NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Tanpa Restu Hati

Pagi itu datang terlalu cepat. Lestari belum tidur semalaman. Matanya bengkak, merah, kering. Nggak ada lagi air mata yang keluar—udah habis semua tumpah semalam. Dia cuma duduk di sudut kamar, memeluk lutut, natap jendela yang perlahan mulai terang.

Subuh sudah lewat. Dia kelewatan shalat. Bukan karena males. Tapi... badannya kayak beku. Nggak bisa gerak. Kayak orang mati yang masih hidup.

Jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Tiga setengah jam lagi. Tiga setengah jam sebelum hidupnya berakhir.

Pintu kamarnya tiba-tiba dibanting dari luar. Kunci digerendel. Lestari kaget, berdiri. Dia coba buka pintu—terkunci.

"Bapak! Bapak ngapain?! Bukain pintunya!" Lestari menggedor-gedor pintu.

Suara ayahnya terdengar dari luar, berat dan datar. "Lo jangan coba-coba kabur, Tar. Diem aja di dalem sampe waktunya."

"BAPAK! BAPAK DENGERIN AKU! Aku nggak mau nikah sama orang itu! Bapak... kumohon..." Suaranya mulai serak lagi, tangisnya mau keluar lagi padahal dia pikir udah nggak ada yang tersisa.

Tapi ayahnya nggak jawab. Cuma suara langkah kaki menjauh.

Lestari menghantam pintu pake kepalan tangan. Sekali. Dua kali. Sampai buku-buku jarinya sakit, merah. Tapi pintu nggak terbuka. Dia jatuh, punggungnya bersandar di pintu, napasnya tersengal-sengal.

"Ya Allah... Ya Allah tolongin aku... tolongin aku..."

Bisikan doanya cuma menggema di kamar sempit itu. Nggak ada jawaban.

---

Dua jam kemudian, sekitar jam sembilan lewat, Lestari denger pintu kamarnya dibuka pelan. Dia langsung mundur ke sudut, waspada. Siapa lagi sekarang?

Ibunya masuk. Markonah. Mukanya sembab, matanya merah. Di tangannya ada kebaya lusuh warna krem—kebaya yang dulu dipake ibunya waktu nikah dua puluh tahun lalu. Udah kusam, ada beberapa jahitan tambalan di bagian lengan.

"Nak..." Suara ibunya gemetar.

Lestari menggeleng. "Ibu jangan... jangan suruh aku pake itu..."

"Lestari, sayang... ini... ini satu-satunya baju yang pantas..." Markonah melangkah masuk, nutup pintu pelan di belakangnya. Tangannya gemetar pegang kebaya itu.

"Pantas buat apa, Bu?! Buat dijual kayak sapi?!" Lestari teriak, suaranya pecah.

Markonah langsung nangis. Nangis keras. Dia jatuh berlutut, kebaya itu jatuh ke lantai. "Maafin Ibu, Nak... Ibu nggak bisa apa-apa... Ibu udah coba larang Bapak tapi... tapi Ibu takut, Nak... Ibu takut kita dibakar... Ibu takut—"

"IBU TAKUT TAPI AKU YANG HARUS KORBANKAN HIDUP?!" Lestari berdiri, dadanya naik-turun, napasnya memburu. "Aku yang disuruh nikah sama orang nggak dikenal! Aku yang—" Suaranya putus. Nggak kuat. Kakinya lemas, dia ikutan jatuh berlutut.

Mereka berdua nangis di lantai kamar itu. Ibu dan anak. Dua perempuan yang sama-sama nggak berdaya.

Markonah merangkak mendekat, meluk Lestari erat. "Ibu minta maaf... minta maaf, Nak... kalau Ibu bisa tuker posisi sama kamu, Ibu mau... tapi Ibu nggak bisa... Ibu cuma bisa minta maaf..."

