NovelToon NovelToon
Conquer Me

Conquer Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Romansa / Bad Boy
Popularitas:155k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.

Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.

Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?

Conquer me ~》Taklukan aku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19🩷 Informan

MIPA 3 digegerkan dengan razia kesiswaan dan OSIS yang mendadak dan menemukan serbuk putih dalam kemasan dari tas Rama. Semua terkejut, semua tak menyangka jika apa yang disampaikan Rifal, tentang Dea yang mengatakan bahwa Inggrid dan Kenzi menjebak Rama itu benar.

Rama digiring bersama Tama yang menemani. Bu Wilda ikut dipanggil selaku wali kelas MIPA 3.

"Papa..."

"Ram..."

Rama tersenyum meninggalkan kelas, Nara jangan sampai tau dulu. Itu pesannya, dimana kebetulan Nara belum hadir di kelas tadi.

Mereka lantas melongo sendiri, menatap tak percaya.

"Anjirrr berarti yang dibilang Dea itu bener?"

Gilang bahkan sudah sibuk menghubungi abah, ayah dari Rama. Lalu Ridwan menghubungi kang Miftah, senior Rama di satu perkumpulan club motor yang kebetulan sekali, sering mengurusi hal begini bersama rekan dari kepolisiannya.

"Om Fal, telfon si k-pop. Ini kita mesti gimana?"

"Itu aslinya sabu apa ekstasi?"

"Garem krosok kali."

Mereka bertanya-tanya syok. Mereka tak habis pikir, kapan benda itu masuk ke dalam tas Rama yang ada di dalam kelas?

/

Nara, akhirnya ia tau apa yang terjadi, "Rama mana?!"

"Ra...Ra, tenang dulu."

"Rama mana?!" tanyanya histeris.

"Ra, gue minta nomor Dea." pinta Rifal, yang kemudian membuat Nara memberikan nomor Dea pada Rifal.

"Gue mesti tau apa rencana mereka selanjutnya. Dimana bisa nangkep pelaku sebenernya, apa motifnya."

"Kan dah tau Fal, motifnya ya karena emang ngga suka Rama lah..." Vina ikut sewot.

"Bukan gitu, Vin. Maksud Rifal...." Jelas Vian sebelum akhirnya Rifal berdecak.

"Kenapa om? Dea ngga angkat?" tanya Muti, Rifal menggeleng, "nomornya ngga aktif."

Dea

Ia masih memandangi hamparan kebun yang tertata rapi. Bukan teh, melainkan kebun dengan isi tanaman daun bawang dan sayur. Letak villa milik keluarga kak Fani cukup memasuki pemukiman meski tidak padat dan masih dikelilingi oleh lahan kebun pribadi yang luas.

Ia mendekap kedua tangannya, membuat gestur melindungi dari rasa dingin atau dunia luar, ia berdiri di balkon kayu dengan bangunan villa setengah kayu setengah permanen tembok adukan pasir dan semen.

"Seger ya, De?" itu kak Fani yang menghampirinya, berdiri di samping Dea yang sedang memandang jauh, sejauh mata memandang warnanya, hijau, biru kehijauan dan banyak warna titik-titik lain.

"Nanti siang, mampir ke homestay stroberi di Rancabali, sekalian berendem sama main ke kebun teh."

Dea menoleh tersenyum, "iya kak."

"Katanya mas Huda, besok mama pengen main ke Ranca upas sama kawah putih." Ucapnya lagi, wanita yang sudah kenal Dea sejak Dea masih SD itu sudah tak canggung lagi, bahkan jika Fani diajak Huda main ke rumah, maka akan ada Dea yang menjadi love diantara mereka. Tak jarang Fani mengajak Dea bermain dan jalan-jalan juga.

Dea kembali mengangguk mengiyakan, meski sebenarnya sekarang, pikirannya teramat memikirkan keadaan di sekolah. Berulang kali ia memandang resah ke arah ponsel, namun enggan menghidupkan, karena sudah pasti Inggrid akan mencarinya, Gibran dan Willy untuk sekedar memberitahukan apa yang terjadi. Tidak, ia tak mau lagi ikut-ikutan, bahkan sekedar untuk tau kabar apapun.

