"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Tak Tahu Apa-apa
Tiga minggu berlalu dan perlahan Dea mulai terbiasa dengan ritme hidupnya yang baru.
Di apartemen Dea adalah wanita yang menjadi milik Alex sepenuhnya, menemani, memahami, dan memenuhi kebutuhannya dengan cara yang tak pernah Dea bayangkan sebelumnya. Sementara di kantor Dea tetap sekretaris yang sama, rapi, profesional, berbicara seperlunya dan menjaga jarak seolah tidak ada apa pun yang berubah.
Dua dunia itu terpisah rapi, setidaknya di permukaan.
Meski kini Dea tidak lagi tinggal di rumah kedua orang tuanya, Dea tidak pernah memutus perannya sebagai anak. Hampir setiap dua atau tiga hari sekali, kurir datang ke rumah orang tuanya membawa makanan mahal, kue premium, lauk siap saji dari restoran ternama, bahkan buah impor yang dikemas rapi.
Dea sendiri tidak pernah menjelaskan banyak tentang bagaimana dia bisa mendapatkan banyak uang sekarang. Dea hanya berkata bonus kantor sedang bagus, dan orang tuanya pun tidak bertanya lebih jauh.
Di sisi lain tanpa Dea sadari, perubahan dirinya mulai menarik perhatian di kantor.
Gaun yang dikenakannya kini lebih pas dan berkelas. Tas kerjanya bukan lagi merek biasa. Sepatunya berbeda setiap minggu, dan cincin di jari manisnya tampak terlalu mahal untuk ukuran seorang sekretaris.
Awalnya memang hanya lirikan kecil, namun lambat kaun berubah jadi bisik-bisik dan pembicaraan yang semakin panas.
“Kamu sadar tidak, Dea sekarang beda sekali?”
“Iya, ya. Dulu dia terlihat biasa aja seperti karyawan yang lain. Sekarang terlihat lebih modis.”
“Gajinya sekretaris Presdir memang sebesar itu ya?”
Beberapa orang mulai menghitung-hitung sendiri dan kesimpulan mereka mengarah ke satu dugaan yang sama.
“Gaji sekretaris tidak sebanyak itu, mungkin Dea punya pekerjaan lain di luar sana."
"Simpanan om-om."
"Stt!" sahut yang lain dan mulai was-was sendiri dengan pembicaraan mereka.
Dan Dea bukanlah seseorang yang acuh dengan keadaan sekitar, meski tak pernah mendengarnya secara langsung namun dia paham kini orang-orang mulai menatapnya dengan berbeda.
Tapi Dea juga bukan orang yang gampang terpuruk, dia tetap menegakkan kepala dan bekerja seperti biasa.
“De,” panggil Millie pelan sambil menatap sekeliling lebih dulu, memastikan tidak ada rekan kerja lain yang mendekat. Kini mereka masih makan bersama di kantin perusahaan, menikmati jam istirahat. “Ada yang ingin aku bicarakan. Tapi ini sedikit sensitif.”
Dea menghentikan gerakan sendoknya. Ia menatap Millie, lalu mengangguk pelan. “Katakan saja.”
Millie menarik napas dalam-dalam, jelas terlihat ragu. “Aku sebenarnya tidak ingin menyampaikan ini karena takut melukaimu. Tapi aku pikir kamu perlu tahu, daripada kamu dengar dari orang lain dengan cara yang lebih menyebalkan.”
Dea diam. Dadanya terasa sedikit tidak nyaman, namun wajahnya tetap menunjukkan ketenangan.
“Banyak yang membicarakanmu, De,” lanjut Millie lirih.
Dea menunduk sebentar, lalu kembali mengangkat wajahnya. “Dan kesimpulan mereka?”
“Tidak baik, ada yang bilang kamu punya pekerjaan sampingan. Ada juga yang bilang kamu simpanan.”
Kata itu jatuh pelan, tapi rasanya menghantam cukup keras.
Untuk sesaat, Dea terdiam. Tangannya mengepal di bawah meja. Dadanya terasa sesak, bukan karena malu, tapi karena perih. Ia tidak menyangka penilaian orang bisa sedingin dan sejauh itu.
Namun Dea bukan perempuan rapuh yang akan langsung runtuh. Ia menarik napas pelan, lalu mengulas senyum kecil, senyum yang lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.