Lestari nggak bales pelukan ibunya. Tangannya cuma tergantung lemas di sisi tubuh. Dia ngerasa... hampa. Kosong. Kayak jiwanya udah ditarik keluar, yang tersisa cuma cangkang.

"Ibu bersihin muka kamu dulu ya, Nak..." Markonah ngelap air mata Lestari pake ujung kain sarungnya. Perlahan, gemetar. "Nanti... nanti Ibu pakaikan kebaya ini... kamu... kamu harus keliatan cantik..."

Cantik. Buat apa? Buat disuguhkan ke laki-laki yang nggak pernah dia kenal? Buat jadi hadiah pelunasan hutang?

Tapi Lestari nggak nolak lagi. Dia udah capek. Capek nolak, capek nangis, capek berharap ada keajaiban yang nggak bakal datang.

Markonah Menyisir rambut Lestari pelan. Rambutnya yang panjang, hitam, disisir sampai rapi, dikuncir rendah pake karet—karet yang agak bagus kali ini, bukan karet gelang. Kebaya lusuh itu di pakaikan ke tubuh Lestari. Kebesaran sedikit—soalnya ibunya dulu lebih berisi—tapi ya mau gimana lagi.

"Kamu cantik, Nak..." bisik Markonah sambil natap pantulan Lestari di kaca kecil yang retak di sudut kamar.

Lestari natap pantulan dirinya sendiri. Cantik katanya? Yang dia liat cuma mayat hidup. Mata kosong. Bibir pucat. Pipi yang masih bengkak bekas tamparan ayahnya semalam.

"Ibu..." Lestari bicara pelan, suaranya serak. "Aku... aku takut, Bu."

Markonah meluk dari belakang, nangis lagi. "Ibu juga takut, Nak... tapi... tapi Ibu doain kamu... semoga... semoga dia laki-laki yang baik..."

Laki-laki yang baik nggak mau nikahi anak tujuh belas tahun buat melunasi hutang orang tuanya. Lestari tau itu. Tapi dia nggak bilang apa-apa.

---

Tengah malam sebelumnya—sebelum subuh—Lestari sempet ambil wudhu. Tangannya gemetar waktu itu, air dingin dari ember kamar mandi membuat kulitnya merinding. Dia shalat malam. Shalat tahajud. Pertama kali seumur hidupnya dia shalat tahajud sendirian.

Dia nggak tau doa apa yang harus dipanjatkan. Pikirannya kacau. Mulutnya cuma bisa bisik, "Ya Allah... Ya Allah bantu aku... kalau ini jalan yang terbaik, kuatkan aku... tapi kalau ini bukan... tolong... tolong keluarkan aku..."

Dia sujud lama. Lama banget. Sampai lututnya kesemutan, dahi nya basah bukan karena air wudhu tapi karena air mata yang ngalir terus.

Tapi pagi tetep datang. Dan nggak ada keajaiban yang datang bersamanya.

---

Sekarang, jam sepuluh kurang sepuluh menit.

Pintu rumah diketuk keras. BRAK BRAK BRAK.

Suara Pak Hendra. "Jumadi! Buka!"

Lestari berdiri di belakang ibunya. Jantungnya berdegup cepat banget. Tangannya dingin, gemetar. Dia pengen kabur. Pengen loncat dari jendela kamar. Tapi... terus kemana?

Ayahnya buka pintu. Pak Hendra masuk, diikuti dua preman yang sama kayak kemarin. Dan di belakang mereka...

Dyon Pradipta.

Lestari menatap laki-laki itu untuk pertama kalinya.

Dyon... usianya dua puluh lima tahun katanya, tapi mukanya keliatan lebih tua. Kulitnya sawo matang, agak kusam. Rambut nya gondrong nggak rapi, berminyak. Dia pake kaos oblong hitam yang ada lubang kecil di bagian bahu, celana jeans biru yang udah pudar, sandal jepit. Badannya kurus, tapi nggak kurus sehat—kurus karena... entahlah, kurang gizi kali.

