Yusuf adalah seorang pemuda desa yang pintar,sopan dan baik hati. suatu hari dia mendapatkan beasiswa universitas di kota. Ibu dan ayahnya sangat senang, akan tetapi di samping kebahagiaan nya, tersimpan sebuah misteri tentang dirinya.
saat dia menanyakan hal itu, mereka hanya mengetahui bahwa ia adalah anak kecil yang ditemukan di sungai. "siapa sebenarnya aku? dan kenapa aku tak ingat sama sekali?" perjalanan nya pun dimulai.
namun saat tiba di kota, ia menemukan banyak sekali rintangan dan halangan dari beberapa orang yang merendahkannya. apakah Yusuf, seorang pemuda desa dapat bertahan dari semua ini dan menemukan kebahagiaan yang ia cari?
simak terus kisah Yusuf mencari keberadaan orang tua nya dan jati dirinya yang sebenarnya.
kritik dan saran sangat membantu untuk saya. terimakasih 😆
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfa 2015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
acara dadakan
Mereka berdua pun masuk ke ruangan khusus acara. Begitu masuk, suara alunan musik yang mengiringi suasana, terdengar keras dan sudah banyak orang yang sudah hadir pada acara tersebut.
Yusuf mencari keberadaan adik adik nya dan Pak Sebas. Saat tengah mencari, tiba tiba ada yang merangkul pundak nya.
“Wow...bukan nya ini si Jenius yang baru keluar dari penjara... masih punya muka rupanya... Hei kawan...lihat siapa yang datang” ucap orang itu dengan lantang, membuat semua pandangan tertuju kearah nya.
“Eh, kenapa dia ada di sini sih, bisa bisa barang kita dicuri oleh nya” desis orang orang sambil melirik Yusuf.
“Bukan nya wajar ya... dia kan teman nya Ramzy, jadi dia bisa masuk ke sini” desis mereka lagi, yang sudah mengenal nya. Semua orang pun merendahkan nya.
“Hei, sudah sudah... kalian ini sedang apa ? kamu juga... pergi sana, atau kamu mau keluar dari kafe ini” ucap seseorang yang datang menghampiri mereka.
“Bukan nya kamu tadi bilang, tidak ingin datang...sekarang kenapa...?” tanya Ramzy, yang seketika mata nya tertuju kearah Sabrina yang berada di samping nya.
“Oh... seperti nya ada yang sudah berbaikan rupa nya” sahut nya lagi, sambil terkikik melihat mereka berdua.
“Selamat ya, untuk kemajuan kafe mu ini... semoga tetap laris kedepan nya” ucap Sabrina memberikan selamat kepada Ramzy.
“Ya, aku juga ingin minta maaf karena terlambat datang” sambung Yusuf.
“Tenang saja, santai... aku malah senang kalian sudah mau datang ke acara ku ini... sebenarnya ini juga dadakan, karena beberapa minggu lagi, kita harus menghadapi ujian kelulusan” jelas Ramzy, sambil tersenyum kepada mereka berdua.
“Sedang apa kamu berdiri di sana, pergi sana.. kepo banget jadi orang” ketus nya kepada orang yang berada di antara mereka. orang itu pun akhirnya pergi meninggalkan mereka.
“Oh iya, barusan aku mendapat tamu penting... mari aku perkenalkan kalian kepada mereka” ajak Ramzy sambil menuntun jalan nya dan mereka berdua membututi nya dari belakang.
“Permisi tuan muda dan nona muda.. saya ingin memperkenalkan kedua teman saya kepada anda sekalian” sahut Ramzy, dengan hormat kepada tamu nya itu.
“Eh jadi ini teman kakak... siapa nama nya, kalau boleh tahu ?” tanya seorang nona muda yang tak lain adalah Cahaya, sambil duduk dengan santai dan menikmati secangkir coklat panas yang dipegang nya.
“Hallo... nama saya Yusuf..” ucap Yusuf yang belum selesai, tapi dihentikan oleh nya dengan satu jari.
“Kalau kamu ?” tanya Cahaya sambil menunjuk ke arah Sabrina.
“Nama saya, Sabrina Oktaviani Putri Sanjaya” jawab Sabrina dengan ramah..
