NovelToon NovelToon
Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:62k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!

Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Lampu kamar rawat itu masih menyala redup ketika malam benar-benar turun. Bau antiseptik menusuk pelan, bercampur dengan dinginnya udara dari pendingin ruangan. 

Kemuning terbaring sendiri di atas ranjang, tubuhnya masih lemah, kepalanya dibalut perban. Tidak ada suara selain detak alat medis yang teratur. Matanya terbuka. Pandangannya kosong menatap langit-langit, tetapi pikirannya berjalan ke mana-mana.

Perkataan dokter siang tadi masih terngiang jelas. Zat anti-ovulasi, pemalsuan data, dan ucapan Aditya yang mengatakan semua baik-baik saja.

Jemari Kemuning perlahan menggenggam selimut. Dadanya naik turun pelan, menahan sesuatu yang semakin lama semakin menyesakkan.

“Kenapa rahimku bisa mengandung zat anti-ovulasi?” bisik Kemuning lirih. “Apa itu aku dapatkan dari makanan yang aku konsumsi selama ini?”

Air mata wanita itu mengalir lagi dan tanpa suara. Ada bagian dalam dirinya yang menolak, masih ingin percaya bahwa semua ini hanya salah paham. Namun di sisi lain, suara kecil terus berbisik, memaksanya mencurigai, menggali, dan mencari. Hingga akhirnya, di tengah rasa takut yang menekan, Kemuning mengambil keputusan. Ia harus tahu kebenarannya dengan caranya sendiri dan diam-diam.

Di tempat lain, jauh dari suasana dingin rumah sakit, suasana justru terasa hangat.  Lampu kuning temaram menyinari ruang tamu kecil yang rapi. Aroma parfum manis bercampur dengan wangi masakan yang masih tersisa di udara. Tawa ringan memenuhi ruangan kecil yang hangat.

Di atas sofa, Aditya duduk santai. Lavanya berada dalam pelukannya. Wanita itu tertawa kecil, kepalanya bersandar di dada Aditya, menikmati pelukan pria itu tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Sementara tangan pria itu dengan santai mengusap pipinya, turun ke leher, lalu kembali naik dengan penuh rasa memiliki.

“Mas…” suara Lavanya manja, nyaris berbisik. “Malam ini beneran akan menginap di sini?”

Aditya tersenyum tipis. Tangannya berhenti di dagu Lavanya, mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya.

“Tentu saja,” jawabnya santai. “Selagi Kemuning di rumah sakit, Mas bebas.”

Senyum Lavanya melebar. Ada kepuasan di sana.

Tangannya mulai bermain di dada Aditya, jemarinya menyusup pelan, seolah sudah sangat terbiasa.

“Bu Ratih enggak akan curiga, kan?” tanya wanita itu lagi, nada suaranya lembut tapi penuh perhitungan.

Aditya terkekeh pelan. “Enggak. Ibu tahunya aku nginap di peternakan.”

Lavanya mengangguk pelan. Matanya berbinar, tetapi bukan karena cinta, lebih karena rasa aman.

Atau mungkin karena rencana mereka berjalan mulus.

Namun tiba-tiba, ekspresi Lavanya berubah. Alisnya sedikit berkerut, seperti baru mengingat sesuatu.

“Mas …,” panggil Lavanya suaranya kini lebih pelan. “Kalau Bu Kemuning di rumah sakit, berarti dia enggak minum obat ‘itu’, dong?”

Pertanyaan itu membuat Aditya terdiam untuk sesaat dan wajahnya menegang tipis. Ia benar-benar lupa. 

Selama ini, setiap hari Aditya selalu memastikan sendiri kalau Kemuning menelan “vitamin” itu. Agar tidak pernah terlewat dan tidak pernah terlambat. Sudah lebih dari tiga tahun Kemuning mengkonsumsi obat anti-ovulasi tanpa disadari olehnya. Selama itu Aditya dengan sengaja mencegah istrinya hamil.

Aditya menghembuskan napas pendek, mencoba menenangkan diri. “I-iya, tapi enggak masalah,” jawabnya akhirnya, berusaha terdengar santai. “Kita juga enggak berhubungan badan akhir-akhir ini.”

Lavanya menatapnya beberapa detik, lalu mendengus pelan. “Huh… sampai kapan sih, Mas mau mempertahankan pernikahan itu?” tanyanya kesal, nada manja itu kini berubah jadi tuntutan.

Lavanya melepaskan diri dari pelukan Aditya, duduk sedikit menjauh, wajahnya cemberut. Sudah empat tahun ia menunggu, semenjak dia menjadi “yang kedua”.

Aditya mendekat lagi. Tangannya meraih pinggang Lavanya, menariknya kembali. “Yang sabar, dong, Sayang,” ucapnya lembut, tetapi ada nada licik yang tersembunyi. “Semua ada waktunya.”

Lavanya menatapnya tajam. “Kapan? Aku capek digantung terus!”