Yang paling bikin Lestari pengen muntah—baunya.

Bau alkohol. Bau rokok. Bau keringetan. Campur jadi satu, nyengat banget.

Dyon nyengir waktu liat Lestari. Giginya kuning, ada yang ompong satu di samping. "Wah... bener kata Om Hendra. Cantik juga lo."

Lestari mundur selangkah. Refleks.

"Mana sopan-sopannya, Les? Salam sama calon suami lo." Ayahnya mendorong bahu Lestari pelan tapi keras.

Lestari nggak gerak. Nggak bisa.

Dyon malah ketawa. Ketawanya aneh, agak serak. "Ah, nggak papa. Masih malu-malu. Ntar juga terbiasa."

Pak Hendra tepuk tangan sekali. "Oke, udah nggak usah banyak basa-basi. Penghulunya udah nungguin di rumah sebelah. Kita berangkat sekarang. Dyon, lo udah bawa duit nya kan?"

"Udah, Om. Tujuh puluh juta. Mepet sih, gaji satu tahunan gue abis." Dyon keluarin amplop cokelat tebal dari kantong celana belakangnya, ngasih ke Pak Hendra. Pak Hendra buka, itung cepet, terus nyengir puas.

Gaji satu tahunan. Tujuh puluh juta. Berarti sebulan Dyon dapet... lima—enam juta kali ya? Lumayan sih buat ukuran buruh pabrik. Tapi kenapa penampilannya kayak gitu? Lestari nggak ngerti. Atau... jangan-jangan dia emang tipe yang jorok?

"Bagus. Jumadi, nih duit lo." Pak Hendra ngasih amplop itu ke ayah Lestari. Ayahnya nerima dengan tangan gemetar, matanya berbinar. Berbinar karena... seneng.

Lestari ngerasa mual.

"Makasih, Pak Hendra... makasih..." Ayahnya nyium amplop itu. Cium beneran. Kayak cium kepala bayi.

"Oke, kita jalan."

---

Mereka jalan kaki ke rumah Pak Haji Muhtar—penghulu kampung yang rumahnya cuma tiga rumah dari kontrakan Lestari. Lestari jalan di belakang, diapit ibunya dan salah satu preman Pak Hendra—kayak tahanan yang mau dieksekusi.

Rumah Pak Haji Muhtar nggak gede, tapi lebih layak dari rumah Lestari. Ada teras kecil, ruang tamu yang bersih. Di sana udah ada Pak Haji Muhtar—laki-laki tua berjenggot putih, pake sarung dan peci—sama dua orang laki-laki lain yang nggak dikenal Lestari. Saksi katanya. Saksi bayaran.

Nggak ada undangan. Nggak ada saudara lain. Nggak ada teman-teman Lestari. Nggak ada siapa-siapa. Cuma orang-orang yang dibayar buat menyaksikan ritual penjualan ini.

"Assalamualaikum," sapa Pak Haji Muhtar.

"Waalaikumsalam," jawab Pak Hendra. "Kita udah siap, Pak Haji. Langsung aja ya."

Pak Haji Muhtar natap Lestari sebentar. Matanya... ada rasa kasihan di sana. Tapi dia nggak bilang apa-apa. Mungkin dia udah sering liat kasus kayak gini. Atau mungkin dia nggak mau berurusan sama Pak Hendra.

"Silakan duduk."

Mereka duduk di lantai beralaskan tikar pandan. Lestari duduk di sebelah Dyon. Jarak mereka cuma sejengkal. Baunya makin nyengat. Lestari nahan napas.

Akad nikah dimulai.

Pak Haji Muhtar baca beberapa ayat pendek, terus langsung ke ijab kabul. Prosesnya cepet banget. Kayak transaksi jual-beli di pasar.

"Dyon Pradipta bin Samsudin, apakah kamu bersedia menikahi Lestari Putri binti Jumadi dengan mahar seperangkat alat shalat, dibayar tunai?"

