"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Cahaya di Ujung Terowongan
Lantai beton di bawah tanah RS Harapan terasa bergetar, seolah bangunan raksasa di atasnya sedang meratap. Tian melangkah menembus uap panas yang keluar dari pipa-pipa gas yang bocor. Punggungnya yang melepuh akibat ledakan di lantai empat terasa seperti disiram air keras setiap kali ia bergerak, namun rasa sakit itu justru menjadi pengingat bahwa ia masih hidup untuk satu tujuan: Mengakhiri iblis bernama Aristha.
"Cukup, Aristha! Kau sudah kehilangan segalanya!" suara Tian bergema di lorong bunker yang sempit, terdengar dingin dan berwibawa di tengah desisan gas.
Di ujung lorong, di dalam ruang kendali utama yang dipenuhi layar monitor, Aristha berdiri mematung. Pakaian mahalnya kini compang-camping, wajahnya yang angkuh telah hancur oleh kegilaan. Di tangannya, ia memegang sebuah terminal kontrol portabel dengan lampu merah yang berkedip cepat.
"Kehilangan segalanya?" Aristha tertawa, suara tawa yang melengking dan pecah. "Aku tidak kehilangan apa-apa, Tian. Aku hanya sedang memastikan bahwa jika aku jatuh ke neraka, aku akan membawa seluruh 'surga' milikmu dan ribuan nyawa di atas sana bersamaku!"
Tian menatap layar monitor di belakang Aristha. Waktu penghancuran otomatis menunjukkan angka 06:00. Enam menit menuju pemusnahan massal. Di sudut layar lain, ia melihat Mega yang sedang dibawa masuk ke dalam unit perawatan darurat di luar rumah sakit. Wajah istrinya yang pucat tampak sedang mencarinya.
"Kau pikir kau bisa menghentikan ini?" Aristha menekan sebuah tombol, dan suara alarm peringatan mulai meraung di seluruh bunker. "Gas ini sudah mencapai titik jenuh. Satu percikan saja, dan rumah sakit ini akan menjadi kawah raksasa."
Tian tidak menyerang dengan senjata api. Ia tahu satu tembakan akan memicu ledakan seketika. Ia perlahan meletakkan pisau hitamnya di lantai, mengangkat tangan, dan berjalan mendekat.
"Aristha, lihat aku," ucap Tian, suaranya melembut, mencoba menembus kabut kegilaan pria itu. "Kau melakukan semua ini karena kau tidak pernah dicintai, bukan? Kau pikir dengan kekuasaan dan ketakutan, kau bisa memiliki segalanya. Tapi lihatlah... di akhir cerita, kau sendirian. Sedangkan aku? Aku punya alasan untuk tetap hidup bahkan jika aku hancur menjadi debu."
Aristha tertegun sejenak. Tangannya yang memegang kontrol gemetar. "Jangan menceramahiku tentang cinta! Cinta adalah kelemahan yang membuatmu merangkak di kakiku!"
"Bukan," bantah Tian, kini jaraknya hanya tinggal tiga meter. "Cinta adalah yang memberiku kekuatan untuk melompat dari lantai empat dan tetap berdiri di depanmu sekarang. Cinta adalah alasan kenapa Jenderal Yudha dan Paman Hasan bertaruh nyawa untukku. Kau tidak punya itu, Aristha. Kau hanya punya angka-angka yang kini tidak berarti."
Tiba-tiba, monitor di ruangan itu menampilkan wajah Jenderal Yudha. "Tian! Kami berhasil menutup katup gas utama dari luar! Tapi tekanan di dalam bunker masih sangat tinggi! Kau harus mematikan protokol detonasi dari konsol itu sekarang!"
Aristha yang menyadari waktunya habis, mencoba menekan tombol pemicu manual. Namun, Tian bergerak lebih cepat dari kilat. Ia tidak memukul Aristha; ia justru memeluk pria itu dengan kuncian maut, menjatuhkannya ke lantai, dan menggunakan tubuhnya sendiri untuk menjauhkan tangan Aristha dari terminal.
"Lepaskan! Kita akan mati bersama!" raung Aristha.
"Jika aku harus mati untuk menghentikanmu, maka biarlah!" Tian menghantamkan kepalanya ke dahi Aristha hingga pria itu setengah sadar, lalu dengan satu tangan yang bebas, ia mencabut kabel utama dari konsol kendali.
00:03... 00:02... 00:01...
Sistem mati. Lampu merah berubah menjadi hijau yang stabil. Sunyi seketika menguasai bunker itu.
Tian jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal. Ia menatap langit-langit beton dengan air mata yang mengalir di wajahnya yang penuh jelaga. Ia menang. Bukan dengan peluru, tapi dengan keteguhan jiwanya.
Di atas sana, Jenderal Yudha dan tim penyelamat mulai mendobrak pintu bunker. "Tian! Kau selamat?!"
Tian tidak menjawab. Ia hanya meraih ponselnya yang masih aktif. Ia melakukan panggilan video ke arah Mega. Saat wajah Mega muncul di layar, sedang tersenyum lemah dengan air mata kebahagiaan, Tian hanya bisa berbisik satu kalimat.
"Surgaku... Mas pulang."
Saat tim medis Jenderal Yudha membawa Aristha dalam belenggu, Aristha membisikkan sesuatu yang membuat senyum Tian membeku: "Kau pikir aku adalah kepala ularnya, Tian? Aku hanyalah ekornya. 'The Circle' tidak akan membiarkan rahasia yang kau pegang tetap ada. Saat kau keluar dari bunker ini, kau akan menyadari bahwa dunia yang kau selamatkan baru saja mendeklarasikan perang baru padamu." Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari arah taman rumah sakit, tempat Mega dan ibunya berada. Tian bangkit dengan sisa tenaganya, menyadari bahwa kemenangan ini mungkin hanyalah awal dari badai yang lebih besar di 2026.