NovelToon NovelToon
Kontrak Dua Minggu

Kontrak Dua Minggu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Wanita Karir
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.

Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Setelah Badai, dan Benih Pencarian.

Dini hari itu, bus ekonomi yang reyot membawa Marisa menjauh dari germelap Jakarta. Udara dingin di dalam bus dan kebisingan mesin menjadi kontras yang menyakitkan dengan ballroom mewah dan bisikan janji Dalend.

Marisa duduk di kursi paling belakang, memeluk tas ranselnya yang berisi uang tunai $50 juta (sisanya ia simpan di rekening bank kecil yang baru dibuka di Jakarta), dan yang lebih penting, cincin safir biru yang melingkar di jari manisnya.

Ia tidak tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, yang muncul adalah wajah Dalend-saat oa berlutut di panggung, saat air mata Dalend mengalir karena pengkhianatan Bima, dan saat ciuman putus asa itu menyegel janji mereka di jalanan.

"Kontrak Seumur Hidup."

Marisa tahu itu gila. Dalend adalah pewaris yang kini sedang berjuang untuk mempertahankan posisinya, dan ia adalah penipu yang baru saja dibongkar kebohongan terbesarnya di depan publik. Mereka tidak punya masa depan. Cincin safir biru itu adalah pengingat yang menyakitkan bahwa ia harus melupakan pria itu.

Saat matahari mulai terbit, Marisa mengeluarkan ponselnya. Ia menatap notifikasi bank. $100 juta  Cukup untuk membuka toko kecil yang selalu ia impikan. Misi berhasil. Fee diterima. Kontrak selesai.

Namun, ia merasa kosong. Kemenangan ini terasa hampa tanpa Dalend.

Marisa membuka aplikasi foto dan melihat puluhan foto pre-wedding yang sempat dikirim Dalend padanya sebelum pesta. Foto-foto itu menunjukkan mereka tertawa, berpelukan, dan berbagi pandangan mata yang penuh makna. Bukan akting.

Dengan tangan gemetar, Marisa menghapus semua foto itu, lalu mematikan ponselnya. Ia harus memotong semua ikatan. Kontrak sudah selesai. Anchor Dalend harus menghilang agar Dalend bisa berlayar kembali.

...

Setelah perjalanan panjang, Marisa akhirnya tiba di kota kelahirannya. Aroma tanah basah dan udara pedesaan langsung menyambutnya. Rasa lelah fisik itu tergantikan oleh ketenangan mental saat ia melangkah di jalan setapak menuju rumahnya.

Rumah kecil yang sederhana itu terasa seperti surga. Ia segera merapikan diri, lalu berjalan kaku ke rumah sakit. Di rumah sakit, ia berbicara dengan dokter. Berkat uang Dalend, ibunya akan segera dipindahkan ke ruang perawatan terbaik, dan operasinya bisa dijadwalkan secepat mungkin.

"Terima kasih, Nak. Ibu sangat bangga padamu," kata ibunya, air mata haru.

Kata-kata itu membuat Marisa merasa sedikit lebih ringan. Ia telah menunaikan janjinya pada ibunya. Semha drama di Jakarta, semua kebohongan dan sandiwara. Semua pengorbanan itu terbayarkan di saat ini.

Marisa menghabiskan dua hari berikutnya sepenuhnya untuk ibunya, mengurus administrasi, dan memastikan semua kebutuhan terpenuhi. Ia menanggalkan gaun mewah dan high heels, kembali mengenakan kaus dan celana kain berkolor. Ia kembali menjadi Marisa Sartika Asih yang sesungguhnya. 

Namun, ia tidak melepas cincin safir biru itu. Ia memutarnya di jari manisnya setiap kali ini merasa ragu. Ini adalah trofi keberanianmu, kenang Dalend.

...

Minggu berikutnya, setelah operasi ibunya berhasil dan kondisinya stabil, Marisa mulai membangun fondasi hidup barunya. Ia menyewa kios kecil di pasar, membeli peralatan sederhana, dan mulai merintis usaha katering kecil yang fokus pada masakan rumahan.

