Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjijikkan
Kejijikan itu adalah percikan api. Dalam sekejap, ia menyambar sumbu kemarahan Darian yang sudah basah oleh duka, dan meledak menjadi amukan beku.
Pria itu melesat maju, gerakannya begitu cepat dan kasar hingga Suster Anjani yang berdiri di dekatnya tersentak mundur.
Ia tidak berteriak. Amarahnya terlalu dalam untuk suara. Ia hanya bertindak, merenggut putranya dari dekapan Queenora dengan satu sentakan brutal yang membuat bayi itu terlepas dari puting dan menjerit kaget, tangisnya pecah seketika.
“Jangan sentuh anakku!” desis Darian, suaranya serak dan bergetar, lebih mirip geraman binatang yang terluka daripada ucapan manusia.
Queenora terkesiap, rasa perih akibat tarikan paksa itu menjalar di dadanya, tetapi rasa sakit yang lebih dalam mengiris hatinya saat melihat bayi yang baru saja tenang dalam dekapannya, kini meronta-ronta di pelukan ayahnya sendiri. Lengan Darian memeluknya dengan kaku, canggung, seolah memegang bom waktu, bukan darah dagingnya.
“Tuan Darian, syukurlah Anda datang!” Suster Anjani segera mengambil alih situasi, nadanya kini penuh pembenaran.
“Wanita ini, dia pasien dari kamar sebelah. Dia menyelinap masuk dan melakukan… ini! Tanpa izin! Ini pelanggaran berat!”
Darian tidak menoleh pada Suster Anjani. Matanya yang membara terpaku pada Queenora, menelanjanginya dengan tatapan penuh hina.
Ia melihat gaun rumah sakit yang melorot, memperlihatkan bahu dan dada yang pucat. Ia melihat noda susu di sudut bibir putranya. Dan ia melihat ekspresi Queenora yang pias dan ketakutan.
“Apa yang kau mau?” tanya Darian, setiap kata diludahi racun.
“Uang? Kau pikir dengan melakukan hal menjijikkan ini, kau bisa memeras seorang yang sedang berduka?”
Air mata panas menggenang di pelupuk mata Queenora, tetapi ia menahannya agar tidak tumpah.
“Tidak… bukan begitu,” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
“Dia… dia lapar. Dia tidak mau minum dari botol.”
“Omong kosong!” bentak Darian. Tangisan Elios semakin menjadi-jadi, tubuhnya yang mungil menegang dan wajahnya kembali memerah.
Kepanikan mulai merayapi ekspresi Darian saat ia mencoba menenangkan putranya dengan goyangan canggung yang justru membuat bayi itu semakin histeris.
“Dia hanya butuh ibunya, bukan wanita asing sepertimu!”
Kata-kata itu menghantam Queenora lebih keras dari pukulan ayahnya.
Bukan wanita asing sepertimu.
Tentu saja. Ia bukan siapa-siapa. Hanya sebuah wadah susu yang kebetulan berfungsi.
“Tuan… bayi Anda dehidrasi,” Suster Rina yang sejak tadi membeku di sudut akhirnya memberanikan diri angkat bicara, suaranya gemetar.
“Dia tidak minum apa pun selama berjam-jam. Nona ini… dia berhasil menenangkannya.”
“Diam!” hardik Suster Anjani dan Darian hampir bersamaan.
“Saya tidak peduli!”
Darian memindahkan tatapannya dari Queenora ke putranya yang kini menangis tanpa suara, nyaris kehabisan napas.
Keputusasaan yang terlintas di wajahnya yang beku. Ia membenci bayi ini karena telah merenggut nyawa istrinya, dan ia membenci dirinya sendiri karena tidak tahu harus berbuat apa. Dan sekarang, ia membenci wanita ini karena telah menunjukkan betapa tidak berdayanya ia.
“Dia butuh susu, bukan racun dari orang sepertimu,” lanjut Darian, kembali menyerang Queenora, satu-satunya target yang bisa ia salahkan.
“Siapa yang tahu penyakit apa yang kau bawa?”
“Saya sehat,” sahut Queenora, sebuah percikan perlawanan menyala dalam dirinya, dipicu oleh jeritan sang bayi.
“Saya hanya ingin menolongnya.”
“Menolong?” Darian tertawa, suara tawanya kering dan tanpa humor.
“Orang sepertimu tidak menolong. Kau mengambil kesempatan.”
“Cukup!”
Sebuah suara tenang namun berwibawa memotong ketegangan di ruangan itu. Seorang pria berusia lima puluhan dengan jas dokter putih bersih berdiri di ambang pintu, raut wajahnya serius. Di nametag-nya tertulis ‘Dr. Gunawan, Sp.A.’
Ia melangkah masuk, tatapannya yang tajam menilai situasi dengan cepat, bayi yang menangis histeris, ayah yang panik dan marah, dua perawat yang tegang, dan seorang wanita pucat di kursi yang tampak hancur.
“Tuan Darian, serahkan putranya pada Suster Rina,” perintah Dokter Gunawan dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Darian ragu sejenak, tetapi tangisan Elios yang semakin lemah membuatnya menyerah. Dengan enggan, ia menyerahkan gumpalan mungil yang bergetar itu kepada Suster Rina, yang segera mencoba menenangkannya, namun gagal.
Dokter Gunawan mendekati Elios, memeriksa bibir dan matanya dengan cepat. Ia menghela napas.
