup rapat, Lamar melompat keluar dari truknya sambil bersorak gembira. Ia merangkul Andika erat-erat.

"Kita berhasil, homies!" seru Lamar berseri-seri. "Pasokan amunisi senilai Rp800.000.000 resmi jadi milik kita! Geng-geng seluruh Los Santos sekarang harus antre dan bayar mahal ke kita kalau mau peluru!"

Franklin menyunggingkan senyum bangga sambil menepuk-nepuk peti kayu amunisi. "Ini baru permulaan. Dengan gudang ini, bisnis distribusi kita resmi berdiri. Kita bukan lagi cuma kroco jalanan—kita penguasa pasokan senjata Los Santos!"

Andika bersandar pada Vigero ZX-nya yang penuh goresan pertarungan. Meski badannya lelah dan mobilnya butuh sedikit perbaikan, rasa puas membakar dadanya. Dari seorang perantau Makassar yang tidak punya apa-apa dan hampir putus asa di kamar kos sempit Davis, kini ia berdiri sebagai salah satu bos bisnis gelap paling diperhitungkan di Los Santos.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!