cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kemesraan
Rohita tetap berdiri dengan wajah cemberut, mendengar setiap kata ejekan yang keluar dari mulut Devi dan Dewi. Dia tidak berniat untuk membantah atau membalas, karena sudah tahu bahwa hal itu hanya akan membuat situasi semakin memburuk. Dia hanya mengangkat bahu dengan tidak acuh, lalu kembali mengambil sendoknya untuk makan meskipun makanan di dalam mulutnya terasa hambar dan tidak enak sama sekali.
“Sudahlah kalian berdua, jangan terlalu jauh ya,” ucap Rohita dengan suara yang rendah dan penuh dengan rasa kelelahan. Namun kedua temannya hanya mengabaikannya dan terus mengejek dengan nada yang semakin menyakitkan hati.
Tak lama kemudian, tiba-tiba seluruh lampu di dalam kost padam begitu saja. Ruangan yang tadinya terang benderang kini menjadi gelap gulita, hanya ada sedikit cahaya dari bulan yang menerobos celah tirai jendela. Suara tawa Devi dan Dewi langsung terhenti, digantikan oleh keheningan yang sedikit menyeramkan.
“Aduh, kenapa lampunya mati ya?” bisik Dewi dengan suara yang sedikit gemetar. Namun sebelum dia bisa berkata apa lagi, terdengar suara teriakan kecil dari arah Devi.
“AAAAAAAAAAAAH! Gelap sekali! Tolong!” teriakan Devi dengan suara yang menggema di ruangan gelap. Rohita bisa merasakan ada sesuatu yang bergerak cepat ke arah Dewi, lalu terdengar suara tubuh yang menyentuh dan suara pelukan yang erat.
“Jangan biarkan aku sendirian, Dewi! Aku takut kegelapan!” ucap Devi dengan suara yang sedikit menangis, tubuhnya terus memeluk Dewi dengan sangat erat seperti anak kecil yang takut pada kegelapan. Kepalanya menyematkan di bahu Dewi, tangannya menggenggam baju Dewi dengan kuat.
Rohita yang sudah menemukan korek api di dalam laci meja segera menyalakannya, memberikan sedikit cahaya di ruangan yang gelap. Cahaya korek api itu menerangi wajah Devi yang masih tampak takut dan Dewi yang sedang mencoba untuk tetap tenang sambil memeluknya.
“Hahaha... Lihat kamu Devi, kayak anak kecil yang takut kegelapan padahal kamu sudah 17 tahun,” ucap Rohita dengan suara yang penuh dengan ejekan, wajahnya akhirnya menunjukkan senyum kecil setelah sekian lama terlihat muram. “Tadi kamu sok kuat dan suka mengejek orang, tapi sekarang malah ketakutan seperti bayi kecil ya?” tambahnya lagi sambil menekuk pinggangnya.
Dewi yang sedang memeluk Devi hanya tersenyum lembut, dia perlahan mengusap punggung Devi untuk menenangkannya. “Tenang saja Devi, tidak apa-apa. Mungkin hanya pemadaman sementara saja,” ucap Dewi dengan suara yang lembut dan menenangkan. Dia kemudian mengambil sepotong kue dari meja makan dan dengan lembut menyodorkannya ke arah mulut Devi. “Coba makan ya, mungkin dengan makan kamu akan merasa lebih tenang,” katanya dengan nada yang penuh dengan perhatian.
Devi yang masih sedikit menggigil hanya membuka mulutnya dan menerima makanan yang disuapi oleh Dewi. Wajahnya masih menunjukkan rasa malu karena ketakutannya yang baru saja terlihat oleh kedua temannya, namun dia merasa sedikit lebih tenang dengan sentuhan hangat dari Dewi dan makanan yang menyegarkan di dalam mulutnya...
Cahaya korek api yang menyala di tangan Rohita memberikan penerangan cukup untuk melihat ekspresi wajah masing-masing orang di ruangan. Rohita masih berdiri dengan wajah yang penuh dengan candaan, matanya tertuju pada Devi yang masih berada di pangkuan Dewi dengan tubuh yang sedikit menggigil.
“Waduh Devi, kamu benar-benar seperti anak kecil ya? Padahal kamu selalu sok dewasa dan suka menggoda orang lain,” ucap Rohita dengan suara yang penuh dengan ejekan namun tidak menyakitkan. Dia mengambil kursinya dan duduk kembali, masih terus menatap Devi dengan senyum menyeringai. “Tadi kamu masih suka mengejek aku dan hubungan aku dengan Arga, tapi sekarang malah ketakutan sendiri dan harus ditemenin sama Dewi. Lucu sekali kamu!” tambahnya lagi, membuat Devi semakin merasa malu dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Dewi hanya tersenyum lembut sambil terus mengusap punggung Devi dengan lembut. Dia melihat Rohita yang sedang menikmati momen ini, lalu kembali fokus pada Devi yang masih bersembunyi di pangkuannya. “Sudah tidak perlu takut lagi Devi. Kamu lihat kan, ada kita berdua di sini,” ucap Dewi dengan suara yang lembut dan penuh dengan kehangatan. Dia mengambil lagi sepotong makanan dari piringnya, lalu perlahan membuka jari-jari tangan Devi yang menutupi wajahnya.