Ia menggunakan keahlian memasaknya-yang dulu ia latih di Kafe Bara-untuk membuat makanan lezat dan terjangkau.  Marisa bekerja keras, dari subuh hingga petang, membiarkan kelelahan fisik mengalihkan pikirannya dari Jakarta.

Setiap hari, ia berharap tidak ada panggilan, tidak ada pesan, tidak ada kabar dari Dalend. Setiap hari ia memeriksa berita daring. Berita tentang pesta pertunangan Angkasa Raya yang kacau itu menjadi viral.

Skandal Pewaris Angkasa Raya: Pertunangan Palsu demi kontrak Rp 100 juta.

Dalend Angkasarapu kehilangan Kepercayaan Ayahnya setelah skandal Penipuan CINTA.

Berita itu menyajikan kisah Dalend sebagai anak manja yang nekat membayar wanita untuk memberontak. Tuan Wijaya Angkasa mengadakan konferensi pers singkat, menyatakan bahwa pertunangan itu dibatalkan, dan Dalend akan menjalani hukuman untuk membuktikan dirinya. Nyonya Elvira menolak berkomentar, dan Bima dipuji sebagai penyelamat kehormatan keluarga.

Marisa merasa bersalah. Ia telah menghancurkan hidup Dalend, meskipun itu adalah satu-satunya cara untuk membebaskannya.

...

Sementara Marisa bekerja keras di Surabaya, di Jakarta, Dalend Angkasarapu sedang menghadapi badai uang sesungguhnya. 

Tuan Wijaya ayahnya, marah besar. Bukan hanya karena Dalend membayar wanita untuk pura-pura bertunangan, tetapi karena Dalend mengungkapkan kebenaran tentang 'sandiwara' di depan publik, menghancurkan reputasi keluarga dan hubungan bisnis dengan Tirtayasa.

Namun, Tuan Wijaya melihat satu hal: ketulusan di mata putranya saat ia membela Marisa.

Dalend diinterogasi selama berhari-hari di ruang kerja ayahnya.

"Kamu mempermalukan kami, Dalend!" teriak Nyonya Elvira. "Kamu mempertaruhkan bisnis kami demi seorang... penipu!"

"Dia bukan penipu, Ma!" Dalend membantah, suaranya parau karena kurang tidur. "Dia adalah wanita terhormat yang menolak uang kalian! Dia menepati janji untuk pergi! I'm the fool, Ma! Gue yang jatuh cinta pada sandiwara gue sendiri!"

Tuan wijaya membiarkan keributan itu terjadi, mengamati Dalend.

Akhirnya, Tuan Wijaya memberikan keputusannya. "Kamu tidak akan dipenjara, Dalend," kata Tuan Wijaya. Suaranya rendah dan tajam. "Tapi kamu akan dihukum. Semua kartu kreditmu diblokir. Semua asetmu dibekukan. Kamu akan diusir dari apartemen. Kamu akan mulai bekerja di Divisi Properti besok pagi. Bukan di kantor pusat yang mewah, tapi di kantor cabang yang paling jauh di daerah industri, yang paling kacau balau."

"Baik, Pa," Dalend mengangguk tanpa ragu. Hukuman itu terasa seperti hadiah. Ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa Marisa benar-ia bisa menjadi pria yang bertanggung jawab. 

"Satu hal lagi, Dalend," Tuan Wijaya menatap putranya. "Jika kamu ketahuan menghubungi wanita itu, atau mencarinya, meskipun hanya sekali, kamu akan kehilangan hak warismu selamanya. Bima akan mengawasimu." 

Hukumnya itu menampar Dalend. Ia harus bekerja keras, stabil, dan membuktikan dirinya selama minimal enam bulan sebelum ia bisa bebas mencari Marisa.

Dalend mengangguk, matanya menunjukkan tekad yanh dingin. "Gue terima hukuman itu, Pa."