“Sebenarnya ini adik siapa sih.... sejak kapan dia seperti ini” batin Yusuf sambil terus tersenyum.
“hehehe...rasain tuh...lagian, salah aa sendiri, diam diam membawa wanita tanpa sepengetahuanku” batin Cahaya sambil menghabiskan coklat nya.
“Kalian sudah berapa lama pacaran ?” tanya Cahaya dengan serius.
“Eh... anda salah paham, kami tidak pacaran kok” ucap Sabrina yang kemudian melirik ke arah Yusuf.
“Benar apa yang dikatakan oleh nya, kami tidak pacaran, hanya sebatas teman saja” sahut Yusuf sambil tersenyum kepada nya.
“Oh, aku juga berpikir seperti itu, lagian... kakak ini sangat cantik, jadi.. tidak cocok dengan kakak di samping nya, dari pakaian nya saja, sudah seperti anak sekolah.. nanti kakak juga harus hati hati dalam memilih pria, terkadang mereka suka mengadalkan harta dan ketampanan mereka saja” jelas Cahaya yang secara tak langsung, kata kata nya menyindir Yusuf, karena dia juga merupakan penerus terkaya di dunia dan juga tampan.
“Terimakasih atas saran nya” balas Sabrina sambil tersenyum kearah nya.
“Terimakasih juga atas kritikan nya... semoga nona muda panjang umur” sambung Yusuf sambil tersenyum sinis ke arah nya, membuat Cahaya berdelik ketakutan melihat nya.
“Nah, biar aku yang memperkenalkan kepada kalian...mereka ini adalah cucu dari presedir terkaya di dunia, ini adalah Nona Muda Cahaya...” ucap Ramzy, sambil menunjuk ke arah nya.
“Dan satu nya lagi, adalah Tuan Muda Zahran..” lanjut nya sambil menunjuk seseorang yang duduk di samping Cahaya.
“Halo, kak... salam kenal” sahut Zahran sambil melambaikan satu telapak tangan kearah mereka..
“Lalu ini adalah...” sambung Ramzy yang menunjuk seseorang yang berdiri di samping kursi Cahaya.
“Perkenalkan.. nama saya Sebas, kalian boleh memanggil saya Pak Sebas, saya adalah salah satu pelayan mereka” sahut Pak Sebas dengan sopan memperkenalkan diri.
“Saya sebelumnya pernah mendengar dan melihat pak presedir di televisi, ternyata beliau mempunyai cucu yang sangat cantik dan tampan ya” ucap Sabrina memuji mereka berdua.
“Terimakasih pujian nya” balas Cahaya datar.
“Hahaha.. iya sama sama... kalau begitu, kami permisi dulu ya” sahut Sabrina canggung, lalu ia pun menarik tangan Yusuf.
“Kamu kenapa ?” tanya Yusuf penasaran, ketika mereka sudah menjauh dari tempat nya.
“Tidak apa apa... hanya tidak suka dengan sikap nya itu” jawab Sabrina dengan kesal..
“Kamu aja kesal... apalagi aku..” gumam nya yang hampir terdengar oleh Sabrina.
“Kamu ngomong apa ?” tanya Sabrina penasaran.
“Tidak ada....kalau begitu, kita temui yang lain nya” sahut Yusuf sambil mengajak nya berkeliling.
Mereka pun bertemu dengan Rizki, Ismail dan Faisal, yang sedang duduk di sofa panjang sambil menimati minuman dan makanan yang disediakan di meja mereka. Yusuf dan Sabrina ikut bergabung dengan mereka.
*****
Pukul 8 malam, acara masih berlanjut.