Ia juga menebak, jika saat ini MIPA 3 sedang mengurus Rama. Ia tak mau ikut membantu, saat ini ia hanya orang yang netral. Toh, kemarin ia sudah menyampaikannya pada Rifal.

Sekarang mama, yang menemani Dea setelah Fani masuk kembali. Acara pertunangan antara mas Huda dan kak Fani sudah berlangsung tadi.

"De, Bandung bikin betah ya? Masih dingin..." ujar mama memancing Dea untuk menoleh.

"Iya." Dea merangkul lengan mama dan menyandarkan kepalanya.

"Kalau seandainya, bukan Bandung....Dea bakal betah juga engga?" Dea memandang mama penuh arti, "maksudnya?"

Mama menggeleng usil, "engga. Hayu masuk, nanti lava cake buatan Tante Aini diabisin mas Elok."

"Ya sebentar." Ia melepaskan rangkulannya.

"Tumben ngga krang-kring-krang-kring si centil, kemana? Gibran juga..."

Dea menyunggingkan senyumnya, "masih sekolah kayanya, ma."

Dea memilih duduk di samping papa, yang masih mengobrol dengan ayah dari kak Fani.

Tangannya itu refleks mengusap pucuk kepala Dea yang menikmati lava cake.

"Dea udah punya rencana mau kuliah kemana?" tanya ayah kak Fani.

"Emh, kayanya pengen coba ke----"

"Maunya ke ITB." tukas mama.

Om Awan tersenyum, "om dulu di UGM. Ngekost, biaya hidup lebih murah di banding di Bandung."

"Jogja?" tembak Dea.

"Bagus tuh. Mau?" tawar Huda justru, "kampung halaman papa, ya pa?"

Papa mengangguk, "Ada eyang."

Dea menggidik, "masa jauh dari mama."

Tante Aini ikut terkekeh, "anak ketek mama, ya De?"

"Anak ketek gorilla tante. Galak." suara sumbang Elok membuat Dea mendaratkan pisau plastik bolu ke arahnya.

"Idih tuh kan!"

Obrolan santai tadi, jika ia mengambilnya dan rejeki kuliahnya disana, maka ia bisa dengan mudah lepas dari semua beban masa lalu dan sekarang. Ia bisa memulai masa depan yang baru, menjadi dirinya sendiri. Ia akan meninggalkan semuanya. Ditambah.....

Sudah papa masukan market, tapi ngga usah di pakein papan iklan...nanti kalo sewaktu-waktu ada tamu, mama terima aja ajak keliling rumah, buat liat-liat...

Dea tak menghiraukan obrolan mama dan papa yang terkesan tak tau harus besar, alur dan judulnya itu.

Ia, justru melanjutkan langkah mencari mas Elok. Dan ia temukan kakaknya itu sedang bersama kak Fani, adik dari kak Fani, dan mas Huda di beranda villa.

"Mas," Elok yang sedang menyesap vape bersama mereka langsung menurunkannya.

"Nah, kan kalo nyari aku pasti ada maunya."

"Sini De, gabung..." ajak kak Fani dan adik lelakinya itu.

Dea menggeleng tersenyum, "mas aku mau pinjem hape mas Elok."

"Apaan..."

"Loh, hapemu mana?" tanya mas Huda, "rusak atau abis kuota?"

"Ada. Tapi aku butuh pake nomor makhluk asing." Jawab Dea membuat mereka tertawa.

"Kan...kan. Udah mau pinjem tapi malah ngehina orang, nih mas kelakuan adek mas." tuduh Elok namun tak urung menyodorkan ponselnya, "sejam seratus ribu."

Wajah Dea langsung sewot, "rentenir. Kemaren-kemaren aja hapeku dipake nelfonin selingkuhan, aku terima."

Dan kembali perseteruan bercanda ini menjadi hiburan mereka.

