Di masa depan, ketika perang telah membakar Bumi hingga tak tersisa lagi kehidupan, Rudy adalah seorang jenderal perang, pemegang kendali tertinggi kecerdasan buatan dan armada pemusnah umat manusia. Ia menang dalam perang terakhir, namun kehilangan segalanya.
Sebuah insiden ruang-waktu menyeret Rudy ribuan tahun ke masa lalu, ke era ketika dunia belum mengenal teknologi dan keadilan, ia membawa kekuatan yang cukup untuk menaklukkan segalanya, namun ia memilih jalan lain.
Tanpa merebut tahta, Rudy menantang tirani, melindungi yang lemah, dan membentuk dunia agar tak mengulangi kehancuran yang pernah ia lihat. Di tengah konflik dan kekuasaan, ia menemukan cinta, hidup sebagai manusia, lalu menghilang bersama waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adam Erlangga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Beberapa saat kemudian, terlihat Rachel memakan sebuah roti dengan perlahan sambil duduk di depan sisa-sisa api unggun.
Ia masih sedih, jiwanya rapuh, dan sekarang menjadi seorang bocah yang menginginkan perlindungan.
Rudy pun datang menghampirinya sambil membawa beberapa makanan.
"Aku tidak punya banyak bahan makanan tersisa, hanya ini yang aku miliki sekarang." sahutnya sambil memberikan sepotong roti lagi kepada Rachel.
Tapi Rachel hanya melihatnya saja,
"Hm, Ambil ini." sahut Rudy sambil menaruh rotinya di atas tangan Rachel.
"Sepotong roti tidak akan membuat mu kenyang." kata Rudy sambil berjongkok di depan api unggun.
Ia meletakkan panci kecil di atas api unggun untuk menghangatkan air. Lalu Rachel melihatnya sambil memakan roti dengan perlahan.
"Apa kau memakan ini setiap hari.?" tanya Rachel
"Tergantung, memang masih ada persediaan makanan, tapi untuk sekarang, roti adalah prioritas utama, karena makanan itu bisa kadaluarsa dan menumbuhkan jamur kalau tidak segera di makan." jawab Rudy sambil menyalakan api.
"Apa kau butuh makanan.? aku bisa memberikan makanan untukmu."
"Hm." sahut Rudy sambil melihat Rachel.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku, aku bisa bertahan hidup dengan cara ku sendiri."
"Siapa yang mengkhawatirkan mu.?" sahut Rachel dengan spontan.
"Ehm, oke. Jadi, apa kau masih ingin melepaskan cincinnya.? Aku beri tahu, cincin itu bisa menyelamatkan mu. Dalam kondisi apapun, dan dalam keadaan darurat apapun, kau bisa selamat."
Rachel pun melihat cincin itu.
"Apa cincin ini memiliki kekuatan Magis.? apa kau seorang Penyihir.?"
"Huh." Rudy tersenyum. "Cincin itu lebih sakti dari seorang Penyihir. Dia bisa mendeteksi seluruh saraf yang ada di seluruh tubuhmu, memberitahuku keadaanmu, dan mendeteksi bahaya yang ada di sekitar mu."
"Memberitahumu.? jadi aku bisa memberitahu di manapun aku berada.?" sahut Rachel
"Betul sekali."
"Bagaimana caranya.? apa aku hanya perlu berteriak di depan cincin ini.?"
Rudy pun tersenyum. "Melihatmu sekarang, sepertinya kau bukan orang bodoh."
"Jaga bicaramu."
"Baik Yang Mulia."
"Hmm, aku serius, bagaimana caranya.?" tanya Rachel.
Eudy pun menunjuk Earphones nya yang terpasang di telinganya. "Aku bisa mendengarmu dari benda ini."
"Hm? apa itu semacam telepati.?"
"Tidak, benda ini lebih realistis. Ini adalah alat komunikasi yang nyata, ketika kau berbicara, aku bisa langsung mendengar suaramu seperti saat ini. Bisa di katakan, itu adalah alat komunikasi jarak jauh."
"Sehebat itukah.?" sahut Rachel terkagum-kagum.
"Tentu, tapi kalau kau terkena masalah karena ada cincin di jarimu, kau bisa memakai sarung tangan untuk menutupi nya." kata Rudy.
"Lalu, bagaimana caranya aku bisa mendengar suaramu.?"
Rudy pun mendekat, lalu memberikan satu Earphones padanya.
"Dengan alat ini, kau bisa mendengarku."
"Bagaimana cara pakainya.?"
"Biar aku bantu."
Disini terlihat moment romantis bagi Rachel, Rudy membelai rambutnya, itu terasa geli bagi Rachel. Ia melirik dan melihat Rudy secara diam-diam. Dan Earphones pun terpasang.
"Sekarang kita coba."
Tit. "Rachel, kau bisa mendengarnya.?"
"Hah? ini sedikit geli. Ya, aku bisa mendengar suaramu dari benda ini."
"Oke, sekarang aku akan mengajarimu, bagaimana kau bisa menghubungi ku."
