Kisah cinta yang terhalang dengan keegoisan orang tua. Namun kembali dipertemukan oleh takdir setelah semuanya berubah.
Cerita hanya fiktif belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pagi di desa Suka Warna, Terlihat Yoga melakukan patroli di area kebun karet dan sawit. Ada kejanggalan yang ia perhatikan saat melintasi kebun sawit Heru seluas 5 hektar.
"Bukankah ini seharusnya diwariskan kepada keluarga Pak Heru, mengapa sekarang hasilnya dipanen bebas oleh para agen?" Tanya Yoga kepada Bayu sebagai warga setempat yang sangat paham area kebun. Ia terpilih sebagai pendamping Yoga saat melakukan patroli ke area-area kebun dan sawah.
"Sebenarnya itu adalah hak Wita dan Mila Mas, tapi...?"
"Tapi apa?" Tanya Yoga penasaran.
"Saya enggak berani Mas!" ucap ragu Bayu.
"Katakan saja, jangan takut."
"Anu Mas...Hem...Mantan menantu alm Pak Heru itu si Reno ada kerja sama dengan para agen. Agen sejenis Mafia-mafia begitulah Mas! Reno memang sangat licik. Tidak tau kenapa Wita dan Mila membiarkan Reno menguasai semudah itu hasil kebun Bapaknya. Mereka hanya mendapatkan sedikit sekali bahkan sekarang ini hampir tidak ada. Alasan para agen, panen sawit tidak pernah mencukupi dan hasilnya untuk perawatan sawit."
"Oh Iyah, lalu kenapa kepala desa di sini diam saja?"
"Warga banyak yang tidak perduli karena dulu merasa sakit hati dengan almarhum yang dulu suka memotong gaji bahkan ada yang tidak diberi upah. Mas Yoga kan mengalaminya sendiri," ucap Bayu.
"Begitu yah. Tapi, itu sudah masa lalu, aku sudah memaafkan Almarhum. Perbuatan Reno tidak bisa dibiarkan!" Yoga terlihat sangat geram.
"Yah, itulah menentu yang dulu di banggakan Pak Heru. Sekarang putrinya sengsara. Reno benar-benar bajingan dan suka main perempuan. Mungkin selain mereka janda dan tidak ada satupun keluarga dan warga yang berpihak kepada Wita dan Mila jadi Reno semena-mena. Pak Heru juga tidak memiliki anak lelaki yang bisa mempertahankan semua asetnya."
Yoga menepikan mobil jeep nya dan nekat mendatangi para agen yang sedang memetik hasil panen sawit kebun Heru dengan wajah-wajah ceria.
"Mas! Kita mau ngapain kesini" tegur Bayu tampak ketakutan tidak ingin cari masalah dengan para Agen yang notabene adalah preman-preman bertubuh besar.
"Kamu tenang saja?" ucap Yoga tidak memiliki rasa takut sedikitpun.
Begitu para agen melihat mobil Jeep baru Yoga. Seketika semua pandangan mereka tertuju kepada Yoga.
"Tapi Mas!" Tampak wajah Bayu terlihat pucat pasi.
"Tenang saja!" ucap santai Yoga segera turun dari mobil.
"Siapa dia, siapa dia!" Bisik-bisik mereka saling memandang satu sama lain. Diantara mereka kebetulan ada yang mengenal Yoga dan Bayu.
"Mas Yoga!" panggil ramah mereka sambil melambaikan tangan.
"Sejak kapan kalian bekerja disini?" tanya Yoga langsung menghampiri truk-truk mereka.
"Hahahaha, sudah lama Bos!" sapa tawa dan santai mereka tanpa rasa bersalah.
"Dimana Big Bos kalian?" Tanya santai Yoga.
Semua terdiam tak satupun menjawab.
Yoga menunjukkan identitas kartu dirinya sebagai salah satu developer pemerintahan dari kementerian pertanian.
"Dimana surat izin hak kalian dalam panen hasil skala besar, karena semua lahan di desa ini harus memiliki izin pemiliknya?" ucap tegas Yoga.
"Kalau minta surat izin, jangan sama kita lah Bos, kita ini hanya karyawan!" seru mereka dengan tubuh-tubuh besar berotot.
"Jika kalian tidak bisa menunjukkan surat izin kepemilikan sah atas kebun ini. Maka hasil panen kalian dianggap ilegal!" ucap tegas Yoga membuat mereka terdiam.
"Hehehe. Soal itu akan kami sampaikan kepada atasan kami Bos, santai saja," ucap mereka sebagain yang lain terlihat emosi dengan Yoga.
"Baiklah saya tunggu beberapa hari ini" ucap Yoga.
"Mas, sebaiknya kita pergi saja!" bisik Bayu tak ingin melihat mata marah mereka menatap dirinya.
Akhirnya Yoga dan Bayu meninggalkan kediaman kebun Heru.
*
"Andai saja Yoga tidak berdiri disampingnya, sudah aku tebas batang leher si Bayu itu, pasti dia yang sudah memberitahu soal kebun ini!"
Tampak yang lain sudah bersiap melemparkan celurit ke arah Yoga dan Bayu.
"Tahan!" ucap pimpinan mereka.
"Memangnya siapa si Yoga itu, Bos, sombong sekali dia? Jika dikasih izin saya siap menghabisinya sekarang."
