NovelToon NovelToon
SILENCE OF JUSTICE

SILENCE OF JUSTICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Karir / Duniahiburan / Bullying di Tempat Kerja / Cinta Murni / Balas Dendam
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Black _Pen2024

"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "

Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.

Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Rekaman Neraka

Jari-jari Fei gemetar saat ia memegang kartu memori usang itu. Dingin. Kecil. Sebuah benda yang tampak tak berbahaya, namun entah mengapa, terasa seperti kunci menuju jurang neraka. Dia menatap layar laptopnya yang gelap, lalu kembali ke foto Yu yang tersenyum sinis di dinding. Senyum itu kini terasa lebih menakutkan, seperti sebuah ramalan akan kengerian yang akan datang.

Dia menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Ini adalah kebenaran yang dia cari, bukan? Kebenaran yang dia yakini ada di balik narasi murahan media. Dia harus siap. Tidak ada jalan untuk kembali.

Dengan hati-hati, Fei memasukkan kartu memori itu ke slot adaptor, lalu menyelipkannya ke port USB laptopnya. Layar menyala, menampilkan ikon drive baru. Sebuah folder tunggal, tanpa nama, muncul. Dia mengkliknya. Hanya ada satu file di dalamnya: sebuah video. Tidak ada judul, tidak ada tanggal. Hanya deretan angka dan huruf acak.

Fei menelan ludah. Ini dia.

Dia mengarahkan kursor ke file video itu. Jari telunjuknya terangkat, menggantung di atas touchpad. Ragunya bukan karena takut, tapi karena dia tahu, begitu dia mengklik 'putar', hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Xiao Fei yang berduka akan mati, dan entitas baru akan lahir dari abu.

Klik.

Layar laptop berkedip, lalu menampilkan gambar. Kegelapan. Suara statis. Lalu, perlahan, sebuah gambar muncul. Buram pada awalnya, kemudian fokus.

Fei merasakan darahnya membeku.

Itu Yu.

Kekasihnya. Namun bukan Yu yang ia kenal. Bukan Yu yang tersenyum di foto. Ini adalah Yu yang rusak, hancur, dan tidak berdaya.

Yu diikat ke sebuah kursi logam yang kokoh. Tubuhnya telanjang, terkulai lemas, namun masih ada tanda-tanda kehidupan yang tersisa dalam gerak napasnya yang dangkal. Wajahnya... wajahnya adalah kanvas kengerian. Noda darah kering menghiasi pelipis, dagu, dan bibir yang pecah-pecah. Ada cairan kental lain yang tidak bisa Fei identifikasi, menempel di rambut dan kulitnya, mengering menjadi kerak menjijikkan. Mata Yu terbuka, namun pandangannya kosong, menatap kehampaan, seolah jiwanya telah lama meninggalkan raganya.

Suara-suara mulai terdengar. Desisan samar, bisikan-bisikan yang terdistorsi, tawa rendah yang terdengar seperti geraman. Fei memfokuskan pendengarannya. Bukan bahasa yang dia kenal. Semacam ritual? Atau kode?

Latar belakang video itu adalah sebuah ruangan yang remang-remang, dindingnya terbuat dari beton kasar yang lembap. Ada noda gelap di lantai, seperti bekas tumpahan yang tidak pernah sepenuhnya dibersihkan. Di sudut ruangan, Fei melihat beberapa benda aneh: sebuah meja baja dengan berbagai peralatan bedah yang berkilauan di bawah cahaya redup, beberapa lilin hitam yang menyala, dan sebuah simbol yang terukir di dinding, menyerupai burung gagak dengan sayap terentang, mengapit sebuah mata tunggal. Simbol sekte yang Yu pernah ceritakan secara samar.

Kemudian, gerakan. Dua sosok muncul di bingkai. Mereka mengenakan jubah hitam dengan tudung yang menutupi wajah sepenuhnya, hanya menyisakan celah sempit untuk mata. Topeng putih polos menutupi wajah mereka, tanpa ekspresi, membuatnya tampak seperti hantu.