“Tes, tes... hallo kawan kawan... sebelumnya terimakasih sudah mau datang ke sini, dalam acara ulang tahun kafe kami, yang sudah berdiri selama dua puluh empat tahun, dan saya minta maaf atas acara yang bersifat dadakan ini... jadi, saya hanya bisa mengundang beberapa orang saja yang bisa hadir... alasan nya, karena sebentar lagi kita akan menghadapi ujian kelulusan... saya berharap acara ini, menjadi sebuah kenangan terindah untuk kita sebelum kita berpisah setelah lulus nanti....baiklah, untuk mempersingkat waktu... saya ingin menantang diantara kalian yang mempunyai suara bagus, silahkan maju ke depan... nanti kalau bagus dan mendapat banyak tepuk tangan... dialah yang menjadi pemenang nya, nanti akan dikerjakan di sini ... kalau soal bayaran, tenang saja.. gajinya minimal tiga belas juta per bulan... kalau ada yang lebih, nanti kita bicarakan... ayo siapa yang ingin
maju” jelas Ramzy di atas panggung, dia pun menunggu peserta yang ingin naik ke atas panggung.
“Siapa tuh... yang mau maju, kamu saja”desis orang orang yang ragu ragu ingin maju. “Tapi bayaran nya lumayan lho” desis mereka lagi. Akhirnya mereka pun mencoba untuk maju secara bergantian. Seketika suasana menjadi ramai dan ricuh, karena bukan nya bernyanyi, malah seperti sedang melawak di atas panggung.
“Aduh kenapa tidak ada yang bisa sih... kafe macam apa ini? Rasanya aku ingin segera pulang.... lebih baik dengar burung kakak tua bernyanyi daripada mendengar suara kambing ternak seperti kalian ini” kesal Cahaya dengan lantang.
“Kalau begitu, saya meminta maaf, karena mengganggu kenyamanan nona” sahut Ramzy dengan sopan, dia merasa tidak nyaman dengan amarah nya, karena dia merupakan cucu presedir dan merupakan kesempatan bagus untuk menjalin hubungan dengan nya.
“Apa nona ada saran... atau nona mau mencoba nya ?” tanya Ramzy yang terlihat gugup.
“Huh.... aku tidak ingin naik ke atas situ... tapi aku ingin menunjuk seseorang, apa boleh ?” tanya Cahaya meminta izin.
“Boleh.. nona, tentu saja... siapa yang ingin nona tunjuk ?” tanya balik Ramzy.
Kemudian, Cahaya pun mencari seseorang...
“Hei, kakak cowok yang ada di sana...yang tadi nama nya Yusuf, cepat naik ke atas panggung... kalau kakak tidak bisa bernyanyi lebih baik, tidak perlu berteman lagi dengan Kak Sabrina” teriak Cahaya sambil melambaikan tangan kearah kakak nya yang tidak jauh dari nya.
“Dasar adik yang kurang ajar” gumam nya.
“Yusuf, kamu tidak apa apa ?” tanya Sabrina yang khawatir padanya.
“Tidak apa apa... baiklah seperti katanya, kalau memang aku tidak bisa bernyanyi, maka kita akhiri saja pertemanan kita... bukan nya aku membencimu atau bagaimana... hanya saja, aku masih merasa bersalah terhadapmu... tapi, kalau aku bisa mendapat tepuk tangan mu dan semua orang, maka... penuhi satu permintaanku” jelas Yusuf sambil merapihkan baju nya.
“Yusuf... apa kamu benar benar ingin memutuskan hubungan ini ?” tanya Sabrina yang takut.
“Hei, belum juga mulai... bukan nya tadi kamu juga bilang, bahwa kalau ingin menghadapi masalah harus siap dengan apapun.. dan kamu bilang, kalau kamu percaya dengan ku” ucap Yusuf menyinggungkan senyum manis kearah nya.
“Perlu bantuan ?” tanya Faisal menawarkan bantuan kepada nya.
“Kalau bisa... aku butuh gitaris...” sahut Yusuf.
“Siap... tidak masalah kawan.. serahkan kepadaku” balas Faisal dengan antusias.
“Ngapain juga dia yang maju....aku ingin pulang, ah” desis desis orang orang yang tidak menyukai nya.
Yusuf dan Faisal pun sudah berada di atas panggung. Yusuf memegang biola, sedangkan Faisal memegang gitar.
Bersambung....
Sambil nunggu cerita selanjutnya, yuk like & comment agar penulis semangat bikin ceritanya.
pertama aja yg bagus,,kesini malah kayak begini..
MC goblog!!!tolol dipelihara,,kambing pelihara biar laku dijual!!!