Aditya tersenyum tipis. Tangannya mengelus rambut Lavanya pelan, seolah menenangkan anak kecil.

“Nanti kalau semua harta bersama sudah aku kuasai,” katanya pelan, namun jelas. “Baru Mas ceraikan dia.”

Kalimat itu terucap dengan dingin dan begitu kejam. Namun, Aditya merasa tak bersalah.

Lavanya terdiam. Lalu perlahan bibirnya melengkung lagi. Dia tidak cemberut lagi, melainkan senyum puas. Wanita itu kembali menyandarkan tubuhnya ke Aditya.

“Jangan lama-lama, ya, Mas,” bisik Lavanya pelan. “Aku sudah tidak sabar menjadi Nyonya Aditya.”

Aditya hanya tersenyum. Tangannya kembali menjelajah tubuh wanita itu, seolah tidak ada beban sedikit pun di hatinya. Seolah tidak ada istri sah yang sedang terbaring sendirian di rumah sakit.

***

Sejak mengetahui sedikit kebenaran tentang kondisi tubuhnya, sesuatu di dalam diri Kemuning berubah. Dia masih menjalani hari seperti biasa, masih berbicara dengan nada lembut, masih menunduk saat dipanggil, seolah tidak ada yang berbeda. Namun di dalam hatinya, tumbuh sebuah benih kecil bernama kecurigaan. 

Hari ini jadwal Kemuning pulang dari rumah sakit. Namun, Aditya tidak datang juga untuk menjemputnya. Sudah beberapa kali suaminya itu dihubungi, tetapi nomornya tidak aktif.

“Biar aku antar kamu pulang,” kata Arkatama yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Kemuning.

“Maaf, aku harus merepotkan Anda lagi,” balas Kemuning.

“Aku tidak merasa direpotkan,” ucap pria itu tersenyum tipis.

Begitu sampai rumah, Kemuning menatap bangunan itu dengan napas tertahan. Dia merasa ada yang berubah, walau sebenarnya bangunan itu masih sama, tidak ada yang berubah. Paling sampah dedaunan yang berserakan karena tidak ada yang menyapu.

Bu Ratih duduk di ruang tengah, asyik menonton acara gosip yang suaranya memenuhi ruangan, sementara Aditya duduk di sampingnya dengan wajah datar, sibuk memainkan ponsel. Tidak ada sambutan, tidak ada perhatian, seolah tidak terjadi apa-apa, seolah Kemuning tidak baru saja melewati kecelakaan dan perawatan panjang.

Kemuning berdiri beberapa detik di ambang pintu, tangannya menggenggam tas kecil erat-erat. Ia menatap mereka berdua, dan di dalam dadanya muncul perasaan yang asing, bukan sekadar sedih atau marah, melainkan jarak yang dingin.

“Mas …,” panggil Kemuning pelan. 

Aditya hanya menoleh sekilas. “Oh, kamu sudah pulang?” Tidak ada senyum, tidak ada langkah mendekat, tidak ada pertanyaan tentang keadaannya. 

Kemuning menunduk. “Iya, Mas…” jawabnya lirih.

Bu Ratih hanya melirik sekilas lalu kembali menatap televisi. “Sudah sehat? Jangan manja terus. Di rumah banyak kerjaan.” 

Kalimat itu terdengar biasa, namun dingin. Anehnya, kali ini Kemuning tidak langsung merasa hancur. Ia hanya mengangguk pelan. “Iya, Bu.” 

Dan sejak saat itu, ia mulai memainkan perannya, menjadi Kemuning yang lama, yang selalu diam dan selalu mengalah.

Malam harinya, Kemuning duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya sedikit membungkuk, jemarinya memainkan ujung bajunya tanpa sadar. Di sampingnya, Aditya sudah berbaring sambil menatap ponselnya. Cahaya layar memantul di wajahnya yang dingin. 

“Mas …,” panggil Kemuning pelan dan ragu. 

“Apa?” jawab Aditya tanpa menoleh. 

Kemuning menarik napas pelan, bahunya sedikit bergetar. “Aku minta maaf, ya,” ucapnya lirih.

 

Aditya menoleh sekilas. “Untuk apa lagi?”

Pertanyaan itu terasa menusuk. Kemuning menunduk lebih dalam. “Aku jadi beban. Sudah lama enggak bisa kasih anak, sekarang malah sakit dan nyusahin,” katanya pelan, menahan rasa pahit yang memenuhi dadanya. 

Kemuning memaksakan diri mengatakan itu, karena itulah yang selama ini ia lakukan, menyalahkan dirinya sendiri sebelum orang lain melakukannya. 

Aditya hanya menghela napas pendek. “Sudahlah, jangan dibahas lagi.” 