Mahar seperangkat alat shalat. Mukena sama sajadah. Itu doang. Lestari dijual seharga mukena sama sajadah.

"Saya bersedia." Suara Dyon lantang, tanpa ragu.

"Saksi?"

"Sah," jawab dua laki-laki saksi bayaran itu bersamaan.

Selesai.

Secepat itu.

Nggak ada doa panjang. Nggak ada petuah bijak. Nggak ada tangis haru. Cuma... transaksi.

Pak Haji Muhtar ngasih surat nikah siri selembar kertas putih bertuliskan tangan, bukan resmi dari KUA. Dyon nerima, melipat, lalu masukin kantong celana.

"Alhamdulillah. Selamat ya, Dyon, Lestari. Semoga sakinah mawaddah warahmah."

Sakinah mawaddah warahmah. Doa yang indah. Tapi terasa hambar banget di situasi ini.

Dyon langsung berdiri, narik tangan Lestari kasar. "Oke, sekarang kamu milik gue. Kita pulang."

Milik gue. Bukan istri. Bukan pasangan. Milik. Seperti barang. Seperti hewan ternak.

Lestari noleh ke ibunya. Markonah udah nangis lagi, tangannya nutupin mulut. Matanya menatap Lestari penuh penyesalan.

Lestari pengen bilang, "Ibu, aku nggak mau pergi. Tolong jangan biarkan aku pergi."

Tapi kata-kata itu nggak keluar. Cuma pandangan kosong yang mereka tukar.

Ayahnya? Ayahnya malah tersenyum. Tersenyum lebar sambil pegang amplop cokelat itu erat-erat. Dia nggak natap Lestari. Nggak sama sekali.

"Makasih ya, Pak Hendra. Makasih banyak." Ayahnya menyalami Pak Hendra.

Pak Hendra ketawa. "Sama-sama, Jumadi. Kapan-kapan kalau mau pinjam lagi, tinggal bilang aja."

Mereka ketawa. Ketawa berdua.

Lestari merasakan sesuatu pecah di dadanya. Bukan hatinya karena hatinya udah pecah kemarin malam. Yang pecah sekarang adalah... kepercayaan terakhirnya pada keluarga.

Di saat itulah Lestari nyadar.

Dia bukan anak.

Dia cuma barang.

Barang yang dijual.

---

Dyon nyeret Lestari keluar rumah . Lestari sempet noleh lagi ke arah rumah kontrakannya yang kecil itu. Rumah yang jadi penjara selama tujuh belas tahun hidupnya. Sekarang dia bakal pindah ke penjara yang baru.

Markonah berdiri di depan pintu, nangis. Ayahnya di sampingnya, masih pegang amplop, masih senyum.

Lestari ngerasa tangannya dingin. Kakinya lemas. Tapi Dyon terus nyeret, nggak peduli.

Mereka berhenti di depan mobil pikap tua yang parkir di ujung gang. Mobilnya warna hijau kusam, udah kropos, knalpotnya ngebul. Di bak belakang ada kardus-kardus entah isi apa.

"Naik." Dyon buka pintu penumpang, mendorong Lestari masuk.

Lestari naik dengan kaki gemetar. Duduknya di bangku yang robekan kulitnya udah pada mengelupas, busa dalemnya keliatan. Baunya... ampun deh. Bau rokok lama, bau bensin, bau apek.

Dyon masuk dari sisi sopir, nutup pintu keras—BRAK. Dia nyalain mesin. Mesinnya berisik, kayak batuk-batuk.

Sebelum mobil jalan, Lestari noleh ke belakang. Ngeliat rumahnya untuk terakhir kali.

Dan dia liat...

Ayahnya ketawa. Ketawa bareng Pak Hendra. Mereka tos. Ya ampun... mereka TOS.

Air mata Lestari jatuh lagi. Deras. Nggak bisa ditahan.