Rudy pun memegang tangan Rachel, dan sekali lagi, itu membuat jantungnya berdetak. Ia melihat mata mata Rudy, wajahnya sedikit memerah, dan ia tidak memberontak.
"Lihat ini, ada 3 lampu bercahaya. Itu adalah tombol sensor. Kau cukup letakan jarimu seperti ini. Sensor akan mendeteksi kepemilikan dan langsung bisa terhubung denganku."
Rudy pun menarik tangan kirinya dan ujung jari di letakkan di atas cincin. Itu adalah moment paling romantis yang di rasakan oleh Rachel seumur hidup.
Tit.
"Lihat warna cahayanya. Kalau dia mengeluarkan warna hijau, artinya aku bisa mendengarmu. Dan kau harus menyentuhnya lagi untuk merubah warnanya menjadi merah, artinya komunikasi terputus dan aku tidak bisa mendengarmu lagi."
"Satu-satunya cara untuk mengaktifkan mode ini, kau harus memakai jari telunjuk mu, jari lainnya tidak bisa terdeteksi. Dan cincin ini juga bisa melihat kondisi tubuhmu, saat kau tertidur dan tidak sengaja menyentuhnya, mode komunikasi tidak di terima, jadi kau tenang saja."
"Sampai disini, apa kau paham.?" tanya Rudy.
"Uhm." sahut Rachel sambil menganggukkan kepalanya.
Rudy pun berdiri, dan mata Rachel mengikuti. Seolah-olah ia tidak ingin berpaling dari wajah Rudy.
"Apa yang kau lihat." sahut Rudy.
"Ah, itu, tidak ada." sahutnya salah tingkah.
"Oke, sekarang. aku perkenalkan. Axoim."
WOSH. Robot canggih mendarat di depan Rudy.
"Apa itu.?"
"Ini adalah Robot yang akan melindungi mu, namanya Axiom 01. Dia akan datang kalau situasimu berbahaya. Aku hanya memberikan perintah pelindungan, bukan penyerangan. jadi, tugas Axiom adalah melindungi mu saja, dia bisa secara otomatis memberikan penyerangan kalau situasinya berbeda. Seperti saat kau di bunuh secara diam-diam, orang itu akan otomatis di bunuh oleh Axoim."
"Axiom menyerang dengan mode otomatis, jadi kau tidak bisa memberikan perintah padanya untuk menyerang aku menyuruh untuk membunuh orang lain. Dalam keadaan darurat, kau menghubungi untuk memberikan perintah kepada Axiom."
"Uhm, aku mengerti." sahut Rachel tersenyum.
"Jadi, kau tidak perlu takut lagi untuk di bunuh. Aku pastikan, kau akan aman selama cincin itu menempel di jarimu."
Rachel pin memegang cincinnya dengan telapak tangannya.
"Terimakasih, sudah membantuku sejauh ini."
"Hm, ini hanya bantuan kecil, itu pun ada batasnya. Yang penting kau aman, itu sudah cukup bagiku."
Kata-kata itu terus teringat oleh Rachel. "yang penting kau aman, itu sudah cukup bagiku."
Rachel pun menarik nafas panjang.
"Oke aku mengerti."
"Baiklah, sekarang kau bisa kembali." kata Rudy sambil menuangkan air panas kedalam gelas berisi kopi.
"Apa kau mengusirku.?"
"Hm, kau itu Kaisar, kau punya tugas mengurus satu negara, kalau kau tidak ada, siapa yang akan memberikan keputusan saat terjadi masalah.?"
"Aku tau, tapi aku seperti boneka politik saja, semua urusan negara di urus oleh perdana Menteri dan urusan militer di urus oleh seorang Duke."
"Haish, pantas saja kau akan mati tahun depan kalau begini caranya."
"Mati.?"
"Aku berikan sedikit saran sebagai seorang pemimpin. Semua masalah negara, kau harus tau. Kalau kau tidak tau, dan tiba-tiba masalah terjadi, kau harus memberikan hukuman untuk pejabat yang bertanggung jawab. Kalau kau tidak bisa mengendalikan istana, tinggal menunggu saja waktu kematianmu. ingat itu baik-baik. Sekarang kembalilah."
"Ah, jadi begitu cara menjadi kaisar.?"
"Haduh, tenanglah Rudy, tenanglah, ini tahun 220, tenanglah." Kata Rudy pada dirinya sendiri.
"Ehm? apa maksudmu.?"
"Tidak ada, sekarang kau harus kembali, percayalah. Tempat ini sangat rahasia, dan hanya kau saja yang tau tentang keberadaanku. Kau bisa kembali kesini kapanpun kau mau." Kata Rudy.
Ia menarik tangan Rachel dan menyuruhnya untuk kembali ke istana.
"Eh, aku masih ingin disini."
"Tidak, kau harus kembali saat ini, Urus negaramu sekarang, atau keadaan semakin parah."
"Separah itukah.?"
"Iya, cepat kembali ke istana."
Rachel pun berjalan menjauh dari sana dengan terpaksa, ia juga sering menoleh ke belakang dan melihat Rudy yang berdiri melihatnya.
Rachel pun tersenyum dan meninggalkan tempat itu.
....