"Jangan, dia bukan orang desa sembarangan. Kalau tidak salah. Yoga merupakan investor sekalian developer yang ditugaskan oleh negara juga beberapa perusahaan swasta untuk mengembangkan pangan dan lahan kebun di desa ini. Sistem kerja mereka dikawal ketat oleh para TNI dan kepolisian juga. kita tidak bisa ceroboh!"
"Wah! Bagaimana ini," tanya mereka mulai ketar-ketir.
"Si Bayu harus dikasih pelajaran!" ancam mereka.
*
Setelah memandikan Alika, gadis kecil itu pamit kepada Wita untuk pergi bermain ke rumah Budenya.
"Hati-hati yah, jangan bertengkar dengan yang lain?" pesan Wita.
"Iyah Mah!" Jawab comel Alika langsung mengayuh sepedanya.
Wita lanjut menghidangkan sarapan kepada Wirda yang tengah duduk lesu di meja makan.
Sudah dua hari berturut-turut. Teman pengajian Wirda datang berkunjung ke rumahnya. Tetapi Wirda dan Wita kompak tidak ingin memberitahu penyakit yang sebenarnya kepada teman dan warga desa. Wanita paru baya itu hanya menyebutkan jika ia sedang mengidap penyakit sakit lambung.
"Bu!" panggil lembut Wita.
"Iyah!"
"Gimana kalau kita pindah saja dari desa ini, Bu!"
"Kenapa?" tanya lembut Wirda.
"Wita merasa tidak bisa usaha di desa ini Bu, setiap usaha yang Wita kerjakan selalu saja ada orang-orang yang menghalanginya."
"Wita Putriku, sabarlah Nak, pindah bukan solusi yang terbaik! Adikmu Mila sedang berjuang di Jakarta. Kenapa kamu tidak bisa bertahan sejenak?"
"Justru itu Bu, sampai kapan kita bertahan seperti ini? Wita enggak tega liat Mila bekerja sendiri. Seluruh gajinya sudah ia transfer untuk kita! Kasihan Mila Bu!"
"Alika juga akan segera masuk sekolah, enggak mungkinkan Mila terus-terusan membiayai hidup kita?" ucap sedih Wita.
Wirda tampak diam berusaha menghabiskan makanannya sedikit demi sedikit.
"Nanti ibu pikirkan lagi?" Wirda berusaha bangkit, dengan sigap Wita memapah ibunya ke dalam kamar dan memberikan obat penawar kanker.
Saat Wita membaringkan ibunya, reflek Wirda memegang lembut tangan putri sulungnya itu.
"Walaupun kita tidak tau sampai kapan Nak, jangan kamu terlalu pikirkan, jalani saja hidup ini?" Pesan Wirda dengan tatapan penuh kasih sayang.
Wita mengangguk setuju dengan ucapan ibunya.
"Wita ke belakang dulu yah Bu?"
"Iyah!"
Wirda mulai membaringkan tubuh lemahnya menatap langit-langit kamar yang telah usang. Sebuah tatapan dua bola mata yang jauh dari seorang ibu yang sedang memikirkan banyak hal. Lidahnya tidak pernah berhenti dari Dzikir. Ia terus berdoa kepada Tuhannya agar kehidupan anak-anaknya mendapatkan kebahagiaan dan perlindungan dari orang-orang yang keji.
Sementara Wita melanjutkan pekerjaannya dengan membersihkan kandang ayam, memberi makan dan minum ayam. Lalu mengumpulkan telur-telur ayam yang akan di jual ke pasar.
Wita lanjut menyiram kebun kecilnya yang ditanami sayuran dan ubi-ubian.
Setelah merasa lelah, ia terduduk lesu. Wita merasa sangat kesulitan selama hampir dua tahun hidup menjanda. Pernikahannya bersama Reno juga tidak pernah memberikan kebahagiaan lahir dan batin.
Dalam ingatan sedih Wita.
***
Flash Back.
"Mas ini foto siapa?"
Reno diam tidak perduli.
"Kamu tidur lagi dengan wanita lain?" tebak pasti Wita dengan linangan airmata.
"Tega kamu mas...hiks...hiks...?" Wita melempar ponselnya kepada Reno setelah mendapatkan kiriman gambar Reno yang sedang tidur dengan perempuan lain di sebuah hotel mewah. Foto yang sudah sekian kalinya Wita terima dari nomor tidak dikenal.
Reno bangkit lalu mencengkram kedua pipi Wita.
"Karena kau sebagai istri tidak pernah bisa memuaskan aku diatas ranjang!" Jawab tegas Reno.
***
"Bruk!" Tiba-tiba terdengar suara jatuhan dari arah kamar Wirda.
"Ibu!" ucap terkejut Wita buru-buru mengusap airmatanya
*
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman muslim semuanya. Terima kasih atas dukungannya dan selalu setia menunggu episode-episode selanjutnya.
Author minta maaf karena tidak bisa update setiap hari🙏
trimakasih banyak kaaaaa🙏🙏🙏🙏 akhir'y pecah telor
bikin karya baru yoook
Doa Bu Wirda tembus ke langit sehingga anak² beliau bisa mendapatkan kebahagiaan,,,
Very cepat datang dong tolong bos Bagas jangan sampai terlambat,,,
Mila jangan keluar nurut apa kata Bagas tetap di dalam mobil saja
Emang paling susah ngurusin anak mertua di lawan takut dosa, sudah bawel ya apalagi monster biawak😂😂😂