Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Tidak Memberi Pilihan
Matteo tidak langsung memeluk Carmela.
Itu hal pertama yang ia sadari—dan justru hal itu yang membuat jantungnya bergetar. Pria itu berdiri di ambang pintu kamar hotel sempit itu, mata gelapnya menyapu ruangan, jendela, lorong di belakang Carmela. Seperti predator yang menilai medan sebelum menyentuh sesuatu yang berharga.
“Kau sendirian?” tanyanya pelan.
Carmela mengangguk. “Sejauh yang aku tahu.”
Matteo masuk dan menutup pintu tanpa suara. Baru setelah kunci berputar, ia menatap Carmela sepenuhnya. Wajahnya lebih tirus, matanya lelah—tapi hidup. Terlalu hidup untuk seseorang yang seharusnya bersembunyi.
“Kau tidak seharusnya datang,” kata Carmela lirih.
“Aku tahu,” jawab Matteo. “Tapi aku juga tahu—kalau aku tidak datang malam ini, aku akan menemukanmu dalam keadaan lain besok.”
Keheningan menggantung di antara mereka. Padat. Berbahaya.
Carmela menarik napas. “Mereka tahu.”
“Aku tahu,” kata Matteo. “Dan mereka lebih dekat dari yang kau kira.”
—
Mereka tidak punya waktu untuk berbicara panjang.
Matteo membuka tas kecil yang ia bawa. “Ambil yang perlu saja. Kita keluar lewat belakang. Mobilku bukan satu-satunya di kota ini.”
“Kita?” ulang Carmela.
Matteo menatapnya tajam. “Aku tidak meninggalkanmu lagi.”
Kalimat itu bukan janji manis. Itu pernyataan perang.
—
Mereka menyelinap keluar lewat tangga darurat. Udara malam dingin, jalanan nyaris kosong. Tapi Matteo merasakan sesuatu yang tidak beres—keheningan terlalu rapi.
Sebuah mobil menyala di ujung jalan.
Matteo langsung menarik Carmela ke balik bayangan bangunan.
“Jangan lihat,” bisiknya. “Dengar saja.”
Langkah kaki. Dua orang. Tidak tergesa. Terlatih.
Carmela menelan ludah. Tangannya mencengkeram mantel Matteo, jari-jarinya dingin. Matteo merasakan itu—dan untuk sesaat, naluri melindunginya hampir mengalahkan strategi.
Hampir.
Mereka bergerak cepat, memotong gang sempit, melewati pintu besi tua yang tidak terkunci. Matteo mendorong Carmela masuk, lalu mengikutinya, menahan pintu saat cahaya senter menyapu gang.
Napas Carmela tercekat. Matteo menutup mulutnya dengan telapak tangan—bukan keras, tapi tegas.
“Tenang,” bisiknya di telinga Carmela. “Aku di sini.”
Tubuh mereka terlalu dekat. Punggung Carmela menempel ke dada Matteo. Ia bisa merasakan detak jantung pria itu—stabil, terkendali, seperti orang yang sudah berkali-kali berdiri di ambang maut.
Dan tetap memilih bertahan.
—
Mereka lolos.
Untuk sementara.
Matteo membawa Carmela ke sebuah rumah tua di pinggiran kota—rumah aman sementara, terlalu kecil untuk disebut aman, tapi cukup untuk satu malam. Ia mengunci semua pintu, memeriksa jendela, lalu baru berhenti bergerak.
Carmela berdiri di tengah ruang tamu sempit, tubuhnya gemetar setelah adrenalin surut.
“Duduk,” kata Matteo lembut.
Ia mengambilkan air, menyodorkannya. Carmela meminumnya dengan tangan bergetar. Matteo memperhatikannya seperti ia mengamati luka terbuka—ingin menyentuh, tapi tahu sentuhan bisa menyakitkan.
“Kau berubah,” kata Carmela akhirnya.
Matteo tersenyum tipis, pahit. “Kau juga. Kau tidak lagi menunggu diselamatkan.”
“Aku belajar,” jawab Carmela. “Karena aku tahu… aku sendirian.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari peluru.
Matteo berlutut di hadapannya, sejajar dengan mata Carmela. “Kau tidak sendirian lagi.”
Carmela menatapnya lama. Lalu, tanpa peringatan, air mata jatuh.
Bukan isakan. Hanya jatuh diam-diam, seperti sesuatu yang akhirnya menyerah.
Matteo menariknya ke dalam pelukan.
Pelukan itu keras. Nyata. Bukan pelarian.
Carmela menangis di dada Matteo, jari-jarinya mencengkeram kemeja pria itu seolah jika ia melepaskan, dunia akan runtuh. Matteo memejamkan mata, menahan napas, membiarkan dirinya merasakan—takut, lega, rindu—semua sekaligus.
“Maaf,” bisik Carmela. “Aku pergi tanpa pamit.”
“Aku tahu,” jawab Matteo. “Dan aku membiarkanmu pergi.”
Mereka sama-sama bersalah.
—
Malam itu, mereka tidak tidur.
Mereka duduk berdampingan di lantai, bersandar pada dinding, berbagi keheningan yang berat tapi jujur. Matteo membersihkan luka kecil di tangan Carmela—sentuhan pelan, hati-hati. Carmela memperhatikan wajah Matteo, garis-garis keras yang tidak ada sebelumnya.
“Jika aku mati,” kata Matteo tiba-tiba.
“Jangan,” potong Carmela cepat.
“Dengar,” Matteo menatapnya serius. “Jika sesuatu terjadi padaku—”
“Aku tidak mau rencana cadangan,” suara Carmela bergetar. “Aku mau kau hidup.”
Matteo terdiam. Lalu, dengan suara lebih rendah, ia berkata, “Aku juga.”
Ia menyentuh pipi Carmela. Bukan ciuman. Bukan gairah. Hanya ibu jari yang menghapus sisa air mata.
Dan itu lebih intim dari apa pun.
—
Pagi datang tanpa cahaya.
Ricardo menghubungi Matteo dengan suara tegang. “Kita punya masalah. Lorenzo mengubah strategi.”
“Bagaimana?” tanya Matteo.
“Dia tidak mengejar kalian.”
Matteo membeku. “Lalu?”
“Dia menunggu,” jawab Ricardo. “Dan dia menyiapkan sesuatu yang membuatmu harus keluar dari persembunyian.”
Matteo menutup mata.
Carmela mendengar cukup banyak untuk mengerti satu hal:
Malam ini bukan akhir.
Ini hanya jeda.
—
Sebelum matahari terbit, Matteo berdiri di depan jendela, menatap kabut tipis. Carmela mendekat, menyandarkan kepala di punggungnya.
“Apa pun yang terjadi,” katanya pelan, “jangan buat keputusan tanpa aku.”
Matteo meraih tangan Carmela dan menggenggamnya erat. “Mulai sekarang, tidak ada keputusan sepihak.”
Itu janji paling berbahaya yang bisa mereka buat.