Mobil mulai jalan. Pelan. Keluar dari gang sempit itu.

Dyon nyengir sambil nyetir. Tangannya yang kotor, kuku-kukunya hitam, ngetuk-ngetuk stir. "Ini baru awal, Les." Suaranya serak, sedikit bernyanyi. "Bersiaplah jadi istri gue. Lo bakalan ngerasain gimana jadi perempuan yang bener."

Lestari nggak jawab. Nggak bisa. Suaranya ilang.

Dia cuma natap jalan di depan yang makin jauh dari rumah.

Makin jauh dari ibu.

Makin deket ke neraka yang baru.

Mobilnya belok ke kanan, masuk jalan raya yang rame. Lestari ngelap air matanya pake punggung tangan. Tapi air mata terus keluar.

Dyon nyalain radio. Lagu dangdut keras mengalun. Dia nyanyi ngikutin—sumbang, suaranya fals.

Lestari meluk tubuhnya sendiri. Dingin. Dingin banget.

"Ya Allah..." bisiknya dalam hati. "Kalau ini ujian... kalau ini takdir... tolong... tolong kuatkan aku... aku nggak tau aku bisa bertahan atau nggak... tapi... tolong jangan tinggalin aku sendirian..."

Mobil terus melaju.

Menjauhi satu-satunya tempat yang pernah Lestari sebut rumah.

Menuju tempat yang bahkan nggak bisa dia bayangin seperti apa.

Dan Lestari tau, dari sekarang, hidupnya nggak akan pernah sama lagi.

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Mentari_Senja: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Mentari_Senja: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Mentari_Senja: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
checangel_
Anak lelaki memang harus dekat dengan Ibunya, baru deh yang kedua Ayahnya 😇
checangel_
Mau aku kasih tahu rahasia nggak, anak sekecil itu jika sudah mendapat tekanan keras (berupa tamparan, teriakan, bahkan Ibunya tersakiti) dari Ayahnya, saat dewasa anak itu akan benci dengan apa yang pernah dialaminya sedari kecil, TAPI .... kebencian itu bukanlah solusinya, karena pada akhirnya kebenaran yang berpihak 👍
checangel_: /Good/
total 2 replies
checangel_
Kenapa ditampar anak sekecil itu?/Sob/ Dyon kamu itu ya /Drowsy/
checangel_: /Facepalm/
total 4 replies
checangel_
Lestari, kamu Ibu hebat🤧
checangel_
Andriano hadir disaat yang tepat, bukan begitu Lestari, Dyon hempaskan. Astaghfirullah/Facepalm/
Mentari_Senja: main hempaskan aja, Dyon jga manusia, hanya saja dia salah jalur🤣🤣
total 1 replies
checangel_
Dyon kamu itu ya!!!/Grimace/, banyak² istighfar yuk sebelum terlambat 🤧
checangel_
Tenang, ada Allah yang selalu bersamamu😇
Mentari_Senja: dan ada author yg slalu ada di cerita ini🤭
total 1 replies
checangel_
Tapi kita juga tak tahu, apakah mereka yang tersenyum di luar sana beneran tersenyum atau hanyalah pura², karena dibalik senyum tak semua orang tersenyum 🤭/Facepalm/
Mentari_Senja: karena manusia terlalu pandai berpura2
total 1 replies
checangel_
Lestari, you are strong woman🤧
checangel_
Apalagi ni? Ibu Wulandari berulah lagi🤧
Mentari_Senja: emang suka bikin ulah kak😩
total 1 replies
checangel_
Ibu Wulandari terjuket /Facepalm/
Mentari_Senja: untung aja bukan terjungkit😩
total 1 replies
Dri Andri
anjay ududna Sampurna mill.. beliin aja petasan biar mulut nya hancur😁
Dri Andri: sampurna kretek murah
total 3 replies
Dri Andri
agak laen nih dyon

lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!