“Terima kasih sudah jujur, Mil.” ucapnya akhirnya. “Aku tahu kamu menyampaikannya karena peduli.”
Millie mengangguk cepat. “Aku sudah menegur mereka semua, tapi kamu tahu sendiri kita tidak bisa mengatur mulut orang. Tapi kalau sampai tuduhan ini berlanjut aku tak akan segan melaporkannya pada asisten Juan," terang Millie yanh malah jadi semakin menggebu-gebu.
Dea terkekeh pelan, dia sadar juga kini penampilannya memang terlihat berbeda. Tapi mau bagaimana lagi, dia memegang banyak uang karena Alex tak mungkin menyia-nyiakannya begitu saja.
"Mil, kamu tahu kan, selama ini aku sudah hidup sangat berhemat. Nah sekarang aku mulai ingin menyenangkan hidupku sendiri," jelas Dea kemudian. Orang lain boleh salah paham, tapi dia tak ingin Millie berpikiran sama.
Dea ingin Millie tetap menilainya sebagai gadis yang baik, seperti selama ini.
Dan mendengar penjelasan Dea tersebut, Millie langsung mengangguk setuju. Dia tahu benar bagaimana Dea berhemat selama ini, Dea selalu bilang uangnya ditabung untuk masa tua. Millie tak tahu jika sebenarnya dulu sebagian gaji Dea bukan ditabung tapi untuk Barry.
Jadi pikir Millie wajar saja jika kini Dea memiliki tabungan, atau setidaknya uang lebih untuk belanja demi kebutuhannya sendiri.
"Aku tahu De, aku juga tak pernah berpikir yang macam-macam. Kamu tidak perlu menjelaskan apapun padaku," jawab Millie sungguh-sungguh.
Dan mendengar kepercayaan yang diberikan oleh Millie sudah sangat cukup bagi Dea, dia tak peduli lagi dengan pendapat orang lain lagi.
"Ayo makan lagi," ajak Dea dan kedua wanita itu pun akhirnya tertawa bersama, menganggap semua pembicaraan orang-orang yang beredar sebagai gosip murahan dan tak penting.
Di tempat lain asisten Juna juga mendengar kabar panas tersebut, akhir-akhir ini nama Dea memang paling sering dibicarakan. Sebagai asisten pribadi Alex, Juan sama seperti mata-mata di tiap sudut perusahaan.
Dan terlebih lagi dia adalah saksi kunci yang mengetahui dengan jelas dari mana Dea bisa mendapatkan uang untuk membeli semua barang-barang, yaitu dari pernikahan rahasianya dengan sang boss.
Jadi saat ada beberapa karyawan yang membicarakan tentang Dea, Juan langsung muncul di tengah mereka tanpa canggung sedikit pun. Bahkan terkesan memergoki perbuatan yang tak terpuji di perusahaan ini.
"Hentikan pembicaraan kalian atau kuberikan SP," tegas Juan, terlepas dari rahasia Dea namun dia memang tak senang jika para karyawan di perusahaan ini menggosip membicarakan karyawan yang lain. Tempat ini harus kondusif untuk produktivitas kerja, bukan tempat untuk pembicaraan tak penting.
"Asisten Juan, maafkan kami, kami tidak bermaksud_"
"Darimana Dea mendapatkan uang itu adalah masalah pribadinya, dan urusan pribadi dilarang masuk ranah pekerjaan," ucap Juan lagi yang suaranya terdengar semakin mencekam.
Para karyawan sontak menunduk ketakutan, beberapa hari ini mereka memang selalu membahas hal yang sama, sampai tak sadar jika sudah lepas kendali.
"Sekali lagi aku mendengar pembicaraan ini, aku akan benar-benar memberi surat peringatan."
"Baik asisten Juan, maafkan kami," ucap para karyawan tersebut dengan kepala yang menunduk.
Sementara Juan pergi dengan sorot mata yang belum melunak. Juan tahu sejak awal, bahwa dia pun harus siap dengan masalah yang ditimbulkan dari pernikahan rahasia tersebut.
Dan diantara semua orang hanya Alex lah yang tak tau apa-apa tentang gosip tersebut, yang dia tahu hanyalah memanggil Dea untuk masuk ke ruangannya.
"De! Masuk," titah Alex melalui telepon khusus.
lupe you pull😍😍
biar bang Al tantrum sdri🤣
tapi sayang tak digubris🤭..