NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setelah Badai

Hujan turun tanpa amarah.

Ia tidak menghantam, tidak menggedor. Hanya jatuh, butir demi butir, seolah kota ini lelah menahan diri. Carmela berdiri di bawah kanopi halte tua, memeluk jaketnya. Ponsel sekali pakai ada di tangan—layar kosong. Pesan terakhir Matteo masih terpatri di kepalanya: HIDUP.

Ia ingin membalas lebih dari dua kata. Ingin mengatakan bahwa ia takut. Bahwa ia marah. Bahwa ia merindukan cara Matteo menatapnya saat fajar. Tapi ia tahu, kalimat panjang bisa menjadi jejak. Dan jejak adalah undangan.

Angin membawa aroma aspal basah. Carmela menutup mata sejenak, mengatur napas. Ia menunggu—bukan hanya seseorang, tapi jawaban atas pilihannya sendiri.

Langkah kaki mendekat. Pelan. Terukur.

Carmela membuka mata.

Matteo berdiri beberapa meter darinya, mengenakan jaket gelap yang bukan miliknya, topi menutup sebagian wajah. Bahunya sedikit condong—tanda kelelahan yang tidak ia sembunyikan. Untuk sepersekian detik, mereka hanya saling menatap, memastikan ini nyata.

“Kamu…” suara Carmela tercekat.

“Hidup,” jawab Matteo pelan. Senyum tipis menyentuh sudut bibirnya, lalu menghilang. “Kamu juga.”

Mereka tidak berpelukan. Tidak ada ledakan emosi. Hanya jarak yang menutup perlahan, seperti dua orang yang belajar berjalan lagi.

“Kita tidak bisa lama,” kata Matteo.

“Aku tahu.”

Mereka berjalan berdampingan, mengikuti trotoar menuju gang yang lebih sepi. Hujan makin halus, lampu jalan memantulkan kilau pucat. Carmela memperhatikan langkah Matteo—ada jeda kecil setiap beberapa langkah.

“Kamu terluka,” katanya.

“Sedikit.”

“Bohong,” sahut Carmela lembut.

Matteo tidak membantah.

Apartemen itu berada di lantai tiga, pintunya tak mencolok. Di dalam, lampu redup menyala. Bau antiseptik samar—pertanda Lorenzo atau seseorang telah menyiapkan tempat ini jauh hari.

Carmela menutup pintu, mengunci dua kali. Ia menoleh, menilai Matteo tanpa kata.

“Duduk,” katanya, menunjuk kursi.

Matteo menurut. Carmela mengambil kotak P3K dari lemari dapur. Tangannya cekatan, tapi kali ini ada gemetar kecil yang ia sembunyikan. Ia membuka jaket Matteo, memperlihatkan perban darurat di rusuk dan lengan.

“Siapa?” tanya Carmela.

“Orang yang salah membaca jarak,” jawab Matteo. “Aku lebih cepat.”

Carmela menghela napas, membersihkan luka dengan hati-hati. Matteo mengerang pelan saat kapas menyentuh kulit.

“Maaf.”

“Jangan,” kata Matteo. “Aku butuh ini.”

“Perawatan?”

“Kejujuran,” jawabnya, menatap wajah Carmela. “Aku berutang.”

Carmela mengikat perban, lalu duduk berhadapan. “Aku juga.”

Keheningan turun, tebal tapi tidak menyesakkan. Hujan di luar seperti metronom yang menenangkan.

“Aku bertemu seseorang,” kata Carmela akhirnya. “Mira.”

Matteo mengangguk. “Aku tahu.”

“Dia menekanku,” lanjut Carmela. “Tentang berkas tambahan. Tentang mengorbankan satu kebohongan untuk menutup seribu.”

“Aku mengirimnya,” kata Matteo tanpa berputar. “Berkas yang kupilih.”

Carmela menahan napas. “Aku tahu.”

“Bagaimana?”

“Kota bergerak berbeda,” jawab Carmela. “Judul-judulnya berubah. Nada orang-orang berubah.”

Matteo menunduk. “Aku minta maaf karena tidak memberitahumu dulu.”

“Kenapa?” tanya Carmela.

Matteo mengangkat wajahnya. “Karena aku takut kalau aku bicara, kamu akan menghentikanku.”

“Dan kalau aku menghentikanmu?”

“Berarti aku salah,” kata Matteo jujur.

Kata-kata itu tidak dramatis, tapi berat. Carmela merasakannya menekan dadanya.

“Aku tidak ingin menjadi alasan kamu melanggar batasmu sendiri,” katanya.

Matteo menggeleng pelan. “Kamu bukan alasan. Kamu… pengingat.”

“Pengingat apa?”

“Bahwa keputusan punya wajah,” jawab Matteo. “Dan wajah itu bisa terluka.”

Malam merambat. Mereka duduk di lantai, punggung bersandar pada sofa. Jarak di antara mereka menyempit tanpa disadari. Matteo bercerita—tentang malam-malam panjang memindahkan berkas, tentang pertemuan di parkiran gelap, tentang bagaimana satu kesalahan kecil bisa meruntuhkan jaringan.