"Sini lah jangan pelit begitu, cuma mau telfon Nara. Hapeku ngga ada kuotanya." Singkat Dea membuat Elok menyerahkan ponselnya, "jual hapenya beliin kuota. Jajan terus dia mas..."

"Bawel." ketus Dea menerima ponsel mas Elok. Ia lantas mengaktifkan ponsel sendiri demi melihat nomor Nara, dengan tetap tidak mengaktifkan jaringan providernya.

Sore menuju malam ini. Dea menghubungi Nara, "hallo, Nara...gue Dea, pake nomor mas Elok."

MIPA 3 masih dalam masa genting, berkabung dan kebingungan. Nara, ia datang membawa kabar pada yang lain.

"Kemarin Dea telfon gue pake nomor lain....kasih tau rencananya."

Rifal dan yang lain lantas mendengarkan, Dea? Menelfon? Ia refleks saja melirik ponsel miliknya sendiri. Apa yang ia harapkan? Dea menghubunginya, bertanya kabar dan ngajak jalan?

"Gue sama anak-anak Thunderbolt biar bantu ngawal Ra...kita ngikutin Lo dari belakang. Lang, bawa sebagian anak Thunderbolt, bareng Vian...buat ready di tempat nyikat tuh bang sat." Ujar Rifal. Dan tak ada lagi yang mendebat atau menghujani Dea dengan hujatan disana, baik itu Muti, Tasya atau Dian.

.

.

.

.

1
Daisy❤️HilVi
kok gitu caranya fal, yg ada dea mlh illfeel
my
kalo kata dedy Rama "𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘢𝘶, 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘮𝘰 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘮𝘶🤭😄
Daisy❤️HilVi
mulut inggrid, ya emg sih bpk dea lg bangkrut🤣
Poet_Rie
to the point

saya suka 😍😍😍
Trie Heartie
ihh kak kenapa yg sama namaku jd cewek judes bin galak sih🤭🤭
Adeeva Haboo
yaelah om fal gitu amat
Vike Kusumaningrum 💜
hahhahaha Gilaaa, double kill. nembaknya ajaib, mana bisa nolak kalau gini mah, bukan bertanya tapi memberikan kepastian. hadeeeh om Fal , gasss pooolll. terima aja Dee, om Fal baik kok, walau bentar lg LDR.
Trituwani
duh senengnya klo dah kumpul begini berasa liat sirkus di pasar malem /Smirk/ nah gitulah temen yak saling canda canda manja gitu saling dukung saling menguatkan palagi klo si ing gibran ma willy balek cs an ma si papa n the gengs bakalan tambah yahudddd/Kiss/
Zayyin Arini Riza
Cerita nya nembak Dea nih Fal?
🌸🌸mommy anak2..😉😉
kerenlah bang val gentle bgt sih lo..w suka gaya lo..to the point..😍😍
berasa dipanah ga tu neng dea..syok dan ada sensasi geli2nya gt ga sih.berbunga mksdny..😄😄
YL89
Sampe sini udh ad dksh spill dikit2 SM Author,,,yg Slnjutnya gimana hubungan ABG Rifal msh penasaran
tenny hikmawati
sabar...
sabar yak om fal... jawabannya masih nunggu acc teh sin🤭
Daisy❤️HilVi
wkwk
rheisha
langsung gak pake basa basi nembak nya om fal mah....😁
Dina Okta eryanti
baru aja aku berdoa supaya teh sin up lagii,,eh beneran dong teteh udah up aja tiba-tiba... makasih banyakkk tehh❤️🥹🫶🙏
Azka M90
pertma bukan sih aku🤭🤭🤭😍😍

si pemaksa,, ini kaya bang maru cumn persi muda nya🤣🤣
Ernaaaaa
bengek beneran aku Thor ah emak2 JD mengingatkan jaman dulu xixixxii
Daisy❤️HilVi
om om labil wkwk
bunga citra
cinta abg, ganas
Shee_👚
udah g bakalan apa-apa aman pokoknya, orang yang begal pelindung dea.🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!