“Maaf, Mas,” bisik Kemuning pelan. Ia tidak melanjutkan, namun di balik wajahnya yang terlihat lemah, matanya perlahan berubah, tidak lagi hanya berisi kesedihan, tetapi sesuatu yang mulai tumbuh diam-diam.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, terlalu biasa hingga terasa janggal. Justru dari situlah keyakinan Kemuning semakin kuat bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil, jam berapa Aditya pergi, kapan ia pulang, berapa lama ia mengunci diri di kamar mandi sambil membawa ponsel, dan dengan siapa ia berbicara saat menelepon. Ia tidak lagi bertanya, tidak menuntut, hanya melihat, menyimpan semua itu di dalam ingatannya.

Suatu malam, Aditya tertidur lebih cepat dari biasanya. Ponselnya tergeletak di samping bantal dengan layar yang masih menyala redup. 

Kemuning yang duduk di sisi tempat tidur melirik pelan. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat, tangannya terasa dingin. Ada dorongan kuat untuk mengambil ponsel itu, tetapi rasa takut menahannya, takut dengan apa yang mungkin ia temukan. 

Napas Kemuning tertahan. Perlahan, sangat pelan, ia meraih ponsel itu. Tangannya gemetar. Ia melirik ke arah Aditya yang masih tertidur, lalu membuka layar. Matanya bergerak cepat menelusuri pesan dan riwayat panggilan. Namun, hampir semuanya kosong, seolah baru saja dibersihkan. Dadanya langsung terasa sesak.

 

“Kenapa dihapus…” bisik Kemuning pelan. Jari-jarinya terus bergerak, mencari sesuatu. Hingga di sudut layar, ia melihat satu nama singkat, “L.” 

Kemuning terdiam. Ia menatap huruf itu lama. Tidak ada foto profil, tidak ada keterangan. Hanya satu huruf, tetapi entah kenapa membuat dadanya terasa sangat tidak enak. Ia membuka percakapan itu, kosong. Tidak ada satupun pesan, seolah baru saja dihapus. Jantungnya berdegup semakin cepat, tangannya semakin gemetar.

Tiba-tiba, suara dingin memecah keheningan. “Ngapain?” 

DEG! 

Kemuning tersentak keras, ponsel itu hampir terjatuh dari tangannya. Ia menoleh cepat. Aditya sudah membuka mata, menatapnya tajam.

1
Aditya hp/ bunda Lia
Kemuning .. 👍👍👍
Aditya hp/ bunda Lia
LV pasti si Lavanya
Ita rahmawati
tuh Adit wanita yg kmu cintai sampe kamu rela mengkhianati kemuning wanita yg sudah memberikan segalanya utkmu ternyata aslinya tuh udh terbukti dn kmu liat sendirikan kamu ditinggalin saat GK punya apa2 dan dia malah milih jd LC kyk gtu 😏😏
rasain kmu Aditya 🤣
mimief
WKWKWK..lu ninggalin istri Soleha lu buat pel4cvr kaya dia🤣🤣
Ita rahmawati
apa aja gpp fit asal halal dn kmu berubah
Aidil Kenzie Zie
dari jalang berkedok pelakor akhirnya kembali ke jalang 🤣🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
lah si lavanya
Nanik Arifin
tuh kan akhirnya jd rendah pekerjaan & hidupnya, dlu suka ngeremehin & menganggap rendah orang sih... makanya hormati orang lain, biar pekerjaan & hidup kita berharga bagi orang lain
Kasih Bonda
next Thor semangat
Ummee
benar dugaan ku, memang lavanya...
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus
Yuningsih Nining
sukuri penting halal jg paling nggak masih bs nghidupi km sendiri, mngkn masih bnyk orang² keliling nyari kerjaan
Lianty Itha Olivia
akhirnya hidupnya LV malah dijlnan kotor yg penuh dg abu2
ken darsihk
Woouuw pasti Aditya terkejut sangat terkejut , tak di sangka mereka bertemu lagi
ken darsihk
Aq kira Kemuning berhijab
ken darsihk
Hukum tabur tuai ada nyata nya Aditya , dan saat ini lo sedang mengalami
Sugiharti Rusli
entah apa yang akan terjadi saat si Lavanya bertemu kembali sama si Aditya, mantan bos nya yang dia porotin saat kaya dan ditinggal saat jatuh miskin,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya si Aditya memang akan bertemu si Lavanya yah, soalnya profesi apa lagi yang harus dilakukan selain modal tubuhnya buat bekerja di kota,,,
Sugiharti Rusli
memang dasar kamunya saja yang lupa diri saat itu terhadap Kemuning, sekarang pekerjaan yang tidak pernah kamu bayang kan harus kamu lakukan demi bertahan hidup,,,
Sugiharti Rusli
yah seperti itu yang namanya roda berputar Dit bagi kamu yang dulu berfoya-foya di atas penderitaan seorang istri yang setia dan bahkan memberikan modal usaha kamu,,,
Sugiharti Rusli
bukannya kalo di ibukota sekarang tranportasi umum seperti bus sudah mulai tertata yah, meski penuh tapi sekarang bagus lha pegangannya🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!