“Coba makan sedikit ya, kamu pasti merasa lebih baik setelah makan,” ucap Dewi sambil menyodorkan makanan ke bibir Devi. Devi hanya mengangguk dengan pemalu, kemudian membuka mulutnya untuk menerima suapan tersebut. Saat makanan masuk ke dalam mulutnya, ekspresi wajahnya sedikit rileks, rasa takut yang selama ini menguasainya mulai mereda sedikit demi sedikit.
Rohita melihat kedua temannya dengan wajah yang mulai menunjukkan rasa lega. Meskipun dia baru saja mengejek Devi, dia merasa senang melihat bahwa hubungan antara Dewi dan Devi sedikit membaik di tengah kegelapan yang tiba-tiba ini. “Kalau kamu takut begitu Devi, kamu bisa bilang saja. Jangan sampai kamu terus berpura-pura kuat tapi sebenarnya kamu lemah seperti ini,” ucap Rohita dengan nada yang lebih lembut dibanding tadi.
Devi mengangkat kepalanya, wajahnya masih sedikit merah karena malu namun sudah tidak lagi menunjukkan rasa takut yang luar biasa. “Aku bukan anak kecil lho, Rohita. Cuma saja tadi kegelapannya tiba-tiba dan aku sedikit terkejut,” ucapnya dengan suara yang masih sedikit lemah, namun ada nada menegaskan di dalamnya. Dia kemudian melihat ke arah Dewi yang sedang menatapnya dengan senyum hangat. “Terima kasih ya Dewi, kalau bukan kamu aku pasti akan semakin panik,” ucap Devi dengan suara yang penuh dengan rasa terima kasih.
Dewi hanya mengangguk dan memberikan sentuhan lembut di atas kepala Devi. “Tidak apa-apa, kita kan teman. Seharusnya saling membantu bukan?” ucapnya dengan lembut. Suara itu membuat Devi merasa hangat di dalam hati, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia melihat Dewi bukan sebagai musuh melainkan sebagai teman yang bisa dia andalkan.
Tak lama kemudian, lampu kembali menyala dengan tiba-tiba, menerangi seluruh ruangan dengan terang benderang. Devi langsung mundur dari pangkuan Dewi dan duduk kembali di tempatnya dengan wajah yang semakin merah karena malu. Dewi juga sedikit merasa malu dan mulai membersihkan meja makan dengan tergesa-gesa.
Rohita melihat kedua temannya dengan senyum kecil. “Nah, sekarang lampunya sudah menyala lagi. Kamu tidak perlu takut lagi kan Devi?” ucapnya dengan nada yang penuh dengan candaan. Devi hanya mengangguk dan menutupi wajahnya dengan tangan, sementara Dewi tersenyum diam-diam sambil melihat Devi yang masih pemalu. Suasana di ruangan yang tadinya penuh dengan permusuhan kini mulai terasa lebih hangat, seolah-olah kegelapan yang tiba-tiba itu telah menghapus sebagian dari dendam yang ada di antara Dewi dan Devi
Setelah kejadian mati lampu yang membuat mereka tiga bergerak lebih dekat, suasana di kamar kost yang sempit terasa berbeda. Rohita yang sudah capek setelah seharian menghadapi kekacauan antara Devi dan Dewi langsung terlelap begitu saja setelah menutup matanya. Badannya yang letih menempel erat pada kasur tipis, napasnya mulai teratur dan terdengar pelan di tengah kedamaian malam.
Di sisi lain kasur, Devi dan Dewi masih terjaga. Kedua gadis muda itu saling memandang, mata mereka penuh dengan emosi yang selama ini hanya tersembunyi di balik bentrokan dan ejekan. Dewi yang biasanya pemalu bahkan tidak bisa menyembunyikan senyuman lembut yang muncul di bibirnya saat melihat wajah ceria Devi yang kini tampak lebih lembut dari biasanya. Devi menggeser tubuhnya perlahan agar tidak mengganggu Rohita yang sedang tidur, lalu menjulurkan tangan kecilnya untuk menyentuh pipi Dewi yang hangat.
“Kamu masih marah sama aku?” bisik Devi dengan suara yang hampir tak terdengar, matanya tetap terpaku pada wajah Dewi.
Dewi menggeleng perlahan, kedua tangannya mulai meraih tangan Devi yang masih menyentuh pipinya. “Enggak lagi… Aku juga salah tadi, nendang kamu begitu saja padahal kamu cuma mau membantu menyiram tanaman,” jawab Dewi dengan nada lembut, bibirnya sedikit menggigil karena rasa malu yang masih menguasainya, namun kali ini ada rasa hangat yang menyertainya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Devi mendekatkan wajahnya perlahan. Hidung mereka hampir bersentuhan, dan udara yang mereka hembuskan saling bertemu di antara keduanya. Dewi tidak menjauh, malahan menutup matanya dengan lembut, menyambut sentuhan bibir yang lembut dari Devi. Ciuman itu singkat namun penuh makna, menghapus semua rasa tidak nyaman dan perselisihan yang pernah terjadi di antara mereka. Setelah itu, mereka saling memeluk dengan lembut, kepala mereka bersandar satu sama lain, dan tak lama kemudian keduanya pun terlelap, masih dalam pelukan satu sama lain, tepat di sisi Rohita yang masih tidur nyenyak. Cahaya bulan yang masuk melalui celah tirai sedikit menerangi wajah mereka yang tampak damai dan bahagia, seolah semua masalah sudah lenyap begitu saja.