Salah satu dari mereka mendekati Yu. Tangannya mengenakan sarung tangan lateks. Dia memegang sebuah alat, seperti penjepit, dan mulai menarik-narik jari-jari Yu, seolah mencari sesuatu. Yu tidak bereaksi. Dia sudah terlalu jauh.

Fei mencengkeram laptopnya, kuku-kukunya memutih. Udara di paru-parunya terasa menipis. Dia ingin mematikan video itu. Dia ingin menjerit, menangis, berlari. Tapi dia tidak bisa. Matanya terpaku pada layar, seolah terhipnotis oleh horor yang tak terlukiskan. Ini adalah kebenaran Yu. Ini adalah penderitaannya. Dia harus melihatnya. Dia harus merasakannya.

Suara-suara di video mulai menjadi lebih jelas. Interogasi. Mereka menanyakan tentang "daftar hitam". Tentang "lokasi file utama". Tentang "siapa lagi yang tahu". Yu hanya merespons dengan erangan pelan, suaranya parau, hampir tak terdengar.

Kemudian, adegan itu terjadi. Adegan yang membuat Fei merasakan isi perutnya bergejolak. Salah satu sosok berjubah itu mulai melakukan tindakan pelecehan brutal. Gerakannya dingin, tanpa emosi, seolah Yu hanyalah objek, bukan manusia. Fei menahan napas, air mata yang tidak pernah ia duga akan keluar kini mengalir deras, membasahi pipinya. Ini lebih buruk dari kematian. Ini adalah penghinaan yang paling keji, penghancuran martabat yang tak termaafkan.

Setelah apa yang terasa seperti keabadian, namun sebenarnya hanya beberapa menit, sosok itu mundur. Yu kini tampak lebih kecil, lebih hancur. Sebuah noda merah gelap menyebar di bawah tubuhnya.

Sosok kedua mendekat. Kali ini, ia membawa pisau bedah. Kilatan tajam baja itu memantulkan cahaya lilin. Fei tahu apa yang akan terjadi. Dia tahu dari cerita-cerita samar yang Yu pernah dengar, tentang kelompok-kelompok gelap yang percaya pada kekuatan organ vital.

"Tidak... tidak..." Fei berbisik, suaranya tercekat.

Pisau itu bergerak. Dengan kejam. Dengan presisi yang mengerikan. Tanpa bius. Tidak ada obat penenang. Yu, yang sudah berada di ambang kematian, mengeluarkan erangan terakhir, sebuah suara yang begitu penuh penderitaan sehingga merobek jiwa Fei. Tubuhnya kejang sesaat, lalu terkulai, benar-benar mati.

Fei menyaksikan dengan mata terbelalak saat organ-organ vital Yu diambil, satu per satu, dengan kecepatan dan efisiensi yang mengerikan. Darah membanjiri meja, mengalir ke lantai, menciptakan genangan merah gelap yang berkilauan. Para pelaku tampak acuh tak acuh, seolah mereka sedang melakukan pekerjaan rutin. Mereka bahkan tidak repot-repot membersihkan darah dari tubuh Yu. Mereka mengambil apa yang mereka inginkan, lalu pergi, meninggalkan tubuh Yu yang kini hanyalah cangkang kosong, sebuah sisa-sisa yang menyedihkan dari seorang pria yang pernah hidup penuh semangat.

Video itu berakhir. Layar kembali gelap.

Fei masih terpaku di tempatnya, matanya menatap pantulan wajahnya sendiri di layar laptop yang kini mati. Wajahnya pucat pasi, matanya merah dan bengkak, air mata masih mengalir. Tubuhnya bergetar tak terkendali.

Kemudian, segalanya datang menyerbu. Rasa mual yang tak tertahankan. Bau darah yang ia bayangkan. Suara erangan Yu yang masih bergema di telinganya.

