NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

​Sepanjang hari itu, telinga Mori terasa panas. Lian benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Setiap kali mereka berpapasan di koridor, di kelas, bahkan saat Mori sedang mencuci tangan di wastafel depan, Lian akan lewat dan membisikkan kata maut itu: "Semangat belajarnya, Baby Girl."

​Alina yang duduk tidak jauh dari meja Mori berkali-kali mendecak kesal. Suara decakannya terdengar seperti ular yang siap menyembur racun. Ia membanting pulpennya ke meja, menatap punggung Mori dengan penuh kebencian. Bagi Alina, panggilan itu adalah penghinaan besar bagi statusnya sebagai "mantan terindah" Lian.

​"Lian, lo bisa berhenti nggak?" protes Mori saat jam pelajaran hampir berakhir.

​"Berhenti apa? Bernapas? Nggak bisa, Mor, entar gue mati," jawab Lian asal sambil memutar-mutar ponselnya.

​"Berhenti manggil gue pake sebutan aneh itu!"

​Lian hanya menaikkan alisnya, memberikan senyum miring yang paling menyebalkan sekaligus menawan. "Gue bakal berhenti kalau lo udah resmi jadi pacar gue. Pilih mana?"

​Mori mendengus dan membuang muka, tepat saat Pak Broto menutup bukunya.

​"Mori, tolong bantu Bapak. Ambilkan tumpukan kertas ujian susulan di meja Bapak di ruang guru. Sekarang ya, soalnya mau Bapak koreksi malam ini," perintah Pak Broto.

​Mori berdiri. "Baik, Pak."

​"Gue ikut," celetuk Lian tiba-tiba. Dia langsung berdiri tanpa menunggu izin dari siapa pun.

​"Lian, kamu duduk di sini. Bapak belum suruh kamu pulang!" tegur Pak Broto.

​"Aduh, Pak, kaki saya kram. Butuh jalan-jalan dikit biar lancar alirannya. Sekalian jagain Mori, siapa tahu kertasnya berat," alasan Lian terdengar sangat dibuat-buat, tapi dia sudah melesat keluar kelas mengekor di belakang Mori.

​Koridor menuju ruang guru sudah mulai sepi karena sebagian besar siswa sudah pulang atau berada di lapangan. Saat mereka sampai di ruang guru, ternyata suasananya sunyi senyap. Guru-guru lain sepertinya sedang ada rapat di aula atau sudah pulang duluan.

​Lampu di pojok ruangan guru hanya menyala separuh, menciptakan suasana remang yang canggung. Mori segera berjalan menuju meja Pak Broto yang berada di pojok ruangan, dekat jendela besar yang tertutup gorden.

​"Mana ya kertasnya... ah, ini dia," gumam Mori sambil mencoba mengangkat tumpukan kertas yang ternyata cukup tebal dan berat.

​Mori baru saja hendak berbalik saat tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan hangat. Dada bidang Lian.

​Lian tidak mundur. Dia justru meletakkan kedua tangannya di atas meja, di sisi kiri dan kanan tubuh Mori, mengunci gadis itu di pojok ruangan. Visual Gabriel Guevara-nya terlihat sangat intens di bawah cahaya lampu yang minim.

​"Lian, minggir. Gue mau bawa ini ke kelas," suara Mori mulai bergetar.

​"Kertasnya bisa nunggu, Mor. Tapi gue nggak bisa," bisik Lian. Suaranya rendah dan dalam, bergema di ruangan yang sunyi itu.

​Lian mencondongkan tubuhnya ke depan. Mori terpaksa bersandar pada meja, tangannya masih memeluk tumpukan kertas itu sebagai tameng. Namun, jarak mereka semakin terkikis. Mori bisa merasakan deru napas Lian di kulit wajahnya. Aroma parfum Lian yang bercampur dengan sedikit aroma keringat setelah latihan basket tadi benar-benar memabukkan.

​Wajah Lian semakin dekat. Mata gelapnya menatap lurus ke bibir Mori, lalu kembali ke mata Mori. Suasana menjadi sangat panas. Mori memejamkan matanya, jantungnya berdegup sangat kencang sampai ia merasa Lian pasti bisa mendengarnya.

​"Mori? Kamu butuh bantuan nggak?"

​Suara itu datang dari arah pintu yang terbuka sedikit. Agnes, teman sekelas mereka yang terkenal rajin namun polos, melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia berniat menyusul karena mengira Mori kesulitan membawa kertas yang banyak.

​"Tadi Pak Broto bilang kalau kertasnya—"

​Langkah Agnes terhenti seketika. Matanya membulat sempurna saat melihat pemandangan di pojok ruangan. Dia melihat Lian yang sedang menempelkan tubuhnya pada Mori, dengan posisi wajah yang tinggal beberapa senti lagi untuk bersentuhan.

​Lian perlahan menoleh ke arah Agnes tanpa melepaskan tangannya dari meja, sementara Mori langsung mendorong dada Lian dengan sisa tenaganya sampai tumpukan kertas itu nyaris jatuh.

​"A-Agnes! Ini... ini nggak kayak yang lo liat!" seru Mori dengan wajah yang sudah berubah warna menjadi merah tua.

​Agnes berdiri mematung, tangannya menutupi mulut. "Eh... maaf! Duh, gue nggak tau kalian lagi... lagi... aduh!"

​Wajah Agnes ikut memerah. Dia benar-benar salah tingkah. Dia tidak tahu harus masuk atau lari keluar. "Tadi gue cuma mau bantu... tapi kayaknya Mori udah 'dibantu' sama Lian ya? Maaf, gue keluar dulu! Lanjutin aja!"

​"Agnes, tunggu!" teriak Mori, tapi Agnes sudah berbalik dan lari terbirit-birit keluar ruang guru dengan langkah kaki yang tergesa-gesa.

​Lian justru tertawa kecil melihat kepanikan Agnes. Dia kembali menatap Mori yang sekarang sedang mengatur napasnya yang tidak beraturan.

​"Tuh kan, satu sekolah bakal makin yakin kalau lo itu emang punya gue," goda Lian sambil mengambil separuh tumpukan kertas dari tangan Mori.

​"Gara-gara lo, Agnes bakal mikir macem-macem!" Mori memukul bahu Lian kesal, meskipun dalam hatinya dia merasa sedikit lega sekaligus... kecewa?

​"Bagus dong. Biar Vano denger beritanya juga," Lian mengedipkan matanya, lalu berjalan mendahului Mori menuju pintu dengan gaya santai seolah tidak terjadi apa-apa.

​Mori berdiri diam sejenak di pojok ruangan itu, menyentuh dadanya yang masih berdebar kencang. Ia baru sadar, bahwa tadi di saat Lian mendekat, ia sama sekali tidak merasa ingin lari. Ia justru merasa... terpaku pada pesona sang red flag.

​"Bener-bener gila," gumam Mori sebelum akhirnya menyusul Lian dengan langkah kaki yang masih sedikit lemas.

​Ia tahu, setelah ini, berita tentang "insiden ruang guru" akan menyebar lebih cepat daripada api di musim kemarau, dan Alina pasti akan melakukan sesuatu yang jauh lebih gila lagi.

​!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!