“Tanda-tanda dehidrasinya memburuk. Kita tidak punya banyak waktu lagi sebelum harus memasang infus, sebuah prosedur yang sangat berisiko untuk bayi baru lahir.”
Dokter muda itu kemudian berbalik menghadap Darian sepenuhnya.
“Saya dengar keributan dari lorong. Bisa jelaskan apa yang terjadi di sini?”
“Dokter, wanita ini!” Darian menunjuk Queenora dengan dagunya.
“Dia menyusui anak saya tanpa izin. Dia—”
“Dia menyelamatkan nyawa putra Anda,” potong Dokter Gunawan dengan tenang.
Keheningan jatuh. Darian membeku, kata-kata dokter itu menggema di telinganya.
“Apa maksud Anda?” tanya Darian, nadanya sedikit goyah.
Dokter Gunawan menatap Queenora sejenak dengan sorot mata yang sulit diartikan—bukan penghakiman, melainkan penilaian profesional.
“Nona, siapa nama Anda?”
“Queenora,” jawabnya lirih.
“Nona Queenora,” lanjut sang dokter, kembali menatap Darian. “Putra Anda, Elios, mengalami penolakan oral akut terhadap susu formula. Kondisi yang langka, tapi terjadi. Tubuhnya menolak segala sesuatu yang bukan ASI. Kami sudah mencoba semua merek, bahkan mencoba memberinya dengan sendok dan pipet. Hasilnya nol. Tingkat bilirubinnya mulai naik, dan berat badannya turun drastis. Dia berada di ambang krisis.”
Dokter itu berhenti sejenak, membiarkan informasi itu meresap. “Suster Rina melapor pada saya beberapa menit yang lalu, mengatakan bahwa ada keajaiban. Bahwa Elios akhirnya mau menyusu dari seorang wanita. Wanita ini.” Ia mengangguk ke arah Queenora. “Tindakan Nona Queenora mungkin melanggar seratus protokol rumah sakit, Tuan Darian. Tapi secara medis, ia baru saja melakukan satu-satunya hal yang bisa membuat putra Anda bertahan hidup saat ini.”
Dunia Darian seakan terbalik. Wanita yang ia pandang hina, yang ia tuduh sebagai pemeras kotor, ternyata adalah penyelamat. Logika dan emosinya berperang hebat. Rasa jijiknya bertabrakan dengan fakta medis yang tak terbantahkan. Ia menatap putranya, yang tangisannya kini berubah menjadi isakan lemah di pelukan Suster Rina. Lalu ia menatap Queenora lagi. Wanita itu telah merapikan gaunnya, duduk dengan punggung tegak, memeluk dirinya sendiri seolah kedinginan. Ada luka memar samar di lengannya yang tidak ia perhatikan sebelumnya.
Penghinaan di wajah Darian perlahan surut, digantikan oleh topeng dingin tanpa ekspresi. Ia sedang berpikir, menghitung, memproses. Jiwa pengusahanya mengambil alih saat jiwanya sebagai seorang ayah dan suami gagal total. Ini bukan lagi soal moral atau perasaan. Ini adalah masalah. Dan setiap masalah memiliki solusi. Sebuah transaksi.
“Dokter, Suster,” ucapnya tiba-tiba, suaranya datar dan tanpa emosi. “Bisa tinggalkan kami sebentar?”
Dokter Gunawan menatapnya dengan waspada. “Tuan Darian, saya tidak yakin—”
“Saya hanya ingin bicara dengannya,” potong Darian. “Lima menit. Saya tidak akan menyakitinya. Anda punya kata-kata saya.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Dokter Gunawan akhirnya mengalah. Ia mengangguk pada kedua suster itu. “Baiklah. Kami akan menunggu di luar. Jika bayi ini menangis lagi, kami akan segera masuk.”
Suster Anjani tampak tidak puas, tetapi ia mengikuti perintah dokter. Suster Rina melirik Queenora dengan cemas sebelum keluar dan menutup pintu dengan pelan.
Kini hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Dan tangisan Elios yang mulai mereda menjadi rengekan pelan.
Darian tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Ia mengamati Queenora dari ujung rambut sampai ujung kaki, tatapannya dingin dan analitis, seolah sedang menilai aset atau liabilitas. Queenora balas menatapnya, ketakutannya kini bercampur dengan secercah keberanian yang diberikan oleh pembelaan sang dokter.
Keheningan terasa berat, sarat dengan penghakiman yang tak terucap.
Akhirnya, Darian memecahnya.
“Kau pasien di rumah sakit ini,” katanya. Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan fakta. “Kau pasti butuh uang untuk membayar tagihan.”
Queenora mengerutkan kening, tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. “Saya tidak melakukannya untuk uang.”
“Semua orang melakukan segalanya untuk uang,” balas Darian sinis. Ia mengambil satu langkah mendekat. “Aku tidak peduli apa motifmu. Aku tidak peduli siapa kau atau dari mana asalmu. Yang aku pedulikan hanya anak itu.”
Ia berhenti, matanya yang kelabu menyorot tajam. Topengnya retak sejenak, memperlihatkan jurang keputusasaan di baliknya, sebelum kembali mengeras.
“Aku butuh air susumu.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sama seperti saat ia mungkin memesan kopi atau menandatangani kontrak—dingin, impersonal, dan transaksional.
“Jadilah ibu susunya,” lanjutnya, suaranya semakin rendah dan menusuk. “Aku akan membayarmu. Berapa pun. Sebutkan saja hargamu.”