“Ada satu hal,” katanya pelan. “Yang belum kukatakan.”

Carmela menoleh. “Aku mendengarkan.”

Matteo menarik napas. “Flash drive cadangan itu… bukan hanya berisi data.”

Carmela menunggu.

“Di dalamnya ada pengakuan,” lanjut Matteo. “Versiku. Lengkap. Dengan nama-nama. Dengan waktu. Dengan motif.”

“Untuk apa?” tanya Carmela.

“Untuk hari ketika aku tidak bisa bicara,” jawab Matteo. “Asuransi terakhir.”

Carmela menelan ludah. “Dan sekarang?”

“Sekarang… aku tidak ingin kamu menemukannya secara kebetulan,” katanya. “Aku ingin kamu tahu.”

“Di mana?” tanya Carmela.

Matteo menyebutkan tempat. Aman. Jauh. Tidak romantis.

“Kalau itu keluar,” kata Carmela, “kamu akan hilang.”

“Atau selesai,” jawab Matteo. “Kadang itu sama.”

Carmela menoleh, matanya berkilat. “Kamu tidak berhak memutuskan itu sendirian.”

“Aku tahu,” kata Matteo. “Itu sebabnya aku memberitahumu.”

Kejujuran itu membuka sesuatu. Bukan pintu besar—celah kecil, cukup untuk bernapas.

Mereka tertidur sebentar, lelah menuntutnya. Carmela terbangun lebih dulu, selimut setengah menutupi Matteo. Ia memperhatikan wajah laki-laki itu—garis keras di rahang, alis yang selalu tegang. Ia menyentuhnya ringan, lalu menarik tangan, takut membangunkan.

Matteo membuka mata. “Aku tidak tidur nyenyak,” katanya.

“Maaf.”

“Tidak,” jawab Matteo. “Aku bermimpi.”

“Baik atau buruk?”

“Jujur,” katanya. “Kita duduk di dapur kecil. Tidak bersembunyi.”

Carmela tersenyum kecil. “Kedengarannya berbahaya.”

“Untuk orang sepertiku,” sahut Matteo.

Mereka bangun, membuat teh hangat. Uapnya menari pelan. Di balik jendela, hujan berhenti. Kota tampak lebih ringan—atau mungkin hanya mereka yang kelelahan menilai.

“Kita tidak bisa lama di sini,” kata Carmela.

“Aku tahu.”

“Apa rencanamu?”

Matteo ragu. “Menghilang sebentar. Membersihkan jejak. Menutup celah.”

“Sendirian?”

Matteo menatapnya. “Aku ingin bilang tidak. Tapi—”

“Tapi itu berbahaya,” potong Carmela. “Untukku.”

“Untukmu,” ulang Matteo pelan.

Carmela mengangguk. “Aku bisa menunggu. Tapi bukan tanpa kabar.”

“Aku akan kirim kode,” janji Matteo. “Waktu. Tempat.”

“Dan kalau kamu tidak bisa?”

“Lorenzo tahu,” jawab Matteo. “Dan Mira.”

Carmela menghela napas. “Aku tidak menyukai keduanya.”

“Aku juga,” kata Matteo. “Tapi dunia jarang memberi pilihan bersih.”

Pagi datang dengan cahaya pucat. Mereka berdiri di pintu, ragu seperti dua orang yang tahu perpisahan ini perlu, tapi tidak ingin cepat.

Matteo meraih tangan Carmela. Hangat. Nyata.

“Aku tidak menjanjikan aman,” katanya. “Aku menjanjikan usaha.”

“Aku tidak minta aman,” jawab Carmela. “Aku minta jujur.”

Matteo mengangguk. “Itu bisa.”

Mereka berpelukan—akhirnya. Tidak lama. Tidak dramatis. Cukup untuk mengingat bentuk satu sama lain.

Saat Matteo melangkah pergi, Carmela berkata, “Matteo.”

Ia menoleh.

“Jangan menghilang dari dirimu sendiri,” kata Carmela.

Matteo tersenyum tipis. “Aku akan kembali.”

Beberapa jam kemudian, Carmela berada di kamar kecil lain, menata ulang hidupnya yang sementara. Ponsel bergetar—kode masuk. Satu angka. Satu lokasi. Aman.

Ia menghela napas lega. Bukan bahagia. Bukan tenang. Tapi… bertahan.

Di sisi kota yang berbeda, Matteo menatap layar laptop, menutup satu pintu, membuka pintu lain. Ia memikirkan Carmela—cara ia merawat luka tanpa menghakimi, cara ia menuntut kejujuran tanpa ancaman.

Badai telah lewat. Tapi tanah masih basah.

Dan di tanah basah itu, mereka menanam sesuatu yang rapuh: kepercayaan.

1
adinda berlian zahhara
/Smile/
Elva Maizora
bagus banget ceritanya thor
adinda berlian zahhara: terimakasih 🫰❤️
total 1 replies
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
putrie_07: iy Thor. iy klo bisa buat ada panas pnasnya🥵🥵🥵🥵
total 2 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!