Malam itu, Dalend pindah ke sebuah kontrakan kecil di dekat lokasi kantor barunya. Ia tidak punya apa-apa kecuali beberapa pakaian dan cincin safir biru Marisa yang ia simpan di dompetnya. Dalend tahu, ia harus membersihkan namanya dan membangun kembali fondasinya. Ia tidak bisa mencari Marisa sebagai pewaris yang dicoret. Ia harus mencarinya sebagai pria yang setara dengannya.

...

Dua minggu berlalu. Marisa kini sudah mulai merasa nyaman dengan rutinitasnya. Usaha kateringnya mulai ramai. Ibunya membaik. Marisa akhirnya bisa tersenyum tanpa rasa pahit.

Suatu malam, saat ia baru selesai mencuci piring, telepon rumahnya berdering-telepon lama yang jarang digunakan. Meski masih bisa dan masih aktif tapi memang jarang. Nomor tersimpan rapih di daftar kontak miliknya juga ada dicatatan rumah.

Marisa mengangkatnya. "Halo?"

Hening di ujung sana. Hanya terdengar suara napas yang berat.

"Halo? Siapa ini?" Tanya Marisa.

"Marisa..." Suara itu parau, rendah, dan asing. Tapi Marisa tahu siapa itu. Itu Dalend.

Jantung Marisa berdegup kencang. Ia terkejut, namun ada rasa bahagia yang menyakitkan.

"Dalend? Lo... Lo kenapa telepon?" Marisa berbisik, takut ibunya mendengar.

"Gue hanya ingin menepati janji, Tunangan," suara Dalend terdengar lelah, tapi ada ketegasan dibaliknya.

"Janji apa? Kontrak sudah selesai, Dalend."

"Kontrak Seumur Hidup," Dalend mengingatkan,suaranya menjadi lebih jelas. "Gue enggak bisa menghubungi Lo. Semua ponsel dan kartu gue diawasi. Jadi, gue pakai telepon umum di sudut jalan. Gue cuma punya waktu sebentar. "

Marisa merasakan air mata kembali menggenang. baru sebentar sudah lupa karena banyaknya fikiran. "Lo harusnya enggak hubungi gue. Lo akan kehilangan segalanya. "

"Gue sudah kehilangan segalanya. Sekarang, gue membangunnya kembali. Di Divisi Properti, di pabrik yang kotor. Gue kerja dari pagi sampai malam, dan gue enggak punya apa-apa. Tapi itu enggak masalah," kata Dalend.

"Gue enggak butuh money yang banyak, Marisa. Gue cuma butuh janji Lo."

"Janji apa, Dalend?"

"Janji untuk menunggu gue selama enam bulan. Gue harus membersihkan nama gue disini. Gue harus buktikan pada Papa bahwa gue adalah pria yang bertanggung jawab, setelah enam bulan, gue akan bebas dari pengawasan Bima dan hukuman Papa. Saat itu, gue akan datang ke sana. Ke tempat Lo. Jangan pindah, Marisa. Dan jangan pernah lepas cincin safir biru itu."

Marisa terdiam. Enam bulan. Itu adalah waktu yang lama. Tapi itu adalah harapan. Harapan yang lahir dari kehancuran mereka di panggung pertunangan.

"Gue nggak janji, Dalend," Marisa berbisik, air matanya menetes di gagang telepon. "Tapi... gue enggak akan pindah. Dan gue akan jaga cincin ini."

"Itu sudah cukup," Dalend menghela napas lega di ujung sana. " Gue harus pergi. Bima akan curiga. Ingat, Marisa. Enam bulan. Dan gue akan datang sebagai pria yang layak buat Lo. Bukan pewaris yang lari."

Sambungan terputus.

Marisa meletakkan telepon, tangannya gemetar. Kontrak pertama telah memberi Marisa uang. Kontrak kedua telah memberi Dalend kebebasan. Dan sekarang, janji yang ketiga telah memberi mereka waktu.

Menatap cincin safir biru di jarinya. Marisa tahu, enam bulan ke depan akan menjadi ujian terberat-ujian kesabaran dan ujian cinta yang baru lahir dari sandiwara paling gila di Jakarta.

1
Sherlys01
Semangat yaa😁💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!