Dia melompat dari kursinya, berlari ke kamar mandi. Tubuhnya membungkuk di atas kloset, dan isi perutnya menyembur keluar. Dia muntah lagi dan lagi, hingga tidak ada lagi yang tersisa selain cairan pahit. Setiap muntahan disertai dengan isak tangis yang tertahan, sebuah rilis dari horor murni yang baru saja ia saksikan.

Setelah beberapa saat, ketika tubuhnya sudah kosong dan lemas, Fei bersandar pada dinding dingin kamar mandi. Napasnya terengah-engah, matanya terpejam. Gambar Yu yang disiksa, Yu yang dilecehkan, Yu yang dimutilasi, berputar-putar di benaknya seperti film horor yang tak ada habisnya.

Duka. Amarah. Jijik. Ketakutan. Semua emosi itu bertabrakan dalam dirinya, menciptakan badai yang mengancam untuk merobeknya menjadi berkeping-keping. Tapi di tengah badai itu, sebuah inti dingin mulai terbentuk.

Ini bukan lagi tentang duka. Ini bukan lagi tentang kesedihan. Ini adalah tentang dendam. Dendam yang dingin, tajam, dan tak terpadamkan. Mereka tidak hanya membunuh Yu. Mereka menghancurkannya. Mereka menghinanya. Mereka memperlakukannya seperti binatang. Dan Fei, Xiao Fei yang lemah, yang penakut, yang hanya ingin hidup tenang bersama kekasihnya, kini telah mati.

Yang tersisa adalah sebuah tekad baja. Sebuah janji yang diukir dengan darah dan air mata.

Fei bangkit, membersihkan mulutnya, membasuh wajahnya dengan air dingin. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya masih pucat, matanya masih bengkak, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana. Sebuah kilatan. Sebuah resolusi.

Dia kembali ke laptopnya. Mengambil kartu memori itu. Tangannya tidak lagi gemetar. Dia mencolokkannya kembali, membuka file video itu sekali lagi. Kali ini, dia tidak melihatnya sebagai kekasih yang menderita, tetapi sebagai bukti. Bukti kejahatan yang paling keji.

Dia menyalin file itu ke hard drive eksternal yang terenkripsi. Kemudian, dia mengunggahnya ke beberapa server cloud terenkripsi yang berbeda, menggunakan protokol keamanan yang rumit yang pernah Yu ajarkan padanya. Dia menghapus semua jejak file itu dari laptopnya, dari kartu memori, bahkan dari riwayat penjelajahnya. Kartu memori fisik itu sendiri, dia hancurkan menjadi serpihan-serpihan kecil yang tidak mungkin disatukan kembali, lalu membuangnya di tempat sampah yang berbeda di luar apartemen.

Dalam keheningan, dia menyimpan hard drive terenkripsi itu di brankas digital yang sangat aman, di sebuah lokasi yang hanya dia dan Yu yang tahu. Ini adalah senjatanya. Ini adalah pelurunya.

Dia tahu. Mulai saat ini, hidupnya berubah menjadi perburuan. Sebuah perburuan yang akan membawanya ke kedalaman kegelapan, ke jantung kekejian. Dia tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan, atau berapa harga yang harus dia bayar. Tapi dia tahu satu hal: mereka yang melakukan ini pada Yu, mereka yang merenggut nyawa dan martabat kekasihnya, akan membayar. Dengan darah. Dengan nyawa.

Dan Fei, dia akan memastikan itu. Dia akan menjadi pemburu.

1
Ita Xiaomi
Menegangkan. Kasihan Yu😢
Ita Xiaomi: Berharap keadilan bs ditegakkan.
total 2 replies
Ita Xiaomi
Saat ini hanya Fei sendirian yg menolak utk percaya pd berita yg tersebar.
Ita Xiaomi: Sama-sama kk. Semangat berkarya. Berkah&Sukses selalu.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!